~17

"Lo suka gue? Mau jadi cewek gue? Ya, bilang aja. Apa susahnya? Kenapa pake nyerang Zora?"

"Emang kamu semudah itu buat nerima?" tanya balik Clara.

"Semudah 'Gue mau jadi cewek lo, Zyan.' Dan gue terima. Apa susahnya?"

"Zora?" tanya singkat Clara.

Senyum licik itu kembali tampak dari wajah lelaki yang menganggap semua enteng tersebut.

"Zora kenapa?"

"Ya, lo deket banget sama dia."

"Itu urusan, lo! Gue terima, lo. Lo terima Zora. Lo gak nerima Zora, lo gak nerima gue! Simple ...."

~Kocak emang ni anak.

"Murahan banget, lo! Semudah itu lo permainin hati cewek? Lo pikir apaan?" ketus Juna yang ikut kesal.

"Salah mulu, gue? Gue hargai perasaan dia, tapi kalau lo minta gue ngejauhin Zora. Sorry aja, gue gak bisa."

"Itu bukan menghargai, tolol! Lo ngelukai!" balas Juna tegas.

Mata yang mulai menyeka airnya, dengan senyum tipis manisnya.

"Sepenting itu, Zora dalam hidup lo, Zy?"

"Seberapa dia menganggap gue penting dalam hidupnya, sepenting itu juga dia dalam hidup gue."

"Gue juga nganggep lo penting, Zy ...."

"Lo nganggep gue penting karena lo suka, tapi Zora nganggep gue penting karena gue ada."

Stevie mulai berjalan mendekati mereka, mata Juna yang tampak menatap dengan kesalnya. Sorot matanya mampu menjelaskan tanpa dia harus berkata.

"Ra, cukup selesai sampai disini aja, ya? Aku bener-bener capek banget," pinta tulus Stevie.

"Lo capek karena ulah lo sendiri, bangsat!"

Zyan yang mendengar ucapan kasar itu seketika melayangkan sebuah hantaman, tepat pada wajah Juna.

"Berani lo ngomong sekali lagi, nyawa lo hilang malam ini!"

Kedua pasang mata wanita itu memandang penuh tegang. Stevie menarik kembali adiknya untuk menghentikan pertikaian.

"Zyan, udah ...."

Selamat dari Zyan, mereka pergi meninggalkan Zyan dan Stevie. Juna pergi dengan luka pada ujung bibirnya, karena hantaman kuat dari Zyan.

...

"Yah, Zora heran banget, kenapa hidup Zora penuh tanda tanya gini, ya?"

Di balkon malam ini, Auzora bersama Chardika, sedang duduk bersama menikmati langit malam yang tampak indah bersama bulan dan taburan bintangnya.

"Maksud kamu gimana, Sayang?"

"Waktu kecil, aku dipenuhi tanda tanya perihal keluargaku. Siapa ayahku? Di mana tempat tinggal mama? Kenapa aku gak boleh tinggal bareng mama?"

"Tinggal bareng Ayah, ribuan pertanyaan yang bener-bener ngebingungin Zora. Di mana Zora selalu salah, padahal Zora gak tau apa-apa. Mana kak Jae pernah bilang kalau kita sedarah. Kan Zora makin bingung."

"Tempo hari, Zyan ngejauhin Zora, Yah. Zora juga gak tau salah Zora apa. Tapi hari ini udah baik-baik aja. Tapi parahnya lagi, kayaknya circle kakak lagi gak baik-baik aja. Karena Zora juga, tapi Zora gak tau, salah Zora apa."

"Lama-lama Zora bosen banget hidup, Yah."

Kalimat terakhir itu mengejutkan Chardika. Seketika tangannya memegangi erat pundak putrinya tersebut.

"Zora, gak boleh ngomong kayak gitu ...."

"Zora nyusahin banyak orang ya, Yah? Zora malapetaka buat semua orang?"

Tubuh mungil itu kini dipeluk hangat oleh Chardika. Dengan penuh rasa bersalah, Chardika mengelus lembut kepalanya.

"Maafin Ayah, ya. Seandainya dulu Ayah percaya mama kamu, hidup kamu gak akan seberantakan ini, Nak."

"Yah, jadi bener kalau aku anak kandung Ayah?"

Pertanyaan yang belum terklarifikasi oleh siapapun. Chardika melepas pelukannya dan menghapus air matanya.

"Benar, Sayang ...."

Mulut Auzora mendadak kaku, mulutnya yang tak lagi sanggup untuk berkata, air matanya turut jatuh untuk menggantikannya.

"Ayah minta maaf, ya?"

"Kenapa Ayah tega?"

"Ayah terlalu percaya orang lain, Nak. Sampai bukti palsu dapat menipu Ayah. Ayah terlalu bodo amat tentang mama kamu yang masih dengan beraninya membela kamu saat itu."

...

"Oke, kita pertahankan pernikahan kita. Tapi aku gak mau ada bayi itu." Tunjuk Chardika pada perut istrinya.

19 tahun yang lalu, di mana putra kembar mereka masih berusia 1 tahun. Badai rumah tangga yang menyapa kurang lebih 3 tahun usia pernikahan mereka, hancur memporak porandakan keharmonisan dan kehangatan keluarga kecil yang mereka bentuk.

"Sumpah demi apapun, ini anak kamu ...."

"Udah ada banyak bukti! Masih bisa kamu ngelak?"

Si kecil yang mulai tagak dengan langkahnya, mulai mampu mengucapkan beberapa kata. Seolah mengerti bagaimana suasana hati orang tuanya, mereka menangis bersamaan setiap melihat keduanya ada pada keributan.

"Oke, buat Jae dan Rae," ucap ibunda mereka menyetujui suaminya.

9 bulan usia kandungannya, mendekati tanggal perkiraan kelahiran bayinya, ibunda terpaksa tinggal bersama ibunya di luar kota. Menitipkan bayi kecil perempuan yang tak berdosa, si cantik Auzora, pada neneknya.

Sejak kecil hingga 16 tahun usinya, Auzora dibesarkan oleh neneknya yang tinggal jauh dengan ibundanya. Tanpa diberi kesempatan mengenal siapa ayahnya, siapa saudaranya, dan bagaimana latar belakangnya.

16 tahun usianya, nenek tercinta yang biasa dia panggil Oma, meninggalkan kehidupannya.

Ceritanya dimulai ketika Auzora mengalami kecelakaan yang cukup parah. Pada hari kecelakaan itu, ditemani seorang sahabatnya, Auzora terpapah masuk ke rumah sakit dalam keadaan penuh luka.

"Gimana keadaan Zora?" desak panik Oma pada sahabatnya.

"Belum tau, Oma. Masih diperiksa," jawab sahabatnya yang menangis tersedu-sedu.

Beberapa hari merawat cucu tercintanya di rumah sakit seorang diri, duduk tertidur pada sebuah kursi di samping dipan Auzora, menemani tidur lelapnya.

"Oma ...." Panggil Auzora saat terbangun.

"Oma ...."

Tak mendapat respon, Auzora mencoba menggerakkan tangan yang menggenggam tangannya itu.

"Oma ...."

Apa bisa dikata jika takdir angkat bicara?

Tanpa berkabar, tanpa mendapat kabar, dan tanpa memberi kabar. Dengan beraninya, Auzora memutuskan untuk tinggal seorang diri sekarang.

Hingga setelah 6 bulan kepergian neneknya, ibunya kembali datang mengunjunginya.

"Kamu kenapa gak ngasih kabar? Kenapa gak bilang ke Mama? Kamu kecelakaan sampai di rawat berhari-hari, nenek kamu meninggal 6 bulan yang lalu, kamu tinggal sendirian. Kenapa gak bila ke Mama?" ucapnya dalam tangis kesal.

"Emang Mama peduli? Mama hanya berkunjung beberapa bulan sekali. Memberi oma uang, seolah oma pengasuh bayaran. Pernah, Mama nanya Zora gimana? Pernah, Mama ngirim pesan? nanyain kabar Zora?" balas Auzora dengan logat lembutnya.

"Zora, itu karena kamu gak pernah tau yang sebenarnya. Tapi lebih baik kamu gak pernah tau dari pada kamu harus tau. Karena Mama paham, kamu akan lebih sakit dari Mama ...."

Setelah kejadian itu, tanpa berpikir panjang. Ibunda Auzora memutuskan tali pernikahan yang sudah hampir terputus pada kurang lebih 16 tahun yang lalu.

Setelah resmi bercerai dari Chardika, mantan suaminya. Ibunda Auzora membawa kembali Auzora dalam dekapannya, membawa Auzora untuk tinggal bersamanya.

"Karena Mama kerja disana, kamu ikut Mama. Nanti kamu sekolah disana."

Entah sebuah takdir atau hanya kebetulan, mendarat kembali di bandara, ibunda bersama Auzora bertemu dengan Chardika yang saat itu telah selesai melakukan perjalanan untuk kepentingan kerjanya.

"Ada keperluan kerja?" tanya Ibunda Auzora yang mengerti kesibukannya.

"Iya, kamu sendiri?"

"Habis jemput putriku, Auzora ...." jawabnya dengan senyum bangga.

Auzora merendahkan kepalanya, tersenyum ramah menyapa Chardika.

Belum sempat menikmati kebersamaannya bersama Ibunda, hanya beberapa jam dalam genggamannya. Dalam perjalanan menuju rumah, mobil yang mereka kendarai mengalami kecelakaan hebat hingga menewaskan ibunda Auzora dan satu supir pribadinya.

Auzora yang selamat dari kecelakaan maut itu, kembali dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri.

Kabar mereka sampai pada keluarga Chardika. Dengan sigap, Chardika beserta kedua putranya mendatangi rumah duka dan berkunjung menjenguk putri kesayangan dari mantan istrinya itu.

"Om, bukannya yang tadi di bandara?"

"Iya, Nak," jawab singkat Chardika dengan mata berkaca-kaca.

"Mama gimana, Om?"

Pertanyaan yang membungkam Chardika seketika. Dalam batinnya hanya tersisa ....

"Aku harus jawab bagaimana?"

Munafik untuk tidak menangis histeris dalam kondisi saat ini, kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya untuk kedua kalinya. Tangis histeris Auzora pecah begitu Chardika menyampaikan bahwa ibundanya telah tiada.

Dalam dekapan hangatnya, Auzora merasakan sedikit ketenangan. Kembali tertikam untuk luka lama yang belum hilang, hatinya terpaksa mengikhlaskan.

Kejadian itu menggerakkan hati Chardika untuk menjadikan Auzora sebagai bagian dari keluarganya. Chardika mengangkat Auzora sebagai putrinya dan adik dari kedua putranya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!