...PERHATIAN⚠️...
...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....
...****************...
Hana mengobati luka pada wajah sang suami, dengan teliti dan penuh kehati-hatian, Hana tentu saja menangis karena ulah Bara, wajah tampan suaminya harus memar di bagian pelipis.
"Sakit?" tanya Hana untuk sekian kalinya. Kevin tersenyum dan menggeleng.
"Aku yang terluka, kenapa kamu yang menangis, Hana?"
"Menangis? Mana ada aku ...."
Hana terdiam seketika saat Kevin menghapus air mata di matanya, usapan itu sungguh lembut dan juga pelan di wajah mulus Hana. Wanita itu bahkan sampai memejamkan matanya karena terbuai. "Bohong. Ini buktinya kamu sudah menangis,"
Hana sontak membuka matanya dan memalingkan wajahnya karena malu. "Ma ... mana ada, i ... ini karena ada debu yang masuk!" bantah Hana membuat Kevin semakin tersenyum tipis.
"Maaf,"
Hana menghapus air matanya dengan cepat-cepat dan melirik Kevin. "Lupakan saja. Mendekat, aku akan mengompres pelipis mu lagi."
Dengan senang hati, Kevin mendekat dan menatap wajah cantik Hana dengan sangat dekat. Hana menahan napasnya karena wajah Kevin begitu sangat dekat dengan wajahnya, "Kenapa?"
"Aku mencintaimu,"
Hana terdiam sejenak dan akhirnya tersebut tipis. Kevin membawa Hana kedalam pelukannya yang hangat dan Hana dengan senang hati menerima pelukan sangat suami. Hana mulai terbiasa mendapatkan skin to skin dari sang suami.
"Aku nyaman dengan mu," jawab Hana dengan pelan. Kevin bahkan tak kuasa menahan senyumnya dan mengeratkan pelukannya.
"Bagaimana dengan permintaan Nenek? Bila kamu masih belum siap, aku akan berbicara dengan Nenek untuk negosiasi nanti," kata Kevin membuat Hana terdiam sejenak.
Hana juga bingung akan permintaan Nenek, bahkan juga ikut bingung boleh Kevin yang akan berbicara lagi dengan Neneknya perihal keinginan memiliki seorang cicit. "A ... aku-"
"Jangan membicarakannya, kita sebaiknya pulang saja untuk istirahat."
Hana menghela napas dan mustahil untuk menolak ajakan pria itu. Kevin menarik lengan sang istri untuk keluar dari ruangannya. Hana menatap genggaman tangan Kevin kepada lengannya, pria yang ia kira adalah pria kasar dan juga angkuh, ternyata tidak seperti yang ia bayangkan. Kevin adalah pria yang penuh akan kelembutan kepada siapapun, walaupun saat awal pertemuan mereka begitu canggung, tetapi Hana sangat nyaman.
"Vin," panggil Hana membuat Kevin menoleh saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Ada apa? Kamu ingin sesuatu?" tanya Kevin dengan lembut.
Hana menunduk dan mengigit ujung bibirnya. Bagaimanapun ini adalah keputusan akhir dari dirinya, rasanya cukup malu bila harus mengungkapkan yang sebenarnya. Hana tidak ingin membuat keluarga mereka kecewa bila dirinya terus menolak dengan alasan belum siap.
"Sayang?"
"A ... aku siap." Hana menarik napas panjang, "aku sudah memikirkan ini secara matang. A ... aku siap memberikan hak mu sebagai seorang suami."
DEG ....
...****************...
Bara, pria itu menatap Kevin dan Hana yang baru saja masuk ke dalam mansion. Ya, pria itu membuntuti mobil yang dikendarai oleh Kevin dan saat ini dirinya berhadapan dengan rumah besar dan super mewah.
"Aku akan merebut Hana darimu, Kevin." gumam Bara dan langsung pergi begitu saja dari depan gerbang. Pria itu menyeringai ke arah Satpam yang menatapnya tajam dari dalam gerbang.
"Hey, apa yang Anda lihat di sana, Tuan?" tanya Satpam membuat Bara terkejut dan menoleh ke arah pos Satpam. Pria itu mendadak menjadi kesal karena ketahuan melihat mansion itu.
"Tidak ada, saya hanya melihat-lihat saja, Pak." jawab Bara dengan senyuman palsu. Bara langsung pergi begitu saja dengan rasa kesalnya yang belum juga surut.
"Dasar pria aneh," gerutu kedua Satpam tersebut yang kembali ke pos mereka masing-masing.
Sedangkan di dalam sana, Hana celingak-celinguk membuat Kevin yang hanya diam di belakang istrinya tertawa pelan. "Kenapa kamu mengendap-endap?"
"Agar Nenek dan keluarga yang lain tidak melihat luka mu itu," jawab Hana tanpa menatap sang suami yang sudah menahan tawanya sejak tadi.
"Memangnya kenapa bila mereka melihat luka ku ini, Sayang?" tanya Kevin yang mencoba untuk memancing Hana. Pria itu sengaja melontarkan pertanyaan yang bisa saja mengundang emosi Hana secara tiba-tiba.
Hana berdecak kesal dan menoleh menatap sang suami. "Mereka akan mengoceh pasti!"
"Dari mana kamu tahu mereka akan mengoceh?" tanya Kevin membuat Hana kembali berdecak dan berkacak pinggang.
"Aku-"
"Hana, Kevin? Sedang apa kalian di sana?"
Tubuh Hana menjadi tegang karena dirinya tertangkap basah, wanita langsung menelan ludahnya sendiri. Kevin terkekeh geli melihat raut wajah istrinya yang begitu menggemaskan. "Itu Nenek," bisiknya membuat Hana mendelik tajam.
Hana sontak menoleh dan tersenyum canggung pada Nenek Yeri. "Ne ... nenek? Nenek sedang apa di sini? Bukankah Nenek harus istirahat?"
Nenek Yeri tersenyum menampilkan kerutan di wajahnya. "Nenek menunggu kalian,"
Hana dan Kevin saling bertatapan. "Apakah ada hal yang penting, Nek?" tanya Kevin yang langsung mendekati Neneknya. Nenek Yeri terkekeh geli dan memukul pelan kepala sang cucu.
"Tidak penting, lupakan saja. Nenek lupa,"
Hana menghela napas panjang, perempuan itu menduga bawah Nenek Yeri ingin menyampaikan tentang honeymoon untuk mereka berdua. Lagipula setelah mendengar pernyataan sang istri, Kevin langsung memesan tiket honeymoon satu Minggu penuh di negara seberang. Hana hanya menghela napas dan tidak bisa menolak.
Kevin tersenyum, karena pria itu mengetahui apa yang ingin di sampaikan oleh sang Nenek. "Nenek tenang saja, aku dan Hana akan pergi honeymoon."
"BENARKAH?!"
Hana terperanjat terkejut karena teriakan dari arah lain. Keluarga Wirangga lainnya bergegas menuju ruang tamu, menatap Hana dan Kevin secara bergantian. "Kalian sungguh akan melakukan honeymoon?" tanya Diego kepada Putra sulungnya.
"Benar, kami akan mengosongkan jadwal selama satu minggu ke depan." balas Kevin yang langsung mendapatkan cubitan kecil di lengannya.
Mama Naena tertawa kecil. "Perihal perusahaan itu biarkan menjadi urusan Papamu, Nak. Kalian fokuslah pada honeymoon dan jangan kembali sebelum waktu honeymoon kalian benar-benar habis!" ujar Mama Naena dengan penuh penekanan.
"Iya, Ma."
"Kapan kalian akan pergi? Dan honeymoon ke mana?" tanya Bima dengan menatap Kakak tertuanya.
"Malam ini juga,"
"Vin!" Hana benar-benar tak percaya dengan jawaban sang Suami. Bahkan mereka belum packing semua keperluan mereka saat honeymoon. Kevin hanya menampilkan senyuman tanpa dosa dan mengedipkan sebelah matanya kepada Hana—menggoda.
Hana tercengang dengan tingkah sang Suami. "Kami harus siap-siap. Sayang, ayo." ajak Kevin membuat Hana mendengus kesal.
Mama Naena menatap pengantin baru tersebut dengan senang dan memukul lengan sang Suami. "Kamu lihat itu, Diego. Mereka sungguh romantis!" pujinya membuat Papa Diego sontak menoleh.
"Kamu lupa? Kevin itu Putra ku, tapi sisi romantis ku lebih unggul." bantah Papa Diego yang tak terima dengan pujian sang Istri kepada Putra sulung mereka.
"Dulu kamu sangat romantis, dan sekarang? Ck,"
"Ma!" panggil Papa Diego yang langsung mengikuti sang Istri menuju taman belakang. Bryan dan ketiga Adiknya hanya tercengang dengan tingkah orang tua mereka.
"Oh my, mereka seperti anak muda saja. Dasar," gerutu Darren yang langsung menggeret skateboard miliknya dengan kesal.
"Kakak," panggil si pria kecil, Gara.
Pria kecil itu menarik baju bagian bawahnya, membuat Bryan dan Bima menunduk menatap Adik kecil mereka. "Ada apa bocah kecil?"
"Romantis itu apa?"
TAK ....
...****************...
"Kamu harus membuatnya segera hamil, Kevin!" kata Papa Aiden dengan menepuk bahu menantunya. Kevin hanya tersenyum dan melirik Istrinya yang tersipu malu karena ucapan Papanya sendiri.
"Papa!" tegur Mama Yura membuat Papa Aiden tersenyum tipis.
"Aku hanya bisa mendoakan kalian berdua akan selalu bersama, dalam keadaan apapun." tambah Papa Aiden dengan melirik Hana yang menggandeng erat tangan Kevin sejak tadi, "Aku sangat menyayangi Hana, keluarga kami sangat sulit untuk memiliki keturunan perempuan. Kamu tahu apa maksud, Ayah?"
"Aku mengerti, Pa."
Kedua pria berbeda usia itu saling berpelukan. Mama Yura tersenyum dan memeluk Hana yang menatapnya sejak tadi, "Jaga diri, Sayang. Kamu sekarang sudah bersuami, ingat itu."
Hana mengangguk dan mengeratkan pelukannya. "Hana minta maaf bila memiliki kesalahan,"
"Mama maafkan," jawab Mama Yura dengan tulus.
Keluarga Wirangga hanya tersenyum melihat kehangatan anggota keluarga mereka. "Ck, aku kalah saing." ketus Papa Diego membuat Papa Aiden sontak menoleh.
"What?"
Papa Diego melihat tangannya, "Biarkan putra dan menantuku untuk pergi, jangan mengusiknya!" Mama Naena sontak mendelik tajam mendengar ucapan suaminya.
"Kamu-"
"Eits!" Mama Yura sontak menarik ikat pinggang milik Papa Aiden. "Jangan seperti anak muda! Ingat usia kalian berdua!"
"Benar! Kalian berdua sudah tua!" sahut Mama Naena membuat sang suami menoleh terkejut.
"Ma! Papa itu masih macho! Lihat," Papa Diego memperlihatkan otot lengannya yang masih terbentuk itu. Mama Naena memutar matanya malas melihat sikap narsis sang suami.
"Sebaiknya kami harus masuk, pesawat akan segera take off." kata Kevin menengahi perdebatan keluarga mereka. Papa Diego dan Papa Aiden sontak menoleh dan mengangguk.
"Hubungi kami bila sudah tiba!"
Kevin menggenggam tangan Hana dan berjalan masuk ke sebuah pesawat pribadi milik Kevin. Hana menoleh kebelakang dan merasa tidak rela meninggalkan keluarganya walaupun hanya seminggu. Rencana Honeymoon mereka benar-benar mendadak dan ternyata Kevin sudah membooking tempat tanpa sepengetahuannya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Kevin setelah berada di dalam pesawat. Hana menghela napas panjang dan menggeleng pelan.
"Bagaimana kalau aku merindukan Papa dan Mama?"
Kevin tersenyum dan mengusap rambut Hana yang lurus itu. "Bersabarlah, kita tidak akan lama setelah aku melakukan olahraga setiap hari," kata Kevin yang terdengar ambigu di telinga Hana.
Perempuan itu menaikkan alisnya bingung. "Olahraga? Kamu mengajakku ke negara tetangga, hanya untuk ...."
CUP ....
Hana membulatkan matanya saat hal yang tidak bisa Ia perkiraan tiba-tiba saja Kevin berikan kepadanya. Kevin menjauhkan wajahnya dan mengusap pelan bibir ranum merah yang begitu menggoda di matanya.
"A ... apa yang kamu lakukan?" Hana memalingkan wajahnya yang merona merah. Kevin mengusap pipi Hana dan beralih menggenggam tangan Hana saat pesawat akan lepas landas.
"Jangan tegang. Pesawat-"
"Aku sudah sering naik pesawat!" sela Hana dengan menyenggol perut Kevin.
"Uhuk!" Kevin meringis kecil dan tertawa pelan. "Baiklah, tapi setelah tiba nanti, jangan harap kamu akan lepas dari ku."
Astaga, pria ini sungguh banyak akal! batin Hana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments