~05

"Lo gak masak?" tanya Jae menangkap Auzora yang baru keluar dari kamarnya pagi ini.

"Emang dia bisa masak?" sahut Rae yang duduk santai di depan TV.

"Ayah ngasih uang khusus buat beli makan, ngapain masak, Kak?"

"Mulai sok pinter, dia." Langkah Jae dengan tatapan penuh amarah, menghampiri Auzora yang masih berdiri di depan pintu kamar mereka.

"Kak, kamar Kakak udah bersih, Zora capek. Tolong kasih Zora ruang," ucap Auzora sambil mengangkat kedua tangan, rata dengan bahu.

Tak menghiraukan ucapan Auzora, Langkahnya terhenti tepat di hadapan Auzora. Gadis itu hanya diam terpejam menggigit ujung bibirnya.

"Seandainya gue mau ngelepasin semua dendam gue. Lo lihat mata gue! Lo lihat mata gue yang sekarang ada di depan mata, lo!"

Auzora justru tertunduk, rambutnya yang terurai turut jatuh dari pundaknya dan menutupi wajahnya. Ketakutan yang mendalam membuat tangannya ikut bergemetar.

Rae yang juga panik menyaksikan amarah saudara kembarnya itu, hanya diam menelan ludah, tak bergerak sedikitpun dari sofanya.

"LO LIHAT MATA GUE!" bentak Jae sambil mengangkat kasar wajah Auzora yang masih rapat terpejam.

"BUKA MATA LO!"

Matanya terpaksa terbuka perlahan, wajah tampan kakaknya, kini benar-benar ada tepat di depan matanya.

"Lo lihat mata gue? Mata ini penuh dendam, boleh gue lampiasin sekarang?" lanjut Jae yang masih memegang erat wajah Auzora.

Auzora meraih lembut tangan Jae, menurunkannya dari wajahnya yang mulai kesakitan karena genggaman kuatnya.

"Kak, terlepas dari masa lalu ...."

"Zora gak paham betul tentang kejadian sebenarnya, Zora minta maaf yang sebesar-besarnya," lanjut Auzora mulai dengan rintikan air mata.

...

"Mama pernah meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah Mama perbuat. Tapi, Nak, sekuat apapun Mama membela diri, sebenar apapun Mama saat itu, mata yang memandang salah, akan tetap memandang salah."

"Mau seribu satu kali Mama meminta maaf, sekalipun itu bukan kesalahan Mama, mereka akan tetap tutup mata, mereka akan tetap tutup telinga."

...

Bayangan dalam tundukan air mata Auzora, benar apa kata sang Ibunda, mata yang penuh dendam dari kakaknya, tidak akan pernah bisa dibayar dengan seribu satu maaf dari lisan mereka.

"Maaf? Lo pikir semudah itu? Keluarga gue hancur karena, lo!" Jari telunjuknya menunjuk tepat ke arah Auzora.

"Dan sekarang, gue dipaksa tinggal serumah sama orang yang udah ngehancurin rumah gue. Lo pikir, gue semudah itu buat nerima?"

"Lo tau? Seandainya perasaan gue udah gak berfungsi, mungkin lo udah hancur di tangan gue sekarang."

Tak mengangkat kepalanya sedikitpun, Auzora hanya pasrah dalam tundukannya. Hanya sedikit perkataan maaf darinya, justru serangan panjang yang harus dia terima kembali.

"Yang seharusnya mati itu lo! Bukan bunda."

Tangan Jae yang menghantam keras tembok di samping wajah Auzora. Membangkitkan Rae dari tempat duduknya.

"Jae, udah, ya. Handle emosi kamu." Peluk hangat Rae menenangkan Jae.

Tangisnya jatuh bersamaan dengan tubuhnya yang turut terjatuh. Tak lepas darinya selain pelukan dari Rae.

"Jae, semua boleh hilang, semua boleh hancur. Kamu juga boleh hancur, kamu boleh berantakan, Jae. Tapi kamu harus bisa menyusun kembali semuanya. Kita susun bareng-bareng, ya."

"Sedalam itu lukanya? Ma, Zora bener-bener gak paham dengan semua ini," keluh Auzora dalam hati.

Rae membangkitkan kembali tubuh yang yang tak mampu berdamai dengan semesta, yang tetap memilih hidup dan terpenjara dengan luka.

"Zora, kamu keluar cari sarapan! Aku gak mau Jae telat makan. Buruan!"

"Iya, Kak."

Auzora mematuhi perintah kakaknya, ditemani sorotan lembut sinar matahari yang mulai menyapa pagi. Langkahnya tergesa-gesa menuju tempat tujuannya.

"Kata ayah, kak Jae gak bisa makan pedes, tapi kak Rae suka pedes. Mereka gak suka yang terlalu berminyak."

"Aduh, kalau salah gimana, nih?" gelisah Auzora di hadapan banyaknya menu makanan.

"Menghubungi kak Rae?"

"Sini gue bantu. Yang ini untuk Jae, yang ini untuk Rae. Pagi, mereka lebih suka minum air mineral dari pada minuman panas atau dingin," sahut seorang wanita yang menghampiri Auzora.

"Kak Stevie, kok Kakak tau, aku lagi cari makan buat mereka?"

"Gak usah banyak nanya! Gue juga lagi nyari sarapan. Buruan pulang!"

"Makasih, Kak."

~Kok tau, ya? Bodo amat, lanjut aja.

Saat keluar, Auzora menemukan Zyan di depan toko. Dia sibuk dengan motornya, seperti sedang mengalami kendala.

"Zyan?"

"Zora, udah selesai? Langsung pulang aja. Buruan!"

"Oh, jadi kamu yang ngajakin kak Stevie ke sini?" tanya curiga Auzora.

"Emang, kamu mau kena marah lagi? Di chat aja kamu kelihatan bingung banget," ejek Zyan melirik kesal.

"Udah, buruan pulang! Hati-hati, jalannya di pinggir."

"Gak usah lo bilangin, gue juga paham, Zyan Jhuana," tegas Auzora.

~Oh, jadi ceritanya si Zora ngadu ke Zyan, kalau dia disuruh beli sarapan, tapi bingung selere kakaknya. Btw, Zyan peka banget, modus ngajakin kakaknya beli sarapan nih.

...

"Itu ada Zora, Kak. Kata Kakak, Kak Jae lagi gak baik-baik aja, kayaknya dia lagi nyari sarapan buat kakak-kakaknya juga," ucap Zyan yang melihat Zora dari dinding kaca bening toko.

"Mereka pemilih banget soal makanan, Zora tau gak, ya?"

"Bantuin, gih. Lakuin buat sahabat Kakak, bukan buat Zora."

...

"Jae lagi tidur, makanannya taruh meja aja, biar dia makan setelah bangun. Dia baru bisa nenangin diri, tubuhnya gemetar parah," jelas Rae begitu Auzora datang.

"Kak Jae ada riwayat sakit?"

"Gak tau juga, dia suka kayak gitu kalau lagi marah, kena marah, inget sesuatu yang bikin dia sakit, dan kadang di situasi gak menentu."

"Maaf, Kak. Gara-gara aku, kak Jae jadi kayak gini."

Tanpa sepatah kata, Rae beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya.

"Aku di sini justru mancing kak Jae buat inget sama luka-lukanya, tapi pergi gak mungkin juga."

Sambil mengisi kegabutannya, Auzora lanjut membereskan kamarnya yang dibuat berantakan oleh kedua kakaknya. Membersihkan seisi rumah, bahkan hingga halamannya.

"Mbak, disuruh mas Kembar?" sapa Pak Supir.

"Enggak, Pak. Zora lagi gak ada kegiatan aja."

"Gabut, lo? Sekalian, kuras kolam renang!" sahut Rae yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu.

"Mas Rae, itu ada tugasnya sendiri. Mbak Zora gak bisa," bantah lembut Pak Supir.

"Sok rajin!" jawab sinis Rae yang kemudian pergi.

Berbicara tentang kolam renang, menarik Auzora untuk menghampirinya. Setelah lelah beberes, Auzora duduk santai di tepi kolam, hanya merenung terdiam.

Tak lama, Jae datang dengan segelas air mineral dan makanan yang Auzora beli tadi pagi.

"Ngapain, lo?" tanya Jae ketus.

"Gak ngapa-ngapain, Kak. Nyantai aja."

Tanpa mengusik Auzora, Jae duduk di bangku yang berada di salah satu sisi kolam. Sama dengan Auzora, dia hanya diam sambil menikmati makanannya.

"Seandainya aku jatuh, Kak Jae bakal nolongin gak, ya?"

"Enggaklah, orang aku bisa renang sendiri," tanya jawab pribadi Auzora sambil memandangi kakaknya.

~Canggung banget woy.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!