~04

"Wowww." Sorak ramai seisi lapangan.

Langkah Zyan perlahan mendekat pada kedua kakak Auzora dengan bola basket di tangannya.

Lelaki bersepatu putih, bertubuh tinggi dengan kibasan rambutnya itu berhasil mencuri mata dan menjadi pusat perhatian para siswa.

"Kecurigaan aku benar ternyata, Kak. Emang ada maksud lain?" desak Zyan tepat berhadapan dengan kedua bintang sekolah itu.

"Maksud kamu apa, sih?"

"GAK USAH SOK!" bentak Zyan membanting bola yang ada di tangannya.

Sementara itu, Juna, salah satu sahabat dekat Jae dan Rae. Bergegas menuju kelas untuk memanggil Stevie, kakak Zyan.

"Vie, buruan ke lapangan basket, adik kamu berantem sama Kembar," ucapnya terengah-engah.

...

Merasa diperlakukan tidak sopan oleh adik kelasnya, Jae melangkah lebih dekat, tepat berhadapan dengan Zyan, kedua tubuh mereka seakan menempel berlawanan.

Auzora yang mulai memiliki feeling tidak baik, berlari mendekati ketiga lelaki tersebut, dan memisah jarak antara Zyan dan Jae.

"Zyan, please."

"Kamu pikir kita yang sengaja ngelempar ke dia? Benci banget kamu sama kita? Sampai nuduh gitu," sahut Rae yang masih berdiri di belakang Jae.

"Lo rekaman langsung? Sejak kapan?" desak Zyan pada salah satu siswa yang duduk dari arah samping mereka.

"Sejak mulai pertandingan tadi."

"Sopan dikit! Kakel kita itu," tegur Auzora sambil menampar bahu Zyan.

"Bisa minta tolong akhiri livenya, Kak? Lalu, bagikan ke aku."

"Bisa, nama akunnya apa?"

"Makasih, Kak."

Wajah kedua kakak Auzora yang mulai gelisah, saling menatap meringis panik.

"Kenapa? Kok panik? Kalau aku nuduh, seharusnya kalian tetap tenang," ejek Zyan dengan senyum puas.

~Bener nih kata Zyan di chapter 2. Mereka salah target.

Stevie, Jihan dan Juna yang turun ke lapangan dan menghentikan aksi Zyan, yang mulai membuka ponselnya karena sebuah notifikasi yang masuk, mungkin vidio yang dibagikan tadi telah terkirim.

"Zy, udah, ya. Jangan diperpanjang. Kalian balik aja ke kelas," perintah Stevie.

"Iya, Zy. Udah, biarin aja. Ayo balik," ajak Auzora menyetujui kakak Zyan.

Tanpa menghiraukan ucapan mereka, Zyan menyodorkan ponselnya di hadapan Jae dan Rae yang masih berada di posisinya.

"Zoom," ucap singkat Zyan sambil memperbesar layar.

"KALIAN SEMUA PENGEN TAU?" teriak Zyan meneriaki seisi lapangan.

"Zyan, please ...." 

Tatapan dalam Auzora menurunkan tangan kanan Zyan yang memampangkan ponselnya.

"Lo mau diem sampai kapan? Lo gak capek?" Mata Zyan menatap balik mata Auzora dengan tegas.

"As long as i have you, everything's alright."

Ucapan Auzora membekukan tatapan keenam orang yang ada di dekatnya tersebut. Zyan menatapnya datar, matanya terkejut bingung.

...

"Gak, ini gak boleh. Sumpah ini gak boleh!"

"Kacau, adik kamu emang bener-bener, Vie."

"Gak habis pikir aku, Han."

Gelisah kedua sahabat dekat itu sepanjang perjalanan kembali ke kelas mereka.

"Maksud kamu apa?"

"Maaf kalau salah," jawab Auzora tertunduk.

"Aku nanya, siapa yang bilang kamu salah?"

Semakin tertunduk, menelan ludahnya gugup mendapati aura tegas Zyan.

"Ya, aku minta maaf kalau aku salah."

"Siapa yang bilang kamu salah? Maksud kamu apa? Aku nanya itu ...."

Nada bicaranya yang mulai mengeras, mulai mengundang seluruh mata seisi kelas. Mata-mata itu seketika tertuju pada bangku Auzora, yang di depannya berdiri seorang Zyan dengan gagah.

Zyan yang menyadari hal itu, membuang wajah kaku.

"Aduh, kelepasan ...."

Mengembalikan wajah cerianya, Zyan berlagak seolah tak terjadi apa-apa untuk mengelabuhi mata yang menyorot mereka.

"I'm sorry, if i say, i need you. But i don't care i'm not scared of love ...."

"Cause when i'm not with you i'm weaker. Is that so wrong? Is it so wrong?" lanjut Auzora.

"That you make me strong," ucap mereka bersamaan melanjutkan liriknya.

"Weh, seplay list juga kalian?" sahut salah satu teman lelaki mereka di ujung kelas.

Zyan menatap bangga Auzora dan mengacungkan jempolnya.

"Bestie ...." Nada bangga mengiringi langkahnya kembali ke bangkunya.

Tak lupa, mata cemburu kesal dari salah satu teman perempuannya, tampak menatap tajam penuh emosional.

~Gak lupakan? Yang itu lhooo, yang sejak di chapter 1.

Bel pulang berbunyi, sekolah telah berakhir. Hari ini adalah hari terakhir bersekolah di semester ini, sebelum libur panjang.

Pada perjalan pulang, kedua kakak Auzora sibuk merencanakan liburan mereka. Sementara Auzora hanya diam menatap mereka berdebat menentukan tujuan liburan mereka.

"Tumben Ayah udah pulang?" tanya Rae melihat mobil Chardika yang terparkir.

"Sore, kalian ...." Sapa hangat Chardika melambaikan tangannya.

"Tumben Ayah udah pulang?"

"Iya, Rae. Ayah harus bersiap, nanti malam ayah berangkat ke luar kota."

Wajah terkejut ketiga anaknya. Terkejut sekaligus tak terima.

"Yah, ini liburan, Yah. Peringkat aku baik lho, Yah. Ayah yakin mau ke luar kota?"

"Ayah gak asik, mana ada kerja pas musim liburan begini? Udah dapat banyak penghargaan, Yah. Hadiahnya liburan."

Keluh si Kembar yang duduk di antara ayahnya, sambil memegangi kedua tangan ayahnya.

"Liburan kali ini, kalian habisin waktu di sini dulu, ya. Liburan selanjutnya kita liburan jauh lagi."

"Ayah minta maaf, ya. Nanti ayah siapin uang buat nyukupin kebutuhan kalian selama ayah tinggal," bujuk Chardika.

"Ayah lama, ya?" tanya simple Auzora.

"Kemungkinan lama, Sayang. Kamu di rumah sama kakak-kakak kamu gak papa, ya?"

Auzora hanya mengangguk ragu. Perasaannya penuh kekhawatiran dan ketakutan.

...

"Kalian baik-baik di rumah. Jae, Rae, tolong Zora dijagain, ya," ucap lembut Chardika sambil mengelus ketiga anaknya.

Dini hari ini, Chardika sudah bersiap rapi dengan sekoper perlengkapannya. Mobil yang sudah bersiap juga dengan seorang supirnya. Siap membawa Chardika pergi memenuhi tanggung jawab pekerjaannya.

"See you next time, anak-anak." Lambaian tangan Chardika dari dalam mobil.

"See you, Ayah," balasan mereka serentak.

"Bapak yakin, ninggalin mbak Zora sama kedua putra Bapak?" tanya Supir itu tiba-tiba.

"Memangnya kenapa, Pak?"

Wajahnya justru berubah gugup begitu kembali mendapat pertanyaan dari Chardika.

"E-enggak, Pak. Saya cuma nanya."

"Tolong jagain mereka, ya. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi saya."

...

"Pas banget ditinggal Ayah pas kita udah ada babu di rumah," ucap Rae mengiringi langkahnya yang kembali masuk.

"Lo kalau ngomong difilter dikit, kenapa? Orangnya masih di belakang kita," jawab Jae tersenyum licik.

Auzora hanya diam menarik napasnya. Matanya mulai menunjukkan sinar redup kekhawatiran.

"Kayaknya bener yang aku takutin, yang aku khawatirkan akan terjadi," batin pasrah Auzora.

"Zora, kamar kita kotor banget itu, beresin! Malam ini kita tidur di kamar kamu," ucap Rae pada Auzora yang baru saja menutup pintu rumah.

"Itu kamar Kakak, kenapa Zora yang beresin?"

Wajah kesal kedua kakaknya mendengar jawaban Auzora. Rae mendekati Auzora dan meraih tangannya kasar. Menggenggamnya kuat hingga Auzora meringis kesakitan.

"Nolak?"

"Itu tanggung jawab, Kakak."

"Oww," balasnya sederhana sambil memutar genggaman kuat tangannya.

Wajah cantiknya hanya menunjukkan bahwa dirinya kesakitan, walau tanpa teriakan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!