...PERHATIAN⚠️...
...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....
...****************...
Hana berjalan lesu memasuki rumah megahnya, para pekerja sampai terheran-heran dibuatnya.
"Aku menyesal bertemu dengan pria jelek itu, sungguh menyebalkan sekali!" gerutu Hana dengan menghentakkan kakinya dengan kesal. Wajah wanita berdarah Jepang itu tampak masam setelah keluar dari perusahaan milik Kevin, tak ada senyuman ramah-tamah sedikitpun.
"Mama!" lirih Hana membuat dua penjaga bertubuh kekar yang sedang berkeliling rumah besar tersebut, bergegas mendekat.
"Nona, Anda baik-baik saja?"
Hana menoleh terkejut. "Aku tidak baik!" jawabnya kesal. Rasa kesalnya sudah di ubun-ubun dan bergegas untuk masuk mengabaikan dua penjaga tersebut.
"Mama!" panggil Hana membuat Mama Yura menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Putrinya.
"Sayang, kamu sudah pulang?"
Hana bergegas mendekat dan tak menyadari bila ada sepasang suami-isteri yang memperhatikan Hana dengan memancarkan cahaya mata bahagia. Hana memeluk erat sang Mama dan menghela napas.
"Ada apa? Kenapa muka kamu di tekuk?"
"Mama tahu, aku bertemu dengan pria menyebalkan yang sudah menabrak dan tidak meminta maaf! Ma, aku rasanya ingin menendang dia ke angkasa!" Keluh Hana dengan raut wajah menggemaskan di mata pasangan suami-isteri tersebut.
"Yura, dia putri kamu?" tanya wanita paruh baya seusia Mama Yura. Hana terkejut saat menyadari satu hal, ada pasangan suami-isteri di ruang tamu yang kini tengah menatapnya.
Oh my good! Memalukan sekali! batin Hana yang menutup wajahnya dengan map coklat yang Ia pegang.
Mama Yura tersenyum dan berkata, "Dia putri ku satu-satunya, namanya Hanaruka Blezynski. Nak, ayo sapa Om dan Tante." kata Mama Yura yang langsung Hana lakukan.
"Halo, Om dan Tante." sapa Hana dengan semburat senyuman manis yang begitu menenangkan mata. Sepasang suami-isteri tersebut terkekeh geli dan mengangguk sebagai jawaban sapaan Hana.
"Sungguh cantik," puji pria paruh baya dengan lembut. Sang istri mengangguk setuju dan mengelus kepala Hana. Karena mendapatkan pujian, Hana rasanya ingin terbang ke udara, karena akhirnya mendapatkan pujian yang begitu besar.
"Terima kasih, Om dan Tante."
"Jangan panggil Om dan Tante dong," Hana mengerutkan keningnya. "Panggil Papa sama Mama," tambah pria paruh baya dengan senyuman penuh arti.
Hana sontak menatap Mama Yura yang mengangguk kepadanya. "Memangnya tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada pelan, bahkan lebih mirip bertanya kepada dirinya sendiri. Wanita seusia Mama Yura mengelus rambut hitam legam Putri dari sahabatnya.
"Tentu saja, Sayang." jawab wanita tersebut seraya tersenyum hangat, Hana tersenyum canggung dan memilih untuk mengangguk setuju.
"Baik, Ma." Hana berdiri dan melirik kembali Mama Yura, "Ma, Hana pamit ke kamar dulu ya."
Setelah kepergian Hana, Mama Yura melirik kedua sahabatnya yang masih tersenyum menatap ke arah tangga. "Aku tidak yakin, apakah Putri ku menerima ini." kata Mama Yura secara tiba-tiba.
"Aku juga kurang yakin, terlebih lagi Putra ku sungguh menyebalkan seperti Ayahnya." Jawab wanita paruh baya dengan melirik malas kepada sang suami.
"Sayang, aku tidak begitu. Kamu tahu persis aku bagaimana," tampik sang suami dengan nada jengkel. Wanita tersebut memutar matanya malas dan memilih untuk menatap Mama Yura.
"Aku akan meminta Putra ku untuk datang nanti, kamu tidak keberatan, Yura?"
Mama Yura mengangguk ragu. "Ya, lagipula itu kesepakatan antar dua keluarga kita. Aku tidak bisa menolak, tapi Putriku bisa melakukan itu. Apakah kamu tidak keberatan nantinya?"
"Keputusan putra-putri kita adalah yang terpenting. Kita hanya menjalankan amanah leluhur," tukas pria di sana dengan wajah penuh keyakinan. Mama Yura berharap demikian, Hana menerima permintaan keluarga mereka yang sudah lama di berikan amanah dan harus segara di tuntaskan.
"Aku akan menghubungi Aiden."
...****************...
"Kak,"
Hana menoleh malas ke arah sang Adik yang saat ini berdiri di ambang pintu kamarnya. "Why?"
Miko tersenyum. "Ke supermarket, yuk!" ajaknya membuat Hana menghela napas.
"Aku malas, kamu saja," tolak Hana dan kembali sibuk dengan aktivitasnya. Miko memutar matanya malas dan melirik ke arah lebaran yang di pegang oleh Kakaknya.
"Kenapa Kakak tidak bekerja saja di perusahaan Papa? Kakak kan suka sekali dalam berbisnis," kata Miko dengan frontal, Hana menoleh kembali dan menatap horor pada sang Adik.
"Berisik, keluar sana! Bocah tidak boleh menganggu!" usir Hana dengan kesal. Miko mendelik dan berkacak pinggang.
"Ya sudah, aku pergi sendiri aja!"
"Kakak titip-"
"Aku enggak menerima jasa titip!" ketus Miko yang langsung melengos pergi begitu saja. Hana berdecak dan merapihkan semua pekerjaannya. Hana bergegas menyusul sang Adik yang berjalan di dekat tangga, dengan memasukkan tangannya ke saku.
"Kakak ikut!"
Miko menadah ke atas dan mengangkat bahunya acuh. Hana menuruni anak tangga dan berlari kecil keluar dari rumah. Mama Yura yang sedang bersantai di ruang tamu, terheran-heran dengan tingkah kedua anaknya.
"Ayo jalan!" pinta Hana yang sudah duduk di kursi depan, dengan Miko di kursi kemudi. Tak lama, remaja 19 tahun itu menjalankan mobil menuju supermarket terdekat.
"Kakak belum jawab pertanyaan aku, Kak." Hana menoleh, "Papa sudah nungguin Kakak buat bergabung ke perusahaan, kenapa di nolak?" tanya Miko yang kembali mengulang perkataannya.
"Kan enak, Kakak masuk sudah jadi manajer keuangan." Tambah Miko dengan fokus ke arah jalanan di depannya. Hana melipat kedua tangannya, perempuan itu juga bingung untuk menjawab pertanyaan dari sang Adik, bukan tanpa alasan mengapa dirinya menolak tawaran sang Papa.
"Aku mau nyari pengalaman sedikit di perusahaan lain, aku juga enggak mau tiba-tiba masuk sudah jadi manajer." jawab Hana seadanya. Miko melirik sang Kakak dengan gemas.
"Memangnya Kakak sudah dapet? Maksud Aku, memangnya Kakak nyari posisi apa?" tanya Miko kembali. Mobil mereka sudah berhenti tepat di parkiran supermarket. Hana bergegas melepaskan sabuk pengamannya.
"Mau nyari posisi sekretaris, kalau enggak lolos interview, ya mungkin aku akan melamar di perusahaan lain saja." Setelah menjawab seperti itu, Hana keluar dengan Miko yang menyusul.
"Aneh nih cewek," gerutu Miko yang tidak paham dengan jalan pikir sang Kakak. Kalau dirinya berada di posisi Hana, maka dirinya tidak akan menolak tawaran dari orang tuanya.
Hana menatap beberapa rak di hadapannya dengan penuh semangat, mengambil beberapa keperluan cemilannya dan menaruhnya di keranjang belanja. Miko hanya diam dan memainkan ponselnya.
"Kamu mau beli apa? Enggak jadi?" tanya Hana dengan tatapan tak beralih dari rak di hadapannya. Tak di sangka, keranjang belanja mereka sudah hampir penuh karena ulah Hana sendiri.
"Enggak jadi,"
Hana sontak melotot tajam. "Kenapa enggak jadi?!"
"Aku cuma iseng ngajak Kakak keluar, Kakak cuma di kamar bikin aku pusing!" ungkap Miko yang membuat Hana melongo tak percaya. Bahkan perempuan itu tak jadi mengambil cemilannya dan menatap punggung Miko yang pergi begitu saja.
"Nanti aku yang bayar," Miko melambaikan tangannya memberi isyarat. Hana menghela napas kesal.
"Iseng ngajak aku keluar biar dia enggak pusing," cibir Hana dengan kembali memasukkan cemilannya ke dalam keranjang belanja. Hana menatap ke arah rak paling atas dan cukup tinggi, perempuan itu menarik napas dan berusaha untuk menjangkau benda yang Ia inginkan.
"Sorry,"
Mata Hana sontak melotot tajam, saat benda yang Ia incar itu di ambil oleh seseorang dengan mudahnya. "Hey! Itu milik-"
DEG ....
Napas Hana seakan-akan berhenti kala wajahnya berhadapan langsung dengan dada bidang seorang pria yang masih berdiri tegap di belakangnya. Pria tersebut menyungging senyum tipis dan sedikit membungkukkan badannya. "Halo, Nona Hana."
Pria ini?! batin Hana menggebu-gebu menyadari siapa pria yang baru saja mengambil benda incarannya.
"Anda! Anda seorang penguntit ya?!" seru Hana dengan menggebu-gebu.
Pria tersebut terkekeh geli. "Tidak, Nona. Kamu yang menguntit saya sejak tadi,"
"A ... Anda gila?!"
Pria itu menaruh benda incaran Hana ke dalam keranjang belanjanya. "Saya yang mengambil duluan, jadi saya yang menjadi pemiliknya!"
"Tapi saya yang melihatnya lebih dulu! Berikan!"
"No!" Pria itu sontak mengangkat benda incaran Hana ke atas. Tinggi tubuh keduanya begitu ada perbandingan.
"Kevin!" seru Hana dengan kesal. Pria itu adalah Kevin, pemilik dari perusahaan terbesar Wirangga Team Company. Menyadari adanya Hana di supermarket yang sama, Kevin bergegas mendekat dan mencoba untuk berbuat jahil kepada perempuan berdarah Jepang itu.
Kevin melotot tajam dan berkata. "Saya atasan kamu! Sopan sedikit!"
Hana memutar matanya malas. "Belum ada pengumuman bahwa saya lolos-"
TAK ....
"Aduh!" Hana meringis pelan kala Kevin menyentil dahinya. "Apa yang kamu lakukan?! Tidak sopan sekali!" kesal Hana menggebu-gebu. Rasa kesalnya di pagi hari belum menghilang, dan sekarang kembali bertemu dengan pria yang sama.
"Saya yang meloloskan interview Anda sebagai sekretaris. Jadi sebagai sekretaris, benda ini menjadi milik saya sekarang!" jelas Kevin yang melenggang pergi begitu saja, Hana tercengang dengan apa yang baru saja Kevin katakan kepadanya.
"Aku lolos interview? Tidak, aku tidak bisa lolos interview demi keselamatan mental ku!" Hana bergegas menyusul Kevin dengan membawa keranjang belanjanya.
"Kev ... Tuan Kevin!" Panggil Hana dengan melarat panggilan untuk pria bernama Kevin itu. Kevin seolah-olah tidak menghiraukan panggilan Hana di belakang sana.
Kevin tersenyum geli membayangkan raut wajah kesal Hana yang begitu berbeda dari wanita yang sering Ia temui. Hana berbeda dari segi manapun, dan Kevin tertarik dalam sekali bertemu dengan sekretaris pribadinya itu.
"Kita memang jodoh, dan aku pastikan itu benar, Hana."
...UPDATE SETIAP HARI YA...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments