"Ra ...." Panggilan lembutnya menyapa.
Begitu kepalanya menoleh, air matanya turut jatuh seketika.
"Hey ...." Tatapan panik Zyan, namun tetap duduk tenang di samping Auzora.
"Kenapa kesini?" tanya Auzora dengan suara gemetar.
"Lhah! Lo pikir gue bakalan diem begitu tau kalau lo gak baik-baik aja?"
"Dari mana lo tau? Gue gak bilang!" bentak Zora.
"Badmood banget? Mau keluar?"
"Nggak, males ganti," tolak lembut Auzora.
"Ngapain ganti? Gitu aja udah bagus, gak usah dandan juga udah cantik."
"Bilang aja lo gabut!"
"Kalau gue cewek, udah gue cuddle."
Lirikan tajam Auzora membungkam rapat mulut Zyan.
"Najis!"
...
"Tapi yang aku bingung, ucapan ayah yang bilang kalau ayah yang gak percaya bunda. Lo paham maksudnya, Jae?" tanya Rae yang masih terjebak dalam kerumitannya.
"Paham, tapi ragu."
"Maksudnya gimana? Ayah kalian ngaku, kalau beliau yang salah?" tanya balik Jihan mewakili kebingungan para sahabatnya.
"Iya. Kalau ayah yang gak percaya bunda, berarti bunda bener." ucap Rae.
"Bener, kalau bunda gak pernah selingkuh dan semua itu cuma tuduhan," tambah Rae.
Kelima orang yang duduk memutari meja itu terdiam seketika, mata mereka hanya saling menatap dalam keraguan.
"Tunggu, berarti Zora?" tebak Juna yang tidak diteruskan.
"Jangan!" tolak keras Jae dan Rae bersamaan.
"Eh, tapi beneran, kalau bunda kalian bener gak ngelakuin itu, berarti Zora anak kandung ...."
"Han, please gak usah dilanjutin," pinta Rae menghentikan ucapan Jihan.
"Kita bahas yang lain aja," ucap Jae mengalihkan topik pembicaraan.
...
Suara motor Jae terdengar kembali, berhenti tepat di garansi rumah. Di malam yang belum terlalu larut, mereka tepat sampai kembali ke rumah.
"Motor Zyan, bener dugaan gue," ucap Rae yang menangkap motor Zyan terparkir di depan rumah mereka.
"Kalian, ayah minta tolong anterin minuman ini ke atas," pinta Chardika begitu melihat kedua putranya sampai.
Tanpa menjawab permintaan ayahnya, keduanya hanya berdiri tegak dan saling mendorong.
"Minta tolong bentar, Nak. Ayah lagi masak."
"Kalian berdua, Jae bawa minumnya, Rae bawa cemilannya," tambah Chardika yang juga tak mendengar persetujuan dari salah satunya.
Dengan sangat terpaksa, Jae dan Rae menerima permintaan Chardika dan mengantarkan suguhan yang Chardika siapkan.
Tangga teratas, mulai menampakkan Auzora dan Zyan yang sedang asyik berbicara mendalam. Auzora yang asyik bercerita panjang lebar, dan Zyan yang berperan baik sebagai pendengar.
...
"Sengaja banget, Kak?"
Sorot mata tajam Zyan yang menangkap tepat wajah Jae yang ada di hadapannya. Menumpahkan segelas minuman dingin pada kaos pendeknya.
"Emang ...."
"Kalau ada masalah bilang! Jangan memulai permainan."
Genggaman tangan Auzora menarik lembut tangan Zyan. Dengan tegas juga, Zyan menghempas tangan Auzora dari tangannya.
"Lo pikir gue takut? Gak berani ngelawan? Zora bisa diem, tapi gue, GAK!"
Tangannya yang mulai mengepal kuat, tertangkap jelas oleh mata Auzora. Gagal menghadang dari sisi belakang, Auzora berjalan perlahan ke depan.
Mulutnya yang tetap bungkam, dengan mata yang tepat menatap dalam, Auzora berhasil mendorong lembut tubuh Zyan untuk perlahan mundur dari hadapan kakaknya.
"Lemah lo! Bisa banget dikontrol cewek," ejek Jae yang terus memancing keributan.
"Udah selesai, Kak? Gak ada keperluan lain? Kalau udah selesai, gak ada keperluan lain. Zora minta tolong banget, Kakak balik. Makasih udah dianterin," ucap lembut Auzora menyatukan kedua telapak tangannya.
Kedua lelaki itu turun dengan seribu satu keluhan, bergeming dalam langkah mereka.
"Lagian, sejak kapan Zyan kesini diperlakukan kayak Raja begitu? Najis banget sumpah!" kesal Jae.
"Kalau aja ayah ngasih tawaran, nganterin itu ke mereka atau nguras kolam, udah pasti gue milih nguras kolam," tambah Rae.
"Udah? Ayo sini makan," ajak Chardika mendapati langkah kedua putranya.
Terasa malam sudah cukup larut, Zyan dan Auzora tampak menuruni tangga saat mereka masih makan bersama.
"Om, Zyan pamit pulang dulu. Makasih suguhannya, Om."
"Oh, iya, Zy. Hati-hati ...."
Auzora yang berjalan ke arah dapur dengan gelas dan piring kotornya.
"Zora anterin Zyan sampai depan dulu, Yah."
"Iya, Sayang."
Kedua pasang mata yang tak lepas menatap langkah Auzora, wajah mereka benar-benar tak menunjukkan sebuah ekspresi yang nyaman.
"Makasih udah dateng."
"Tadi ngamuk, dateng kesini di introgasi. Sekarang bilang makasih. Otak lo emang seglek," ejek Zyan kesal.
"Pulang kenyang, disini dapet konsumsi, berani ngatain, lo?"
"Panitia Konsumsi aja gak perhitungan."
...
Pagi ini, cahaya remang-remang matahari kembali menyapa. Stevie mendatangi kamar adiknya dengan sangat tergesa-gesa.
"Zyan, bangun gak, lo! Bangun ...." desaknya sambil membuka selimut Zyan.
"Apaan sih, Kak?"
"Lo habis ngapain semalem?"
"Ngapain? Orang gue gak ngapa-ngapain," bingung Zyan dengan mata kantuknya.
"Lo habis ngapain sama Jae, sama Rae?"
"Ngapain kita, Kak? Kita gak ngapa-ngapain."
Stevie menghela napas lelah, wajahnya yang tampak begitu panik, tak lagi dihiraukan oleh Zyan. Dia kembali menarik selimutnya dan menyerahkan diri atas kekantukannya.
"ZYAN!" teriak kesal Stevie.
"Buka HP kamu! Kembar nantangin lo balapan!"
Wajah yang tertutup selimut itu, seketika kembali terbuka, terduduk dengan tatapan kosong, dengan ekspresi wajah yang membingungkan.
"Kakak udah bilang, jangan nyari gara-gara sama mereka! Lo boleh deket sama Zora, tapi jangan jadi mangsa kakaknya!"
"Lo tau, mereka sebenci apa sama Zora. ZYAN! Astaga ...."
Setelah omelan itu memberi jeda, Zyan membuka ponselnya. Dan benar saja, pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenal.
Balapan malam ini! Lo nolak, lo cupu!
"Oh, ini? Ini nomor dia? Santai aja gak sih, Kak?"
Jawaban enteng itu mengejutkan Stevie. Giginya berhantaman dalam rapatan, meringis kesal mendengar jawaban adiknya.
"Mereka orang yang paling gak terima kalau mereka kalah. Bahaya buat lo!'
"Santai aja, Kak. Tenang ...."
"Habis gue, Zy. Gue harus dateng karena itu sahabat gue, tapi yang jadi lawannya, lo."
"Itu urusan anda, Kakak. Tugas saya hanya memainkan permainan," ejek Zyan dengan senyumnya.
Masih di hadapan Stevie, Zyan menghubungkan panggilan pada nomor tersebut. Tak lama, panggilannya terjawab.
"Gimana? Terima?" tanya Jae memulai pembicaraan.
"Gue terima, tapi ada perjanjiannya."
Stevie menutup wajahnya pasrah dengan kedua telapak tangannya.
"Apa mau, lo?" sahut Rae.
"Kalau gue menang, kalian harus terima, anggep, dan perlakukan Zora sebagai adik kandung kalian."
Tawaran itu membekukan wajah mereka yang hanya diam tak memberi jawaban setelahnya.
"Ini urusan kita, gak ada sangkut pautnya sama Zora!"
"Itu imbalan kalau gue menang, kalau kalian terima, gue terima tawaran kalian."
"Gak! Kita gak terima."
"Kalau gitu, gue tolak. Gak ada gue cupu! Gue udah nerima, kalian sendiri yang mutusin buat gue tolak."
Wajah yang datar penuh ketenangan itu memutuskan panggilannya. Mata wanita yang sangat mengkhawatirkannya itu, tampak mulai lega.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments