...PERHATIAN⚠️...
...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....
...****************...
"Selamat datang, Tuan Kevin."
Kevin hanya diam dengan menggendong tubuh Hana keluar dari pesawat yang beberapa menit lalu baru saja mendarat di sebuah bandara. Terdapat dua mobil hitam yang berjajar di dekat para orang-orang bertubuh besar.
"Kalian sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Kevin tanpa menatap para orang bertubuh besar—bodyguard.
"Sudah, Tuan. Semuanya telah kamu persiapkan dengan matang," jawab salah satu bodyguard dengan membuka pintu penumpang untuk Kevin dan juga Hana yang tertidur pulas.
Hana menggeliat saat Kevin menidurkannya di dalam mobil, Kevin mengusap pelan wajah sang istri dan bergegas masuk ke dalam mobil. "Saya tidak ingin berlama-lama, kita ke hotel!"
"Baik, Tuan!" mobil hitam tersebut langsung melaju cepat keluar dari bandara menuju jalan besar. Kevin membenarkan posisi tidur sang istri, agar menyandar di pundaknya.
Menempuh waktu perjalanan lebih dari 10 jam, membuat Kevin dan Hana hanya melakukan hal monoton di pesawat, bahkan Hana sudah bangun tidur sebanyak dua kali dan sekarang yang ketiga kalinya. Terlihat wajah lelah dari sang istri, membuat Kevin mengurungkan niatnya untuk mengajaknya keluar untuk sekedar berjalan-jalan saja.
"Hubungi asisten saya untuk segera menyusul ke mari!"
"Segera, Tuan!"
Sebenarnya Kevin tidak ingin mengajak Davka untuk pergi ke negara tetangga, hanya saja hal mendesak yang membuat Davka harus menyusul secara mendadak dan terpaksa juga harus memesan tiket pesawat lain.
Kevin menatap ke arah luar jendela, cuaca cukup cerah untuk di pagi hari di negara yang terletak di benua Eurasia itu. Kevin menarik napas dalam-dalam dan memejamkan matanya sejenak untuk melepas penat. Kevin merasa tubuhnya sedikit merasa lelah karena menyelesaikan sedikit pekerjaannya agar tidak menganggu waktu berlibur.
"Kevin,"
Kevin membuka matanya kembali dan tersenyum tipis, saat melihat Hana yang sudah terbangun dari tidurnya. "Kamu sangat lama,"
Hana mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?" Hana menguap dan meregangkan tubuhnya sedikit.
"Kamu tidur lebih dari empat jam,"
Hana menoleh terkejut. "Benarkah?"
Tuk ....
"Akh!" Hana mendelik tajam saat Kevin menyentil dahinya.
"Sebaiknya kita langsung pergi ke hotel saja, hari ini aku ingin beristirahat." ujar Kevin dengan menyandarkan kepalanya di bahu Hana.
Perempuan itu menoleh ke arah luar jendela dan merasa asing dengan sekitarannya, "Kita di negara mana?"
"Turki, aku ingin naik balon udara."
"Cappadocia?!" tanya Hana dengan senang. Kevin hanya menyunggingkan senyum dan mengeratkan pelukannya.
"Aku lelah," keluh Kevin yang langsung di sambut hangat oleh Hana.
Hana mengelus rambut hitam legam sang suami dan mencoba untuk menidurkan Kevin. "Aku akan membangunkan mu nanti, tidurlah."
"Tolong bernyanyi untuk ku,"
PLAK ....
"Hey! Kenapa kamu memukul ku?!" protes Kevin yang mengelus lengannya yang memerah. Hana berdecak kesal dan memalingkan wajahnya.
"Bagaimana kalau kita langsung tancap gas?" bisik Kevin yang begitu samar-samar terdengar di pendengaran Hana.
"Kamu mengatakan sesuatu?"
"Tidak," tampik Kevin dengan cepat. Pria itu tidak ingin semua rencananya hancur dan berantakan karena ucapannya sendiri.
Tak lama, mobil mereka tiba di sebuah lobby hotel yang begitu megah dan juga megah. Hana menepuk-nepuk pipi Kevin agar terbangun, tetapi hal itu malah membuat Kevin semakin nyenyak masuk ke alam mimpi.
"Kevin, bangun. Kita sudah tiba," kata Hana mencoba untuk membangunkan Kevin. Perempuan itu mengendus kesal dan rasanya ingin menggelindingkan tubuh suaminya ke bawah.
"Nona," panggil bodyguard setelah membukakan pintu mobil untuknya. Hana menghela napas panjang.
"Dia ini mati atau memang tidur?!" gumam Hana yang sudah kesal di ujung kepala. Hana merasa malu dengan apa yang akan Ia lakukan. Bodyguard yang mengerti dengan gerak-gerik Hana, sontak berbalik dan menutupi pintu mobil dengan tubuh besarnya.
"Aku harus mengatakan apa?" gumamnya bingung. Hana menatap wajah Kevin yang begitu tampan, bulu matanya yang lentik dan juga bibir tebal yang sudah mengambil ciuman pertamanya.
"Sa ... sayang, bangun." Hana menepuk-nepuk pipi Kevin dengan lembut, "Sayang?"
Kevin membuka matanya dan tersenyum cerah ke arah Hana. "Aku suka panggilan itu,"
CUP ....
...****************...
"Duduk,"
Hana menatap seisi kamar hotel yang sungguh luas dan juga mewah, bahkan bila di bayangkan, Hana di buat merinding bukan main. Kevin meletakkan koper di sudut ruangan, dan melirik ke arah sang istri yang masih menatap seisi kamar hotel mereka.
"Ada apa? Kamu tidak suka dengan kamarnya?" tanya Kevin mengejutkan Hana yang melamun. Wanita itu sontak menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Tidak, hanya saja kamar ini terlalu luas untuk kita berdua." cicit Hana membuat Kevin menyunggingkan senyum tipisnya. Pria itu bergerak secara tiba-tiba dan menarik lengan Hana agar terjatuh ke dalam pelukan hangatnya. Hana membulatkan matanya dan mendelik kesal.
"Vin, bagaimana kalau ada-"
"Mana mungkin ada yang melihat Kita, ini kamar presidential suite, Sayang." sela Kevin dengan menatap gemas sang istri yang menaikkan alisnya tinggi-tinggi.
"Tapi-"
"Ini hotel cabang ku,"
Wajah Hana berubah menjadi masam dan mendorong Kevin agar menjauh darinya. "Pantas saja, dasar sombong."
Kevin semakin di buat tersenyum karena tingkah Hana. Sang istri melepaskan jaketnya dan menggerai rambut panjangnya, Kevin yang masih berada di belakang Hana, di buat meneguk ludah karena gerakan tangan Hana yang baginya sungguh sangat seksi.
Kevin tidak bisa memalingkan wajahnya dari leher jenjang sang istri yang sungguh menggoda dirinya. Leher jenjang putih yang belum sempat ia cicipi itu, seakan-akan menarik dirinya untuk merasakannya. Langkah Kevin mendekati sang istri yang sibuk memperbaiki rambutnya.
"Hana,"
Hana terkejut saat Kevin memeluknya dari belakang tanpa aba-aba. Hana hanya mengelus tangan kekar Kevin yang melingkar di pinggang rampingnya dan kembali sibuk membenarkan tatanan rambutnya dari pantulan cermin.
"Sayang,"
"Kamu menginginkan sesuatu?" tanya Hana yang belum menyadari sesuatu. Kevin menyingkirkan helaian anak rambut yang menutupi leher jenjang sang istri, Hana yang mulai merasa tidak beres, sontak menoleh ke kepalanya sedikit.
"Vin? Apa yang kamu-"
"Diam,"
Hana di buat merinding saat Kevin menjilati leher jenjangnya. Bahkan pelukannya begitu erat, membuat Hana begitu sesak. "Vin, lepaskan." kata Hana mencoba untuk melepaskan pelukan Kevin.
Bruk ....
"Auh," Hana meringis memegangi pinggangnya yang terasa sakit karena terjatuh ke sofa. Hana membuka matanya dan menelan ludahnya karena melihat Kevin yang mulai membuka kancing kemejanya. Tatapan Hana jatuh pada otot lengan dan perut Kevin yang begitu terpahat sempurna. Hana sampai tercengang di buatnya, bahkan otot perut dan lengan Kakak laki-lakinya belum berbentuk sempurna.
"I ... ini,"
Kevin menyugar rambutnya dan dengan sengaja mendekatkan otot perutnya ke arah Hana. Dan benar saja, Hana di buat meneguk ludahnya kembali dan bahkan tangannya mulai tidak terkontrol untuk tidak memegang otot perut sang suami.
"Kamu suka?"
Blush ....
Hana sontak menarik tangannya lagi, setelah Kevin mengeluarkan suara. Hana berdiri, tetapi Kevin menahan tubuhnya dan mengisyaratkannya untuk tetap duduk. "Kamu ingat apa tujuan kita ke mari?" tanya Kevin.
Hana mengangguk dan mulai merasakan gugup yang melanda datang. "Ta ... tapi aku sedang-"
"Apa?" alis Kevin mulai terangkat bingung dan penasaran. Hana mengigit bibir bawahnya.
"Aku datang bulan!"
DEG ....
"WHAT?!"
Hana menunduk sejenak, "Be ... benar, aku sedang-"
"Istri nakal!"
CUP ....
Hana membulatkan matanya di saat Kevin langsung meraup bibir ranumnya dengan gerakan cepat. Tangan Kevin dengan cepat menahan lengan Hana, dan menahan tubuh sang istri agar tidak bisa bergerak di bawah tubuhnya. Hana mulai membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, adalah keputusannya. Kevin benar-benar tidak memberikan Hana untuk bernapas walaupun hanya sedetik saja, tetapi Hana tidak munafik untuk tidak menikmati ciuman mereka berdua saat ini.
Rasa lelah Hana seketika berubah menjadi semangat membara. Kevin melepaskan pungutan bibir mereka dan mengusap bibir sang istri yang basah karena ulahnya. "Kamu benar-benar siap memberikannya untukku?"
Hening ....
Hana terdiam sejenak dan setelah itu langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Kevin. "Aku siap, lagipula kita sudah menikah."
Kevin tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya yang berkali-kali lipat. Kedua pasangan suami istri tersebut langsung melakukan ciuman bibir kembali, Kevin langsung melancarkan aksinya yang berhasil membuat Hana panas dingin karena ulahnya.
Kevin mengangkat tubuh Hana menuju ranjang tidur yang lebih besar, menidurkan sang istri dengan nyaman dan saung menatap sejenak. "Apakah kamu mengharapkan apa yang aku harapkan juga?" tanya Kevin yang sudah melepaskan seluruh pakaiannya dan juga pakaian Hana.
Hana menutupi bagian atasnya dengan malu-malu dan berkata, "Ja ... jangan menatapku seperti itu!" Tegur Hana membuat Kevin semakin tidak bisa menahan gelora hasratnya.
"Baiklah, Istriku. Aku akan menghukum mu karena telah membohongi ku tadi,"
"WHAT?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments