~13

"Kenapa, Ra?"

"Astaga, apa-apaan sih, lo? Sadar Auzora!" ucapnya dalam hati menampar dirinya sendiri.

"Kak Hansa yang posting ini di akun aku?"

Anggukan dari Hansa yang berarti membenarkan ucapan Auzora.

"Ngapain Kak Hansa megang akun aku? Itu sama aja Kak Hansa ngambil yang bukan hak, Kakak!"

"Aku cowok kamu, berhak dong."

"Sejak kapan ada aturan kayak gitu? Aturan bodoh! Emang pacaran hanya membodohi seluruh masyarakat. Sampah-sampah kebodohan!" tegas Auzora kesal.

"Lagian ini foto kapan? Mana ada, aku foto pose cewek gatel kayak gini sama Kakak?"

"Lagian ngapain harus ngeposting kayak gini? Gak ada yang lebih bagus? Yang lebih ramah? Hancur reputasi aku gara-gara Kakak!"

Hansa melipat kedua tangannya ke dada, bersandar pada pintu, menatap gadis yang ada hadapannya itu dengan senyum indah di wajahnya.

"KAK!"

"Iya, ada lagi?" tanya Hansa lembut.

"Kak Hansa, aku serius!" kesal Auzora.

"Gak salah kakak kamu ngasih kamu ke aku, tepat banget, Adik cantik."

"Gak berguna ternyata. Dahlah, mending pulang."

Setelah mobilnya tak tampak, Hansa yang masih berdiri di ambang pintu, menangkap Zyan yang juga datang setelahnya.

"Kerjaan lo pasti?" ketus Zyan.

"Astaga, baru aja yang satu pergi. Masalah foto? Emang kenapa? Lo cemburu?"

"Cemburu? GAK! Otak lo bisa berguna dikit, gak? Dia masih sekolah, cewek baik-baik di sekolah. Lo main nyebar foto kek gini. Pantes?"

Sorot mata Zyan cukup menjelaskan betapa kesalnya dia.

"Katanya suruh bantuin? Lo sendiri yang maksain gue buat tetep stay. Jadi, gue ambil tindakan biar semua orang tau, kalau dia punya gue," jawab Hansa ringan dengan wajah yang siap dihantam habis oleh Zyan.

"Tapi gak gitu cara, lo!"

"Yakin, percaya sama gue, Zy."

...

Sesampainya di rumah, Rae yang belum selesai dengan masalahnya semalam. Membongkar, memporak-porandakan kamar Auzora yang awalnya rapi penuh kenyamanan.

"Kak Rae, ini Kakak apain kamar aku?"

Sebuah album foto dan beberapa buah foto lain yang ada tangan Rae saat ini, berhasil dia dapatkan tanpa membutuhkan waktu yang lama.

"Kak, tolong jangan diapa-apain. Zora minta tolong banget, Kak. Itu foto-foto mama ketika mama ngunjungi Zora, ketika kita main bareng, jalan bareng, dan kenangan-kenangan lainnya. Tolong jangan diapa-apain, Kak," pinta Auzora memegangi tangan Rae.

"Lo pikir, foto-foto yang ayah buang itu gak ada kenangannya? Lo juga harus ngerasain sakit yang gue rasain!" jawabnya kasar sambil menghempas tangan Auzora.

Rae membawa foto-foto itu keluar dari kamar Auzora, mengambil sebuah korek api dari dapur dan membawanya keluar.

"Kak Rae, tolong jangan, Kak."

Air matanya mulai mengiringi permohonannya.

Tangannya yang siap membakar seluruh kenangan Auzora, terhenti oleh genggaman hangat tangan Jae yang menyentuh lembut tangan adiknya tersebut.

"Rae, kamu tau bukan, gimana sakitnya waktu ayah ngebakar semua foto-foto kita? Sakit banget? Kalau kamu tau rasanya sesakit itu, jangan biarkan orang lain juga ngerasain itu, Rae."

~Idih, tiba-tiba bijak.

"Justru, biar dia tau gimana sakitnya, Jae."

"Rae, ayah juga ngebakar foto-foto kita bukan hanya karena dia dateng. Karena ayah benci orang yang ada difoto itu. Apa kamu juga benci orang itu?"

Mata yang penuh amarah itu seketika menitikkan air mata. Memandang salah satu wanita dengan senyum merekah di dalam foto yang dia pegang.

"Kita sakit bukan hanya karena kenangan kita terbakar api, tapi juga karena api kemarahan ayah yang rela membakar semuanya. Kamu ngerti maksud aku?"

Tangisnya pecah seketika, foto-foto yang awalnya begitu ingin dia hancurkan, seketika dia peluk erat tepat di dadanya.

"Bunda ...."

Mata bingung Auzora yang telah kering air matanya, menatap tangis kakaknya yang memeluk erat foto-fotonya bersama ibundanya.

Mata Jae yang teralih ke arah Auzora, menangkap wajah kebingungan yang masih penuh tanda tanya tersebut.

"Zora, orang kamu panggil mama, itu orang biasa kami panggil bunda," ucap Jae tanpa ragu.

Wajahnya yang masih penuh dengan kebingungan, matanya menatap kosong, mulutnya kaku, diam membisu.

"Maksud, Kak Jae?" tanya Auzora bingung.

"Kita satu darah, kita satu ibu, kita satu ayah. Kita saudara kandung," jawab Jae enteng.

"Apa maksud lo, Jae! Enggak! Dia bukan saudara kandung kita! Yang ada, dia yang ngehancurin keluarga kita!" tolak keras Rae yang masih terpenjara dalam lukanya.

"Rae, buka mata kamu!"

Tanpa kata, wajah yang tampak lesu dengan drama dunia itu, kembali ke kamarnya.

"Kita terlambat memperbaiki semunya dengan bunda. Tolong, Rae. Satu kesempatan yang masih ada, kita perbaiki semuanya dengan Zora," pinta tulus Jae setelah melihat adik perempuannya pergi tanpa kata.

Di kamar yang masih berantakan itu, Auzora menatap setiap sudut keberantakannya pula. Sebuah laci paling bawah pada bagian lemari yang dia kunci, terbuka perlahan oleh jari jemarinya.

Tampak sebuah ponsel, sebuah buku diary, dan beberapa barang dari laci tersebut.

"Ma, Zora harus gimana, ma?"

Barang-barang milik ibunda tercinta, yang masih setia Auzora simpan, hanya barang-barang itu yang masih mampu Auzora dekap untuk merasakan kehangatan sosok ibunya.

"Gak usah maksa gue, Jae! Pengecut, lo!"

"Rae, please ...."

Rae mulai meraih kunci motornya, seperti biasa, jiwanya yang bebas selalu mencari pelarian yang bebas juga untuk melampiaskan emosionalnya.

"GAK! Lo mau cari mati?" Jae merebut kasar kunci motor itu dari genggaman Rae.

"Gak usah sok peduli, lo!"

Auzora yang mendengar keributan kedua kakaknya tersebut, yang mungkin baru pertama kali ini Auzora mendengar keributan antara mereka. Kembali membuka pintu kamarnya dan menghampiri suara keributan itu.

"Kak, Zora bener-bener gak suka banget ngelihat kalian kek gini cuma gara-gara Zora. Sampai sekarang Zora masih bener-bener bingung banget sama semuanya."

"Don't go anywhere, Kak Rae. Zora beneran sadar, kalau di sini, Zora bener-bener duri buat kalian semua. Zora yang bakalan pergi," senyum tipisnya yang tampak indah menutupi sesaknya dada.

Mulut Jae yang mulai terbuka dan ingin membuka kata, didahului Rae yang mampu lebih awal membalas ucapan Auzora.

"Bagus kalau lo sadar. Gue gak perlu ngusir."

Langkah Auzora yang mulai mengambil langkah pergi, dihentikan oleh tangan Jae yang meraih tangannya.

"Rae, turun sekarang!"

"Zora, balik ke kamar kamu!" lanjut Jae tegas memerintah kedua adiknya.

Suara motor terdengar berhenti di halaman rumah, entah siapa yang datang. Yang pasti, kedatangannya membantu Jae menyelamatkan kedua adiknya.

"Hey, lagi pada mau pergi?" tanya Hansa yang langsung memasuki garasi rumah.

"Nggak, masuk aja, Sa ...."

"Gue mau pergi ya, Jae!" desak Rae menyorot mata Jae.

"Gue bilang masuk, Rae!"

Hansa memandang bingung kedua saudara kembar yang biasanya tampak sangat akur itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!