~03

"Kak, tolong berhenti ikut campur masalah Auzora. Kakak ngapain kemarin numpahin es di meja dia? Maksud Kakak apa?"

"Kenapa kamu belain dia? Kamu suka?"

"Ini bukan masalah siapa yang aku bela, tapi siapa yang benar."

Pagi-pagi sekali, Zyan pergi ke kamar kakaknya dan beradu mulut dengannya. Masih dengan masalah yang sama, yaitu, Auzora.

"Jadi, kakak salah?"

"Kak, Zora gak seburuk yang kalian lihat. Dan berbicara tentang masalah keluarga kak Kembar, itu murni masalah orang tua mereka. Zora gak tau apa-apa," bela Zyan keras.

"Mending kamu ngejauh dari dia! Energi negatifnya nyalur."

"Oh, ya. Kemarin kamu nemenin dia di taman? ngapain? Kakak gak suka kamu deket-deket sama dia," lanjut Stevie dengan mata sinisnya.

"Emang urusan kakak? Zyan bebas deket sama siapapun!" bantah Zyan yang kemudian pergi setelahnya.

...

"Astaga, jadi pada tidur di sini?" ucap lega Chardika membuka pintu kamar Auzora dan melihat kedua putranya tertidur pulas di sofa.

"Ayo, bangun! Kalian sekolah, bangun! Jae, Rae, Zora. Bangun!"

Chardika memandang ketiga anaknya yang baru saja membuka mata dengan senyum indah pagi ini.

"Kayaknya mereka mulai bisa nerima Zora," ucapnya lirih di balik senyum indahnya.

Menjadi ayah sekaligus ibu untuk mereka. Sama halnya dengan kebiasaan para ibu di luar sana, Chardika menyiapkan sarapan pagi untuk ketiga anaknya.

"Kalian semalam pulang jam berapa?" tanya Chardika di meja makan.

Jae dan Rae hanya saling menatap dan melirik Auzora, berharap Auzora menjawab pertanyaan ayahnya. Namun, apa bisa dikata, Auzora justru sibuk dengan sarapan paginya tanpa menghiraukan keduanya.

Rae menginjak kaki Auzora dari bawah meja, tentu Auzora reflek berteriak kesakitan karenanya.

"Kenapa, Ra?" tanya Chardika.

"Kenapa, Kak?" tanya Auzora melihat mata Rae yang tertuju padanya.

"Kalian kenapa?" tanya ulang Chardika.

"Kamu kenapa?" tanya Rae balik pada Auzora.

"Kak Rae kenapa nginjek kaki aku?"

Senyum Chardika yang kembali tampak, dia menilai ini adalah awal hubungan akrab mereka dimulai.

"Udah, makan!"

Kembali ke sekolah, kembali menemui masalah. Mungkin kata itu yang cocok untuk Auzora saat ini.

"Katanya, Zora itu anak hasil selingkuhan, dan gara-gara perselingkuhan itu, orang tua kak Kembar pisah."

"Ayahnya bodoh banget, bisa-bisanya ngangkat Zora jadi anaknya, padahal itu anak hasil perselingkuhan istrinya."

~Dateng pagi-pagi ke sekolah buat ngegosip. Kalau aku dulu buat piket, ngerjain tugas karena keteteran. Kalian karena apa? Ngegosip juga?

TIDAK MENERIMA MURID BARU.

Tulisan yang jelas terpampang di pintu kelas. Auzora yang merasa bahwa dirinya adalah murid baru, mengambil dua langkah mundur dari pintu.

"Itu aku? Salah apalagi aku?"

Auzora berlari mengejar kedua kakaknya dan menghentikan mereka.

"Kak, aku kemarin salah kelas?"

"Enggak, kenapa?"

Auzora pergi setelahnya, dia duduk di bangku tepi lapangan basket sendirian, menjulurkan kakinya, mengangkat kepalanya menghadap langit dan memejamkan matanya.

"Semesta, apa aku punya salah kepadamu? Jika iya, tolong maafkan aku. Kenapa kamu tidak pernah berpihak kepadaku?"

"Astaga!"

Setelah menurunkan kepalanya dan membuka matanya, tubuhnya bergerak mundur karena rasa terkejutnya.

Zyan duduk di sampingnya dengan wajah yang datar, namun terlihat sangat bijaksana.

"Kenapa? Balik ke kelas!" Gerak kepalanya turut tegas memberikan perintah.

"Apa aku pantas?" tanya Auzora lemah.

"Go!" tas ransel Auzora tertarik, membuatnya berdiri dan terpaksa kembali.

Matanya menangkap kertas tulisan tadi berada di genggaman tangan Zyan. Teremas kuat dan berubah lusuh.

"Mampus, Zyan nemuin Zora," gelisah sang pelaku.

~Tau kan pelakunya siapa? Coba tebak! .... Yap, benar, cewek yang kesel ngeliat Zyan sama Zora sejak chapter 1.

"Siapapun yang nulis ini dan nempelin ini di pintu kelas, kalian gak lucu dan ini GAK GUNA," tegas Zyan setelah masuk ke kelas.

"Kalian mau ikut-ikutan benci? Kata gue, kalian manusia gak BERKUALITAS. Kalian gak punya mata, sampai harus menilai orang dengan telinga?"

"Zy, udah. Gak perlu kayak gitu," ucap Auzora sambil menarik tas Zyan.

"Kamu kenapa segitunya sama Zora? Kamu suka?" sahut sang pelaku.

Zyan dibuat bungkam dengan pertanyaan tersebut.

"Peduli, hanya itu," jawab singkat Auzora.

"Gak diragukan lagi, Zyan suka sama Zora," batin gadis tersebut dengan wajah masam.

Kegiatan di sekolah seperti biasa, pembelajaran, istirahat, dan pulang. Kali ini Auzora tidak ditinggal oleh kedua kakaknya, karena Auzora lebih dulu masuk ke dalam mobil.

Sesampainya di rumah dan berganti pakaian, Jae dan Rae panik mencari kunci motor mereka yang terlupa.

"Zora, kamu kemanain kunci motor kita?" tuduh Jae.

"Aku gak tau, Kak."

"Jangan bohong! Kita pulang langsung ke kamar kamu, pasti kamu umpetin."

"Berani sumpah, Zora gak tau, Kak."

Terbawa kesal, Jae menarik tangan Auzora dengan genggaman kuat.

"Kamu taruh mana?" tegas Jae.

"Zora gak tau, Kak," jawabnya sambil menahan sakit.

"Jae, ada di motor, masih ngegantung," sela Rae yang berhasil menemukan kunci motornya.

Tanpa kata maaf, Jae melepas tangan Auzora yang memerah. Auzora hanya mengelus lembut dengan tangan kirinya dan membiarkan rasa sakitnya hilang dengan sendirinya.

"Oh, ya. Kenapa lo tadi pagi gak bilang apa yang Rae bilang semalam?" tanya Jae yang kembali menemui Auzora.

"Emang Kak Rae bilang apa?"

"Lo bodoh apa gimana?"

"Serius, Kak. Zora gak tau," jawab Zora polos.

"Udah, biarin aja, yang penting ayah gak marahin kita. Ayo pergi!"

~Yang salah siapa, yang dimarahi siapa. Udah tau baru buka mata, nyawa belum terkumpul malah diajakin ngomong serius.

...

Singkat cerita, hari demi hari, bulan demi bulan terlewati. Ujian semester juga telah terselesaikan. Menjadi murid baru dan merasa kesulitan dengan adaptasi pembelajaran, bukan menjadi alasan untuk tidak mampu mengejar materi pembelajaran.

"Peringkat terbaik di kelas kita semester ini adalah Auzora."

Tidak ada jam pelajaran, hari ini siswa bebas melakukan apapun asal tidak keluar sekolah. Semua sibuk menentukan tujuan mereka, sementara Auzora, hanya sibuk menentukan posisi tidur yang nyaman di atas mejanya.

Si Kembar, idola para siswi-siswi di sekolahnya. Kembali mendatangi kelas Auzora dan membuat mereka histeris.

"Auzora mana?" tanya Rae pada segerombol teman-teman Auzora.

"Ada di dalam, Kak." jawab mereka girang.

"Zora, bangun!"

"Kenapa, Kak?"

"Tanding basket, kita kekurangan 1 personil."

"Zora males, Kak. Zora ngantuk. Temen Kakak banyak, kenapa harus Zora?"

Rae menarik paksa tangan Auzora dan membawanya pergi. Zyan yang juga ada di dalam kelas tampak kesal dan mengikuti mereka.

"Zyan kayak jadi orang pertama yang paling gak rela Zora diapa-apain," ucap salah satu temannya.

Sorakan seisi lapangan begitu melihat Jae menggandeng tangan Auzora.

"Cukup, Zora seteam sama aku."

Dengan rambut yang terikat rapi, poni yang tidak menghalangi. Meski dengan rok tepat di atas lutut, Auzora tampak terampil memainkan pertandingannya.

"Gila, keren parah adiknya kak Kembar," puji salah satu siswa yang duduk di sebelah Zyan.

"Mata lo jaga!" celetuk Zyan sinis.

"Apaan? Orang gue muji dia."

~Cemburu bilang, Bang. Tinggi banget gengsinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!