~12

Sementara malam ini di rumah keluarga Chardika. Seperti biasa, dia terlambat pulang karena kesibukannya. Kekacauan kembali terjadi saat Rae tanpa sengaja menemukan foto Auzora dan ibundanya di balkon rumah mereka, tempat favorit Auzora.

Rae menuruni tangga dengan wajah memerah penuh amarah. Mendatangi Auzora yang sedang tenang merebahkan diri, di depan TV, menyaksikan acara kesukaannya.

"Bangsat emang lo, Auzora!" bentak Rae yang mengejutkan Auzora.

"Kenapa, Kak?"

Karena suara keras itu juga, Jae keluar dari kamarnya dan menghampiri kedua adiknya.

Rae melempar foto yang lusuh karena cengkeramannya ke arah Auzora.

"Sekali lagi gue lihat foto lo yang kayak gitu, gue usir lo dari rumah!"

Auzora membuka kertas lusuh yang membulat itu. Tangannya gemetar seketika.

"Ini mama aku, Kak. Emang kenapa kalau Kakak lihat ini? Kakak benci juga sama mama aku?" tanya Auzora polos.

Bersamaan dengan itu, pintu rumah terbuka. Chardika pulang dan disambut dengan pertikaian putra-putrinya.

"Akal lo berfungsi gak, Ra!" bentak keras Rae yang mengarahkan jari telunjuknya pada kepala Auzora.

"Salah Zora apa, Kak?" air matanya mulai kembali mengalir.

"Tolong jelasin ke Zora, apa yang kalian benci dari Zora. Apa yang kalian benci dari mama Zora. Zora dateng kesini bener-bener tanpa tau latar belakang kalian. Zora minta maaf kalau Zora ada salah." Air mata maafnya mengalir tulus.

Chardika hanya memandang kaku, terdiam membeku dalam pejaman matanya.

"Lo itu anak ...."

"Rae, calm." Tepukan Jae pada pundak Rae menghentikan ucapannya.

"Semua orang tolong, berhenti menghalangi siapapun yang ingin mengatakan kebenarannya. Zora capek, Kak ...." Rintihnya sambil mengusap air matanya.

Kaki ayah tiga anak itu, seolah benar-benar terasa lemah untuk melangkah mendekati ketiga anaknya.

"Seandainya aku percaya kamu, anak-anak kita gak akan kayak gini ...." Sesalnya yang begitu sesak dalam hati.

"Ayah ngehapus semua foto kita bareng bunda, hanya gara-gara anak ini dateng, Jae! Dan dengan percaya dirinya, foto itu ada di meja atas!" Emosi Rae yang masih meronta-ronta.

"Kenapa ayah ngehapus foto kalian bareng bunda kalian hanya karena aku datang?"

Pertanyaan lembut itu justru diterima kasar oleh Rae. Tangannya dengan enteng menampar wajah putri kecil yang tidak diizinkan tahu tentang semuanya.

"RAE!"

Chardika berlari memeluk wajah yang terhempas kasar oleh tangan putranya tersebut.

"Putri kesayangan Ayah? Sekarang Ayah mau apa? Hukum Rae? Nambar balik Rae?"

"Rae, udah ...." Jae menarik Rae mundur.

"Siniin foto-foto lo sama mama lo!"

"Buat apa, Kak?"

"Rae, udah, ya ...." Mata Chardika menatap dalam mata Rae yang masih penuh dendam.

Rae hanya diam beberapa saat, menatap kembali mata yang memintanya dengan tulus itu. Hanya tetap diam dan kemudian pergi, mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.

"Jae, ikuti dia."

"Iya, Yah."

...

Di meja makan pagi ini, kedua kakak beradik ini sudah mempunyai topik hangat untuk mereka bahas bersama menu sarapan pagi mereka.

"Kenapa ayah mereka gak langsung blak-blakan aja ke Zora?"

"Bayangin, Kakak ada di posisi Zora. Kakak bakalan marah banget, gak?"

"Bener juga ...."

Masih dengan suasana yang panas di hati Rae. Hari ini, Rae memaksakan diri untuk pergi ke Sekolah dengan motornya sendiri.

"Rae, Ayah gak izinin."

"Rae gak peduli!"

Bentakan putranya membungkam mulut Chardika. Hatinya seolah tertusuk hebat karenanya.

"Biar Jae temenin, Yah. Kita berangkat dulu, ya," pamitnya mencium tangan ayahnya.

Tanpa kata, Jae menaiki motor belakang Rae yang sudah siap melaju.

"Ngapain lo ikut gue?"

"Udah, jalan aja ...."

Pesona baru bintang sekolah itu berhasil mencuri kembali perhatian para siswa. Sikapnya yang ramah, tak membuat mereka ragu untuk saling menyapa para mata.

"Astaga, ada aja gebrakan kak Kembar."

"Sumpah, cool banget."

"Boleh jadi cowok aku gak, kak? Astaga ...."

"Mubazir banget, cowok kek mereka dianggurin."

Suara-suara itu terdengar di sepanjang Stevie dan Zyan melangkah. Pujian-pujian tak henti-hentinya memuji mereka, seolah mereka adalah makhluk paling sempurna di dunia.

"Tumben, mereka gak dianter supir?"

"Gak bareng Zora, kayaknya ada masalah."

"Mereka gak cerita ke Kakak?"

"Gak, Zy. Tapi emang dari semalem mereka gak bisa dihubungi."

Kedua pasang kaki bertemu kedua pasang kaki. Kelas yang satu arah, menyatukan langkah mereka.

"Pagi, Vie ...." Jae menyapanya hangat.

"Mata Kak Jae blur? Gak lihat aku disini?" tanya ketus Zyan.

"Oh, ada manusia juga disini? Kirain setan," ejeknya dengan senyum sinis.

"Yang setan kita, Jae," celetuk Rae merangkul pundak Jae.

~Ini ceritanya gak terima dibilang setan sama Zyan waktu itu. Di chapter 10.

Wajah kusut Auzora yang seolah hanya dapat dilihat oleh mata Zyan. Tampak memasuki kelas dengan malasnya.

"Beneran ada masalah kayaknya mereka, kusut banget mukanya," batin Zyan.

Clara berjalan santai dari arah yang berlawanan. Mata Zyan tampak membidik tajam setiap langkahnya.

Yang benar saja, botol tinta hitam yang ada di genggaman tangannya. Tumpah tepat mengotori seragam putih Auzora. Zyan hanya diam tanpa mengambil langkah, membuang pandangan bodo amat.

"Astaga, Zora! I'm sorry, Auzora," ucap lagaknya.

Seperti sedang menahan emosi dalam, wajah Auzora tampak begitu kesal. Namun ....

"Lain kali hati-hati, Ra."

Tampak begitu puas setelah rencananya berjalan sesuai keinginannya, tak henti Clara membuat Auzora merasa panas.

"Zyan, temenin ke perpustakaan, yuk."

"Zora, kamu mau ke perpustakaan juga? Aku temenin. Biasanya yang nemenin kamu si Zyan, sekarang dia nemenin cewek lain," sahut teman cowoknya.

"Makasih banget sebelumnya. Tapi masih ada buku yang belum aku selesaikan. Jadi, aku mau selesaikan dulu."

...

"Gue kira cewek baik-baik. Ternyata dalamnya ...."

Matanya tajam ke arah Auzora. Jihan yang berdiri di ambang pintu kelas itu, membuat diam seisi kelas.

"Apalagi, Kak?" tanya Clara.

"Kalian gak tau, postingan terbaru teman sekelas kalian ini? Buset, parah banget."

"Postingan apa, Kak? Aku gak ada pegang handphone."

Seluruh mata memandang kaget setelah melihat layar kaca ponsel mereka. Hanya mata Zyan yang dapat menyimpulkan bahwa semuanya bukan ulah Auzora.

"Sumpah, ini kamu, Ra?"

"Serius, ini Auzora?"

"Cowoknya emang lakik banget, sih. Tapi ...."

Auzora dengan mata penasarannya, mencoba membuka ponselnya dan melihat postingan terbarunya.

Foto yang tak pantas sekalipun tidak berlebihan, tentang dirinya bersama Hansa, terpampang jelas di akunnya.

"Lima menit yang lalu? Lima menit yang lalu, aku baru aja nyampe, Kak. Mana mungkin aku yang ngepost?"

"Kalau bukan kamu siapa lagi? Itu akun kamu. Gak berlebihan kok, Ra. Cuma gak nyangka aja, ternyata kamu sok lugu."

Pulang sekolah, dengan sigap Auzora menemui Hansa di kediamannya. Menuruni mobil dengan amat tergesa-gesa.

Pintu rumah terbuka, Hansa yang tampak lebih sempurna dengan pakaian apa adanya. Kaos putih lengan pendek, dengan celana pendek hitam yang mengalihkan mata Auzora.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!