"Lo dapet uang tambahan juga dari ayah? Katanya nilai terbaik," tanya Rae dengan nada jutek pada Auzora yang tiduran di sofa.
"Iya, Kak. Kenapa?"
"Nanya aja ...."
~Masih ingat? Auzora peringkat terbaik semester ini di kelasnya, di chapter 3.
"Cuciin motor gue! Lagi gabut kan?" celetuk Jae yang berjalan di belakang sofa.
"Zora habis bersih-bersih, Kak. Baru aja selesai mandi."
"Ngebantah? Nolak?" tanya ketus Jae.
"Kak ...."
Katanya terhenti, Auzora seolah ingin membela diri. Namun, teringat saat terakhir kali mereka bertengkar, hanya beberapa kalimat dari Auzora, justru membuat Jae down.
"Oke, Kak."
"Ngalah capek. Kalau gak ngalah, malah makin salah," keluh Auzora pasrah.
Selang beberapa waktu, Juna, Stevie, dan Jihan datang menggeser gerbang. Auzora yang masih berada di halaman depan, memandang penasaran siapa yang datang.
"Kakak kamu ada?" tanya Juna.
"Ada, Kak. Masuk aja ...."
Ponsel Auzora yang tergeletak di meja berdering, saat kelima sahabat itu duduk memutarinya.
"Zyan Jhuana, adik kamu?" tanya Juna ke arah Stevie, melihat nama penelpon.
"Kayaknya ...."
"Lo kemana, sih? Lama banget bales chat gue. Sibuk gak? Kalau nggak, kita ke gramedia. Katanya pengen kesana ...."
"Zora lagi nyuci motor gue, boleh lo bawa pergi setelah kelar kerjaan dia," jawab Jae.
"Dih, lancang banget ngejawab panggilan orang. Zora siapa, lo? Babu? Lo suruh-suruh begitu?" ketus Zyan tegas.
Tanpa kata penutup, Zyan memutuskan panggilannya. Dikira selesai sampai disana, tak lama setelah panggilannya terputus, pintu gerbang kembali tergeser.
"Lo mau-maunya disuruh kayak gini?" desak kesal Zyan pada Auzora yang baru saja menyelesaikan tugasnya.
"Ngapain kesini?"
"Lo ngapain mau disuruh kayak gini?"
Suara kesal Zyan sampai pada telinga mereka, Jae keluar lebih dulu, dan disusul satu adiknya dan ketiga sahabatnya.
"Kenapa? Gak terima?" sahut Jae dari teras rumah.
Zyan dengan emosinya, mengambil langkah untuk menghampiri Jae. Tangan basah Auzora menghadang, menghentikan langkahnya.
Hanya dengan isyarat kedipan mata dan anggukannya, Auzora berhasil menghentikan perdebatan yang hampir saja tercipta.
"Siapanya, sih? Cowoknya juga bukan, sok banget," lanjut Rae.
"Gak usah dijawab," ucap lirih Auzora.
"Udah. Ayo, masuk lagi," ajak Stevie.
...
"Sumpah, lo kenapa diapa-apain cuma diem? Lawan, Ra. Bales ...." Ekspresi Zyan kesal mulai tampak.
"Buat apa, Zy? Yang ada hanya memperpanjang masalah. Lo lihat, kalau lo diem gini, masalahnya cepet kelar, bukan?"
"Coba kalau tadi lo nglawan, lo jawab lagi. Mungkin sampai detik ini, kalian masih berantem," lanjut Auzora.
"Pada akhirnya, diri kamu adalah milikmu. Sayangi dia sepenuhnya, dan sadari betapa kerasnya dia berusaha. Dengan begitu, kamu bisa membela dirimu sendiri, dan melawan mereka. Gak semuanya harus kamu diemin, Ra."
Ucapan Zyan hanya membuat Auzora kaku. Dia hanya diam dengan mulut yang gemetar.
"Masuk, kita duduk di balkon," ucapnya mengalihkan topik pembicaraan.
"Lo gak jadi ke gramedia?"
"Capek banget, Zy. Aku tadi baru kelar ngeberesin rumah, baru selesai mandi, disuruh kak Jae bersihin motornya. Kapan-kapan aja, ya?" jelas Auzora sambil menggulung selangnya.
"Oke, kita nonton serial drama kesukaan kamu aja. Ngelanjutin episode," ucap Zyan dengan senyum manisnya yang melegakan perasaan Auzora.
Masuk dan melewati segerombol circle pertemanan kakaknya tanpa kata, tanpa sapa. Kedua sejoli ini tampak berjalan dengan santainya.
"Kamu ke atas duluan, aku ambilin cemilan," ucap Auzora yang berbelok ke arah dapur.
Kelima pasang mata yang tak lepas memandangi langkah mereka.
"Aku rasa, mereka punya hubungan," ucap Juna.
"Gak, kejebak friendzone kalau kata gue. Zyan kaku banget, dia gak gampang cinta," bantah Stevie.
"Kalian tau Clara?" tanya Jae mendadak mengalihkan topik.
Keempat kepala itu mengangguk, mengiyakan pertanyaannya.
"Dia kayak gak suka banget sama Zora. Kalau gue perhatiin, dia suka sama Zyan, tapi kalian tau sendiri, Zyan sedeket itu sama Zora."
"Lo tau dari mana, kalau dia benci sama Zora?" tanya Jihan.
"Gue perhatiin. Percaya sama gue, gak mungkin salah," jawab Jae meyakinnya mereka.
"Target baru ...." Lirik licik Juna.
...
Tangis dan tawa karena serial dramanya, seperti wanita pada umumnya, Auzora juga terbawa oleh alurnya. Zyan yang sudah terbiasa dengan tingkahnya, melepas jaketnya dan menutupkannya pada kepala Auzora.
"ZYAN ...." Kesal Auzora seketika.
Berlanjut membicarakan dan bercerita tentang banyak hal. Tawa canda mereka terdengar hingga ruang bawah.
"Berasa dunia milik berdua," sinis Jihan.
"Nggak, kita masih di dunia," bantah Rae.
"Diem! Gue timpuk, lo," kesal Jihan mengangkat tangannya.
Tawa mereka juga sama menghiasi rumah yang akhir-akhir ini hanya ada suasana terpancing keributan. Ayahnya yang tak kunjung pulang, membuat si Kembar merasa leluasa bertindak dan memperlakukan Auzora sesukanya.
"Kita bareng kayak gini, ketawa sama-sama kayak gini sampai akhir dunia ya, Ra?"
Wajahnya mendadak kaku, tawanya melebur seketika mendengar ucapan Zyan.
"Aku gak yakin, Zy ...." Kepalanya tertunduk lemah.
"Kenapa?"
"People come and go, awalnya aku tidak percaya itu, tapi ...."
"Kalau kata orang, setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Kamu pernah dengar kata itu? Menurutku itu benar," lanjut Auzora.
~Kalau sefrekuensi, buestie banget emang kayak gini, ya? Random yang dibicarain, mulai bercandaan sampai keseriusan.
"Jadi, kamu pikir aku akan pergi? Kamu gak percaya kalau aku bisa nemenin kamu?"
"Bukan gak percaya, Zy. Tapi siapa yang gak pergi dari hidup aku? Oma, dia pergi. Sahabat aku, dia juga pergi. Mama ...." Kepalanya semakin tertunduk, rintikan air matanya mulai turun.
"Kak Jae, kak Rae, mereka aja gak bisa nerima aku di sini. Aku juga gak yakin kalau aku bakalan di sini dalam waktu yang lama."
"Aku kayak gak pantes banget dapet cinta. Apa manusia seberantakan aku emang gak pantes dapet itu semua, Zy? Kenapa semesta narik mereka dari aku?" lanjutnya.
Zyan menyentuh perlahan pundak rapuh itu, menghadapkan tubuh Auzora untuk menghadap ke arahnya.
"Berhenti ngerasa kalau kamu gak sempurna, Ra. Berhenti ngerasa kalau kamu serpihan kaca untuk orang lain, berhenti ngerasa kalau kamu gak pantes untuk semua orang ...."
"Oma, dia pergi karena Tuhan memanggilnya lewat penyakitnya, dan penyakitnya kambuh bukan karena kamu. Sahabat kamu pergi, secara tidak sengaja, dia ngasih ruang buat aku. Dan sekarang, aku yang ngegantiin posisi dia."
"Mama kamu kecelakaan, itu juga bukan salah kamu, Ra. Sekalipun itu karena ngejemput kamu."
"Dan kak Jae, kak Rae, dia ingat tentang lukanya, juga bukan karena kamu. Bagaimana mungkin kamu jadi luka untuk orang lain, sementara kamu sendiri gak tau apa yang jadi luka mereka?"
"Ayah kamu, yang kamu bilang sering nangis waktu ngeliatin kamu. Itu belum tentu karena kamu. Siapa tau, ada rasa bersalah atau perasaan yang lainnya."
Bukan semakin lega dan tenang dengan ucapan Zyan, Auzora justru mengalirkan air mata yang semakin deras.
"Kamu sempurna, kamu berharga, kamu pantas dicintai, kamu pantas bahagia ...."
"Temenin sampai akhir, ya," pinta Auzora dalam tangisnya.
"Gue janji, kalau kata kamu, semesta gak pernah berpihak ke kamu. Aku akan jadi manusia pertama yang selalu ada di pihak kamu."
~Request yang kayak Zyan masih ada stoknya gak, ya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments