"Apa yang terjadi? Kenapa Daddy membunuh Kelvin?" Uwais sudah sadar dan mendengar bunyi tembakan.
Segera menghampiri Kelvin untuk melihat kondisi temannya. Tapi sayang, Kelvin sudah tiada. Uwais yang belum tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya pun menjadi kesal.
"Ini semua sebab kau kan perempuan!" Maki Uwais sambil menunjuka wajah Alia di belakang Bram.
Alia bersembunyi dengan ketakutan. "Aku sama sekali tidak bersalah, Is." Lirih Alia.
"Alia cuma berusaha menyelamatkan kamu, Is. Jangan buat dia takut seperti itu. Berterima kasih lah padanya. Berkat dia kami berhasil menemukanmu dan sempat menyelamatkan mu dari teman beracunmu itu," sahut Bram menghalangi Uwais agar tidak menyakiti Alia.
"Apa yang Daddy merepek, nih. Jelas-jelas Kelvin yang selama ini selalu menjagaku, menemani dan memastikan aku tidak kembali memakai barang-barang haram itu. Tapi malah kalian bunuh dengan kejam!" kata Uwais dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.
"Dia melakukan itu semua karena mencintai kamu. Dia seorang g*y!" jelas Bram.
Uwais kaget seakan tidak percaya kenyataan yang baru saja ia dengar. Ternyata teman yang selama ini menemaninya menatapnya dengan penuh keinginan. Ia tahu jika apartemen ini adalah milik Kelvin dan ia sering menginap di sana saat mabuk.
*
*
*
Izati sama sekali tidak bisa memejamkan mata saking cemasnya pada kondisi sang anak. Hana pun turut menunggu kepulangan Uwais dengan gelisah tidak jauh dari ruang keluarga.
Setelah lama menunggu, akhirnya mereka sudah datang. Uwais langsung berjalan masuk ke kamarnya tanpa menghiraukan siapa pun. Termasuk Hana yang berada di pojokan.
Hana memberanikan diri mengikuti sang suami menuju kamar mereka. Tapi di halang oleh Izati. "Jangan ganggu dia dulu," ketusnya.
Hana hanya bisa menatap punggung suaminya menghilang dari penglihatannya. Ia begitu merasa bersalah atas kejadian kemarin malam di kamar mereka. Berinisiatif meminta maaf tapi Hana khawatir jika waktunya kurang tepat untuk menemui Uwais.
"Mari, Non. Malam ini tidur bersama Non Nisa aja di kamarnya," saran Mbak Surti sambil merangkul Hana menuju kamar Qairunnisa.
"Aku ingin menemui Tuan Muda, Mbak. Aku tidak akan bisa tenang jika belum mendapatkan maaf darinya," lirih Hana.
"Nona masuk aja dulu, nanti kita bincang yah. Saya harus menemui adiks saya untuk memastikan di mana akar permasalahan Tuan Muda." Mbak Surti meninggal Hana di dalam kamar Qairunnisa.
Mbak Surti yakin Qairunnisa bisa sedikit menghibur Hana untuk sementara waktu sampai ia kembali. Dia harus menemui adiknya yang bekerja sebagai anak buah kepercayaan Bram. Mereka memang selalu bertukar informasi agar memudahkan pekerjaan mereka menjaga dan melindungi keluarga ini.
Beberapa menit kemudian, Mbak Surti sudah kembali dengan mengantongi informasi penting tentang Uwais. Saat melewati kamar tuan mudanya itu. Terdengar jelas di telinganya benda-benda berjatuhan seperti dilempar dengan kuat.
"Tuan Muda sedang emosi sekarang. Aku harus memberitahu tahu Non Hana tentang ini. Hanya dia yang bisa menenangkan Tuan Muda. Aku yakin itu seratus persen." Mbak Surti segera berlari ke kamar Qairunnisa yang berjarak beberapa kamar dari kamar Uwais.
Mbak Surti langsung menerobos masuk tanpa mengetok terlebih dahulu. Ternyata Qairunnisa udah tidur. Hana segera menghampirinya.
"Dapat informasi apa?" tanya Hana penasaran bercampur cemas.
"Tuan Muda sedang kecewa dengan teman dekatnya. Ternyata selama ini temannya itu g*y. Tuan Muda kecewa dan sekarang sedang marah-marah dalam kamar. Nona harus segera ke sana untuk nenangin Tuan Muda kalau tidak maka dia akan kembali drop," ucap Mbak Surti dengan panjang lebar.
Tanpa berlama-lama lagi, Hana bergegas keluar menemui suaminya. Ia tampak sangat khawatir dengan keadaan sang suami. Meskipun belum menyadari cinta di hatinya, wanita itu tetap wanita yang harus selalu berada di samping pria yang bergelar suaminya saat sedang kalut.
Prak,,,
Hana membuka pintu dengan kuat tapi sama sekali tidak dipedulikan oleh Uwais. Pria itu tetap fokus menghancurkan semua barang yang ada di dalam kamarnya. Bingkai, cermin, perawatan wajah mereka sudah berhamburan di lantai.
Wajah Uwais juga tampak sangat frustasi dan tertekan. Darah mengalir deras di tangannya karena di gunakan memukul cermin hingga pecah dan dinding untuk melampiaskan emosi.
Meskipun masih tampak l emosi, Hana tetap memberanikan diri menghampiri dan memeluk suaminya dari depan. "Maaf kan aku. Aku mohon jangan seperti ini. Hukum saja aku kalau itu yang bisa membuat kamu puas," lirih Hana sambil meneteskan air mata dalam pelukan suaminya.
Wanita muda itu begitu khawatir dengan keadaan suaminya. Dan aksi beraninya itu tidak mengecewakan. Ternyata pelukannya bisa menenangkan Uwais. Pria itu terduduk lemas ke lantai. Tangannya di biar tergeletak dengan lumuran darah.
Hana berusaha mengimbangi tubuhnya agar Uwais tidak merasa sakit. Ia kemudian melepas pelukannya tapi di tahan oleh sang suami. "Tetap lah seperti ini," lirih Uwais dengan dingin.
Hana nurut, ia kembali memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang. Tanpa mereka sadari, sebenarnya sudah ada benih-benih cinta di antara mereka.
Sebenarnya Uwais pergi ke bar bukan karena kesal atau kecewa pada Hana yang menolak melayaninya. Tapi ia kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan gejolak pada malam itu. Merasa bersalah telah memaksa Hana untuk melayaninya. Wajah sedih penuh permohonan Hana masih melekat dalam ingatannya.
Tapi ia gengsi untuk meminta maaf pada wanita itu. Tadi ia pikir Hana sudah tidak ingin dekat dengannya, atau takut padanya. Makanya ia semakin frustasi di tambah lagi dengan kenyataan buruk tentang Kelvin semakin menambah kekecewaannya.
Mengingat Kelvin, emosi Uwais kembali tersulut. Ia mendorong Hana menjauh darinya dengan kuat sehingga wanita itu terjungkal di lantai.
"Nggak papa. Ini adalah resiko yang harus ku jalani," gumam Hana dalam hati. Ia berusaha tegar dan tetap tersenyum dihadapan suaminya.
Melihat darah masih mengalir di tangan Uwais. Hana berinisiatif mencari obat untuk mengobati luka itu. Setelah puas mencari di setiap sudut kamar, ia akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Mbak Surti.
Setelah mendapatkan peralatan lengkap untuk membalut luka, Hana kembali menghampiri suaminya yang masih belum beranjak dari posisi tadi.
"Aku obati dulu yah lukanya."
Tanpa menunggu persetujuan Uwais, Hana telaten mengobati luka di tangan suaminya itu. Mata pria itu tak lepas dari terus memperhatikan istrinya. Wanita di hadapannya berhasil meluluhkan emosinya.
Sesekali Hana tampak meringis seakan luka itu ada di tubuhnya. Sedangkan Uwais santai-santai saja tanpa ada ekspresi.
"Sudah, siap." Hana berkata dengan ceria. Luka di tangan suaminya sudah berhasil di balut dengan penuh kelembutan.
Hana mengangkat wajahnya, tatapan mereka kembali bertemu membuat keduanya salah tingkah. Uwais segara memalingkan pandangannya ke arah lain sementara Hana kembali fokus pada luka di tangan pria itu.
"Ka-kalau boleh, jangan dibasahi dulu. Supaya lukanya cepat mengering." Hana tampak salah tingkah dan malah melepas tangan suaminya tanpa sengaja.
"Auch," rintih Uwais berpura-pura sakit.
"Aduh, maaf. Aku nggak sengaja." Hana mengusap tangan itu dengan lembut agar nyerinya sedikit hilang.
Kejadian yang menguras emosi yang sempat terjadi ternyata telah membuat keduanya bisa lebih dekat. Berbicara lebih santai tanpa ada batas diantara mereka berdua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments