Pria Yang Hangat (10)

...PERHATIAN⚠️...

...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....

...****************...

Hana melirik Kevin yang sibuk memakai kemejanya, Hana merasa canggung karena kali ini adalah hal baru baginya, terlebih lagi satu kamar hotel dengan pria yang baru Ia kenal beberapa Minggu, tapi Hana merasa sudah cukup pengenal pria itu.

Merasa di perhatikan, Kevin menoleh dan membuat Hana terbatuk kecil karena terkejut, "Kenapa?" Kevin bergegas memberikan segelas air kepada istrinya.

"Ti ... tidak ada," jawabnya dengan menaruh gelas kosong tersebut. Kevin menyungging senyum dan memperhatikan Hana yang kembali terdiam.

"Kamu senang?"

Hana menadah bingung, "Maksudnya?"

Kevin tersenyum tipis menjawab pertanyaan yang Ia ajukan, kembali di jawab pertanyaan oleh sang istri, "Kamu menikah dengan ku bukan karena paksaan kan? Tentang di taman belakang, aku-"

"Sudah lah, Pak. Tidak perlu di bahas lagi," sela Hana dengan tenang. Kevin mengernyitkan dahinya, mendengar panggilan Hana untuknya.

"Pak? Kenapa formal sekali?"

Hana mengangkat bahunya, "Selesaikan pakaian mu, aku akan menyiapkan sarapan dan kopi." Perempuan yang telah sah menjadi istri dari Kevin, memasuki pantry dapur dengan memakai celemek. Kevin tersenyum dan semakin di buat tersenyum dengan paras cantik Hana.

"Tapi kamu melupakan sesuatu, Sayang."

DEG ....

Hana menjadi kaku, karena Kevin memanggilnya dengan begitu lembut dan berat. Hana menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk tidak memikirkan sesuatu, karena sejak kemarin pikirannya terus tertuju kepada Bara, mantan kekasihnya. Hati Hana masih begitu sakit, mengingat pengkhianatan yang di lakukan oleh Bara di belakangnya.

Kevin mendekat dengan membawa dasinya, "Ada apa? Kenapa murung?"

Entahlah, Hana merasa beruntung di sisi lain karena mendapatkan suami seperti Kevin, pria yang begitu lembut dan juga pengertian. Sangat berbeda saat berpacaran dengan Bara, hanya Hana yang memiliki effort nya besar untuk pria itu, bahkan rela membiarkan Bara untuk tinggal di apartemen miliknya.

"Tidak ada." tukasnya dengan sendu. Kevin sedikit membungkuk dan menghela napas.

"Kamu masih memikirkan bajingan itu?" tebak Kevin begitu tepat sasaran. Melihat diamnya Hana, sudah menjawab pertanyaannya sekarang.

"Letakan itu dan tatap aku." Hana menghela napas panjang saat Kevin merebut pisau dan menaruhnya, pria itu membalikkan badan Hana dan memegang kedua pundaknya.

"Look me, Hana."

Hana menurut dan tersenyum melihat wajah datar pria yang menjadi suaminya, "Aku tidak apa-apa. Kamu duduk saja, biar aku yang-"

CUP ....

Mata perempuan itu membulat hebat saat benda kenyal milik Kevin menempel di bibir ranum miliknya. Hanya menempel dan sedikit lumatan, Kevin langsung mengecup singkat dan berakhir mengusap bibir Hana dengan santai.

"Manis," ungkapnya dengan berbisik. Hana merasa kedua pipinya memanas, selama berpacaran dengan Bara saja, Hana tidak mengizinkan pria itu untuk melakukan apapun, kecuali mengecup pipi.

"Kenapa kamu mencium ku?!" kesal Hana dengan mencubit lengan pria di hadapannya.

"Hukuman untuk mu," Alis Hana terangkan. "Karena kamu masih memikirkan pria yang bahkan tidak memikirkan mu. Aku akan mengurus apartemen dan mengusir Bara dari sana,"

Hana terkejut dengan ucapan Kevin yang begitu terdengar datar, "Tapi, Vin, dia tidak memiliki tempat tinggal!" ujar Hana membuat Kevin memiringkan kepalanya.

"Dia itu seorang karyawan di perusahaan cabang milikku, mana mungkin aku tega tidak memberikannya gaji. Jangan bilang, kamu enggak tahu kalau dia memiliki rumah?" tanya Kevin penuh selidik. Hana menggelengkan kepalanya polos, Kevin mengusap wajahnya dengan gusar.

"Intinya aku yang akan mengurus, okay. Kamu cukup diam aja,"

Satu fakta yang baru di ketahui nya, Bara adalah karyawan di kantor cabang milik Kevin dan Bara ternyata sudah membohongi dirinya. Entah berapa banyak lagi kebohongan Bara kepadanya, selama mereka menjalin hubungan asmara.

"Berhenti memikirkannya, yang kamu pikirkan hari ini dan seterusnya adalah aku, kamu, hubungan ini, dan satu lagi ...," Hana menadah kembali, seolah-olah bertanya. "Keturunan kita,"

...****************...

Hana mencoba untuk mengimbangi langkah kaki Kevin yang begitu lebat, jika di bandingkan dari dirinya. Dengan keadaan membawa iPad dan tas kerjanya, Hana dan Kevin yang seharusnya masih ingin menikmati jatah libur, harus kembali ke perusahaan karena ada pertemuan penting dengan pebisnis.

Davka yang sudah menunggu di depan ruang kerja Kevin, mengerutkan keningnya. "Nyonya bekerja?" tanyanya membuat Kevin menoleh ke arah Hana yang menghembuskan napasnya.

"Iya, Pak Kevin ada pertemuan. Jadi saya harus ikut sebagai sekretaris,"

Davka melirik Kevin yang hanya diam dengan memandangi Hana dengan tatapan yang begitu aneh bagi Davka, "Tuan?" panggilan dari Davka pun Ia abaikan.

"Vin,"

Kevin terperanjat karena Hana menepuk lengannya, "Ada apa, Sayang?"

Davka memilih untuk menelan perkataannya, Hana memalingkan wajahnya yang kembali memerah karena panggilan Kevin untuknya sejak tadi. Tatapan Kevin seketika menjadi datar, "Ekhem, mari kita masuk dulu."

Davka menggerutu melihat tingkah Kevin yang berbeda, "Dasar bucin."

Setelah di dalam ruang kerja, Hana mendudukkan dirinya dan langsung melihat jadwal Kevin, "Pak, ini jadwal Anda yang terbaru."

Kevin menerima iPad tersebut dan mengerutkan keningnya, "Pak William meminta jadwal temu?" tanya Kevin yang langsung melirik ke arah Hana. Perempuan itu mengangguk sebagai jawaban.

"Pak William ingin membahas rencana pembangunan di kota sebelah, Tuan." jelas Hana, Kevin mendengus kesal karena teringat akan tatapan pria yang cukup muda satu tahun darinya itu, saat bertatapan dengan Hana.

"Dav, pesankan aku sarapan sekarang." Davka mengerutkan keningnya.

"Sarapan?"

"Jangan banyak bertanya," ketus Kevin, "Sayang, kamu harus makan dulu sebelum beraktivitas. Okay?"

Hana tersenyum dan mengangguk, "Iya, Pak."

Davka menatap pasangan suami-isteri di hadapannya dengan bingung. Kevin sudah mengajukan akan menikmati masa pernikahan selama seminggu penuh, begitu juga dengan Hana. Tetapi sekarang? Belum ada 48 jam, mereka sudah kembali ke perusahaan untuk bekerja.

"Memangnya kalian tidak berolahraga?" tanya Davka yang terdengar ambigu di pendengaran Hana.

"Aku dan Hana, akan menyelesaikan pekerjaan ini dan setelah itu baru menikmati pernikahan baru kita." sahut Kevin dengan melirik Hana lagi. Tatapan Kevin benar-benar tidak akan pernah bisa lepas, walau sedikitpun dari sang istri. Davka hanya mengangguk dan melakukan perintah dari sang atasan.

"A ... aku akan membuatkan teh hangat untuk Tuan,"

"Han, Tuan Kevin tidak minum teh!" kata Davka memberitahu Hana. Kevin melempar pria di sebelahnya dan melotot tajam.

"Diam kamu!"

Hana tersenyum tipis, "Aku melarangnya untuk minum kopi di pagi hari, Pak. Itu tidak baik untuk kesehatannya," jawab Hana dengan bijaksana. Perempuan itu bergegas pergi menuju dapur kantor.

Menyedihkan sekali kamu, Davka. Batin Davka yang hanya menunduk lesu

"Periksa dokumen kerjasama ini, aku akan menyusul Hana."

Davka hanya diam membisu, membiarkan sang atasan untuk menyusul istrinya. Sedangkan di luar sana, Hana sedang melamun sembari menuangkan air hangat ke dalam gelas. Entah apa yang perempuan itu pikirkan, hingga tidak menyadari kedatangan Kevin.

"Sayang,"

Tak ....

"Aduh!" Kevin bergegas mendekati Hana yang tampak terkejut dengan kedatangannya. Kevin bergegas mengangkat tubuh Hana dan mendudukkan di dekat wastafel.

"Dinginkan tangan mu," Hana hanya menurut dan menatap Kevin yang tampak cemas.

"Masih sakit? Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat mu terkejut tadi," ucap Kevin menyesal. Hana menatap punggung tangannya yang memerah akibat terkena air hangat itu.

"Bukan salah mu, aku yang terlalu melamun tadi." tampik Hana yang membuat getaran di hati Kevin semakin kencang. Kevin memegangi pundak sang istri dan menatap manik mata Hana.

"Ada apa?" tanya Hana bingung. Kevin hanya diam dan mengangkat tangan Hana, lalu mengecupnya.

"Kita ke rumah sakit, ya." ajak Kevin dengan suara yang begitu lembut. Hana tersenyum hangat, dan menggeleng sebagai jawaban.

"Tidak perlu. Aku baik-baik saja, Vin." tolak Hana. Perempuan itu turun dari atas meja dan mengambil sebuah kotak obat.

"Tapi, Sayang, tangan kamu ...," Kevin menggantung ucapannya, "Baiklah."

Hana tersenyum sangat tipis melihat tingkah laku suaminya itu. Baru satu hari mereka menikah, tetapi entah mengapa sikap Kevin begitu bertolak belakang dari biasanya. Kevin membenarkan letak blazer sang istri dan memeluk Hana dari belakang.

"Setelah rapat, ayo kita kembali ke hotel."

"Tapi jadwal mu hari ini cukup padat, Vin. Mana mungkin aku mengabaikannya," jawab Hana yang mulai tak habis pikir. Kevin mengeratkan pelukannya dan hal itu membuat Hana merasa nyaman.

"Aku ingin memelukmu seharian. Lagipula kita sedang cuti,"

Hana memilih untuk diam dan membiarkan Kevin memeluknya. Perempuan itu tak sadar, bahwa dirinya mulai merasa nyaman dengan tingkah Kevin saat ini. Kevin adalah pria yang hangat dari segi manapun, pria itu akan menunjukkan taringnya apabila di usik oleh seseorang, dan Hana menyukai hal itu. Hana seperti memenangkan lotre berhadiah, putus dengan Bara dan Hana menikah dengan bosnya sendiri, Kevin.

"Pria yang hangat,"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!