"Tenang, gue punya rencana yang bikin dia nyesel banget sama keputusannya," ucap Jae pada sorot mata yang penuh dendam.
Malam ini, Auzora ikut kedua kakaknya pergi dengan motornya. Sampai pada tempat yang telah dipenuhi oleh banyak orang, seorang lelaki dengan gagahnya datang menghampiri mereka bertiga.
"Ini?" tanya lelaki itu singkat.
Jae dan Rae hanya menjawabnya dengan satu kode kedipan mata, dengan senyum yang tampak licik dari bibirnya.
Tantangan itu tetap mereka jalankan, dengan mengubah target dan tujuan mereka. Jika target awal mereka adalah Zyan, target baru mereka adala Auzora.
"Lo harus kalah, Jae. Inget, kalau tujuan awal kita adalah kemenangan dari Zyan. Sekarang tujuan kita adalah penyesalan Zyan," bisik lirih Rae sebelum Jae terjun pada arena balapan.
Sesuai rencana mereka, Jae berhasil dikalahkan oleh lawan. Selesai pertarungan, lelaki tadi kembali menghampiri mereka dan menagih janji mereka.
"Gak lupa?"
"Nih ...." Tangan Rae mendorong kasar tubuh Auzora ke arah lelaki tersebut.
"Cewek gue sekarang, cantik bener adik lo, Bang."
"Maksudnya apa?" tanya Auzora polos, yang sama sekali tidak mengerti permainan kakaknya.
"Tanya Zyan, pasti dia tau," jawab Rae licik.
"Dah, kita duluan. Enjoy your time!" ucap Jae yang kemudian meninggalkan Auzora pergi.
"Kak, Zora ...."
Tangannya yang kekar menghentikan langkah Auzora yang akan mengejar.
"Zora, stay calm. Gue gak macem-macem."
"Kamu siapa?"
"Panggil aja, Hansa. Tenang aja, gak usah takut."
Dia membawa Auzora pada sebuah taman yang tampak begitu sepi di malam yang selarut ini.
"Kenapa gak pulang, Kak? Ini udah malem." Bahasa lembut Auzora untuk menolaknya.
"Enjoy your time! Inget kata Jae?" matanya licik turut menjawab.
Tak perlu waktu lama, pahlawan yang tak pernah memberi ruang pada siapa pun untuk menyakiti sahabatnya itu, kembali menemui Auzora.
Tangannya meraih dengan sigap, tangan Auzora yang menyangga tubuhnya pada bangku taman.
"Sopan, lo, tengah malem gini ngajak cewek berduaan di tempat sepi kek gini?" tegas Zyan.
Hansa yang turut bangkit dari tempat duduknya. Memasang wajah kesal, sorot matanya siap menghajarnya habis-habisan.
"Siapa, lo?"
Tanpa menjawab pertanyaannya, Zyan menarik tangan Auzora untuk pergi. Hansa hanya memandang diam langkah perginya, membuka ponselnya, dan melaporkan tugasnya.
...
Di depan pintu gerbang rumah, Jae dan Rae yang akan masuk, dihentikan oleh langkah kasar Zyan dengan wajah penuh emosinya.
"Sialan emang kalian!" bentaknya sambil mengangkat kerah baju Rae yang telah turun dari motornya untuk membuka pintu gerbang.
"Woys ...." ucap kaget Jae yang masih ada di motornya.
"ZYAN ...." Auzora berlari memisah kedua lelaki tersebut.
"Lo gak bilang kalau Zora lo jadiin target, Bangsat!"
Tangannya yang masih mencengkeram kuat kerah Rae, dengan kuat juga mendorong tubuh Rae hingga jatuh.
Jae yang tak terima dengan perlakuan kasarnya, seketika turun dari motornya dan menghantam Zyan tanpa aba-aba.
"Jaga mulut, lo! Sopan lo ngomong gitu!"
Ujung bibir yang terluka, sempat memberikan senyum liciknya.
"Sebutan apa yang lebih sopan untuk manusia BRENGSEK seperti kalian!"
...
"Zyan, sudah berapa kali Kakak bilang? Jangan nyari gara-gara sama mereka!"
"Sahabat lo yang kelewatan, akal sehatnya benar-benar hilang. Bisa-bisanya adik sendiri dijadikan bahan tawaran."
Wajah yang penuh luka itu, dengan bantuan kakaknya tercinta, membersihkan dan mengobatinya perlahan.
...
"Siapa Zyan?"
"Cowoknya Zora."
"Lo gila, ngasih cewek orang ke gue?"
Jae yang juga babak belur. Di bantu kedua adiknya dan Hansa yang menyusul datang.
"Apa sih? Orang kita sahabatan."
"Oh, tapi tetep aja dong, dia cowok. Aku gak suka kamu deket-deket sama dia, ya!"
"Gaya lo! Emang lo siapa?" bantah Zora tegas.
Kedua pasang mata Jae dan Rae yang terkejut begitu mendengar bantahannya.
"Kamu lupa? Mereka ngasih kamu ke aku, sebagai perjanjian kalau aku menang."
"Yang ngasih mereka, bukan aku. Aku hanya milik aku."
~Ucapan Zyan di chapter 7, niihh...
"Lo jangan ngelunjak!" ucap marah Hansa sambil menegakkan bahunya.
"Udah! Gue sakit kayak gini, kalian malah perang sendiri."
Rae yang memotret wajah Auzora yang masih tampak begitu kesal. Dengan sigap mengirim hasil jepretannya pada Zyan malam ini juga.
Tak lama juga setelah foto tersebut terkirim, pintu rumah terketuk.
"Aku tau siapa yang datang, biar aku aja," ucap Rae menghentikan Hansa yang akan berdiri membuka pintu.
Lelaki dengan wajah yang masih membekas lukanya, berdiri tepat di hadapan Rae. Mata yang penasaran dari ruang dalam, mencari tahu siapa tamu yang datang.
Auzora berlari menghampiri tangkapan tubuh yang telah dia kenal, walau dia tidak menangkap wajahnya yang tertutup oleh Rae.
"Zyan ...." Matanya menatap rinci wajahnya yang terluka.
"Aku gak papa, Ra ...." Senyumnya yang terpancar pada dasar air mata Auzora yang mulai tertahan.
Hansa turut mendekat dengan api kecemburuannya. Menarik tangan Auzora mundur, menjauh dari hadapan Zyan.
"Lepasin, Kak!" ucapnya tegas menghempas tangan Hansa.
"Kakak lo, lihatin! Babak belur kek gitu, gak ada lo nangis. Giliran baru lihat dia, lo udah mau nangis aja?"
"Jadi, dia harus nangisin orang yang udah setidak masuk akal itu kelakuannya ke dia?" desak Zyan menjawabnya.
"Mulai sekarang, lo berhenti ikut campur masalah Zora! Dia punya gue sekarang, bukan punya lo lagi!"
"Waaww, jadi selama ini, lo pikir dia punya gue? Nggak! Gue gak pernah bilang Zora punya gue. Dia milik dirinya sendiri."
Hansa dan Rae yang masih berdiri di hadapan Zyan seketika bungkam, mendengar ucapan yang sama dari Auzora sebelumnya.
"Ayo, Ra. Kamu gak pantes ngumpul sama setan!"
Zyan menarik paksa tangan Auzora yang berdiri di samping Hansa. Tak menghalanginya sedikit pun, Hansa hanya terlihat diam menatap mereka.
"Sa, cewek lo itu, kok lo diem?" ketus Jae yang duduk di sofa.
"Value dia tinggi bener, Jae. Ketar ketir gue ...."
...
Zyan menghentikan laju motornya di depan sebuah rumah makan. Entah alasan apa, keduanya tampak begitu canggung. Bahkan, tanpa sepatah kata, Zyan masuk lebih dulu dan meninggalkan Auzora.
"Aku minta maaf ...." Pinta tulus Auzora setelah mereka duduk berhadapan.
"For what?"
"Kamu diem aja dari tadi, pasti aku ada salah."
Zyan hanya membisu mendengar penjelasan Auzora. Wajahnya juga tak tampak seperti biasanya.
"Bilang dong, Zy. Aku salahnya di mana, biar aku tau. Kamu gak suka di bagian mana? Aku gak tau kalau kamu gak bilang ...."
"Emang, kalau aku diem, diemnya aku selalu tentang kamu salah?" tanya sinis Zyan.
"Ya, biasanya gitu. Aku gak suka disilent treatment, makannya aku minta maaf duluan."
"Gak, kamu gak ada salah."
Sepanjang waktu menikmati makanan di waktu dini hari tersebut, mereka hanya saling diam dan sesekali hanya saling menatap.
Tetap diam hingga perjalanan pulang, sepatah kata akhirnya terucap di depan pintu gerbang.
"Maaf, Ra. Gara-gara aku kamu masuk perangkap Jae sama Rae."
"Maksud kamu?"
"Aku pergi dulu ...."
Setelah kejadian itu, beberapa hari setelahnya Zyan tampak sangat berubah. Hingga Auzora mulai merasa kehilangan sosoknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments