Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah hari libur semester. Dan Zyan masih setia pada diamnya, hingga mengundang pertanyaan dari setiap mata yang menemukan kerenggangannya.
~Hampir lupa kalau mereka masih sekolah.
"Zy, kamu kalau marah, coba dong jelasin letak salahnya dimana. Atau gara-gara aku kamu jadi luka? Wajah ganteng kamu jadi gak kelihatan? Masih ganteng banget kok, Zy," bujuk Auzora.
"Zyan, ini aku bawain minuman kesukaan kamu ...."
Suara menyapa dari arah pintu kelas itu mengalihkan pandang Auzora. Clara dengan gembiranya menghampiri Zyan yang duduk di bangkunya.
"Makasih, Ra. Tau banget kamu ...."
Senyum yang beberapa hari ini tidak ditangkap oleh mata Auzora. Dan kembali dia tangkap dengan indahnya, ketika dia berkomunikasi dengan orang lain di hadapannya.
"Nanti sore, kamu jadi tanding basket?"
"Jadi ...."
"Aku temenin?"
"Boleh banget."
Seperti biasa, disakiti seperti apapun, Auzora hanya diam dan tak mampu menunjukkan wajah kesal. Wajahnya hanya tetap tampak biasa saja.
"Tumben gak bilang kalau mau tanding?" sahut Auzora.
"Harus?"
"Gak juga, hak kamu kok."
Auzora pergi dari hadapan mereka, berjalan perlahan dengan kaki yang seolah tak lagi ada kekuatan. Di bangku taman sekolah, Auzora kembali duduk menjulurkan kakinya dan mengangkat wajahnya. Lagi-lagi, dia hanya mampu mengadu pada langit yang masih setia menemani langkahnya.
"Kamu mau sama siapa aja terserah, Zy. Tapi harus banget selupa itu ke aku?"
Bel pelajaran berbunyi, hari pertama masuk sekolah, sepertinya semua guru juga mengerti. Mereka hanya mengisi kelas dengan obrolan santai. Berbagi sedikit cerita dan mendengarkan cerita.
"Kayaknya, Ibu nemu unggahan foto kalian, kalian ada meet pas liburan, ya?"
~Masih inget? Mereka ngumpul liburan di chapter 6.
"Iya, Bu. Pak Ketua yang ngajakin, karena Zora sama kakaknya gak pergi liburan. Dia tau Zora suntuk. Plusnya, dia juga sadar kalau temen-temennya yang gak pergi liburan juga suntuk, makannya dia ngajakin, Bu." Jelas salah satu siswa.
"Jangan ngarang, lo!" sahut sinis Zyan.
"Ini emang dari tadi kedua orang ini kayak kelihatan ada masalah, Bu," sahut temannya yang lain.
Guru tersebut hanya tampak tersenyum mendengarnya dan mengalihkan topik pembicaraan.
"Kenapa gak pergi liburan, Zora?"
"Ayah ada kerja di luar kota, Bu."
"Tapi asli, Ra. Lo keren banget jalan bareng kak Kembar waktu itu. Bener-bener, aura kamu beda banget." Puji teman lelakinya yang duduk di samping bangku Zyan.
"Srepet boss, pawangnya lagi balik setelan pabrik." Ejek salah satu temannya lagi.
~Setelan pabriknya cowok cool, cuek dingin banget. Cuma ke Zora esnya mencair.
Wajah kesal Zyan menunjukkan kesalnya, namun dia hanya diam. Entah apa yang sedang lelaki ini sembunyikan.
...
Malam ini, Hansa berencana mengajak Auzora pergi.
"Aku capek banget, Kak. Maaf gak bisa pergi."
Tutup Auzora memutuskan panggilannya. Tak tinggal diam, Hansa melaju dengan kecepatan tinggi bersama motornya. Mendatangi rumah Auzora dengan buah tangannya.
"Adik lo ada, Jae?"
"Ada, di kamar," jawabnya sambil mengarahkan wajahnya ke arah kamar Auzora.
"Panggilin! Masa gue harus masuk kamar dia? Aneh lo ...."
"Ada apa, Kak? Aku bilang aku gak bisa pergi," sahut Auzora membuka pintu kamarnya.
"Siapa yang ngajakin kamu pergi? Sini dulu," jawabnya sambil mendekat ke arah Auzora dan menarik tangan Auzora untuk duduk bersamanya.
"Makan dulu, belum makan pasti."
"Makasih, Kak. Tapi aku lagi gak nafsu banget."
"Are you okay? Ada yang berat? Ada yang kamu pikirin? Ada yang ganggu ketenangan kamu?"
Pertanyaan itu menggetarkan mata Auzora, dia terdiam seketika.
"Pengen tidur atau mau pergi ke gramedia?"
Tangannya yang mulai menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya itu mendadak mematung. Menurunkan kembali suapannya, menelan ludahnya.
~Katanya gak nafsu, tapi tetep dimakan.
"Pengen ke gramedia?" tanya Auzora balik.
"Ayo?"
Setiap rak buku yang tertata rapi, setiap sudut ruang yang masih sama dengan yang sebelumnya dia pergi.
"Belum nyampe kita dateng lagi kesini, Zy," ucapnya lirih.
~Masih ingat? Di chapter 7 mereka mau pergi ke gramedia bareng, tapi gak jadi.
"Sial, people come and go ternyata bener," kesalnya dalam hati.
Hansa melakukan banyak hal yang hampir sama dengan yang Zyan lakukan ketika bersama Auzora, seolah dia adalah duplikat dari Zyan Jhuana.
Dia juga yang paling sigap melindungi Auzora dari banyak hal, sekalipun hal sesepele apapun.
"Kenapa sebelas dua belas sama Zyan? Tapi bukan Zyan," tutur batinnya.
"Kamu menikmati hari ini?" tanya sederhana Hansa setelah setengah hari menghabiskan waktu bersama Auzora.
"Iya, menikmatinya. Terima kasih ...."
Pulang dari rumah Auzora, laju motornya berjalan sejalan dengan arah rumah Zyan. Motornya terparkir tepat di halaman rumah Zyan.
"Kenapa?" tanya Zyan menyambut kedatangannya.
"Gue gak bisa, Zy ...."
"Maksud kamu apa?"
"Dia kelihatan gak baik banget hari ini, bahkan setelah pergi bareng. Seperti yang kamu bilang, kita pergi ke gramedia, jalan, makan. Tapi mata dia gak bisa bohong kalau dia emang lagi gak baik-baik aja," jelas Hansa gelisah.
~Kerja sama apa nih?
"Tolong bantuin gue, Sa. Tolong jagain Zora, dia bener-bener sendirian, Sa. Dia gak punya siapa-siapa," ucap Zyan memelas.
"Zora beruntung punya kamu, Zy." Tangannya menepuk lembut pundak Zyan yang mulai merasa berat.
Setelah Hansa pergi, di balkon rumahnya, Zyan berdiri seorang diri. Menatap langit malam yang tetap indah, walau bulan tampak redup malam ini. Bintang juga tak tampak menghiasi gelap indahnya.
"Zora, aku gak tau kenapa aku sepeduli ini ke kamu, sesayang ini ke kamu. Kamu bukan siapa-siapa aku, Ra. Tapi seolah aku lebih peduli ke kamu dari pada ke diri aku sendiri."
"Aku harap, kamu bisa seperti langit malam ini, Ra. Tetap indah walau bulan tampak begitu redup meneranginya. Tetap indah walau bintang memilih tidak menemaninya."
Clara, Juna, Jihan, dan Stevie. Berkumpul dalam satu ruang yang sama malam ini.
"Okay, kalau gitu. Kalau kamu butuh bantuan, kamu boleh bilang ke kita," tawar Juna.
"Makasih, Kak."
~Ini nih, target yang dibilang Juna sama ancaman yang Clara kasih ke Auzora di chapter 7.
Pulang dari perkumpulannya, Stevie dengan gembira menghampiri adik lelakinya yang berbaring di kursi sofa dan asik dengan gamenya.
"Zyan, kamu berhasil." Tangannya menggenggam kuat dengan gembiranya.
"Maksud, Kakak?"
"Clara batalin rencananya, karena kamu berhasil ngedeketin dia. Tapi bentar, kamu jaga posisi aman dulu. Dia bisa bertindak sewaktu-waktu."
"Okey, setidaknya aku ada selangkah lebih depan."
~Dark semua ini tokohnya.
Stevie terduduk letih di samping adiknya, menghela napasnya dengan senyum cemas.
"Jae, Rae. Aku pengen banget kalian bisa berdamai dengan semuanya. Dan menerima kenyataan kalian."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments