~02

"Aduh," teriak Auzora.

Sebuah bola basket tepat mengenai kepalanya. Hidungnya seketika mengalirkan darah, tak tampak cemas, Jae dan Rae justru tertawa puas.

"Ayo ikut aku ke UKS," ajak si Ketua Kelas memegangi bahu Auzora.

"Selama ini kalian disegani, dikenal memiliki sikap yang sangat baik. Aku gak nyangka kalian bisa setega ini," ucap beraninya saat melewati kedua kakak Auzora.

Zyan Jhuana namanya, lelaki dengan jiwa keberaniannya. Ucapannya yang juga didengar banyak siswa lain yang ada di sekitarnya, menciptakan perbincangan hangat pada kalangan siswa.

Belum sampai Zyan kembali ke kelasnya, kabar tentang hal itu sudah sampai lebih dulu.

"Dasar emang, gatel banget murid baru itu," kesal salah satu teman perempuannya yang menangkap dari kejauhan, Zyan dan Auzora yang berjalan beriringan.

~Itu tuh, yang kesel pas Zyan ngasih celananya ke Zora di chapter 1.

"Zy, kamu serius berani ngomong gitu ke mereka?" desak salah satu temannya saat mereka baru saja masuk.

"Apaan?"

"Eh, kamu rame dibicarain kakel, ngawur emang kamu."

"Biarin, biar terkenal," jawab Zyan enteng.

Si Kembar tampak berjalan mendekati kelas mereka, kelas mendadak berubah seolah didatangi seorang selebriti, terlebih lagi para siswi.

Rae mendekat dan benar-benar berdiri di hadapan Auzora, perlahan tangannya mulai mendekap.

"Astaga, Kak Rae manis banget," histeris seisi kelas.

~Histeris yang kayak "Aaaaa, ASTAGAAA." Heboh gituu.

Dalam dekapan yang tampak begitu memberi kehangatan, Rae berbisik lirih pada telinga kanan Auzora.

"Sakit? Gue lebih sakit!" Tangan kanan yang mendekap hangat, namun dengan bisikan yang menusuk tepat.

"Manis? Ragaku dipeluk, jiwaku ditusuk," batin Auzora dengan mata terpejam.

"Gila sih, si Zyan. Bisa-bisanya nuduh mereka yang sengaja ngelempar bola ke adiknya."

"Ngada-ngada lo Zy ...."

Mata Zyan yang merekam jelas, bagaimana kedua kakak Auzora berbisik menyusun rencana. Melempar bola tepat mengenai sasaran mereka. Tertawa puas setelahnya, dan berlagak tak bersalah untuk menutupinya.

"Anda salah target," ucap lirih Zyan merapatkan kedua bibirnya dengan lirikan mata tajam, pada langkah pergi Jae dan Rae.

...

Jam pulang sekolah tiba, pembelajaran telah berakhir hari ini. Seperti biasa, si Kembar Jae dan Rae dijemput oleh supir pribadi mereka yang sudah standby di depan sekolah.

"Ra, kamu kok belum pulang? Bukannya bareng supir yang biasa jemput kakak kamu?" tanya Zyan yang kembali ke kelas karena barangnya yang tertinggal.

"Iya, tadi pagi kak Jae bilang, gak boleh keluar kelas kalau dia belum nyusul."

"Astaga, Auzora. Kamu dikadalin, mereka udah pulang, baru aja pas aku balik ke sini," balas Zyan yang mulai tampak kesal.

"Oh, oke makasih."

"Hah?"

Zyan hanya menatap bingung langkah Auzora yang meninggalkan kelas dengan begitu tenangnya, bahkan masih dengan senyum yang tergambar nyata. Tanpa berkeluh kesah, Auzora hanya tampak tenang keluar dari gerbang sekolah.

Zyan yang mengkhawatirkan gadis malang itu, mengikuti Auzora tanpa sepengetahuannya.

Matahari senja menjadi saksi tangis bisu remaja dengan mata sayu tersebut. Di taman samping sekolah, Auzora memandangi langit jingga itu dengan deraian air mata.

"Ma, dunia Zora hancur setelah mama pergi, dunia Zora hanya mama. Zora kehilangan dunia Zora, ma ...."

"Dunia gak adil buat Zora, ma. Zora salah apa, ma? Kenapa akhir-akhir ini Zora juga sering mendapat julukan anak haram?" rintihnya lirih dalam hati, meremas kerah baju seragamnya.

"Tuhan, tolong kembalikan mama atau bawa aku bersama mama ...."

Zyan yang tak kuasa memandangi gadis rapuh itu dari kejauhan, perlahan dia mendekat dengan langkah pelan.

