Demi Keluarga (4)

...PERHATIAN⚠️...

...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....

...****************...

Hana mengepalkan kedua tangannya mendengar jawaban dari Kevin. "Aku ingin sendiri! Aku mohon pergi dan tinggalkan aku sendiri!" kata Hana kembali untuk sekian kalinya. Kevin tetap bergeming dan tidak memiliki niat sedikit untuk melangkah meninggalkan sekretarisnya itu.

"Jangan menangis," tutur Kevin membuat Hana sontak menoleh. Kevin menghela napas panjang dan mengeratkan jas miliknya di bahu Hana.

"Saya tahu, perjodohan kita seharusnya tidak pernah terjadi. Terlebih lagi, kamu memiliki seorang kekasih." tambah Kevin membuat Hana seketika memikirkan kekasihnya yang telah lama menjalin hubungan asmara.

"Dari mana kamu mengetahuinya?" tanyanya dengan sendu. Seakan-akan amarahnya menghilang, membuat Kevin seperti mendapatkan sebuah kesempatan.

"Banyak hal yang saya ketahui, termasuk hubungan asmara Anda dengan Bara Aksata." jawab Kevin dengan tanpa menjauhkan tangannya dari pundak Hana.

"Kamu pasti juga memiliki seorang kekasih kan? Kenapa kamu tidak menolak perjodohan ini, Kevin?" tanya Hana membuat lidah pria itu terasa kelu. Mana mungkin dirinya mengatakan, bahwa seorang Kevin jatuh hati pandangan pertama dengan Hana. Kevin juga memikirkan dampak yang lain dari ucapannya nanti.

"Aku tidak bisa menolak perjodohan ini,"

DEG ....

Harapan bahwa Kevin akan mengatakan menolak, pupus sudah. Pria itu seolah-olah tidak ingin mengatakan hal yang bisa membuatnya menyesal, terlebih memiliki Hana. Wanita cantik berdarah Jepang, yang memiliki watak dan sifat yang begitu mulia. Kevin memiliki tujuan besar kali ini, dan ini pertama kalinya Kevin menginginkan seorang wanita untuk menjadi pendamping hidupnya.

"Maksud mu apa?!" pekik Hana tak percaya dengan jawaban Kevin. Pria itu hanya tersenyum tipis, berbeda dengan Kevin saat berada di kantor.

"Saya sedang memikirkan keluarga ku. Terlebih lagi perjodohan kita sudah di rencana oleh leluhur, jadi aku tidak memiliki alasan kuat untuk menolaknya," Jelas Kevin berhasil membuat Hana bungkam seketika. Raut wajah perempuan itu berubah menjadi sendu.

Terlalu kaku? Aku akan bersikap informal saja. batin Kevin yang di akhiri dengan batuk kecil.

"Apakah kamu ingin membuat keluarga mu kecewa, dengan penolakan mu itu?" tambah Kevin yang membuat Hana lagi dan lagi membisu diam.

"Ta ... tapi bagaimana dengan nasib hubungan ku dengan Bara?" gumamnya pelan. Tetapi pendengaran Kevin begitu tajam dan pria itu hanya menghela napas tak habis pikir.

"Kamu lebih memikirkan pria yang bahkan tidak memikirkan dirimu itu? Hana, orang tua mu hanya ingin yang terbaik untuk mu," kata Kevin yang berusaha untuk membuat Hana setuju dengan perjodohan mereka.

Hana menjatuhkan jas milik Kevin dengan kasar. "Kamu tidak berhak untuk mengatur ku! Memangnya kamu siapa?!"

"Aku hanya ingin kamu sadar, bahwa Bara bukanlah pria yang cocok untuk mu, Hana. Mama mu sedang bersedih karena kamu menolak perjodohan ini, pikirkan orang tua mu." tampik Kevin yang mulai kesal karena ucapan Hana kepadanya. Hana memalingkan wajahnya dan menginjak jas milik Kevin, untuk melampiaskan rasa kesalnya.

Kevin menghembuskan napas panjang dan memilih untuk kembali. "Aku menunggu jawaban mu. Entah jawaban mu Iya atau Tidak, itu tidak penting, karena perjodohan kita tetap akan berjalan!"

Kevin pergi begitu saja dengan rasa amarah yang membuncah hebat di dalam diri. Hana terdiam dan langsung menoleh menatap kepergian Kevin. Apa yang di katakan oleh Kevin benar adanya, Hana terus memikirkan kekasihnya—Bara tetapi pria itu sedikitpun tidak pernah memikirkan dirinya. 3 tahun mereka menjalin hubungan, hanya beberapa kali mereka bertukar pesan dan telepon saja, dan selebihnya Bara selalu menolak dengan alasan sibuk dengan pekerjaan.

Hubungan mereka berdua di tentang hebat oleh keluarga Blezynski, terlebih sang Papa. Pria paruh baya itu seolah-olah mengetahui sesuatu, yang membuatnya menolak hubungan sang Putri dengan Bara selama ini. Hana hanya diam dan tak mengambil pusing penolakan keluarganya, katakan menurutnya semua itu hanya bersifat sementara. Hana meringkuk menangis kembali karena ucapan Kevin kepadanya.

"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku setuju saja dengan perjodohan ini? Ta ... tapi Bara bagaimana?"

...****************...

Setelah menenangkan diri, Hana pada akhirnya kembali ke ruang tamu yang di mana keluarga Wirangga masih terduduk seraya mengobrol di sana. Bahkan Yoshi dan Miko sudah bergabung di antara mereka.

