Bab 19 Fitnah untuk Kelvin

Bel berbunyi dengan nyaring memekakkan telinga. Dengan kesal Kelvin menghampiri pintu dan mengintip siapa yang datang.

"Alia?" bingung Kelvin. Tapi seketika wajahnya berubah sumringan. Ia membuka pintu dengan semangat empat lima.

Ceklek

Pintu terbuka, Alia langsung menerobos masuk dengan langkah cepat. "Mana Uwais?" tanya Alia dengan tampang marah.

"Kamu kok marah sih, Al?" tanya Kelvin bingung.

"Bagaimana aku tidak marah? Orang tua Uwais sudah menghubungi polisi untuk mencarinya," sahut Alia kesal.

"Terus?" Kelvin sama sekali tidak peduli dengan kekhawatiran wanita di hadapannya.

"Jadi benar, Uwais ada di sini bersama Lo?" Alia kembali melanjutkan pencariannya di setiap sudut kamar. Ia menemukan Uwais terbaring di ranjang yang ada di kamar tamu.

"Untuk apa kamu melakukan ini, Vin? Gue mohon hentikan semua ini. Lo hanya akan membahayakan diri Lo sendiri," jelas Alia.

Ia kemudian menepuk-nepuk pipi Uwais mencoba menyadarkan pria itu. Tapi sama sekali tidak berhasil. "Lo apakan Uwais, Vin? Sampai dia tidak sadar seperti ini?" Alia semakin di buat kesal oleh pria aneh di hadapannya.

Kelvin hanya diam mendengar ocehan Alia. Baginya suara itu menjadi musik merdu di telinganya. Mengambil sebatang rokok lalu menikmatinya dengan santai.

Sikap Kelvin semakin memancing emosi Alia. "Lo benar-benar gila, Kelvin!" maki Alia sambil melempar bantal ke arah Kelvin.

Kelvin tetap tidak goyah. Ia malah tersenyum nakal pada Alia agar wanita itu semakin kesal padanya. "Lo mau masuk penjara? Lo mau mati di tangan Tuan Bram saat dia berhasil tahu kalau Lo lah pelaku yang sebenarnya?" teriak Alia mengingatkan.

Kelvin tetap diam sambil menikmati rokoknya.

"Lo gila, Kelvin? Gue benci pria seperti Lo!" Sambung Alia lepas kendali.

Kelvin akhirnya meletakkan rokoknya dengan keras di atas meja sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Alia berubah menjadi ciut melihat Kelvin berubah kesal padanya. Jarak mereka semakin dekat tapi Alia berusaha mundur untuk menjauhi Kelvin.

"Silahkan Lo benci sama gue, silahkan! Selama ini aku selalu mencoba mendekati Lo tapi apa yang gue terima. Penolakan! Sekuat apa pun gue berjuang untuk mendapatkan Lo tapi tetap saja tidak bisa meluluhkan hati Lo. Hanya ada Uwais, Uwais dan Uwais?" kata Kelvin sambil maju perlahan menghampiri Alia.

"Gu-gue minta maaf, Vin. Gue tahu, gue salah. Tapi jangan lakukan ini, ku mohon!" lirih Alia ketakutan. Ia sudah tidak bisa mundur lagi. Tubuhnya benar-benar montok bersandar di dinding.

"Gue nyerah untuk mendapatkan Lo, Al. Gue nyerah mencoba membahagiakan Lo dengan diriku sendiri. Makanya gue mencoba membahagia Lo melalui cowok yang Lo suka. Dengan melihat Lo bahagia pasti akan membuat aku bahagia. Tapi cowok yang Lo suka ini malah udah kawin bersama wanita lain." Kelvin terus mengoceh, matanya mulai berembun menandakan betapa hancurnya hatinya saat ini.

Alia tercengang mendengar penjelasan Kelvin yang mengatakan pria yang ia cintai sudah menikah. "Bagaimana mungkin? Kemarin gue datang ke rumahnya, tapi Tante Izati sama sekali tidak mengatakan apapun tentang hal ini," ucap Alia tidak percaya dengan ucapan Kelvin.

"Kalau aku bohong sama kamu ... untuk apa aku membawa Uwais ke sini. Aku hanya tidak ingin kamu sedih dan kecewa. Aku akan pastikan pria yang kamu cintai tidak menjadi milik orang lain. Harusnya kamu berterima kasih sama aku, bukan malah sebaliknya!" Kelvin mendekati Alia dengan sorot mata penuh hasrat.

"Lo mau apa, Vin? Jangan macam-macam sama gue! Kalau tidak aku akan bunuh diri!" Ancam Alia mengeluarkan pisau dari dalam tasnya.

Ia tahu begitu cintanya Kelvin padanya sehingga pria itu tidak ingin menyakitinya sedikit pun. Tapi tidak untuk sekarang. Kelvin sudah terlalu menginginkan Alia.

"Seharusnya kamu memberiku sedikit saja imbalan. Aku sudah bersusah payah melakukan semua ini hanya untuk kamu," Kelvin mendekati Alia dengan wajah yang menyeramkan.

"Gue mohon, Vin. Jangan lakukan itu, kalau Lo tetap melakukan itu maka gue selamanya tidak akan menemui lo lagi." ancam Alia, tapi Kelvin tetap pada keinginannya untuk menyantap Alia.

Sebelum Kelvin berhasil mendekatinya, Alia sempat share lokasi pada Izati.

*

*

*

Hana sama sekali tidak bisa tenang, ia mondar-mandir di dalam kamar khawatir dengan keselamatan suaminya. Ia bingung harus melakukan apa untuk membantu mencari keberadaan Uwais sementara dia juga sangat minim kenalan.

Tiba-tiba pintu di buka oleh Mbak Surti yang ingin menyampaikan sesuatu padanya. "Tuan Muda udah ketemu, Non." Ujar Mbak Surti dengan gembira.

"Oh, yah. Syukur lah." Hana akhirnya bisa bernafas lega.

Sementara itu di lantai bawah. Bram segera mengerahkan anak buahnya untuk menyelidiki lokasi Alia. Memang belum jelas tapi mereka yakin jika Alia berniat untuk menyampaikan dimana keberadaan putranya sekarang.

"Mommy ikut, Dad." Izati memohon pada suaminya.

"Nggak perlu, Mommy tunggu di rumah aja yah." Bram bergegas masuk ke dalam mobil yang sudah disediakan oleh anak buahnya.

Izati terduduk lemas. Ia khawatir pada keselamatan putranya dan kini ia juga khawatir pada gadis pilihannya. Ia berhutang Budi pada Alia karena sudah mau membantu mencari keberadaan Uwais.

"Semoga kalian baik-baik saja," gumam Izati berdoa.

*

*

*

"Periksa CCTV gedung ini! temukan anak saya tanpa mengganggu kenyamanan orang lain." Bram sudah sampai di gedung apartemen dimana Kelvin tinggal.

Anak buahnya berkerja dengan cepat. Mereka sudah menemukan beberapa potongan CCTV yang mencurigakan. Pihak gedung apartemen terpaksa membuka akses untuk Bram dan anak buahnya masuk ke unit yang mereka mau. Bram sudah terkenal dengan kekejamannya. Meskipun tampak santai tapi dia orangnya tegas.

"Buka cepat!" perintah Bram. Agar tidak menggangu orang lain. Bram hanya membawa beberapa anak buahnya yang terpercaya dan telaten.

Mereka sudah berhasil membobol masuk, segera mencari keberadaan Uwais dan samar-samar mendengar teriakan seseorang.

"Jangan!"

Suara itu jelas terdengar oleh mereka. Mencari di mana sumber suara itu. Bram mendapati Kelvin berusaha memperkosa Alia. Meskipun bajunya sudah compang-camping tapi wanita itu masih berusaha melawan.

"Om Bram!" seru Alia berlari menghampiri Bram lalu bersembunyi di balik punggung pria paruh baya itu. "Tolong aku, Om." lirihnya.

Kelvin tampak bingung dan kaget dengan kedatangan Bram dan anak buahnya secara tiba-tiba tanpa dia ketahui. "Bagaimana kalian bisa masuk?" Kelvin tampak geram.

Bram tidak habis pikir. Ternyata teman terdekat putranya sendiri yang berani berurusan dengan nya. "Jadi dia dalang dari semua ini,"

"Iya, Om. Kelvin terobsesi pada Uwais makanya dia tidak terima jika Uwais sudah menikah," sahut Alia berbohong.

Kelvin menatapnya nyalang. Wanita yang di cintainya memfitnahnya begitu kejam. Ia bukan seorang g*y yang menyukai sesama sejenis. Buktinya ia masih berusaha memperkosa Alia tadi.

"Berani Lo mem-" Kelvin menghampiri Alia untuk memberi perhitungan tapi langkahnya di hentikan oleh Bram.

"Selangkah kamu maju maka nyawamu melayang detik ini juga," Bram menodongkan pistol ke kepala Kelvin.

Pria itu sama sekali tidak takut mati. "Om harus ingat, dia bukan wanita baik-baik seperti yang Om pi-"

DORRR

Satu tembakan bergema seisi ruangan.

Terpopuler

Comments

Dhe K

Dhe K

penyelesaian masalah yg mudah.
dorrr

2024-02-11

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!