Mendapati Zyan yang datang, Auzora merubah wajahnya, menghapus air matanya, membohongi Zyan seolah semua sedang baik-baik saja.

"Ra, kamu gak perlu kok pergi ke sini cuma buat nangis, kamu boleh nangis di kelas detik itu juga."

"Kamu juga gak perlu hapus air mata kamu, senyum dan nyapa aku setelah aku datang. Kamu gak perlu berpura-pura baik-baik aja, kamu boleh nunjukin sisi lemah kamu. Bukan, bukan sisi lemah, tapi sisi yang membuat kamu tumbuh lebih kuat."

"Nangis aja, Ra. Lanjutin, aku kesini bukan untuk menyumbat air mata kamu."

Seolah menjadi manusia yang paling mengerti tentangnya, air matanya juga tak lagi sungkan untuk terus mengalir deras. Isaknya juga tak lagi canggung untuk terdengar.

Zyan hanya duduk diam tanpa bertindak sedikit pun, menunggu Auzora meluapkan emosionalnya.

"Udah?"

"Kamu kenapa disini kalau cuma diem?"

"Seenggaknya kamu gak merasa sendirian."

Sementara di rumah, petang ini Chardika baru saja pulang setelah sibuk dengan pekerjaannya. Belum sampai dia masuk ke dalam rumah, kedua putranya sudah tampak rapi akan pergi.

"Mau ke mana?"

"Ngumpul sama temen, Yah. Gak lama kok, Yah."

"Adik kalian?"

Keduanya hanya tampak bungkam, kebingungan menjawab pertanyaan sederhana itu.

"Malam, Yah," sapaan yang mencairkan suasana.

Si Kembar yang tampak lega. Auzora datang tepat waktu dengan senyum palsunya, dia menutupi semua luka, terpaksa membohongi Ayahnya.

"Baru pulang? Kenapa?" tanya Ayahnya khawatir.

"Aku mampir ke taman deket sekolah, Yah. Cantik banget, Zora nyaman di sana, sampai kemalaman."

"Kenapa gak pulang dulu baru main? Sama siapa tadi? Sendirian?"

"Nggak, Yah. Ada temennya kok."

"Oke, sekarang masuk, bersih-bersih, terus makan. Kalian jangan malam-malam pulangnya."

"Iya, Yah," jawab si Kembar serentak.

Berkumpul dengan beberapa temannya hanya untuk membahas suatu pembahasan yang sebenarnya tidak penting untuk diperpanjang.

"Adik kamu emang ngeselin banget, Vie. Aku yakin sih, Zora ditemenin adik kamu di taman tadi."

"Iya, Jae. Zyan tadi juga pulang malaman, kayaknya dia nemenin Zora."

"Lucu gak, sih? Bayangin nih, kita kemusuhan banget sama Zora. Eeh, adiknya Stevie malah deket sama Zora," tambah Juna.

"Jangan ngacok, lo. Kita purak porandakan kalau gitu," celetuk Jihan tak terima.

"Weehh, gak terima banget, Han?"

~Aku kenalin nih, circle mahalnya si Kembar. Semua dari mereka anak orkay semua, orang kaya.

Jae, Rae, Juna, Stevie, dan Jihan. Umumnya anak sekolah, mereka pasti mempunyai beberapa teman dekat, teman berbagi cerita, dan teman segalanya. Biasa disebut 'Sahabat'.

~Inget gak? Kakel yang numpahin es di meja Auzora, itu Stevie, kakaknya Zyan.

"Buat Zora ngerasa gak betah, biar dia pergi dengan sendirinya, itu tujuan kita," ucap Jae melirik ke arah Rae.

"Kita bantuin, tenang aja."

...

Sesampainya di rumah, rumah sudah dalam kondisi gelap tanpa lampu penerangan, karena mereka pulang sangat larut malam.

"Ngapain ke kamar Zora?" tanya bingung Jae pada Rae yang menarik lengan panjang bajunya menuju kamar Auzora.

"Semoga gak dikunci ...."

"Aman, kita bisa masuk," tanpa menjawab pertanyaan Jae, Rae hanya fokus pada tujuannya.

"Ra, bangun ...." Tangannya mengguncang tubuh Auzora dengan kasar.

"Kita tidur di kamar kamu, besok kalau kita kena marah ayah, kamu harus ngomong kalau kita gak pulang larut dan nemenin kamu tidur!" tambah Rae setelah melihat mata Auzora yang telah terbuka.

Auzora yang sama sekali tidak mampu menangkap ucapan kakaknya tersebut, hanya diam dengan tatapan kosong dan membiarkan kedua kakaknya tidur di sofa panjang kamarnya. Lanjut memejamkan mata setelahnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!