Aiman Rentara merupakan CEO di Perusahaan Rentara yang di wariskan padanya. Perusaan yang tak kalah besar dari Perusahaan Qarny. Juga memiliki bisnis sampingan seperti restoran bintang lima, mall mewah, hotel dan beberapa bisnis lain. Dia juga memiliki sisi gelap yang jarang orang ketahui kecuali orang kepercayaan nya.
Perusahaan Rentara merupakan saingan ketat Perusahaan Qarny dari turun temurun. Selalu berusaha menjatuh kan antara satu sama lain. Hendra Rentara, ayah Aiman, sangat membenci Pratama Qarny di masa lalu. Pratama Qarny dan Hendra Rentara sempat bertengkar hingga akhirnya mereka meregang nyawa di tempat dan waktu yang sama.
Aiman Rentara dan Bram Qarny sangat mengetahui permusuhan orang tua mereka sehingga menyimpulkan persepsi masing-masing. Saling menyalahkan antara satu sama lain. Hasil otopsi mayat Hendra dan Pratama di masa lalu mengatakan bahwa mereka terlibat pertengkaran hebat sehingga mengakibatkan kematian untuk keduanya.
"Jangan sampai Perusahaan Rentara berhasil merebut klien kita! Kita harus selangkah lebih maju berbanding mereka. Kalau perlu seribu langkah lebih di hadapan mereka!" Bram berbicara dengan anak buahnya melalui panggilan telepon.
Wajahnya tampak dipenuhi dengan dendam. Terpancar jelas penuh dendam. Ia kemudian mengambil foto dari dalam laci mejanya lalu menatapnya dengan wajah yang berubah sedih.
"Kalian jangan khawatir ... aku akan membalaskan dendam kalian pada seluruh keturunan Rentara. Mereka tidak akan pernah hidup tenang selagi aku masih hidup. " gumam Bram sambil mengusap layar foto itu.
***
Motor Uwais melaju dengan kencang melewati perkotaan. Tapi tiba-tiba Uwais menghentikan motornya di pinggir jalan di sebabkan kesal pada tingkah laku Hana yang dari tadi mencubit lengannya sambil berteriak kencang.
"Aku turunin di sini baru tahu rasa kamu!" Ancam Uwais dengan wajah kesal.
"Habisnya Tuan Muda bawanya laju banget. Aku sampai takut. Makanya aku berteriak tapi Tuan Muda sama sekali tidak peduli. Ya saya cubit lah," sahut Hana membela diri.
"Dasar kamu, yah. Naik mobil, mabuk. Naik Motor malah nggak suka kencang. Naik kuda aja sana!" Ujar Uwais kesal.
"Ada benarnya juga saran Tuan Muda. Nanti kalau saya sudah gajian, saya akan mencari kuda untuk berangkat kerja." Hana mencoba menghibur dirinya dan juga Uwais yang tampak sangat kesal padanya.
"Begok dipelihara." Uwais sebenarnya membawa motor dengan laju disebabkan kesal bertemu dengan musuh bebuyutan keluarganya. Dia sampai lupa dengan keselamatan istri dan dirinya sendiri.
"Mau lanjut atau aku tinggal di sini sendiri?" Uwais kembali naik ke atas motor.
Hana menatap sekeliling memperhatikan dimana lokasi mereka sekarang. Kawasan hutan yang masih jauh dari kampungnya. "Jangan ngebut, ya," lirih Hana dengan berat hati akan kembali dibonceng oleh suaminya.
"Bawel banget, sih. Naik cepat!" Uwais sudah ingin menarik gas tapi Hana dengan cepat menahannya.
"Saya aja yang bawa motornya bagaimana?" tawar Hana membuat Uwais tidak bisa lagi bersabar.
"Baik lah kalau begitu. Tinggal aja di sini seorang diri," ucap Uwais.
"Eh, iya iya. Aku naik. Hati-hati tapi," sahut Hana pasrah.
"Iya bawel." Motor kembali melaju dengan kecepatan sedang, Hana juga tidak perlu lagi memeluk Uwais untuk berpegangan. Ada yang mengganjal di pikiran Uwais tentang Hana yang dari tadi terpaksa dia singkirkan.
"Kenapa kemarin kamu tidak mabuk saat kita ke kota?" tanya Uwais penasaran.
"Em ... Entah lah, Tuan. Mungkin kemarin saya terlalu sedih atau bagaimana sampai saya lupa untuk mabuk. He he," geli Hana. Ia juga sampai lupa ternyata kemarin dia tidak mabuk saat naik mobil.
Bibir Uwais juga sedikit tertarik mendengar kejujuran istrinya. "Walaupun nyeselin setidaknya dia lucu," gumam Uwais dalam hati.
Uwais teringat pada pertemuan mereka dengan Aiman tadi saat dijalan. Ia berniat memanfaatkan Hana untuk mengorek informasi penting tentang perusahaan musuhnya.
"Kamu bekerja sebagai apa di Perusahaan Rentara?" tanya Uwais.
"Perusahaan Rentara? Saya tidak bekerja di sana?" jawab Hana jujur.
"Terus kamu kenal Aiman darimana?" tanya Uwais lagi.
"Oh, Pak Aiman. Saya cuma jadi cleaning service di salah satu hotel milik Pak Aiman," jawab Hana membuat Uwais sedikit kecewa.
"Oh, ya udah." Uwais tidak lagi mengajak Hana ngobrol. Ia fokus mengendarai motor hingga sampai di depan rumah Hana.
Melihat kedatangan Hana dan suaminya mengundang perhatian warga kampung. Bisik-bisik tetangga sudah di mulai dengan pelbagai gosip yang entah dari mana akar munculnya.
"Rumah kok sepi, yah. Pakai gembok. Kemana perginya mereka semua?" Hana tampak bingung dengan keadaan rumah nya yang digembok.
Halaman rumah juga masih berantakan sisa pelaminan kemarin. Belum disapu dan masih banyak sampah yang berhamburan. Padahal hari sudah mulai tengah hari tapi semua masih tampak berantakan.
"Kemana mereka?" tanya Uwais.
"Kalau saya tahu ... Saya tidak akan datang, Tuan. Buat penat aja tau nggak," jawab Hana.
Beberapa menit bengong tiba-tiba mereka semua sudah datang dengan meneteng beberapa barang belanjaan.
"Eh, ada nak Uwais. Kenapa kalian datang tak bagi tau dulu? Kami sama sekali tidak membuat persiapan untuk menyambut kalian," sapa Aisyah dengan wajah sumbringan menyambut menantu kesayangannya.
"Eh, Kak Is datang pasti nak ketemu Lisya, kan. Pasti ingin menukar Hana yang nggak becus ini," ucap Alisya dengan genit. Mencoba menggenggam tangan Uwais tapi dengan cepat di tepis oleh pria itu.
Wajah Uwais tampak merah menahan geram dan jijik sekaligus. Ia sebenarnya tidak suka dekat-dekat dengan wanita terutama dari kalangan rendah seperti mereka. Tapi entah kenapa dia malah nyaman dengan kehadiran Hana. Cuma dia belum menyadari itu.
Tapi sikap pria itu sana sekali tidak memudarkan semangat Alisya untuk menggodanya. Ardi segera membuka gembok pintu agar mereka bisa segera masuk ke dalam rumah.
"Mari masuk, Nak Uwais. Saya buatkan kopi," tawar Nek Wati pada cucu menantunya.
Tapi Uwais sama sekali tidak merespon wanita tua itu. Ia beralih Menatap Hana dan berkata, "Ambil semua yang kamu inginkan lalu pulang," titah Uwais dengan wajah datar.
Terlintas pikiran jahil untuk mengerjai kelurganya. Hana akan membuat semua kesal dengan kedekatannya dengan Uwais supaya berhenti berharap pada pria itu. Terutama harapan miadiknya yang dari tadi berusaha mendekati suaminya.
"Aduh, Sayang. Kita masuk ke dalam dulu, yuk. Kamu bilang mau kenal aku lebih dalam. Jadi kamu harus masuk dan lihat dimana tempat tidurku." Hana bergelayut di lengan Uwais dengan manja. Sebelum itu ia tidak lupa untuk mengedipkan mata pada suaminya sebagai kode.
"Kamu apa-apain, sih?" bisik Uwais tidak suka dengan sikap Hana.
"Kali ini aja. Please," sahut Hana juga dengan berbisik sekecil mungkin supaya keluarganya tidak dapat mendengarkan obrolan mereka. Matanya berkedip memohon pertolongan.
Terenyuh dengan wajah memelas dan perlakuan keluarganya, Uwais memutuskan untuk setuju membantu Hana dengan senyum terpaksa di bibirnya.
Alisya dan ibunya saling senggol menyaksikan adegan mesra Hana bersama pria idamannya. "Kok mereka kelihatan mesra banget sih, Bu." Bisik Alisya tidak suka.
"Kamu tenang saja ya, Sayang. Hana pasti hanya sengaja ingin memanas-manasi kita. Tidak mungkin putra Pak Bram itu tiba-tiba suka pada si Hana yang jelek itu." Aisyah mencoba menenangkan putri kesayangannya.
"Nenek pikir Nak Uwais datang untuk pulangkan Hana. Secara dia ini cucu yang paling tidak becus di keluarga ini." Wati berusaha membuat Hana tampak buruk di depan Uwais.
Tiada siapa pun yang menyayanginya. Keluarganya hanya memanfaatkan kehadirannya dalam keluarga mereka.
Uwais tiba-tiba melepas tangan Hana. Wajahnya kini kembali berubah datar. Hana khawatir suaminya itu malah percaya dengan ucapan neneknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments