Biang Masalah (14)

PERHATIAN⚠️

...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....

...****************...

Pagi telah menyapa, Kevin dan Hana masih setiap saling memeluk satu sama lain setelah memberikan kehangatan sejak semalaman. Kevin meninggalkan semua pekerjaan kantornya, untuk Hana setelah melewati debat kecil perihal permintaan Nenek dari Kevin.

Tak lama, Hana menggeliat nyaman membuat Kevin membuka matanya, pandangan pertama yang Ia lihat akhirnya adalah sang istri. Ini yang ia inginkan sejak awal menikah, bukan berpisah ranjang tetapi satu ranjang. Kevin mengulas senyuman kecil dan menjauhkan anak rambut dari wajah Hana.

"Aku berjanji, hanya kamu dan kamu yang menjadi wanita ku, tidak ada yang bisa menggantikan posisi mu selamanya." bisik Kevin dengan mengeratkan pelukannya. Kevin sangat senang, karena Hana memberikan izin dan hak walaupun sebatas berpelukan dan satu ranjang. Kevin belum memiliki keberanian untuk meminta haknya sebagai seorang suami dan memilih untuk membiarkan Hana yang mengatakannya secara langsung.

"Kevin,"

Kevin membuka matanya kembali. Hana menguap dan berakhir tersenyum, "Selamat pagi." sapanya dengan manis.

"Selama pagi, sweetie." sapa Kevin kembali dengan mengecup kedua pipi Hana, "Ayo bangun. Kita harus pergi ke kantor hari ini."

Kevin terbangun dan menatap pantulan dirinya di cermin, bertelanjang dada. Kevin tidak bisa tidur dengan memakai atasan, maka dari itu Hana terkejut kala melihat Kevin membuka baju atasannya di hadapan Hana. Perempuan itu terbangun dan memegangi kepalanya yang sedikit nyeri, "Vin, kamu tahu obat ku?" tanyanya membuat Kevin sontak menoleh.

"Obat? Obat apa, Sayang?" tanya Kevin membuat Hana menggeleng pelan.

"Obat sakit kepala ku,"

Kevin mendekati meja rias dan memberikan sebuah botol kecil, "Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Kevin khawatir. Hana meminum obat tersebut dan mengangguk.

"Aku baik-baik saja. Papa dan Mama yang meminta ku untuk membawa obat ini, karena aku sering sakit kepala." jelas Hana yang langsung beranjak dari ranjang dan memberikan jubah mandi kepada Kevin.

"Bersihkan diri mu, aku akan membersihkan kamar."

Sebenarnya rasa khawatir Kevin tak sampai di sana, wajah pucat Hana juga menjadi alasannya. "Baiklah, setelah itu kamu harus membersihkan diri." Kevin mengelus kepala Hana dan bergegas masuk untuk membersihkan tubuhnya.

Hana menghela napas panjang dan mengusap tengkuk lehernya, "Dosisnya sudah benar. Kenapa masih pusing," gumamnya dengan mengeluh.

Hana bergegas membersihkan kamar yang sedikit berantakan dengan beberapa berkas-berkas kantor milik mereka berdua. Setelah selesai, Hana mengikat rambut dan bergegas untuk keluar untuk menyapa keluarga Wirangga lainnya.

Kaki jenjang itu menyusuri lorong rumah dengan santai dan hanya tersenyum beberapa kali bertemu dengan pelayan. Hingga tatapannya jatuh pada kamar seseorang dengan pintu yang sedikit terbuka.

"Sejak kemarin datang, belum sempat menyapa Nenek. Mungkin aku harus menyapa pagi," Hana mengurungkan niatnya untuk menuju tangga, perempuan itu mendorong pintu kamar dan tersenyum tipis saat melihat seorang wanita paruh baya terduduk di kursi roda.

"Nenek,"

"Hana?" Hana mendekati Nenek Yeri.

"Maaf, Hana baru sempat menyapa Nenek. Apakah Nenek baik-baik saja?" tanya Hana penuh perhatian. Nenek Yeri tersenyum lepas dan menanggapi dengan anggukan.

"Sangat baik. Terima kasih, Nak."

"Untuk apa, Nek?"

Nenek Yeri mengelus kepala Hana dengan penuh rasa sayang, "Terima kasih karena telah menikahi Cucu ku, Kevin. Nak, Kevin adalah pria yang sangat keras kepala dan juga keras dalam segi apapun," ungkap Nenek Yeri membuat Hana terdiam sejenak.

"Aku tahu, Nek. Aku juga bersyukur karena telah menikah dengan Kevin dan juga atas bantuannya, aku bisa mengakhiri hubungan ku dengan Bara." kata Hana dengan tulus, Nenek Yeri semakin senang dengan tanggapan yang di berikan oleh Hana.

"Kemarin Nenek mendesak Kevin untuk memiliki keturunan bersama mu. Apakah Kevin menyakitimu, Nak?" tanya Nenek Yeri yang terlihat khawatir. Wanita paruh baya itu ingat betul bagaimana raut wajah Kevin yang terlihat tak bersahabat karena permintaannya.

Hana terdiam sejenak, Kevin dan Hana telah membicarakan tentang permainan Nenek Yeri dengan matang-matang walaupun diiringi dengan debat kecil. "Kevin tidak menyakiti ku dan kami telah sepakat untuk permintaan Nenek,"

"Benarkah?"

...****************...

Hana memijat keningnya yang berdenyut nyeri seraya menatap tumpukan berkas di hadapannya. "Dasar pria menyebalkan," gerutu Hana yang tentu saja di tujukan kepada Davka. Pria itu terlalu ringan tangan memberikan Hana tumpukan kertas lagi dan lagi.

Hana melirik jam tangan yang sudah menunjukkan jam malam siang, "Lupakan saja. Aku sungguh lapar," Hana berjalan menuju lift seraya merapihkan penampilannya.

Drtttt ....

Hana merogoh kantong dan menatap layar ponsel, "Bara?" gumamnya dengan alis mengerut.

Perempuan itu menolak panggilan dan melipat tangannya, menunggu lift menuju lantai yang Ia tuju. Bayang-bayang hubungannya dengan Bara dulu, membuat Hana menghela napas. Hana menaruh hati kepada pria itu sejak masa kuliah, dan baru menjalin hubungan setelah wisuda, tetapi siapa sangka kalau Bara malah memanfaatkan dirinya untuk kepentingan sendiri.

"Aku harus mengurus apartemen ku, kalau tidak di urus segara, pasti Bara semakin menjadi-jadi."

Hana keluar dari lift dan menatap betapa ramainya lobby yang menjadi satu lantai dengan kantin kantor. Sangat luas dan posisi perusahaan juga sangat strategis yaitu di pusat kota. Hana melangkahkan kakinya menuju kantin dan hanya memandang wajah datar selama di kantin, tak ada yang menarik menurutnya.

Drttt ....

Hana menatap layar ponselnya. "Ya ampun, aku bahkan lupa memberitahu Kevin,"

"Sayang, kamu di mana?!"

Hana menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya, "A ... aku di cafetaria, ada apa?" tanya Hana membuat hembusan dari seberang telepon terdengar.

"Tetap di sana! Aku akan segera tiba!"

"Hey, memangnya kenapa ... halo?"

Hana menatap tercengang tak percaya, bila Kevin benar-benar memutuskan telepon di saat dirinya belum selesai berbicara. Hana menggerutu kesal dan bergegas menuju cafetaria untuk mencari pengisi perut kosongnya. Persetan dengan semua pekerjaan yang di berikan Davka kepadanya, urusan perut adalah nomor satu pikirnya.

Setelah mengambil pengisi perut, Hana di kejutkan karena tarikan seseorang pada lengannya, "astaga! Jangan menarik ku!" tegur Hana dengan menepis tangan Kevin dari lengannya.

Kevin berkacak pinggang. "Aku meminta mu untuk mempelajari berkas untuk rapat, tapi kamu ... astaga!"

Hana mendelik kesal karena ucapan suaminya. "Aku lapar! Kamu ingin asam lambung ku kambuh karena ulah mu itu?" keluhnya. Kevin bungkam dan melirik pengisi perut yang di pegang oleh Hana.

"Ekhem, mari."

"Jangan menyentuh ku! Aku kesal!" tegas Hana membuat Kevin menjadi ciut.

Hana duduk dengan kesal dan melirik Kevin yang juga mengambil tempat di sampingnya, "Kamu tidak makan siang?" tanyanya ketus. Kevin menggeleng dan membiarkan Hana melahap habis makan siangnya. Padahal niatnya adalah mengajak sang istri untuk makan siang di luar, sekaligus mencari angin segar.

"Kenapa menatapku seperti itu?"

"Karena kamu cantik,"

BLUSH ....

Wajah Hana begitu mereka karena pujian dari sang suami. Hana menjadi malu sendiri karena beberapa karyawan di dekatnya pasti mendengar pujian Kevin kepadanya.

Kevin terkekeh geli. "Diam sebentar,"

Hana hanya menurut dan tak menyangka bila Kevin mengikat rambutnya yang tergerai, "Ternyata berfungsi juga setiap hari aku membawa ikat rambut."

"Kamu mengoleksi?"

Kevin menggeleng, "Tidak, Sayang. Tapi semenjak aku menikah dengan mu, aku memiliki hobi itu." bisik Kevin membuat Hana mendelik dan merona merah kembali. Bukankah pujian dan ucapan Kevin terlalu berlebihan untuknya?

"Membual,"

Kevin hanya menggapainya dengan senyum dan membiarkan Hana menyelesaikan makannya. Hingga pendengaran mereka jatuh pada suara keributan yang terjadi di luar lobby, Hana melirik Kevin yang sedang mengangkat telepon dari seseorang.

"Sialan, aku akan segera datang!"

"Vin, ada apa? Kenapa kau terlihat panik?" tanya Hana setelah menyelesaikan makan siangnya. Kevin menghela napas dan mengelus kepala sang istri.

"Terjadi keributan di luar kantor, kamu tetap di sini ya. Aku akan segera kembali," kata Kevin yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Hana. Perempuan itu menatap sekitaran cafetaria yang ternyata sudah sepi, dan beberapa karyawan berlarian menuju lobby untuk melihat keributan yang di maksud.

"Nona Hana!"

Perempuan itu menoleh, "Dav? Apa yang terjadi di sana?" tanyanya dengan bingung. Davka mengelap keringatnya dan menggeleng tidak tahu.

"saya tidak tahu, Nona tetap di sini. Bisa sangat bahaya,"

Hana berdecak kembali karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Hana memilih untuk melihat keributan yang di maksud oleh Kevin dan Davka. Dan di sini lah dirinya berada, di lobby yang cukup luas yang di penuhi oleh para karyawan.

"Kamu tidak bisa seenaknya memecat ku di perusahaan cabang!"

DEG ....

Hana mengenal suara itu. Hingga tatapannya jatuh pada mantan kekasih dan juga suaminya yang sedang bertatapan. Hana menelan ludahnya sendiri dan menatap kedua pria yang sedang beradu argumen.

"Dengan Anda membuat keributan di kantor saya, Anda masih bertanya mengapa Anda di pecat?" Kevin melipat tangannya angkuh. Pria itu sudah muak menghadapi pria di hadapannya yang begitu berwajah dua.

Bara mengepalkan kedua tangannya. "JANGAN MELIBATKAN MASALAH PRIBADI DENGAN MASALAH PERUSAHAAN, KEVIN!"

"Melibatkan masalah pribadi? Dasarnya saya memecat Anda dari perusahaan cabang adalah karena atas dasar korupsi. Anda masih ingin mengelak-"

BRUK ....

"Kevin!"

Hana bergegas mendekati sang suami yang tersungkur ke lantai karena bogem mentah yang di berikan oleh Bara.

"KAMU GILA, BARA?!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!