~20

Pernah dengar kalimat ini? "Harus foto background laut, untuk menunjukkan bahwa ikhlasmu seluas lautan."

"Bukan ke-PDan, sih. Tapi ngerasa aja kalau ditujukan buat aku," ucap Zyan melihat salah satu postingan Clara yang dia posting kemarin, lewat diberandanya. Dan menunjukkannya pada Auzora.

"Itu ke-PDan, Zyan ...."

"Cuma ngerasa, Ra. Denger gak, sih?"

"Itu rasa ke-PDan. Denger gak, sih?"

"Serah! Btw, jadi pengen ke pantai. Ayo?" ajak Zyan bersemangat.

...

Auzora yang masih merebahkan dirinya. Setelah disibukkan dengan kegiatan sekolah yang hampir menguras habis energinya.

Rae membuka perlahan pintu kamarnya dan hanya menampakkan kepalanya.

"Ra, ikut ke makam bunda? Mama maksudnya," ajak Rae yang mengubah kaku membenahi ucapannya.

Senyumnya yang tampak hangat, Auzora mendekati kakak lelakinya yang berdiri memegangi gagang pintu kamar.

"Mama aku bunda Kakak, bunda Kakak mama aku. Zora ikut ke makam bunda."

Komunikasi keduanya tertangkap jelas oleh Chardika yang kebetulan akan melewati kamar putrinya tersebut.

Air mata haru yang keluar bersamaan dengan senyumnya yang merekah lega. Kehancuran yang berhasil mereka susun dan mereka rapikan kembali.

Sekalipun sedikit terlambat, karena permintaan maaf belum sempat terucap pada Ibunda dari ketiganya. Kesempatan yang masih ada, tidak untuk dijadikan bahan penyesalan pada lembar berikutnya.

...

Hidup berdampingan dengan orang-orang yang mampu menerima Auzora, tak membuat Rae merasa sulit untuk ikut menerimanya.

Keseharian yang tentunya mereka habiskan bersama sebagai keluarga, membuat keduanya semakin layak terikat hubungan saudara.

Chardika juga mulai terbiasa dengan suara gaduh, tawa canda, hingga perkelahian kecil mereka.

...

"Ra, gak mau ikut? Kita mau ke rumah Zyan," ajak Jae pada Auzora yang asik dengan serial dramanya.

"Ngapain, Kak?"

"Biasa, ngumpul aja."

Juna, Stevie, dan Jihan yang sudah stay di teras rumah. Memandang penuh bahagia ketiga saudara tersebut, kali pertamanya mereka datang bersamaan, meski dengan tujuan yang berbeda.

"Idih, udah barengan aja," ejek canda Juna.

"Pasti Zora mau nyamperin Zyan. Sayang banget, Zyan lagi latihan basket, Ra," sahut Stevie.

"Udah tau dia. Biar nunggu disini, sama aja. Kita bisa bestian juga," balas Rae.

Kedua belah pihak yang awalnya berusaha menjatuhkan pada salah satunya. Kini bersatu padu menciptakan kebersamaan dengan rasa kekeluargaan.

"Bener-bener, diajakin latihan basket katanya mager. Tau-tau udah disini aja!" omel Zyan yang baru saja turun dari motornya.

"Tadi diajakin sama Kak Jae sama Kak Rae ...."

"Buset, baru dateng udah ngomel aja. Duduk dulu ngapa, Zy? Join sini, join," ajak Rae sambil menarik lengan Zyan.

Wajarnya perkumpulan, pembahasan tidak akan ada habisnya. Berbicara mulai dari hal biasa hingga mendalam, hal yang tak penting hingga yang paling penting. Terbahas dalam satu lingkaran duduk yang mereka ciptakan.

...

Menepati janjinya. Sepulang sekolah, bersama dengan sahabatnya tersebut. Bersama langit jingga, dan masih dengan seragamnya. Mereka berlari dengan bahagianya menemui bibir pantai.

"SEMESTA, TERIMAKASIH TELAH MEMAAFKAN AUZORA."

Teriak keras Zyan yang mengundang tawa hangat Auzora.

"Aku punya salah sama semesta?" tanya Auzora masih diiringi dengan tawanya.

"Aku pernah dengar kamu minta maaf sama semesta, karena semesta tidak pernah memihak kamu. Aku rasa, semesta memaafkan ...."

~Masih inget, gak? Dichapter 3.

Angin pantai yang tampak turut berbahagia, menyapa lembut, mengibaskan rambut panjang Auzora.

"SEMESTA, MAAF KARENA TELAH BERPRASANGKA BURUK PADAMU."

Teriakan Auzora seketika membuat Zyan memasang wajah serius.

"Aku pikir semesta terlalu jahat saat itu, padahal hanya menjadikanmu sahabatku, adalah cara semesta berpihak kepadaku."

"Banyak titik terlemah yang membuatmu ingin pergi. Tapi hari ini, ada banyak cinta dari begitu banyak pihak yang membuatmu lupa, bagaimana rasanya ingin pergi. Ayah, kedua kakakmu, dan dari banyak orang lain. Cinta itu berhasil memasuki ruang yang seharusnya mereka isi."

Langit senja pada mata mereka, adalah langit malam pada mata Hansa. Osaka, di kota tersebut Hansa berdiri hari ini. Memandangi langit malam yang tak sungkan menampakkan indahnya.

"Zyan, Auzora. Jadi rindu sama mereka."

Para penikmat langit, pada waktu yang sama, namun pada zona waktu yang berbeda.

"Zyan Jhuana, terima kasih telah menepati janjimu. Kak Hansa kami menunggumu."

Seperti apapun warnanya, seperti apapun cuacanya. Langit tidak akan pernah kehilangan indahnya bagi para pencintanya.

----------------

Are you happy? Semoga bahagia dan sehat selalu.

Thank you for reading.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!