~15

"Zy, lo bisa jelasin?"

Zyan yang akan membalas permintaan Auzora terhalang oleh ponselnya yang berdering karena panggilan dari Hansa.

"Zy, gue berangkat sekarang."

"Lhoh, Sa? Seriusan, lo? Gak! Tungguin gue dulu, Sa," pinta Zyan dengan wajah paniknya.

"Gue udah mau ke bandara, sorry banget, Zy."

"Sa, lo harus tunggu gue di bandara, okay? Gue kesana sekarang."

Tanpa basa-basi, masih dengan seragam olahraganya, Zyan berlari meninggalkan Auzora. Auzora yang tak ingin tertinggal, turut mengikuti Zyan hingga sampai pada pagar sekolah.

"Zyan, gue gak bisa ...."

Zyan yang sudah berada di ujung pagar dan siap melompat keluar dari sekolah, tampak kesal karena Auzora mengikutinya.

"Lo ngapain ikut, Ra? Balik sana!"

"Kak Hansa kenapa? Gue mau ikut!"

Zyan yang tak mempedulikan Auzora, turun dari pagar meninggalkan Auzora.

"ZYAN!"

Di balik pagar itu, langkah Zyan terhenti. Otaknya berputar, berpikir sejenak.

"Keras kepala banget!"

Senyum dari wajah kesal itu kembali tampak, setelah melihat sahabatnya kembali naik dan kembali turun untuk membantunya.

"Buruan, lo naik ke pundak gue!"

"Baju lo kotor, Zy."

"Gue tinggalin kalau gitu," jawab Zyan ketus.

"Iya, iya ...."

...

"Sialan! Zyan ngejebak aku, Kak."

"Maksudnya?"

Setelah kejadian tadi, Clara menemui Juna dan Jihan di kelas mereka.

"Dia ngedeketin aku cuma buat ngumpulin bukti kalau aku salah. Dan dia berhasil!" kesal Clara menghantam meja.

Wajah terkejut kedua sahabat itu tampak kaku seketika.

"Bentar, kok dia bisa tau rencana kamu?"

"Aku gak tau! Sialan banget, sumpah! Aku gak bisa gerak kalau gini, Kak Ji."

"File-filenya masih ada?"

"Masih, Kak Jun. Strategi dia pinter, dia ngambil barang bukti, bukan ngambil barang utamanya."

"Yang gue bingung, gimana dia bisa tau? Berarti, sejak awal ngedeketin kamu, dia udah tau?"

Stevie, Jae, dan Rae, kembali ke kelas mereka dengan beberapa cemilan di tas plastik yang Stevie genggam.

"Kak Stevie? Kakak pelakunya?" desak Clara yang berdiri menghadang Stevie.

"Maksudnya?"

"Sopan, ke senior kayak gitu?" balas Rae memasukkan kedua tangannya pada saku.

"Maaf, Kak ...."

"Kenapa?"

"Zyan, lagi-lagi dia cari masalah sama kita, Jae."

Stevie yang mulai panik namun tetap bersikap tenang.

"Mampus, main cepet dia. Kenapa gak ngasih aba-aba, Zyan Jhuana," keluh Stevie dalam sikap tenangnya.

"Dia nipu Clara, dia ngedeketin Clara dengan alasan lain. Dia cari bukti bahwa tuduhan Clara salah," lanjut Juna.

"Emang pinter anak itu, gue akui. Sekarang kita gak bisa ngapa-ngapain, mau kita buat rencana baru, Zyan pasti tetep menang. Karena ada bukti di tangan dia."

"Terpaksa kita akui, mereka menang," lanjut Jae.

"Kok, lo pasrah gitu aja, Jae?" sahut Rae tak terima.

"Ya, mau gimana?"

...

"HANSA ...."

Teriakan itu menghentikan langkah Hansa. Memutar balik tubuhnya dan melihat lelaki dengan seragam olahraga itu berlari ke arahnya.

"Sa, kamu beneran mau pergi sekarang?"

Matanya yang menatap tampak dalam, berkaca-kaca menatap Hansa bersama koper yang berdiri tegak di sampingnya.

"Lo kenapa, Zy?" tanya Hansa dengan nada mengejek.

Auzora yang tertinggal, dari kejauhan menangkap kedua lelaki itu. Zyan tampak memeluk Hansa erat, seolah enggan melepasnya pergi.

Tubuhnya yang masih dipeluk hangat, senyumnya juga tampak begitu hangat setelah melihat Auzora juga berlari ke arahnya.

"Lo berhasil, Zy. Lo tepat waktu," ucap Hansa di balik senyum hangatnya.

"Kita akan ketemu lagi, Zyan. Gue gak selamanya disana. Gue bakalan pulang lagi," ucap Hansa membalas pelukan Zyan.

"Thanks, Sa. Makasih karena lo hadir tepat waktu. Semua berhasil gue selesain karena lo ada."

"Udah, ih. Jangan nangis!"

Setelah pelukan itu terlepas, matanya hanya tertuju pada Auzora yang berdiri tanpa kata.

"Jaga diri baik-baik, Ra. Jaga diri baik-baik, Zyan. Aku pamit dulu ...."

"Sa ...." Panggilan lemah itu terdengar begitu berat melepasnya.

"Gue bersyukur banget ketemu lo, Zy. Makasih, ya. Kita ketemu lain waktu. Gue janji, gue bakalan terus kabarin, lo." Tangannya menepuk lembut pundak Zyan yang masih dengan mata merahnya.

...

"Vie, makasih, ya. Lo mau bantuin gue."

"Sama-sama, Jae."

Pulang sekolah ini, Jae dan Stevie mengunjungi tempat makan bersama. Mereka hanya pergi berdua. Namun, tanpa Jae sadari, Rae tidak pulang bersama supirnya. Rae mengikuti kakaknya yang tumbenan ini memintanya pulang lebih dulu.

"Seandainya gue bisa bilang ke Zyan, gue juga pengen banget bilang makasih ke dia."

"Nanti gue sampaiin ke dia, Jae."

"Jangan bilang dari gue, Vie."

"Bereess ...."

Dengan beraninya, Rae menghampiri meja meraka tanpa langkah ragu.

"Oh, jadi kalian dalang di balik kemenangan Zyan?"

Keduanya yang tampak duduk tenang, seketika berdiri dengan terkejutnya.

"Kalian nusuk kita dari belakang rupanya? Pisau dalam pelukan!" Senyum sinisnya tampak sangat jengkel.

"Rae, bukan gitu maksudnya ....'

"Diem-diem, kalian ngikut briefing kita, tapi diem-diem juga kalian ngejadiin itu senjata yang kalian berikan pada lawan. Hebat juga kalian."

"Dan Jae, gue bener-bener gak nyangka, lo bisa kayak gini. Kecewa banget gue, Jae," lanjutnya.

Tatapan yang panik sekaligus bingung itu hanya menatap langkah pergi adiknya.

"Jae, kita ngejar dia ...."

"Gue bingung banget, Vie."

Raganya terduduk lemah, membuka topi dan mengacak-acak rambutnya.

"Gue kejar, Jae?"

"Gak perlu, Vie. Lo temenin gue disini aja, ya?"

Setelah pulang dari bandara. Di perjalan pulang itu, Auzora meriliskan jajaran pertanyaan yang masih membuat dia bingung.

"Kak Hansa mau pergi ke mana, Zy?"

"Jepang," jawabnya singkat.

"Ngapain? Oh, kerja di sana?"

Zyan hanya membalasnya dengan anggukan.

"Sejak kapan kamu deket sama Kak Hansa? Sampai segitunya, lagi. Perasaan, waktu itu kalian musuhan."

"Sejak aku ngejauhin kamu."

"Kok bisa? Oh, iya. Lo ngapain ngejauhin gue, Zy? Gue ada salah apa sampai lo gituin? Ada kaitannya juga sama Clara?"

Zyan dengan wajah kesalnya, tiba-tiba menghentikan langkah. Auzora yang ikut berhenti dan hanya menatap Zyan yang tampak diam dengan tatapannya yang tampak kesal.

"Zy ...."

"Lo bisa diem dulu, gak? Gue masih sad, Auzora. Lo ngerti dikit ngapa, sih?"

"Oke, maaf, Zyan Jhuana."

Sebuah kebetulan karena mereka berpapasan dengan Rae saat ini. Rae yang berjalan dengan tertunduk, di balik topi yang masih tertutup oleh jaket hitamnya. Kecewa masih begitu dalam menyelimutinya.

"Kak Rae ...."

Langkahnya terhenti mendengar sapaan dari suara yang dia kenal itu. Wajahnya yang datar menengok ke arah Auzora.

"Seandainya lo gak dateng di hidup kita!"

Rae yang kemudian pergi. Kalimat itu membekukan kedua wajah mereka. Mereka hanya diam, saling menatap penuh tanda tanya.

"Jangan-jangan?"

"Apa, Zy?"

Zyan meraih ponsel dari sakunya. Menghubungi Stevie dengan tergesa-gesa.

"Kakak di mana?"

"Tempat makan samping taman sekolah, kenapa?"

"Sama siapa?"

"Jae ...."

"Rae? Dia?"

"Iya, Zy. Ini aku juga lagi nemenin, Jae. Dia kayak bingung banget harus gimana."

"Kok Rae bisa tau sih, Kak?"

"Dah, lo kalau mau ngomel gue matiin teleponnya. Gue juga bingung disini sama, Jae. Lo jangan nambahin beban!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!