"Kalian kenapa?"
"Zora, ajakin Hansa masuk ...."
Tanpa kata, Auzora hanya berisarat menggunakan matanya yang tertuju pada Hansa. Membalik tubuhnya dan berjalan masuk, yang kemudian diikuti Hansa di belakangnya.
"Kakak kamu kenapa, Ra?"
"Mau minum apa?" balas Auzora malas.
"Aku tanya apa jawabnya apa," balas Hansa yang tampak kesal.
"Kak Hansa mau minum, gak? Kalau mau, Zora buatin. Kalau enggak, Zora ke kamar."
"Kok ke kamar sih, Ra? Aku di sini lho. Atau kamu emang ngajakin ke kamar?"
"Jaga mulut, Kakak! Kakak pikir aku cewek apaan?" ketus Auzora dengan tegas.
Hansa dan Auzora yang masih berdiri beradu mulut, disusul oleh langkah Jae yang berhasil membawa Rae masuk.
"Ini pada kenapa, sih? Duduk!"
"Adik lo emang ngeselin banget, Jae."
"Ya, kalau lo bosen, lepasin aja."
~Enteng bener mulutnya.
Auzora kembali ke kamarnya, mulai merapikan satu-persatu barang-barangnya yang berserakan. Pintunya yang tak terkunci, terbuka oleh tangan Hansa yang berani memasukinya.
Wajah Auzora yang tampak terkejut panik melihat kedatangannya.
"Tenang, gue ada izin dari kakak, lo. Lagian cuma mau ngebantuin kok."
"Gak perlu banget, Kak. Zora bisa sendiri!"
Tanpa menghiraukan ucapan Auzora, Hansa tetap keras kepala membantunya.
Setelah urusannya selesai, Hansa pamit pergi dan kembali bertemu Zyan setelah membuat janji bersamanya.
"Bener kata lo, Zy. Kayaknya mereka emang lagi gak baik-baik aja. Lo tau? Kamar Auzora berantakan banget, kayaknya habis perang sama kakaknya."
"Emang kakak gue bilang mereka lagi gak baik-baik aja, Sa. Makannya gue nyuruh lo ke sana."
"Sumpah, gue gak betah banget jauh dari Zora kayak gini. Gue gak bisa ada buat dia," lanjut Zyan khawatir, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Hansa menepuk kuat bahu Zyan yang mulai terasa berat.
"Ah, sakit woy!" teriak Zyan tak terima.
"Ada gue, gak lo anggep?"
Mata tulus Hansa ditangkap tepat oleh senyum Zyan yang kembali tampak.
~Kita flash back dulu yook, gimana mereka bisa deket gini. Kita mulai dari chapter 10.
Setelah mengantar Auzora pulang, Zyan pergi ke rumah Hansa setelah menanyakan alamatnya pada Stevie.
Hansa membukakan pintu untuknya, mempersilakan Zyan masuk dan mulai berbicara mendalam.
"Lo mau sama Zora hanya karena taruhan itu?"
"Awalnya, tapi kayaknya enggak."
"Oke, lo dengerin gue ...."
Pembahasan mendalam dimulai. Dari situlah mereka mulai saling membutuhkan, saling melengkapi, dan saling menjaga.
"Inget! Gue ngejaga Zora mati-matian. Awas aja sampai lo berani ngegores sedikit aja luka buat dia! Habis, lo!"
...
Senja ini, Hansa berjalan letih dengan langkah yang begitu berat. Berjalan perlahan menuju bibir pantai yang langitnya mulai tampak jingga. Kakinya tersapu lembut oleh air pantai yang sesekali naik ke permukaan. Angin pantai menyapa sejuk wajah tampannya yang masih terlukis sebuah senyum hangat.
"Kak, ini punya, Kakak?" tanya Auzora memberikan sebuah gantungan kunci yang terjatuh di belakang Hansa.
"Kamu ngapain disini?" tanya balik Hansa begitu membalikkan badannya.
"Senja ...."
Senja untuk penikmat senja. Keduanya duduk berdampingan dengan sedikit jarak diantaranya.
"Lagi ada yang berat, Kak?" celetuk Auzora menatap wajah yang tampak rapuh memandangi langit jingga itu.
"Why?"
"Why? Katakan saja, kalau Kakak mau. Zora bakal dengerin."
"Gimana cara mengatakannya, Zora? Kamu tokoh utamanya," batin Hansa menolak.
Tak jauh dari arah belakang mereka duduk, Zyan tersenyum lega melihat Auzora senja ini.
"Kamu menemui semesta. Aku yakin kamu lagi gak baik-baik aja sekarang, Ra. Tapi setidaknya kamu gak sendirian."
"Japan, i'm coming," ucap Auzora membaca tulisan yang ada pada gantungan kunci yang masih dia pegang.
"Oh, mimpi Kakak ada disana? Apa ada kesulitan? Atau mengalami kegagalan?"
"It's okay, i'm fine ...."
...
Pagi ini, jadwal mata pelajaran pertama kelas Auzora adalah Pendidikan Jasmani. Seperti biasa, para siswa diminta untuk berkumpul di lapangan untuk memulai pembelajaran.
"Gurunya gak dateng, beliau sakit. Kita diminta ngisi jam sendiri. Serah mau ngapain," ucap Zyan yang baru muncul sambil terus berjalan menghampiri gerombolan teman-temannya.
"Ciwi-ciwi, kita main basket aja gimana?" usul salah satu siswi.
"Buruan giih, gantian kita yang cowok nontonin kalian."
"Lagi males juga hari ini, kita enjoy aja dulu."
Terbagi menjadi dua team, Auzora yang turut bergabung pada salah satu teamnya, berhasil mencuri puluhan pasang mata.
"Gila, sumpah. Auzora keren, aslii."
"Cantik banget rambutnya diiket gitu."
Zyan dengan tatapan kesal, entah apa yang membuat Zyan beranjak dari tempat duduknya. Zyan sigap turun ke tengah lapangan dan menarik tangan Auzora.
Tentu, seisi lapangan dibuat bingung karena tingkahnya. Bertanya-tanya, apa maksud Ketua Kelas mereka itu.
"Cemburu, tuh."
"Sensi banget."
Zyan menarik tangan Auzora menuju kelas, dengan wajah yang tampak begitu kesal. Auzora hanya diam dengan senyum tipisnya, mengikuti langkah cepat Zyan.
Tak tertinggal, Clara juga bergegas mengikuti mereka.
"Ah, apa-apaan, sih?" ucap Auzora tak terima sambil memegangi kepalanya, saat Zyan menarik paksa kuncir rambutnya.
Tanpa menghiraukan Auzora, Zyan melempar kuncir rambut Auzora dengan tatapan tajam yang menangkap mata Auzora.
"Maksud lo apa, Zy?"
"Gak usah gabung team!"
"Emang kenapa? Suka-suka aku!"
"Do you hear me? GAK USAH GABUNG TEAM," tegas Zyan mengulangi ucapannya.
Sudut mata Clara yang mulai menampakkan api cemburu dari balik kaca jendela.
"Kenapa, Zy? Emang kenapa?"
"Gue gak suka, Auzora ...."
Senyum Auzora yang mulai merekah. Matanya turut menyipit, dengan kepala miring, Auzora mengarahkan jari telunjuknya.
"Lo pura-pura gak peduli sama gue? Padahal aslinya lo masih peduli banget."
Zyan yang mulai tampak malu karena gagal memainkan peran. Berbalik badan, menyembunyikan kedua telapak tangannya pada saku celananya dan berjalan menuju bangkunya.
"Kenapa lo kayak gitu? Lo pikir gue gak kesepian? Lo pikir dunia gue baik-baik aja? Bener kata orang, Zy. Yang sulit itu, bukan ketika kita hidup tanpa seseorang. Tapi ketika kita hidup tanpa seseorang, setelah kita hidup bersama seseorang tersebut."
Zyan tertunduk lemah di hadapan Auzora yang kini duduk di depan bangkunya.
"Maaf, Ra. Aku terpaksa banget, ini semua juga buat kamu."
"ZYAN!"
Seketika kedua wajah itu mengarah bersamaan ke arah pintu kelas.
"Why?" tanya Zyan polos.
"Apa maksud kamu kayak gitu?"
"Maaf sebelumnya, Clara. Misi gue selesai. Jadi, kita selesai sampai disini."
"Maksud lo apa, Zy?"
"Silahkan melanjutkan permainan anda! Saya akan mengikuti permainannya."
Kedua pasang mata itu hanya saling tatap, hanyut dalam kebingungan mereka.
"Maksud kamu apa sih, Zy?" tanya balik Auzora.
"Kalau lo tetep mau ngepublish rumor, sekaligus bukti palsu yang sengaja lo buat. Gue juga punya bukti nyata, bahwa yang lo buat hanya hasil akal jahat."
"Lo lebih jahat, Zy! Bisa-bisanya lo ngedeketin gue hanya untuk itu! Lo pikir, gue gak punya hati, Zy?"
Clara menghapus air matanya dan pergi seketika. Auzora yang ingin mengejarnya, terhenti oleh kebingungan yang masih harus dia selesaikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments