~16

Tanpa menghiraukan Auzora yang bersamanya, Zyan lari meninggalkannya begitu saja.

"Buset, bener-bener, lo! Udah gak salah apa-apa gue dijauhin, baru juga masalah itu selesai. Gue malah dianggurin. ZYAN!"

Mendengar langkah Auzora yang mengikutinya, Zyan terhenti.

"Pulang aja, Auzora. Lo ngapain ikut?"

Dengan terengah-engah, posisi badannya yang masih membungkuk tak memberikan jawaban.

"Pulang aja, ya?"

Tubuhnya yang mulai tegak, memasang wajah melas.

"Kamu ngusir? Kamu gak nyaman? Oke, aku pulang."

"Bukan gitu, Auzora Misora. Tapi ...."

Kata yang tak berlanjut itu memberi jeda untuk berpikir.

"Okelah, ikut gue ...."

"Terpaksa?"

"Auzora Misora, kalau mau ikut, boleh banget. Ayo ikut aku," balas Zyan dengan lembut.

Belum sampai di tempat tujuannya, ponsel Zyan berdering. Salah satu teman satu kelasnya menghubungi.

"Woy, lo kemana sama Zora? Mampus lo, besok dipanggil Wali Kelas."

"Astaga, ini belum kelar, ada aja masalah baru."

"Salah lo sendiri, kabur pasti!"

"Dahlah, dipanggil tinggal menghadap, apa susahnya? Makasih infonya, gue tutup, gue sibuk."

...

"Kita dipanggil?"

"Katanya ...."

"Mati, hancur nama baik gue, Zy."

"Apa sih, lo? Santai aja, bareng gue."

~Perbestie pas masih sekolah, nilai jelek gak masalah, asal bareng bestie.

Sesampainya di tempat makan tersebut, Zyan langsung mencari keberadaan kakaknya. Wajah Zyan tampak panik karena Jae bersama kakaknya saat ini.

"Kak, kamu gak papa? Mau lo apain Kakak gue!" desak Zyan pada Jae.

"Zy, lo apa-apaan, sih? Jae itu gak kayak yang kamu kira! Tenang aja, dia ada di pihak kita."

"HAH?"

Wajah terkejut yang terpadu dengan rasa bingung itu tampak mengernyitkan dahi.

"Kamu pikir, siapa yang minta tolong kamu buat nyelametin Zora? Siapa yang punya ide pertama buat semua ini? Kakak? Bukan, Zyan! Jaeha, dia yang minta."

"Kakak serius?"

"Sumpah demi apapun," jawab Stevie sambil mengangkat kedua jarinya untuk meyakinkan Zyan.

"Masalahnya sekarang adalah, Rae tau. Dan dia kelihatan kecewa banget."

"Gue bingung harus gimana, di satu sisi gue bener. Tapi di sisi lain gue salah," lanjut Jae pada wajah lusuhnya.

...

Setelah Clara memaparkan rencana jahatnya. Jae yang saat itu telah terbuka akal sehatnya untuk menerima kebenaran, menemui Stevie seorang diri.

"Vie, bisa bantu aku, gak?"

"Apa, Jae?" tanya Stevie balik.

"Bantuin aku buat ngegagalin rencana Clara. Ini mudah banget buat digagalin, Vie. Hanya dengan satu peran, yaitu Zyan ...."

"Kamu ngebela Zora?" tanya Stevie terkejut mendengar permintaan Jae.

"Sampai kapan aku melawan takdir jika memang itu kebenarannya, Vie?"

...

"Kayaknya ada yang baru aja baikan, kemarin udah main kabur-kaburan aja," ejek salah satu teman satu kelasnya.

Pagi ini, Zyan tampak memasuki kelas bersama dengan Auzora. Pemandangan yang akhir-akhir ini tidak didapatkan oleh teman satu kelasnya.

"Diem, lo!" ketus Zyan.

"Kalian dicari, suruh ngehadap nanti. Habis dari mana, sih?"

"Ngepet, Zora yang jaga lilin," jawab Zyan dengan nada bercanda.

"Gila, lo? Ngepet kok pagi ...."

Senyum keduanya yang tampak begitu hangat. Sekalipun harus menerima hukuman hari ini.

Seperti biasa, hukuman di sekolah mungkin selalu sama. Membersihkan kamar mandi, sudah menjadi hukuman yang lazim.

"Kamu bantuin aku bersihin kamar mandi cowok dulu," pinta Zyan.

"Dih, ogah! Enak aja, yang ada aku yang dikira ngapa-ngapain, blusukan di kamar mandi cowok."

"Nanti gantian, aku bantuin kamu bersihin kamar mandi cewek."

Senyum puas bergaya licik Auzora ketika mendengar jawaban Zyan.

"Senyum, lo! Tadi nyolot."

"Ya, kamu gak bilang!"

"Kan udah bilang, 'Bantuin aku bersihin kamar mandi cowok dulu. Dulu, DULU.' Garis bawahin, tuh," kesal Zyan memperjelas ucapannya.

Tidak merasa berat dengan hukuman yang mereka dapat, keduanya justru menikmati hukuman itu dengan bahagianya. Canda tawa terukir sepanjang kerja sama.

Hukuman itu membuat mereka terlambat mengikuti pelajaran selanjutnya. Mereka masuk kelas saat jam pelajaran telah dimulai.

"Kalian berdiri di depan sampai jam pelajaran saya selesai!"

"Tapi, Pak. Kita ini terlambat karena dihukum. Sekarang, kita kembali dihukum dengan alasan terlambat karena kita sedang dihukum? Gak masuk akal, Pak," tolak Zyan dengan berani.

"Gimana?"

"Nah, bingung, Pak. Boleh ya, Pak, kita ikut pelajaran."

"Ya, udah. Kalian duduk! Yang ada, kalian malah ngurangi jam pembelajaran saya!"

"Makasih, Pak."

Dengan senyum bangga, mereka melangkah kembali menuju bangku mereka masing-masing.

"Kalau gak bareng gue, pasti lo ikutin mau beliau. Lo apa-apa nurut, gue ajakin nyebrang kandang hiu, pasti juga nurut," ejek lirih Zyan pada Auzora.

...

"Lo serius, Rae?"

"Sumpah, gue denger pake telinga gue sendiri."

"Jae, Stevie, gak nyangka banget ...."

Masih berseragam itu juga, Rae menemui Juna dan Jihan untuk memberitahu mereka perihal tersebut.

"Demi apapun, gue sakit banget ...."

"Sama, Ji. Gak nyangka aja rasanya."

"Auzora, GUE BENCI DIA DATENG!" berontak Rae seketika.

Persahabatan yang terbagi menjadi dua kubu itu, kini tak lagi saling sapa untuk hari kesekiannya. Hanya saling membisu, tak seorang pun mulai angkat bicara untuk mengambil langkah damai.

"Kita harus bicara, Jae. Mereka itu salah paham. Kita harus lurusin!"

"Gue bingung, Vie. Dimata mereka, gue itu salah. Gue sadar juga, gue salah, Vie. Gue salah juga nusuk mereka kayak gini."

"Lo gak salah, Jae. Kakak mana yang rela adiknya diperlukan jahat oleh orang lain. Lo salah kalau ngediemin mereka dan gak ngambil langkah apapun untuk adik lo sendiri."

"Tapi mereka gak akan ngertiin gue, Vie."

Mata itu mendadak berkaca, sorot matanya tulus seketika terpancar.

Tanpa sepengatahuan yang lain, Stevie mengundang Jihan untuk bertemu dengannya sore ini. Memenuhi undangannya, Jihan datang menemui Stevie.

Berbeda dengan biasanya, keduanya tampak begitu kaku untuk kali pertamanya.

"Ji, dengerin aku, tolong. Kita gak maksud kayak gitu, Ji. Kamu tau, seberat apa ada di posisi Jae saat itu. Dengan penuh kesadaran dia mengakui kebenaran, Ji. Kita semua juga tau, Zora adik kandung mereka."

"Seandainya kamu ada di posisi dia, sebagai seorang kakak, apa kamu akan tetap diam melihat seseorang berencana jahat untuk adik kamu?" lanjut Stevie.

"Kalian bisa ngomongin ini baik-baik ke kita, kenapa cuma ngambil langkah berdua? Rae, Juna, gue gak kalian anggep?" kesal Jihan.

"Tapi Rae masih sekeras itu, Ji. Dia punya misi yang sama dengan Clara."

"Yang jelas, kalian lebih memilih sepihak. Kita hanya bayangan? Keberadaan kita kayak gak ada apa-apanya di mata kalian. Kita nyusun rencana bareng, tapi tau-taunya kalian malah jadi musuh dalam selimut."

Jihan yang tak ingin lagi mendengar penjelasan, tanpa kata pamit, dia pergi begitu saja.

"Astaga ...."

Sementara itu, Juna bersama Clara, menemui Zyan untuk menyuarakan kekesalannya.

"Lo emang gak punya hati, Zy. Mentang-mentang lo dicintai, lo berbuat seenaknya ke Clara. Lo pikir, Clara gak punya hati?"

"Emang, lo pikir, manusia yang tak berhati ini punya hati?" tanya balik Zyan.

Stevie yang telah sampai di halaman rumahnya, menyaksikan keributan yang baru saja dimulai itu. Wajahnya tampak begitu lesu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!