Bab 20 Semakin dekat

"Apa yang terjadi? Kenapa Daddy membunuh Kelvin?" Uwais sudah sadar dan mendengar bunyi tembakan.

Segera menghampiri Kelvin untuk melihat kondisi temannya. Tapi sayang, Kelvin sudah tiada. Uwais yang belum tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya pun menjadi kesal.

"Ini semua sebab kau kan perempuan!" Maki Uwais sambil menunjuka wajah Alia di belakang Bram.

Alia bersembunyi dengan ketakutan. "Aku sama sekali tidak bersalah, Is." Lirih Alia.

"Alia cuma berusaha menyelamatkan kamu, Is. Jangan buat dia takut seperti itu. Berterima kasih lah padanya. Berkat dia kami berhasil menemukanmu dan sempat menyelamatkan mu dari teman beracunmu itu," sahut Bram menghalangi Uwais agar tidak menyakiti Alia.

"Apa yang Daddy merepek, nih. Jelas-jelas Kelvin yang selama ini selalu menjagaku, menemani dan memastikan aku tidak kembali memakai barang-barang haram itu. Tapi malah kalian bunuh dengan kejam!" kata Uwais dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.

"Dia melakukan itu semua karena mencintai kamu. Dia seorang g*y!" jelas Bram.

Uwais kaget seakan tidak percaya kenyataan yang baru saja ia dengar. Ternyata teman yang selama ini menemaninya menatapnya dengan penuh keinginan. Ia tahu jika apartemen ini adalah milik Kelvin dan ia sering menginap di sana saat mabuk.

*

*

*

Izati sama sekali tidak bisa memejamkan mata saking cemasnya pada kondisi sang anak. Hana pun turut menunggu kepulangan Uwais dengan gelisah tidak jauh dari ruang keluarga.

Setelah lama menunggu, akhirnya mereka sudah datang. Uwais langsung berjalan masuk ke kamarnya tanpa menghiraukan siapa pun. Termasuk Hana yang berada di pojokan.

Hana memberanikan diri mengikuti sang suami menuju kamar mereka. Tapi di halang oleh Izati. "Jangan ganggu dia dulu," ketusnya.

Hana hanya bisa menatap punggung suaminya menghilang dari penglihatannya. Ia begitu merasa bersalah atas kejadian kemarin malam di kamar mereka. Berinisiatif meminta maaf tapi Hana khawatir jika waktunya kurang tepat untuk menemui Uwais.

"Mari, Non. Malam ini tidur bersama Non Nisa aja di kamarnya," saran Mbak Surti sambil merangkul Hana menuju kamar Qairunnisa.

"Aku ingin menemui Tuan Muda, Mbak. Aku tidak akan bisa tenang jika belum mendapatkan maaf darinya," lirih Hana.

"Nona masuk aja dulu, nanti kita bincang yah. Saya harus menemui adiks saya untuk memastikan di mana akar permasalahan Tuan Muda." Mbak Surti meninggal Hana di dalam kamar Qairunnisa.

Mbak Surti yakin Qairunnisa bisa sedikit menghibur Hana untuk sementara waktu sampai ia kembali. Dia harus menemui adiknya yang bekerja sebagai anak buah kepercayaan Bram. Mereka memang selalu bertukar informasi agar memudahkan pekerjaan mereka menjaga dan melindungi keluarga ini.

Beberapa menit kemudian, Mbak Surti sudah kembali dengan mengantongi informasi penting tentang Uwais. Saat melewati kamar tuan mudanya itu. Terdengar jelas di telinganya benda-benda berjatuhan seperti dilempar dengan kuat.

"Tuan Muda sedang emosi sekarang. Aku harus memberitahu tahu Non Hana tentang ini. Hanya dia yang bisa menenangkan Tuan Muda. Aku yakin itu seratus persen." Mbak Surti segera berlari ke kamar Qairunnisa yang berjarak beberapa kamar dari kamar Uwais.

Mbak Surti langsung menerobos masuk tanpa mengetok terlebih dahulu. Ternyata Qairunnisa udah tidur. Hana segera menghampirinya.

"Dapat informasi apa?" tanya Hana penasaran bercampur cemas.

"Tuan Muda sedang kecewa dengan teman dekatnya. Ternyata selama ini temannya itu g*y. Tuan Muda kecewa dan sekarang sedang marah-marah dalam kamar. Nona harus segera ke sana untuk nenangin Tuan Muda kalau tidak maka dia akan kembali drop," ucap Mbak Surti dengan panjang lebar.

Tanpa berlama-lama lagi, Hana bergegas keluar menemui suaminya. Ia tampak sangat khawatir dengan keadaan sang suami. Meskipun belum menyadari cinta di hatinya, wanita itu tetap wanita yang harus selalu berada di samping pria yang bergelar suaminya saat sedang kalut.

Prak,,,

Hana membuka pintu dengan kuat tapi sama sekali tidak dipedulikan oleh Uwais. Pria itu tetap fokus menghancurkan semua barang yang ada di dalam kamarnya. Bingkai, cermin, perawatan wajah mereka sudah berhamburan di lantai.

Wajah Uwais juga tampak sangat frustasi dan tertekan. Darah mengalir deras di tangannya karena di gunakan memukul cermin hingga pecah dan dinding untuk melampiaskan emosi.

Meskipun masih tampak l emosi, Hana tetap memberanikan diri menghampiri dan memeluk suaminya dari depan. "Maaf kan aku. Aku mohon jangan seperti ini. Hukum saja aku kalau itu yang bisa membuat kamu puas," lirih Hana sambil meneteskan air mata dalam pelukan suaminya.

Wanita muda itu begitu khawatir dengan keadaan suaminya. Dan aksi beraninya itu tidak mengecewakan. Ternyata pelukannya bisa menenangkan Uwais. Pria itu terduduk lemas ke lantai. Tangannya di biar tergeletak dengan lumuran darah.

Hana berusaha mengimbangi tubuhnya agar Uwais tidak merasa sakit. Ia kemudian melepas pelukannya tapi di tahan oleh sang suami. "Tetap lah seperti ini," lirih Uwais dengan dingin.

Hana nurut, ia kembali memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang. Tanpa mereka sadari, sebenarnya sudah ada benih-benih cinta di antara mereka.

Sebenarnya Uwais pergi ke bar bukan karena kesal atau kecewa pada Hana yang menolak melayaninya. Tapi ia kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan gejolak pada malam itu. Merasa bersalah telah memaksa Hana untuk melayaninya. Wajah sedih penuh permohonan Hana masih melekat dalam ingatannya.

Tapi ia gengsi untuk meminta maaf pada wanita itu. Tadi ia pikir Hana sudah tidak ingin dekat dengannya, atau takut padanya. Makanya ia semakin frustasi di tambah lagi dengan kenyataan buruk tentang Kelvin semakin menambah kekecewaannya.

Mengingat Kelvin, emosi Uwais kembali tersulut. Ia mendorong Hana menjauh darinya dengan kuat sehingga wanita itu terjungkal di lantai.

"Nggak papa. Ini adalah resiko yang harus ku jalani," gumam Hana dalam hati. Ia berusaha tegar dan tetap tersenyum dihadapan suaminya.

Melihat darah masih mengalir di tangan Uwais. Hana berinisiatif mencari obat untuk mengobati luka itu. Setelah puas mencari di setiap sudut kamar, ia akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Mbak Surti.

Setelah mendapatkan peralatan lengkap untuk membalut luka, Hana kembali menghampiri suaminya yang masih belum beranjak dari posisi tadi.

"Aku obati dulu yah lukanya."

Tanpa menunggu persetujuan Uwais, Hana telaten mengobati luka di tangan suaminya itu. Mata pria itu tak lepas dari terus memperhatikan istrinya. Wanita di hadapannya berhasil meluluhkan emosinya.

Sesekali Hana tampak meringis seakan luka itu ada di tubuhnya. Sedangkan Uwais santai-santai saja tanpa ada ekspresi.

"Sudah, siap." Hana berkata dengan ceria. Luka di tangan suaminya sudah berhasil di balut dengan penuh kelembutan.

Hana mengangkat wajahnya, tatapan mereka kembali bertemu membuat keduanya salah tingkah. Uwais segara memalingkan pandangannya ke arah lain sementara Hana kembali fokus pada luka di tangan pria itu.

"Ka-kalau boleh, jangan dibasahi dulu. Supaya lukanya cepat mengering." Hana tampak salah tingkah dan malah melepas tangan suaminya tanpa sengaja.

"Auch," rintih Uwais berpura-pura sakit.

"Aduh, maaf. Aku nggak sengaja." Hana mengusap tangan itu dengan lembut agar nyerinya sedikit hilang.

Kejadian yang menguras emosi yang sempat terjadi ternyata telah membuat keduanya bisa lebih dekat. Berbicara lebih santai tanpa ada batas diantara mereka berdua.

Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!