"Mama,"

Kedua keluarga tersebut menoleh, Mama Yura sontak mendekati Putrinya dan mengelus pipi Hana dengan lembut, "Nak."

Hana dapat melihat rasa kecewa dari sorot mata Papa Aiden dan Mama Yura. Hana memejamkan matanya menikmati usapan pada pipi kanannya. "Mama menangis?" tanyanya pelan.

"Tidak, Mama tidak apa-apa. Kamu-"

"Duduk Hana!" tegur Papa Aiden yang sedikit kesal dengan tingkah Putrinya yang kurang sopan. Hana tertunduk dan menuruti sang Papa. Kevin melirik Hana yang telah duduk di sebelahnya dengan datar.

"Hapus air mata mu, Hana. Kamu terlihat jelek," bisik pria itu membuat Hana menadah kesal.

"Tapi tadi kamu terpesona dengan ku,"

DEG ....

Kevin merasa pipinya terbakar karena ucapan Hana. Pria itu bahkan sontak memalingkan wajah karena tindakannya tadi ternyata di ketahui oleh Hana.

Yoshi dan Miko saling bertatap melihat interaksi Hana dan Kevin. "Kalau mereka menikah, bagaimana dengan Bara?" tanya Miko kepada Yoshi yang diam. Pria berprofesi sebagai dokter tersebut melirik dan mengangkat bahunya tidak tahu.

"Hubungan mereka itu tidak direstui, maka mau tidak mau ya, Hana memutuskan hubungan." Jawab Yoshi beropini. Miko mengelus dagunya sendiri, seolah-olah sedang berpikir.

"Kamu baik-baik saja, Hana?" tanya Mama Naena yang cemas kepada Hana.

"A ... aku baik-baik saja, Ma." jawab Hana dengan canggung dan melirik Papa Aiden yang hanya diam dengan wajah datar.

"Kami tidak memaksa mu untuk menerima perjodohan ini, Hana." celetuk Papa Diego membuat Kevin menoleh terkejut. Apakah orang tuanya berniat untuk membatalkan perjodohan antar dirinya dan Hana? Maka Kevin tidak akan menerima pembatalan tersebut begitu saja.

"Papa berniat membatalkan perjodohan kami?" tanya Kevin dengan sorot kesal. Mama Yura dan Mama Naena saling berpandangan melihat reaksi dari Kevin.

"Iya,"

DEG ....

"Karena perjodohan ini membutuhkan persetujuan dari yang bersangkutan-"

"Aku menerima perjodohan ini!" potong Hana dengan cepat dengan wajah tertunduk. Kevin berpaling menatap perempuan di sampingnya dengan sangat lama.

Papa Aiden bahkan tak menyangka dengan jawaban dari sang Putri, "Hana, kamu serius?" tanyanya tak menyangka. Hana hanya mengangguk sebagai jawaban dan meremas kuat dress-nya karena merasa gugup.

"Benarkah?"

Papa Diego dan Mama Naena begitu senang karena persetujuan dari Hana telah mereka dapatkan. Kevin menyungging senyum tipis dan tak sadar bahwa dirinya menggenggam erat tangan perempuan tersebut.

"Aku juga menerima perjodohan ini," kata Kevin tanpa ragu dan tidak terlihat ada kebohongan di mata pria itu. Yoshi dan Miko saling berpandangan dan tersenyum menggoda.

"So cute sekali kalian ini, sampai-sampai kamu menggenggam tangan Adikku," sindir Yoshi membuat Kevin terkejut dan sontak menjauhkan tangannya.

"Kalau suka bilang saja Kak, jangan di pendam nanti bisa ada sarang buaya loh." goda Miko yang langsung mendapatkan jeweran dari Mama Yura.

"Kamu diam!"

Miko meringis mengusap-usap telinganya, "Kak Yoshi juga, Ma!" adunya membuat Yoshi mendelik tajam.

Hana menghembus napas panjang dan melirik Kevin yang begitu tampak senang dengan jawabannya, "Tapi aku memiliki satu permintaan."

"HANA!" hardik Papa Aiden yang tak menyangka dengan ucapan sang Putri. Hana menatap sang Papa dengan sendu.

"Hanya satu, tidak lebih." cicit nya penuh takut. Kevin mengangguk, begitu juga dengan keluarga Wirangga.

"Katakan, apa permintaan mu, Hana."

Hana melirik Kevin yang sudah menunggu ucapannya, perempuan itu menarik napas panjang dan kembali tertunduk, "Beri aku waktu untuk membicarakan hal ini kepada kekasih ku."

"Nak, kamu sadar dengan apa yang kamu katakan itu?!" tanya Mama Yura tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Hana. Mama Naena melirik sang suami yang tampak tenang.

"Lakukanlah, karena kekasih mu itu berhak mengetahuinya."

Mendengar jawaban dari Papa Diego, Hana tersenyum tipis. "Terima kasih, maaf sudah membuat kalian kecewa," lirihnya dengan melirik kedua orang tuanya yang hanya diam dengan tatapan mata sendu. Hana tahu bahwa permintaan ini sungguh memberatkan orang tuanya.

Yoshi menggelengkan kepalanya melihat tingkah Hana, "Hana, Bara tidak mencintai mu, dia hanya-"

"Biar itu menjadi urusan ku, Kak. Aku janji hanya satu permintaan ini saja," sela Hana dengan cepat untuk mencegah kesalahpahaman antara mereka. Miko mendengus kesal dengan Kakak perempuannya yang begitu tergila-gila dengan pria yang hanya bisa memanfaatkan Kakak perempuannya.

"Up to you, Kak!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!