Memulai Dari Awal (9)

...PERHATIAN⚠️...

...Judul cerita yang awalnya "Bosku adalah Suamiku", telah berganti judul menjadi "The Perfect Marriage", karena perubahan alur cerita yang sungguh membuat tercengang. Semua isi cerita ini, hanya fiksi belaka. Jangan menyangkut-pautkan dengan kejadian di real life, walaupun memang ada....

...****************...

Setelah pesta pernikahan di selenggarakan, Hana menghela napas panjang karena merasakan tubuhnya sakit dan remuk. Kini, di malamnya adalah party khusus untuk Kevin dan para sahabatnya, lebih tepatnya para kolega bisnis. Hana hanya diam di tempat setelah Kevin memperkenalkan dirinya kepada seluruh koleganya.

Hana menatap Kevin yang sejak tadi mencuri pandang ke arahnya, pria itu akhirnya mendekat dengan membawa segelas susu di tangannya, "Lelah?" tanyanya dengan berbisik. Hana tanpa ragu akhirnya mengangguk dan memegangi kepalanya.

"Aku sedikit pusing," keluhnya. Kevin meletakkan gelas susu miliknya dan menarik Hana agar duduk di salah satu kursi.

"Minum susunya. Aku sudah melarang mu untuk ikut party, kenapa kamu keras kepala sekali huh?" Kevin tanpa ragu melepaskan high heels sang istri dan menggantinya dengan sandal tanpa hak. Hana hanya diam dan menepuk-nepuk pundak kekar Kevin.

"Vin, kita di perhatikan." kata Hana membuat Kevin menadah. Pria itu kembali terpesona melihat kecantikan Hana, dengan rambut yang di biarkan terurai.

"Lalu? Kita sudah menikah, jadi biarkan saja." jawab Kevin dengan acuh. Hana mendengus kesal dan memilih untuk menundukkan kepalanya.

"Aku malu," bisiknya membuat Kevin terkekeh geli. Ternyata istrinya ini bisa menjadi orang pemalu juga, pikirnya.

"Jadi kamu malu karena aku?"

Hana gelagapan sendiri mendengar pertanyaan Kevin, yang mungkin tidak menangkap maksud ucapannya. Hana sontak menggeleng, "Bukan! Maksud ku, aku malu karena mereka menatap kita secara terang-terangan." jelas Hana dengan raut wajah lucu.

Kevin mengangguk dan menyodorkan gelas susu yang belum di sentuh oleh Hana, "Itu hak mereka, Sayang. Sekarang minum susu mu, perut mu harus terisi."

"Tapi-"

"Kita perlu banyak tenaga," sela Kevin dengan jahil. Hana yang mengerti dengan ucapan sang suami, Hana langsung meraih gelas susu tersebut dan menegaknya hingga tandas.

"Sudah," Kevin tersenyum melihatnya. "Aku ingin kembali ke kamar, aku lelah." keluh Hana dengan memijat tengkuknya yang terasa pegal. Kevin mengangguk dan berdiri dengan pelan.

"Aku akan mengantar mu,"

Hana melotot dan sontak menggeleng sebagai tolakan, "Tidak! Kau pasti akan macam-macam dengan ku!" tolak Hana dengan menepis tangan Kevin. Pria itu tertawa dan merasa tidak tersinggung sedikitpun dengan ucapan istrinya.

"Memangnya aku akan melakukan apa? Tidak mungkin aku memperkosa-"

"Vin!" Hana membekap mulut Kevin seraya melotot tajam, "Perlu kah aku harus menyumpal mulut mu dengan high heels ku?!" ancam Hana dengan masih menutup mulut Kevin.

Kevin tersenyum dan menggenggam tangan Hana dengan lembut, "Tidak akan. Aku menghargai keputusan mu, kamu tenang saja." jawab Kevin yang begitu menggema di pendengaran Hana. Perempuan yang baru saja resmi menjadi seorang istri itu, terdiam sejenak. Apakah keputusan salah dengan tidak memberikan Kevin haknya di malam pertama? pikir Hana.

"Ayo, aku akan mengantarmu." Kevin membantu Hana bangun dengan menenteng high heels milik sang istri dengan sebelah tangan. Yoshi dan Bryan yang sejak tadi memperhatikan pengantin baru tersebut, hanya saling berpandangan.

"Kamu tidak ingin menyusul?" tanya Yoshi dan Bryan secara bersamaan, tak berselang lama mereka berdua berdecak.

"Aku tidak berniat untuk menikah di usia muda," ketus Bryan dengan sinis. Yoshi memutar matanya malas dan menggoyangkan gelas minumnya.

"Aku juga!"

Bryan tertawa kecil mendengar jawaban pria di sebelahnya, "Really? You are old!" ejek Bryan dengan terang-terangan. Yoshi sontak memegangi wajahnya dan merasa kesal karena ejekan dari Adik Iparnya.

"Memangnya kamu tidak tua! Dasar tidak berkaca," kesal Yoshi yang langsung pergi begitu saja. Kedua pria berprofesi sebagai dokter itu memilih untuk berpencar, daripada harus perang mulut.

Sedangkan di lain sisi, Hana merebahkan tubuhnya di sisi ranjang dan melirik Kevin yang tampak membuka jasnya, "Kenapa?"

Hana terbangun dan menggeleng, "Kamu akan turun lagi?" tanyanya. Kevin melirik arlojinya dan menggeleng.

"Mungkin tidak, di bawah masih ada Bryan dan Yoshi, biar mereka yang mengurus." jawab pria itu yang langsung melepaskan kemeja tepat di hadapan sang istri. Hana membulatkan matanya dan sontak berbalik badan.

"Vin! Apa-apaan kamu!" protes perempuan tersebut. Kevin hanya terkekeh geli melihat reaksi menggemaskan istrinya.

"Kenapa? Lagipula kamu akan sering melihat ku bertelanjang," balasnya begitu frontal. Hana merasa dongkol dan melempar handuk yang entah sejak kapan berada di sebelahnya.

"Masuk ke kamar mandi! Dasar pria mesum!"

...****************...

Larut malam, Hana melirik Kevin yang masih betah menatap layar laptopnya. Wanita itu tampak gugup dan susah untuk tidur.

"Kenapa belum tidur?" tanya Kevin dengan mengalihkan tatapannya dari layar laptop. Hana yang sibuk memainkan kuku jarinya, sontak menoleh.

"A ... aku belum mengantuk," Hana memilih untuk mendekati Kevin yang masih diam di tempatnya, "kamu sudah selesai atau masih banyak pekerjaan?" tanya Hana yang langsung duduk di sofa single dekat Kevin.

Pria itu hanya tersenyum dan menutup laptopnya, "Sudah selesai. Ayo kita tidur," ajak Kevin yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Hana.

"Aku ingin keluar, ayo!"

"Ini sudah malam, kamu mau keluar ke mana?" tanya Kevin bingung. Hana berpikir dengan mengelus dagunya.

"Kita ke taman!" ujarnya dengan mencoba merayu Kevin. Pria itu menggeleng sebagai tanda tolak dan memilih untuk mengunci Hana di kamar hotel, di bandingkan keluar dari hotel.

"No," tolak Kevin. "Ini sudah larut malam, angin malam tidak baik untuk mu, Hana." imbuh Kevin mencoba untuk melarang Hana yang saat ini menatapnya memelas.

"Aku tidak akan bisa tidur, kalau tidak keluar untuk mencari angin." jelas Hana yang secara tidak sadar, mengapit lengan Kevin dan menyandarkan kepalanya. Kevin bahkan harus menahan napasnya, karena jarak mereka berdua yang begitu dekat. Degup jantungnya mulai tidak normal, saat Hana memainkan jari-jarinya yang kekar.

"Kamu insomnia?"

"Bisa di bilang begitu, kalau aku tidak bisa tidur, aku harus minum obat tidur berdosis." ungkap Hana membuat Kevin tak percaya. Obat tidur dengan dosis yang tidak main-main, bisa mengancam nyawa.

"Kamu minum obat tidur? Kamu tahu, obat tidur kalau dosisnya tinggi itu bahaya, Hana!" Kevin bahkan tidak bisa mengekspresikan perasaannya saat ini. Hana menghela napas panjang dan mengangguk.

"Tidak sering. Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa. Aku-"

"Tidak boleh!" sela Kevin yang langsung melepaskan kacamata dan menarik lengan Hana keluar dari hotel, "tapi hanya sebentar. Nanti kamu masuk angin!"

Hana tersenyum dan mengangguk. Pasangan suami-isteri yang baru saja sah menikah itu, keluar dan menuju lift untuk pergi ke taman. Hana begitu menikmati pemandangan di luar hotel, bahkan tersenyum dan seraya bersenandung kecil.

"Kita sudah menikah," Hana menoleh cepat, "Apa keinginan mu pada pernikahan kita ini?" tanya Kevin dengan raut wajah serius. Hana terdiam sejenak dan menghela napas panjang.

"Aku tidak tahu, membuat Mama dan Papa tersenyum saja sudah cukup." jawab Hana dengan pelan. Kevin mengeratkan genggaman tangannya dan menghela napas berat.

"Apakah aku boleh berharap lebih pada pernikahan ini, Hana?" tanya Kevin memastikan, Hana melirik Kevin dan membisu, perempuan itu seolah-olah tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan Kevin saat ini, "bila kamu keberatan, aku tidak akan memaksa."

"Kamu menyerah?"

Pintu lift terbuka dan Kevin menahan lengan Hana untuk tidak keluar lebih dahulu, "Tidak. Seorang Kevin tidak pernah mengenal kata menyerah,"

Hana tersenyum tipis, mungkin tidak ada salahnya untuk menentukan orang lain untuk masuk ke dalam hatinya, setelah Bara. Lagipula, Hana sekarang adalah seorang istri dari Kevin, bukan kekasih dari Bara. Maka, tidak ada salahnya untuk mencoba pikirnya.

"Jadi kita memulainya dari awal?"

Kevin menggeleng, "Memulai dari awal itu opsi kedua, opsi pertama adalah kita mencobanya untuk beberapa bulan. 2 Minggu perkenalan, bagi ku itu tidak cukup. Apakah kamu keberatan?"

"Tidak sedikitpun." cicitnya pelan, tetapi Kevin mendengarnya dengan jelas. Senyuman tipis tercipta di wajah datar itu dan bergegas menyusul Hana yang sudah lebih dulu keluar dari lift.

"Tidak salah aku menerima perjodohan ini,"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!