Pelukan Hangat (19)

...PERHATIAN⚠️...

...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....

...****************...

Pagi hari ....

Uhuk ... uhuk ....

Hana mengerutkan keningnya kala mendengar suara yang begitu mengusik ketenangan tidurnya. Wanita itu memutar badan dan semakin mengerutkan keningnya kala merasakan ranjang sebelahnya kosong.

Kosong? batin Hana.

Hana akhirnya bangun dari tidurnya dan memijat keningnya yang terasa sedikit sakit. Setelah itu, Hana menatap seisi kamar yang hanya ada dirinya.

"Kevin?" panggil Hana sata menyadari tidak ada sang suami di dalam kamarnya. Wanita yang masih memakai piyama tidur itu bergegas keluar mencari sang suami.

Uhuk ....

"Kevin," panggil Hana kembali, mengejutkan Kevin yang sedang berada di balkon dekat tangga di luar kamar mereka.

"Sayang,"

Kevin mendekat dan memeluk tubuh sang istri dengan manja. Hana dengan senang hati membalas pelukan sang suami dan mengusap rambut yang berantakan itu. "Kamu sakit?" tanyanya.

"Tidak," jawab Kevin dengan cepat.

"Tapi aku mendengar suara-"

Uhuk ... uhuk ....

"Kamu batuk? Kamu minum apa saja kemarin?" tanya Hana dengan panik. Kevin menggeleng dan menyembunyikan wajahnya di leher jenjang Hana.

"Hanya kurang minum air,"

"Klasik sekali alasan mu itu ya!" tegur Hana kesal. "Ayo, istirahat!"

"Sayang, tapi aku-"

"Tidak ada kata tapi untuk sekarang!"

Kevin menghembuskan napas panjang dan mengikuti langkah sang istri menuruni anak tangga. "Mungkin saja karena kemarin kita keluar malam, kau bisa saja masuk angin."

"Maybe,"

Hana masuk ke dalam pantry dan menyiapkan semua bahan masakan. Kevin hanya diam berdiri, menatap sang istri yang sibuk dengan dapur. Kevin tersenyum tipis dan berjalan mendekati Hana yang mulai mengikat rambutnya dengan asal.

"Kamu sungguh seksi sekali ya," goda Kevin dengan memeluk Hana dari belakang. Wanita itu tersipu malu setiap kali sang suami memuji atau menggodanya di setiap kali kesempatan.

"Jangan peluk aku, aku akan membuatkan bubur untukmu."

Kevin menggeleng sebagai jawaban penolakan. "Aku hanya butuh di manjakan, Sayang."

Hana tidak merespon perkataan sang suami, wanita itu seketika berhenti kala merasakan sesuatu bergerak di bagian dadanya. Hana menghela napas saat mengetahui siapa yang memainkan buah dadanya itu.

"Vin, jangan-mghh ...."

"Jangan apa, Sayang?" tanya Kevin dengan berbisik. Pria itu mulai menjalankan aksi nakalnya, meremas buah dada sang istri dengan tangan besarnya. Kevin mulai hapal, bahwa sang istri tidak akan memakai bra saat akan tidur malam.

Tentu sebuah kebiasaan Hana yang membuat Kevin mendapatkan buah kelapa jatuh, sungguh menguntungkan dirinya. Hana memejamkan matanya, kala remasan di buah dadanya mulai semakin terasa.

"Vin, hentikan dulu." kata Hana mencoba untuk menjauhkan tangan Kevin dari dalam piyamanya.

"Kenapa?"

Hana berbalik dan mengusap rambut serta pipi sang suami dengan lembut. "Bersabarlah sedikit, okay? Kamu sedang sakit, sebaiknya istirahat dulu." nasihat Hana membuat Kevin mendengus kecil.

"Sayang," rengek Kevin yang langsung membuat Hana mendelik tajam.

"Duduk, atau tidak sama sekali?"

...****************...

Hana mengigit kuku tangannya tatkala melihat benda persegi panjang di tangannya, wanita itu menghela napas panjang dan melirik ke arah Kevin yang tertidur pulas setelah mengonsumsi obat dari dokter.

"Bagaimana ini?" gumamnya bingung.

Hana berdiri dan menaruh benda persegi panjang itu di atas meja, mendekati Kevin dan mengganti kompres di dahi sang suami. "Seharusnya aku tidak memaksa mu untuk pergi keluar kemarin,"

Hana menyesal karena sudah memaksa Kevin untuk keluar tengah malam kemarin. Wanita itu bahkan sudah menghubungi dokter untuk memeriksa sang suami, yang ternyata daya tahan tubuhnya menurun.

"Maaf, maafkan aku, Vin." lirihnya penuh menyesal. Hana merutuki kebodohannya karena mengiyakan ajakan sahabat Kevin yang bahkan belum Ia ketahui namanya itu.

Hana berpindah posisi dan meletakkan telapak tangan di dahi serta di pipi sang suami, "Kenapa belum turun juga demamnya?" gumamnya penuh dengan kecemasan dari raut wajahnya.

"Sayang,"

Hana sontak menoleh dan langsung memeluk tubuh Kevin, saat pria itu akhirnya terbangun setelah dari pengaruh obat bius. Kevin tersenyum tipis dan membalas pelukan sang istri.

"Maaf, maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat mu sakit, Sayang." ujar Hana dengan cepat tanpa memberikan Kevin celah untuk berbicara.

Kevin hanya mengangguk sembari mengusap punggung Hana yang bergetar. "Sudah jangan menangis, aku tidak apa-apa."

Hana menegakkan tubuhnya dan menatap manik mata sayu sang suami. "Kamu tidak baik-baik saja, dokter saja sampai memberikan mu banyak resep obat dan juga vitamin! Kamu mengira, aku anak-"

CUP ....

"Cerewet sekali,"

Hana terdiam kala Kevin mengecup punggung tangannya yang dingin, berbanding balik dengan tangan Kevin yang terasa hangat dari suhu badan yang tinggi. Hana mencemaskan keadaan sang suami kali ini, bukan perihal lain.

"Bagaimana kalau kita pulang saja ya?" tawar Hana berhasil membuat Kevin mengerutkan keningnya.

"Pulang?" Hana mengangguk, "Sayang, bahkan kita belum membuat adonan bayi di sini. Aku mengambil cuti banyak hari untuk mewujudkan permintaan Nenek," imbuhnya dengan kekeh.

Hana terdiam dan menatap Kevin yang kini memijat keningnya yang terasa berdenyut, wajah pria itu sudah memucat dan juga berkeringat. Hana meraih tangan Kevin dan mengusapnya pelan, Kevin bahkan langsung tertegun dengan sisi kelembutan sang istri.

"Keadaan mu sedang sakit, kamu masih memikirkan tentang permainan Nenek? Vin, masih ada hari esok setelah kamu sembuh, pasti kita akan melakukan program bayi,"

Hana tidak habis pikir dengan sang suami yang masih kekeh dengan keinginannya. Kevin menghela napas panjang dan menatap Hana yang juga tengah menatapnya dengan sorot mata berbeda.

"Sayang, dengarkan aku ...."

Hana menepis tangan Kevin yang hendak menahannya. "Jangan menyentuh ku! Kita akan pulang lusa!"

"Hana,"

"Jangan keras kepala!" kesal Hana dengan nada tinggi. Wajah wanita itu mulai memerah menahan tangisan. "Kamu mengira, aku senang melihatmu sakit seperti ini? Kamu sakit karena aku!"

"Sayang, aku seperti ini bukan karena kamu! Jangan menyalahkan diri sendiri!" Jawab Kevin dengan raut tak suka dan juga menampilkan wajah datarnya. Pria itu berdiri dengan memegangi kepalanya yang berdenyut, Hana sontak memegangi lengan sang suami yang sempoyongan itu.

"Hiks ... kenapa kamu sungguh keras kepala sekali, Vin. Kenapa?" tangisan Hana kembali pecah dan memeluk tubuh sang suami untuk menumpahkan rasa bersalahnya.

Kevin membalas pelukan sang istri dan mengusap rambut panjang Hana. "Jangan seperti ini. Jangan menangis lagi,"

Kevin menghapus air mata Hana dan mengecup kedua mata wanita itu dengan penuh cinta. "Maaf, maaf, aku tidak bermaksud membentak kamu tadi. Maaf," ucapnya penuh rasa sesal.

"Hiks, ayo pulang saja, Kevin."

"Dengarkan aku," Kevin mengatup wajah Hana. "Kamu ingin Nenek kecewa dengan kita berdua? Nenek menginginkan kita honey sesuai dengan permintaannya, kamu ingin ingkar janji?"

Hana menggeleng sebagai jawaban. "Tapi-"

CUP ....

Hana terdiam dan memilih untung bungkam, di saat Kevin mencium sekaligus melumat bibir ranumnya. Hana bukan wanita munafik yang menghindar, wanita itu memegangi tangan kanan Kevin yang berada di sisi kanan wajahnya, dan membalas ciuman dari sang suami.

SREK ....

Dengan berbagai kesempatan, Kevin menarik lengan Hana hingga terjatuh di atas kasur yang empuk, wanita terkejut saat Kevin langsung mengapit tubuhnya, menempatkan kedua tangan kekarnya di kedua sisi tubuh sang istri, dan menahan kaki Hana agar tidak bisa bergerak.

Hana menatap manik mata sayu itu dipenuhi dengan secercah gairah yang begitu nyata. Hana tersenyum dan menatap ke arah otot perut Kevin, pria itu memang tidak mengenakan pakaian setelah dokter selesai memeriksanya.

"Kamu ingin apa?" tanyanya dengan suara parau. Kevin dengan tangan jahilnya, langsung mengelus pipi, lalu turun ke leher jenjang, dan berakhir turun di area dada yang sedikit terekspos, karena piyama yang di kenakan oleh Hana adalah milik Kevin.

"Kamu sengaja menggoda suamimu yang sedang sakit ini?" tanya Kevin dengan menatap Hana dengan tatapan buasnya.

Hana merasakan sedikit takut dan juga merasakan ranjang mereka bergerak karena ulah Kevin. "Vin, jangan sekarang, kamu sedang-"

"It won't be a hindrance," bisik Kevin begitu terdengar seksi di pendengaran Hana.

DEG ....

"What?"

Kevin menyeringai dan langsung melahap habis bibir ranum yang begitu menggoda dirinya sejak tadi. Tidak lupa kedua tangan Kevin yang bergerak cepat melepaskan kancing piyama abu-abu kebesaran dari tubuh Hana.

GLEK ....

Kevin menatap kedua payudara sintal itu dengan penuh bangga. Hana merasa malu karena Kevin menatap payudaranya dengan begitu dalam.

"Jangan menatapnya seperti itu!" tegur Hana yang merasa malu. Kevin terkekeh geli dan juga merasa bahwa tubuhnya jauh lebih baik dari sebelumnya.

"Beri aku kehangatan, Sayang." Kevin langsung mengangkat selimut dan menutupi tubuh mereka berdua yang mulai tertanggal tanpa pakaian itu.

"KEVIN!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!