~18

Auzora beranjak dari tempat duduknya, berlari menuruni tangga dan pergi keluar dari rumahnya. Chardika yang tak mampu mengejar, hanya memilih memberikan Auzora sedikit ruang.

Masih dengan air mata itu, Auzora pergi menemui sahabatnya yang tak lain adalah Zyan Jhuana.

Mengetuk pintu rumah dengan tergesa. Zyan membukakan pintu untuknya. Tubuh yang langsung Auzora peluk itu, tanpa bertanya apa yang sedang terjadi, Zyan hanya kembali memeluknya hingga Auzora merasa lega.

"Zyan ... kau tau, ayahku mengkonfirmasi bahwa aku anak kandungnya."

"Waw, bagus dong. Kenapa kamu nangis kayak gini?"

Auzora yang merasa kesal, memukul bahu Zyan dengan kuat hingga Zyan merintih kesakitan.

"Bagus? Bagus apanya? Lo gak mikir, Zy? Gue sakit! Sekarang gue gak tau harus apa, dia yang nyelamatin gue, tapi dia juga yang ngebuat gue kayak gini!"

"Auzora Misora, please, listen to me. Just me, just listen to me! Gue lebih dulu tau soal ini ...."

Mata Auzora terbelalak dengan wajah terkejut.

"Lo tau?"

"Dengerin gue dulu, Ra. Aku gak ngasih tau kamu juga karena alasan, ini alasannya. Kamu akan benci ayah kamu. Tapi, Auzora. Masa lalu, biarkan dia hidup disana, kalau kamu terus terjebak disana, selama itu juga kamu akan dihantui rasa kecewa."

"Maafkan semuanya, emang gak mudah, tapi kamu pasti bisa. Kasih ayah kamu kesempatan untuk menebus kesalahannya. Dan kasih diri kamu ruang, untuk merasakan hangatnya keluarga. Hangatnya dekapan ayah, hangatnya peran kakak."

"Semua itu berawal dari kamu, Zora. Hidup itu pilihan, apa kamu memilih untuk terpenjara dalam luka?"

Ucapa Zyan yang berhasil mengelus lembut hati Auzora yang hampir mengeras karena rasa kecewa.

Zyan mengantarkan Auzora untuk kembali pulang, dan disambut hangat pula oleh Chardika. Dekapan hangat itu benar-benar tak ingin Auzora lepas, setelah sekian lama hidup tanpanya.

"Putri Ayah, kamu putri Ayah, Sayang ...."

Jae yang menangkap kehangatan itu, tersenyum lega melihat keluarganya mulai tersusun rapi kembali.

Namun, senyum itu kembali pudar setelah kembali sadar. Adik lelakinya yang tak kunjung pulang.

"Ayah janji, kita akan perbaiki semuanya sama-sama."

Bersamaan dengan itu, Rae menampakkan diri. Pintu rumah yang masih terbuka itu, juga masih menampakkan kehangatannya.

"Gak, Yah! Rae gak bisa. Ayah pilih, dia disini Rae pergi. Atau, Rae disini dan diapergi!"

Ucapan tegas itu melepas pelukan Chardika. Jae turut mendekat dan meraih lembut tangan adik lelakinya tersebut.

"Rae, please ...."

"Lo juga ngebelain dia?" desak Rae sambil menghempas tangan Jae.

Rae yang mulai melangkah menuju kamarnya dengan penuh amarah.

"Gak ada yang pergi dari sini! Kalian semua, tetap disini!"

Tak menghiraukan ucapan Chardika, Rae tetap membuka pintu kamarnya. Mulai membuka lemari pakaiannya, Chardika masuk bersama rasa kesalnya.

Tubuh anak itu diraih dengan kasar, menjatuhkannya ke lantai hingga suara kerasnya terdengar hingga ruang depan.

Jae, Zyan dan Auzora yang menyadari hal itu, bergegas menuju arah suara, keributan yang tak dapat dijeda.

"BUKA MATA KAMU! DIA ADIK KANDUNG KAMU!"

Jae dan Zyan berlari menarik tangan Chardika untuk menjauh dari hadapan Rae.

Kemarahan itu tidak membuat Rae merasa lebih baik, justru membuat dia semakin merasa, bahwa keberadaan Auzora benar-benar suatu kesalahan.

Auzora yang mendekati Rae, berniat membantunya untuk berdiri. Justru terdorong kuat oleh Rae.

Chardika yang juga menyaksikan kekasaran itu, amarahnya semakin memuncak. Tangan yang siap menghantam habis putranya tersebut, kembali dihalangi oleh Jae dan Zyan yang berusaha kuat memeganginya.

"Baru pertama ini, Ayah sekasar ini sama, Rae. Hanya karena dia!"

Tatapan tajam itu tepat tertuju pada Auzora yang masih terduduk karena dorongan Rae.

"Udah, kita keluar aja, Yah," ajak Jae yang masih memegangi tangan Chardika.

Setelah semua keluar, keinginannya untuk pergi yang semakin kuat, membuat Rae semakin yakin untuk mulai mengemasi pakaiannya.

Jae yang kembali masuk dan mengunci kamar mereka, kembali meraih tangan Rae, berusaha menghentikan aksinya.

"Rae, aku gak maksa kamu buat bisa nerima semuanya. Tapi tolong, setidaknya tetap disini."

"Gue disini, berarti gue nerima dia! Gue gak nyangka, Jae. Lo yang dulunya sekeras itu, bisa mendadak luluh gitu aja."

"Kebenaran tetap kebenaran meski seluruh dunia menciptakan seribu cara untuk menolaknya."

"Dan gue akan tetap jadi orang yang menolaknya meski seluruh dunia mengakuinya."

Chardika yang menenangkan dirinya, ditemani oleh Zyan, duduk terdiam dengan segelas air putihnya. Auzora menghampiri Chardika dengan penuh cinta.

"Yah, Zora minta maaf sebelumnya. Bukan menyalahkan, Ayah. Zora yakin, itu akan membuat kak Rae semakin merasa lebih baik dia pergi. Zora tau maksud baik Ayah, tapi bukan dengan cara seperti itu, Yah."

"Kak Jae kayaknya lagi berusaha banget buat ngehalangi kak Rae. Zora boleh minta tolong, Yah? Tolong dengan bahasa cinta, Ayah bantu kak Jae," pintu tulus Auzora.

"Kamu bener, Zora. Makasih, ya?"

Chardika mengetuk lembut kamar kedua putranya tersebut. Jae melepas genggamannya dan membukakan pintu untuk Chardika.

Chardika masuk dengan langkah lembut, menepuk kedua pundak Rae dan membuatnya terduduk. Duduk berhadapan, mulai meminta maaf dan membuat putranya sedikit lebih mengerti.

Dengan bahasa lembut penuh cinta, Chardika berhasil meluluhkannya.

"Kalau kamu gak bisa nerima Zora, it's okay, Nak. Tapi kamu tetap putra Ayah, dan Ayah tetap Ayah kamu. Jadi, tolong tetap bersama Ayah sampai kapan pun," pelukan hangat itu menyapa jiwa Rae yang merasa berantakan.

Setelah berhasil menyelesaikan masalah rumah. Jae mulai menyentuh masalah yang terlibat dalam persahabatan mereka.

Jae membawa Rae keluar untuk mencari suasana yang lebih tenang untuk berbicara lebih dalam.

"Rae, tolong ngerti posisi aku yang mulai bisa nerima Zora. Sama seperti kamu, Rae. Seandainya kamu diperlakukan jahat oleh orang lain, aku juga gak akan diem aja."

"Tapi lo salah, Jae! Cara lo salah! Lo nusuk kita semua!" bentak Rae yang masih sangat kesal.

"Kalau gitu, gue harus gimana, Rae? Kalau gue bilang, apa kalian masih stay sama gue?"

Pertanyaan Jae membuat Rae bungkam. Dia hanya diam dalam beberapa saat, menggerakkan bola matanya dan memainkan jari-jemarinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!