Bab 10 Qarny dan Rentara

Aiman Rentara merupakan CEO di Perusahaan Rentara yang di wariskan padanya. Perusaan yang tak kalah besar dari Perusahaan Qarny. Juga memiliki bisnis sampingan seperti restoran bintang lima, mall mewah, hotel dan beberapa bisnis lain. Dia juga memiliki sisi gelap yang jarang orang ketahui kecuali orang kepercayaan nya.

Perusahaan Rentara merupakan saingan ketat Perusahaan Qarny dari turun temurun. Selalu berusaha menjatuh kan antara satu sama lain. Hendra Rentara, ayah Aiman, sangat membenci Pratama Qarny di masa lalu. Pratama Qarny dan Hendra Rentara sempat bertengkar hingga akhirnya mereka meregang nyawa di tempat dan waktu yang sama.

Aiman Rentara dan Bram Qarny sangat mengetahui permusuhan orang tua mereka sehingga menyimpulkan persepsi masing-masing. Saling menyalahkan antara satu sama lain. Hasil otopsi mayat Hendra dan Pratama di masa lalu mengatakan bahwa mereka terlibat pertengkaran hebat sehingga mengakibatkan kematian untuk keduanya.

"Jangan sampai Perusahaan Rentara berhasil merebut klien kita! Kita harus selangkah lebih maju berbanding mereka. Kalau perlu seribu langkah lebih di hadapan mereka!" Bram berbicara dengan anak buahnya melalui panggilan telepon.

Wajahnya tampak dipenuhi dengan dendam. Terpancar jelas penuh dendam. Ia kemudian mengambil foto dari dalam laci mejanya lalu menatapnya dengan wajah yang berubah sedih.

"Kalian jangan khawatir ... aku akan membalaskan dendam kalian pada seluruh keturunan Rentara. Mereka tidak akan pernah hidup tenang selagi aku masih hidup. " gumam Bram sambil mengusap layar foto itu.

***

Motor Uwais melaju dengan kencang melewati perkotaan. Tapi tiba-tiba Uwais menghentikan motornya di pinggir jalan di sebabkan kesal pada tingkah laku Hana yang dari tadi mencubit lengannya sambil berteriak kencang.

"Aku turunin di sini baru tahu rasa kamu!" Ancam Uwais dengan wajah kesal.

"Habisnya Tuan Muda bawanya laju banget. Aku sampai takut. Makanya aku berteriak tapi Tuan Muda sama sekali tidak peduli. Ya saya cubit lah," sahut Hana membela diri.

"Dasar kamu, yah. Naik mobil, mabuk. Naik Motor malah nggak suka kencang. Naik kuda aja sana!" Ujar Uwais kesal.

"Ada benarnya juga saran Tuan Muda. Nanti kalau saya sudah gajian, saya akan mencari kuda untuk berangkat kerja." Hana mencoba menghibur dirinya dan juga Uwais yang tampak sangat kesal padanya.

"Begok dipelihara." Uwais sebenarnya membawa motor dengan laju disebabkan kesal bertemu dengan musuh bebuyutan keluarganya. Dia sampai lupa dengan keselamatan istri dan dirinya sendiri.

"Mau lanjut atau aku tinggal di sini sendiri?" Uwais kembali naik ke atas motor.

Hana menatap sekeliling memperhatikan dimana lokasi mereka sekarang. Kawasan hutan yang masih jauh dari kampungnya. "Jangan ngebut, ya," lirih Hana dengan berat hati akan kembali dibonceng oleh suaminya.

"Bawel banget, sih. Naik cepat!" Uwais sudah ingin menarik gas tapi Hana dengan cepat menahannya.

"Saya aja yang bawa motornya bagaimana?" tawar Hana membuat Uwais tidak bisa lagi bersabar.

"Baik lah kalau begitu. Tinggal aja di sini seorang diri," ucap Uwais.

"Eh, iya iya. Aku naik. Hati-hati tapi," sahut Hana pasrah.

"Iya bawel." Motor kembali melaju dengan kecepatan sedang, Hana juga tidak perlu lagi memeluk Uwais untuk berpegangan. Ada yang mengganjal di pikiran Uwais tentang Hana yang dari tadi terpaksa dia singkirkan.

"Kenapa kemarin kamu tidak mabuk saat kita ke kota?" tanya Uwais penasaran.

"Em ... Entah lah, Tuan. Mungkin kemarin saya terlalu sedih atau bagaimana sampai saya lupa untuk mabuk. He he," geli Hana. Ia juga sampai lupa ternyata kemarin dia tidak mabuk saat naik mobil.

Bibir Uwais juga sedikit tertarik mendengar kejujuran istrinya. "Walaupun nyeselin setidaknya dia lucu," gumam Uwais dalam hati.

Uwais teringat pada pertemuan mereka dengan Aiman tadi saat dijalan. Ia berniat memanfaatkan Hana untuk mengorek informasi penting tentang perusahaan musuhnya.

"Kamu bekerja sebagai apa di Perusahaan Rentara?" tanya Uwais.

"Perusahaan Rentara? Saya tidak bekerja di sana?" jawab Hana jujur.

"Terus kamu kenal Aiman darimana?" tanya Uwais lagi.

"Oh, Pak Aiman. Saya cuma jadi cleaning service di salah satu hotel milik Pak Aiman," jawab Hana membuat Uwais sedikit kecewa.

"Oh, ya udah." Uwais tidak lagi mengajak Hana ngobrol. Ia fokus mengendarai motor hingga sampai di depan rumah Hana.

Melihat kedatangan Hana dan suaminya mengundang perhatian warga kampung. Bisik-bisik tetangga sudah di mulai dengan pelbagai gosip yang entah dari mana akar munculnya.

"Rumah kok sepi, yah. Pakai gembok. Kemana perginya mereka semua?" Hana tampak bingung dengan keadaan rumah nya yang digembok.

Halaman rumah juga masih berantakan sisa pelaminan kemarin. Belum disapu dan masih banyak sampah yang berhamburan. Padahal hari sudah mulai tengah hari tapi semua masih tampak berantakan.

"Kemana mereka?" tanya Uwais.

"Kalau saya tahu ... Saya tidak akan datang, Tuan. Buat penat aja tau nggak," jawab Hana.

Beberapa menit bengong tiba-tiba mereka semua sudah datang dengan meneteng beberapa barang belanjaan.

"Eh, ada nak Uwais. Kenapa kalian datang tak bagi tau dulu? Kami sama sekali tidak membuat persiapan untuk menyambut kalian," sapa Aisyah dengan wajah sumbringan menyambut menantu kesayangannya.

"Eh, Kak Is datang pasti nak ketemu Lisya, kan. Pasti ingin menukar Hana yang nggak becus ini," ucap Alisya dengan genit. Mencoba menggenggam tangan Uwais tapi dengan cepat di tepis oleh pria itu.

Wajah Uwais tampak merah menahan geram dan jijik sekaligus. Ia sebenarnya tidak suka dekat-dekat dengan wanita terutama dari kalangan rendah seperti mereka. Tapi entah kenapa dia malah nyaman dengan kehadiran Hana. Cuma dia belum menyadari itu.

Tapi sikap pria itu sana sekali tidak memudarkan semangat Alisya untuk menggodanya. Ardi segera membuka gembok pintu agar mereka bisa segera masuk ke dalam rumah.

"Mari masuk, Nak Uwais. Saya buatkan kopi," tawar Nek Wati pada cucu menantunya.

Tapi Uwais sama sekali tidak merespon wanita tua itu. Ia beralih Menatap Hana dan berkata, "Ambil semua yang kamu inginkan lalu pulang," titah Uwais dengan wajah datar.

Terlintas pikiran jahil untuk mengerjai kelurganya. Hana akan membuat semua kesal dengan kedekatannya dengan Uwais supaya berhenti berharap pada pria itu. Terutama harapan miadiknya yang dari tadi berusaha mendekati suaminya.

"Aduh, Sayang. Kita masuk ke dalam dulu, yuk. Kamu bilang mau kenal aku lebih dalam. Jadi kamu harus masuk dan lihat dimana tempat tidurku." Hana bergelayut di lengan Uwais dengan manja. Sebelum itu ia tidak lupa untuk mengedipkan mata pada suaminya sebagai kode.

"Kamu apa-apain, sih?" bisik Uwais tidak suka dengan sikap Hana.

"Kali ini aja. Please," sahut Hana juga dengan berbisik sekecil mungkin supaya keluarganya tidak dapat mendengarkan obrolan mereka. Matanya berkedip memohon pertolongan.

Terenyuh dengan wajah memelas dan perlakuan keluarganya, Uwais memutuskan untuk setuju membantu Hana dengan senyum terpaksa di bibirnya.

Alisya dan ibunya saling senggol menyaksikan adegan mesra Hana bersama pria idamannya. "Kok mereka kelihatan mesra banget sih, Bu." Bisik Alisya tidak suka.

"Kamu tenang saja ya, Sayang. Hana pasti hanya sengaja ingin memanas-manasi kita. Tidak mungkin putra Pak Bram itu tiba-tiba suka pada si Hana yang jelek itu." Aisyah mencoba menenangkan putri kesayangannya.

"Nenek pikir Nak Uwais datang untuk pulangkan Hana. Secara dia ini cucu yang paling tidak becus di keluarga ini." Wati berusaha membuat Hana tampak buruk di depan Uwais.

Tiada siapa pun yang menyayanginya. Keluarganya hanya memanfaatkan kehadirannya dalam keluarga mereka.

Uwais tiba-tiba melepas tangan Hana. Wajahnya kini kembali berubah datar. Hana khawatir suaminya itu malah percaya dengan ucapan neneknya.

Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!