"Kak, lampu kamar Zora mati. Ada tangga lipat, gak?" tanya Auzora pada Rae.
"Ada, di gudang belakang."
Begitu Auzora pergi, matanya memandangi gadis dengan rambut panjang terurai itu, hingga matanya tak lagi menangkap langkah Auzora.
"Yakin dia bisa masang sendiri?"
Auzora kembali dengan tangga lipat yang dia bawa. Rae menanti permintaan tolong darinya. Namun tidak, Auzora kembali masuk ke kamarnya tanpa meminta pertolongan Rae.
"Kalau ada apa-apa bisa jadi masalah, nih."
Rae bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Auzora ke kamarnya. Pintu kamar terbuka, gadis cantik itu sudah tampak menaiki beberapa anak tangga dengan sebuah lampu di genggamannya.
"Turun!" bentak Rae.
"Kenapa, Kak? Lampu aku mati."
"Aku bilang, turun. Turun!"
Tanpa kembali mengelak, Auzora kembali turun mematuhi perintah Rae.
"Siniin." Tangan kanannya menengadah meminta lampu yang Auzora pegang.
"Matiin dulu saklar listrik di depan!"
Auzora bergegas mematuhi perintahnya dan kembali
"Pegangin tangganya, aku yang naik ...."
~Gengsi lo ketinggian, Bang. Kalau sayang bilang.
"Woy, mati lampu, ya?" teriak Jae yang keluar dari kamarnya.
"Bentar, Jae. Masang lampu ...."
Menghampiri asal suara, Jae terdiam kaku melihat saudara kembarnya yang bersedia menolong Auzora.
"Weeh, rukun ...." Senyum liciknya mengejek Rae.
"Diem lo! Ayah malam ini pulang. Lo mau dimarahin gara-gara masalah lampu doang?"
Senyum Auzora yang tak lagi sempurna, setelah tahu motif di balik tawaran Rae yang mengajukan diri.
Yang benar saja, tepat saat mereka bertiga terkumpul menjadi satu di kamar Auzora, Chardika tiba tanpa memberi aba-aba.
"Oh, pada di sini ternyata ...." Sapa ramah dengan senyum indah melihat ketiga buah hatinya.
"Ayah ...." Teriakan serentak mereka.
"Zora, jangan lo lepasin tangganya! Gue jatuh nanti ...." Panik Rae yang melihat Auzora lari memeluk Chardika.
"Maaf, Kak."
"Sini, biar Ayah yang pegangin."
Lelahnya seakan hilang seketika, menangkap kedua putranya yang tampak mulai berdamai dengan semuanya dan menerima Auzora sebagai adik mereka. Sandiwara belaka, terlampau hebat memainkan perannya.
"Oke, selesai. Balikin saklarnya, Ra!"
"Gimana selama Ayah tinggal? Semua baik-baik aja?"
"It's okay, Yah. Semua baik-baik saja," jawab Jae ringan.
"Kalau sama Zora? Gimana? Kalian enjoy?"
Langkah Auzora terhenti tepat di balik dinding kamarnya, begitu mendengar pertanyaan Chardika pada kedua kakaknya.
"Kenapa sama Zora? Seperti yang Ayah lihat. Baik-baik aja, kita enjoy juga ...."
"Rasanya pengen banget teriak, kalau aku gak baik-baik aja. Mereka pura-pura," batinnya menjerit menahan semuanya.
...
Malam ini, keributan kembali terjadi. Di ruang tengah itu, Chardika mengumpulkan ketiga anaknya setelah menangkap hasil rekaman CCTV di rumah.
"Siapa yang ngajarin kamu bersikap kasar kayak gitu?"
"Dia dulu yang mulai, Yah ...."
"Ngeberesin kamar kamu? Itu yang dia mulai?"
"Yah, please, ya. Ayah ngebelain dia?" sahut Rae yang mulai bangkit dari tempat duduknya setelah melihat Jae yang hanya diam terpojok.
"Ayah gak ngebelain Zora, tapi kalian kelewatan!" bentak Chardika dengan wajah penuh amarah.
"Dia tinggal di sini, jadi wajar, Yah. Anggap aja itu balasan," tambah Jae membela.
~Kejadian di chapter 5 dan perlakuan buruk Jae dan Rae ketahuan nih.
Tangan kanannya menampar tepat wajah Jae yang masih terduduk. Kedua pasang mata Rae dan Auzora tampak begitu terkejut, apalagi Rae, ini kali pertama dalam sejarah hidupnya.
"Dia tinggal di sini sebagai keluarga kita, bukan pembantu kita!"
"Keluarga? Mana ada bagian keluarga yang menghancurkan keluarganya?" bantah Jae sambil memegangi wajahnya.
"Sudah berapa kali Ayah bilang? Anggap dia adik kamu! Kurang jelas?"
"Ayah pikir semua itu mudah buat kami? Belasan tahun kami hidup di rumah yang berantakan karena dia. Kehilangan kebersamaan orang tua kami kerena dia. Dan kehilangan bunda karena dia!"
Tatapan yang penuh rasa takut dan rasa bingung. Auzora hanya diam menatap ketiga lelaki itu beradu pendapat. Dalam pikirannya hanya berputar satu pertanyaan sederhana dengan jawaban yang begitu rumit.
"Apa yang sebenarnya tidak pernah aku tau, Ma?"
"Itu bukan karena Zora, itu karena Ayah. Ayah yang membuat semua berantakan karena tidak percaya dengan bunda."
Ucapan Chardika membungkam mulut kedua putranya. Hal apalagi yang dia katakan? Membingungkan kedua putranya.
"Maksud Ayah?"
"Bunda beneran gak selingkuh?" lanjut Rae bingung.
Kedua putranya saling menatap tegang.
"Zora? Berarti dia?" tambah Jae.
Mata Jae dan Rae menatap dalam Auzora yang tenggelam dalam kebingungannya.
"Yah, Zora beneran gak paham, sama sekali gak ngerti. Siapa bunda kalian? Dia di mana? Ada apa dengan keluarga kalian? Kenapa Zora yang dituduh atas semuanya?"
Setelah perdebatan itu, malam ini juga, Jae dan Rae pergi menemui para sahabatnya di tempat biasa mereka berkumpul. Di rumah Stevie.
"Kenapa, lo? Dateng-dateng lecek banget?" ejek Juna.
"Capek banget, habis perang lidah sama ayah," jawab Jae lesu.
Tampak Zyan yang sudah rapi dengan jaket hitamnya, memakai helm dan bersiap keluar.
"Mau ke mana?" teriak Stevie pada adiknya tersebut.
"Nyamperin Zora pasti," tebak Rae.
"Keluar bentar, Kak ...." Zyan menjawab singkat dan pergi setelahnya.
"Ada apa, sih? Kenapa lo nebak mau ketemu Zora?" sahut Jihan penasaran.
...
Tiba di kediaman Auzora, Zyan masuk tanpa salam dan sapa. Seolah tahu kebiasaan Auzora. Zyan langsung menuju tangga rumah dan bergegas menuju balkon rumah Auzora.
"Zyan ...."
Panggilan itu menghentikan langkah naik Zyan, langkahnya kembali menuruni tangga.
"Om Dika ...."
"Kamu masuk rumah orang sembarangan banget? Mana main naik aja," tegur Chardika dengan bahasa canda.
"Maaf banget, Om. Aku kira gak ada orang di rumah. Zora ada di atas, Om. Jadi aku langsung naik aja," jelas Zyan meringis.
"Janjian sama Zora?"
"Enggak, Om. Inisiatif aja ke sini, kayaknya dia lagi gak baik-baik aja soalnya."
"Tau dari mana kamu?"
Pertanyaannya mendadak membuat Zyan terdiam. Zyan membuang wajahnya dengan mulut tegang.
"Maaf, Om. Jadi tadi kak Kembar dateng, katanya habis berantem di rumah. Saya hubungi Zora, dan dia gak ngejawab. Jadi saya pergi ke sini."
~Hmmm, emang boleh sepeka itu?
...
"Kita habis ribut sama ayah, cuma gara-gara rekaman CCTV lalu. Kalian inget, waktu Jae down habis perang sama Zora waktu itu? Sama lain hari yang kita ngebabuin Zora, dilihat semua sama ayah," jelas Rae.
"Rumah kalian ada CCTVnya?" tanya Jihan.
"Bodohnya, kita sendiri gak tau kalau ternyata ada," jawab Rae.
"Ayah kalian parah, kata gue. Kayak gitu seolah dia nyurigain kalian gak, sih? Sebelumnya gak pernah ada perasaan. Ya, gak?" tanya Juna meminta persetujuan tentang ucapannya.
"Makin kesini makin gedek gue sama Zora! Pengen gue singkirin dari rumah."
"Lo tau, Jae? Clara punya keingin sama kayak lo," sahut Juna.
"Serius?"
"Serius, kita gabungin aja kali, ya? Kita susun rencana bareng-bareng."
"Jangan, kita diem aja. Liatin aja, apa tindakan dia ke Zora. Kalau dia butuh bantuan, baru kita join," bantah Stevie.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments