Rencana Manis Yang Gagal (18)

...PERHATIAN⚠️...

...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....

...****************...

Tengah Malam ....

Dengan menyesap nikotin dan di dampingi segelas wine, Kevin menatap langit malam dengan semburat senyuman yang sungguh tipis. Pria itu melirik ke arah dalam kamar, di mana sang istri meringkuk dalam keadaan tidur, setelah bertempur hebat. Kamar mereka menjadi sedikit berantakan karena kegiatan pertama mereka.

Kevin mematikan nikotinnya dan menyesap wine miliknya dalam sekali tegukan. "Aku tidak bisa mendeskripsikan kebahagiaan ku kali ini, Hana. Sungguh tidak bisa," gumamnya dengan hati yang berdebar-debar.

Kevin, seorang pria kaku yang hanya memikirkan pekerjaan kini telah resmi melepas gelar perjakanya dengan sang istri. Dan, Kevin telah resmi jatuh cinta dengan seorang wanita cantik berdarah jepang, Hana.

Tatapan polos yang di pancarkan oleh Hana, bisa menggerakkan hatinya dalam sekejap. Bahkan sebelum bertemu dengan Hana, Kevin adalah pria yang di cap anti wanita oleh keluarga dan temannya. Bahkan Kevin tidak ingin ada yang bekerja dengan dirinya adalah seorang wanita, termasuk asistennya. Pria itu tersenyum mengingat bagaimana Hana mengerang di bawah tubuhnya dengan peluh mengucur hebat, Kevin bisa melihat bagaimana Hana menahan malu karena tingkahnya sendiri.

Kevin menuangkan kembali wine ke dalam gelasnya, "Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyentuh istriku. Hana telah menjadi milikku sepenuhnya dan cepat atau lambat, akan ada seorang anak yang hadir di antara cinta kami berdua." gumam Kevin dengan tatapan yang benar-benar serius.

Bruk ....

"Akhh!"

Kevin sontak berdiri dan menaruh gelasnya dengan gerakan kasar, pria itu bergegas masuk ke dalam kamar setelah mendengar sesuatu seperti ada yang terjatuh. "Sayang?!"

Hana yang masih bergulung selimut, langsung meringis kesakitan memegangi keningnya yang terbentur lantai dengan cukup kuat. "Kevin,"

Kevin mengangkat tubuh Hana untuk kembali berada di atas tempat tidur, bergerak cepat untuk memeriksa keadaan Hana dengan wajah khawatir. "Di bagian mana yang sakit, Sayang?" tanyanya dengan cemas.

"Sepertinya akan memar," kata Hana dengan menunjukkan keningnya yang terasa sakit. Kevin menghela napas panjang dan meraih kotak obat di meja laci.

"Tidurlah, aku akan mengobati lukanya."

"Kening ku terluka?!" tanya Hana terkejut. Kevin hanya tersenyum tanpa menjawab. Hana langsung duduk mengarah cermin dan benar saja, keningnya memerah dan terdapat pula di atas alis tebalnya.

"Hiks ... bagaimana ini?"

Kevin mulai panik sendiri karena Hana yang mulai menangis tersedu-sedu. "Jangan menangis, lukanya akan hilang dalam dua hari, Hana." ujar Kevin mencoba untuk menghibur sang istri.

"Kak Yoshi dan Miko pasti akan menertawakan aku nanti," lirih Hana membuat Kevin tidak bisa menahan tawanya. Pria itu memalingkan wajahnya, agar Hana tidak melihatnya tertawa kecil. Dalam situasi genting seperti ini pun, Hana masih memikirkan kedua saudaranya.

"Kamu tertawa?"

Hening ....

"Ekhem," Kevin menoleh. "Aku tidak melakukan apapun!" tampik Kevin dengan wajah datar. Kevin menghapus air mata sang istri dan juga mengelap sedikit air yang keluar dari hidung wanita itu.

"Mendekat, lukamu akan infeksi nanti." Hana dengan senang hati mendekatkan wajahnya untuk di obati oleh Kevin. Pria yang berstatus sebagai suami Hana itu, terlihat serius mengobati luka kecil yang di dapatkan oleh sang istri.

Hana tidak bisa memalingkan wajahnya, karena ketampanan Kevin yang begitu menghipnotis dirinya dalam sekejap. Tangan Hana terangkat untuk menyentuh jakun leher sang suami, membuat Kevin langsung melirik sang istri.

"Kamu sungguh tampan," puji Hana membuat Kevin tersenyum senang.

"Benarkah?" tanya Kevin memastikan. Hana mengangguk dengan semangat.

Kevin meletakkan obat luka kembali di tempatnya dan menarik pinggang Hana agar menempel pada tubuh polosnya, "Aku rasanya ingin memakan mu lagi, Hana."

Kevin mendekati wajahnya kembali, Hana mulai memejamkan kedua matanya. Hana begitu menyukai ciuman yang Kevin berikan kepadanya. Menuntun dan juga lembut, Hana yang awalnya malu-malu kini mulai berani untuk memulainya.

Tok ... tok ....

"KEVIN!"

PYAR ....

...****************...

Hana menatap sang suami yang berdiri di sampingnya. Kevin memasang wajah datar sejak tadi dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana. Hana hanya diam dan melirik ke arah pria yang sudah mengganggu waktu bersenang-senang mereka berdua.

"Aku tidak ingin!" tolak Kevin untuk sekian kalinya. Pria yang cukup muda di bandingkan Kevin itu mengendus kesal.

"Ayolah, Brother. Kamu sudah lama tidak ke mari. Sekali saja," bujuk pria tersebut yang begitu terlihat menggelikan di mata Kevin, tetapi berbanding balik di mata Hana. Wanita itu tersenyum senang mendengar bujukan pria asing itu.

"Tidak," tolak Kevin kembali lebih tegas. Pria tersebut mendengus kesal dan melirik Hana yang sejak tadi diam.

"Adik manis, tolong bujuk kekasihmu ini ya. Bisanya bila dia datang, dia akan terus menyeret ku-mphttt!"

"Stop it!" ketus Kevin dengan mata mendelik tajam.

Hana tertawa pelan. Melihat Kevin yang sudah di batas kesabaran, membuat Kevin di mata Hana sangatlah menggemaskan. "Jangan seperti itu,"

Kevin dan pria asing itu menoleh, "Sayang, tapi dia sudah menggagalkan rencana kita-"

"Kita bisa melakukannya nanti, Kevin." sela Hana membuat Kevin tercengang. "Kamu tidak ingin mengenalkan dia kepada ku?"

"Sayang-AKHH!"

Kevin menjerit kesakitan karena pria asing yang menjadi sahabatnya itu menginjak kakinya dengan kuat. Hana terkekeh geli dan mendekati sang suami yang merintih kesakitan. "Sudah, ayo kita keluar." ajak Hana membuat Kevin hanya menghela napas panjang dan memilih untuk ikut saja.

"Ayo, Adik manis." Hana terkejut saat pria asing yang belum Ia kenal itu menarik lengannya. Kevin mendelik dan menepis tangan sang sahabat dari lengan sang istri.

"Jangan menyentuh istri ku!" tegas Kevin membuat pria asing itu terkejut.

"What! You wife?!"

Pria asing itu langsung menatap Hana dari atas hingga bawah. "He's too young for old you,"

BRAK ....

"Kevin!" tegur Hana setelah Kevin menendang vas bunga di dekatnya. Pria asing tersebut langsung pergi dengan cepat, karena tidak ingin menjadi sasaran amukan sahabatnya.

"Sayang, dia menyebut ku tua!" adu Kevin dengan mimik wajah memelas. Hana tersenyum canggung dan mengelus lengan sang suami.

"Kamu memang sudah tua,"

Kevin mendengus kesal, "Sayang."

"Okay-okay, suamiku ini masih muda dan tampan." ralat Hana dengan mengelus rahang tegas sang suami. Kevin tersenyum tipis dan merangkul pinggang ramping sang istri.

"Kalau masih sakit, katakan kepadaku." kata Kevin dengan penuh perhatian. Hana mengangguk dan mengajak Kevin untuk pergi keluar mencari udara segar.

"Pakai, harusnya kita saling berpelukan di kamar, tapi karena pria itu semuanya menjadi gagal!" gerutunya dengan memakaikan Hana jaket tebal miliknya.

"Jangan menggerutu, lagipula aku belum sempat keluar karena kamu." jawab Hana dengan ketus. Kevin mengacak rambut sang istri dan bergegas untuk mencari udara segar.

Setelah berada di luar gedung, Hana merasakan dingin yang begitu menusuk tulangnya. Wanita itu mengusap tangannya yang kedinginan dan melirik Kevin yang hanya menatapnya dengan datar. "Ada apa?" tanya Hana bingung.

"Sebaiknya kita kembali ke dalam. Udara malam tidak baik untukmu," nasihat Kevin membuat Hana cemberut seketika.

"Sebentar saja. Aku ingin ke taman, aku tadi melihat ada taman di dekat hotel." bujuk rayu mulai Hana keluarkan untuk Kevin. Pria itu menghela napas panjang dan tak kuasa untuk menolak rayuan sang istri.

"Hanya sebentar,"

Hana mengangguk antusias dan bergegas berlari kecil menuju taman di belakang hotel. Taman yang di terangi lampu-lampu yang mengelilinginya, bahkan banyak berbagai macam bunga yang Ia lihat. Hana tersenyum senang melihat taman yang cukup indah di malam hati itu. Kevin yang berada tak jauh dari posisi Hana, hanya tersenyum kecil melihat tingkah kesenangan sang istri.

"Membuatnya senang seperti ini, ternyata cukup mudah." gumamnya dengan tawa geli. Kevin memasukkan tangannya ke saku celana dan mendekati sang istri yang menatap langit malam yang di penuhi oleh bintang.

"Ekhem,"

Hana sontak menoleh dan mendekati sang suami. "Tamannya sungguh indah, Kevin." ungkap Hana dengan memeluk tubuh Kevin dengan erat. Kevin hanya mengelus rambut sang istri dan membalas pelukan sang istri.

"Bagaimana kalau kita menambahkan ayunan dan semacamnya." usul Kevin dengan menatap intens kepada Hana. "Mungkin kita akan sering datang ke negara ini," imbuhnya kembali.

"Kamu ada pekerjaan di sini?" tanya Hana penasaran.

"Tidak," Kevin merapatkan tubuh Hana. "Tapi untuk membuat anak," bisik Kevin membuat wajah Hana seketika merona merah.

"Ke ... teman mu yang tadi pergi ke mana?" tanya Hana mengalihkan pembicaraan mereka. Wajah Kevin seketika menjadi kesal karena mengingat pengganggu yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.

"Jangan memperdulikan pria itu. Cukup tatap aku, dan cintai aku!"

Hana tertawa pelan mendengar ucapan sang suami. "Rencana Gagal ini menjadi sungguh menyenangkan,"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!