~06

"Mau ke mana?" tanya ketus Jae pada Auzora yang membuka pintu rumah dengan pakaian rapi.

"Temen-temen ngajak ngumpul, Kak."

"Emang ada, yang ngebolehin kamu keluar?" sahut Rae keluar dari arah dapur.

Auzora hanya memutar mata malas, seperti biasa, hanya diam dan kembali menutup pintu.

"Adik kamu cantik juga," canda Jae pada Rae yang duduk di sampingnya.

"Bisa nih," jawab Rae sambil mengangkat kedua alisnya.

"Zora ...."

"Bentar, Kak Rae," sahut Auzora dari kamarnya.

"Ganti, ya? Jangan ganti dulu, ikut kita aja."

Tak mendengar jawaban, tak lama, pintu kamar Auzora terbuka.

"Kemana, Kak?"

"Ikut aja ...."

...

"Auzora kok gak ada? Dia gak datang?" tanya Zyan yang tak menemukan Auzora di lokasi meet.

"Liburan mungkin mereka, biasanya kalau liburan gini, kak Kembar pasti liburan jauh."

"Enggak, mereka gak lagi liburan. Ayahnya lagi ada kerja di luar kota."

"Widih, tau banget. Dipublish dong, Pak. Disembunyikan mulu hubungannya," canda salah satu teman lelakinya.

"Sumpah, ya. Gue gedek banget sama Zora, bisa-bisanya dia yang baru masuk, berhasil sedeket itu sama Zyan," batinnya kesal.

...

"Lah, ini lokasi meetnya kita. Ngapain mereka ngajak ke sini?" tanya lirih Auzora pada dirinya sendiri, setelah sampai di parkiran.

Pertama dalam sejarah hidupnya, setelah lama hidup bersama kedua kakaknya. Keluar bertiga, bahkan dibonceng oleh salah satu dari mereka.

"Diem aja, sekalian meet kalau gini," senyum sembunyi Auzora.

"Woiih, sumpah ini gue gak salah lihat? Itu Zora sama kak Kembar?" kejut salah satu teman perempuannya.

"Dih, keren parah Zora, jalan di tengah kayak gitu."

"Cantiknya nambah."

"Pawangnya swag parah, susah diterobos, nih."

"Kece boss, harusnya gue yang nyamperin mereka, sebagai boyfriendnya Zora."

Ramai pujian dari teman-temannya, Zyan terbungkam dengan lirikan mata tajam.

"Woy, balik!" tegas Zyan menggeprak meja untuk mengembalikan pusat pandangan.

"Santai, Pak. Cemburu bilang, kita cuma bercanda."

Zyan kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pergi menghampiri mereka.

"Buset, gak diragukan lagi. Ini mereka diem-diem, diem," ucap salah satu temannya sambil menunjukkan tangannya.

...

"Zora ...." panggil Zyan lembut.

Kedua mata Jae dan Rae yang terkejut melihat kedatangannya.

"Ngapain di sini, Zy?"

"Lagi ngumpul, Kak."

"Kalian ngumpul di sini?" tanya Rae ke arah Auzora.

Auzora mengangguk lugu. Kedua kakaknya hanya saling menatap pasrah.

"Ya, udah. Lo ngikut mereka aja," lanjut Rae mempersilakan Auzora pergi.

"Thank you, Kak."

...

"Kamu berniat gak datang, gak ngasih kabar aku?" desak Zyan saat berjalan kembali ke tempatnya.

"Aku tadi udah mau berangkat, mereka gak ngasih izin. Tiba-tiba ngajakin aku keluar. Aku gak sempet, Zy. Maaf ...."

"Auzora wanita paling beruntung sedunia kalau kata gue," ucap salah satu temannya yang melihat Zyan dan Auzora berjalan beriringan.

"Berhasil hidup di antara tiga lelaki hebat, apalagi Zyan, kutubnya mencair kalau sama Zora."

Mata yang memandang penuh kebencian begitu mereka sampai dan kembali duduk.

"Cuma 10 anak ini, ya, yang lagi free aja di rumah? Tujuan kita cuma ngurangin kegabutan aja, jadi enjoy aja disini. Ini bukan acara formal."

"Gimana gue bisa enjoy, yang ada kebakar," batin kesalnya.

~Oh, ya .... Belum kenalan sama cewek yang naksir Zyan. Okee, kenalan singkat yuks ....

Namanya Clara, dia naksir Zyan sejak mereka masih duduk di bangku kelas 10. Seperti yang dibilang teman-temannya, Zyan si Kutub, lelaki dingin itu sulit ditaklukan. Termasuk oleh Clara salah satunya.

~Kembali ke pusat ....

Meja mereka dipenuhi canda tawa. Satu bahan candaan yang tersambung akan terus terhubung. Tawa yang terlukis indah di tengah kebersamaan, adalah cara para penikmat kebersamaan melukis kenangan. Kebersamaan saat ini, adalah kenangan di masa nanti.

Terlalu menikmati, tertawa puas tak terhenti. Auzora tanpa sengaja meneteskan setetes saus saat dia mengangkatnya. Mengotori atasan putihnya.

Tanpa kata, tanpa bicara. Zyan sigap mengambilkan beberapa lembar tissue untuknya.

Clara yang menyadari hal itu, seketika merubah raut wajahnya. Wajah yang awalnya juga penuh tawa, mendadak tertekuk kusut.

Sementara Auzora yang menerima tisu dari Zyan, bukannya digunakan untuk membersihkan atasan putihnya. Gagal fokus, justru dia gunakan untuk mengelap mulutnya.

Zyan tertawa puas dan mendekap kepala Auzora dengan lipatan kedua tangannya.

"Baju lo, tolol ...."

Tawa penghuni meja yang kembali tersambung.

"Pertama kali ini, aku lihat Zora ketawa kayak gitu," ucap Jae tiba-tiba dari mejanya.

"Tersentuh, lo?" tanya Rae dengan senyum tipis.

Ponsel Jae berdering, Chardika menghubunginya setelah beberapa hari hanya berbicara dengan putranya melalui pesan pribadi.

"Hallo, Yah ...." Tangannya melambai ramah.

"Hallo, Nak. Gimana, semua baik-baik aja? Eh, lagi ada di luar?"

"Iya, Yah. Lagi nongkrong aja, sama Rae," jawab Jae sambil mengarahkan ponselnya pada Rae.

"Zora?" tanya singkat Chardika.

Jae memutar balik kameranya, memperlihatkan tawa bahagia Auzora bersama segerombol teman-temannya. Senyum Chardika merekah, matanya tampak lega melihatnya.

"Enjoy your day, Sayang. Ayah percaya sama kalian. Ayah tutup dulu, ya. Sampai jumpa."

Jae membuang napas berat, terpejam. Kepercayaan apa yang diberikan ayahnya? Sementara mereka tidak pernah berhubungan baik.

"Percaya? Setelah keributan beberapa hari yang lalu? Setelah niat jahat kita hari ini? Ayah bilang percaya?"

"Apa yang ada dipikiran ayah? Sampai berpikir kita semudah itu berdamai dengan semuanya," tambah Rae memelas.

...

"Kamu mau pulang bareng mereka?" tanya Zyan setelah semua selesai dan bersiap untuk pulang.

"Anterin gitu, Zy. Lo agak peka dikit jadi cowok," sahut temannya.

"Gak usah, mereka masih di sini, aku pulang bareng mereka aja."

"Kalau ada apa-apa hubungi aku," pinta Zyan sambil memakai jaketnya.

Tersisa Auzora dan Clara di tempat. Clara mendekati Auzora yang akan melangkah pergi dari kursinya.

"Lo bisa, gak? Gak usah deket-deket sama Zyan!"

Matanya bergerak bingung, wajahnya polos memandangi Clara yang tampak kesal.

"Kalau gak bisa?"

"Lo tau akibatnya," ancam Clara mendorong bahu Auzora.

Tanpa menghiraukan Clara yang masih berdiri di hadapannya, Auzora pergi meninggalkannya begitu saja.

"Clara kayak gak suka banget sama Zora."

"Perasaan, lo dari tadi fokus ke Zora mulu, luluh, lo?" desak Rae.

"Apaan? Nggak ...."

"Udah, Kak?" tanya singkat Auzora setelah sampai di meja kakaknya.

"Mau pulang sekarang?" tanya balik Jae.

Wajah Auzora membeku seketika, mendengar lelaki yang biasanya penuh nada kasar dan tinggi ketika berbicara dengannya, mendadak lembut dalam pertanyaan sederhana.

"Aku ngikut kalian aja."

...

"Sumpah, seandainya tadi aku gak ngeliat tawa Zora sebahagia itu, aku lanjutin rencana jahat kita," ucap Jae yang membaringkan dirinya di kasur.

"Yang aku suka dari kamu. Kamu beneran baik banget dalamnya," batin Rae dalam senyum indah yang tampak dari wajah tampannya.

"Kamu gak tega ngancurin kebahagiaan dia?"

"This is the first time, Rae. Berbulan-bulan dia tinggal bareng kita, baru pertama kali ini, aku lihat dia sebahagia itu. Aku rasa, aku akan jadi manusia paling jahat kalau tadi jadi ngejahatin dia."

~Luluh nih?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!