"Stop pak, aku mohon jangan sakiti ayahku," pinta Hana pada Bram. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang amat mendalam, ia tetap tidak tega melihat keluarganya disakiti.
Tadi ia sempat bernafas lega karena terselamatkan dari pernikahan tanpa cinta ini tapi setelah ia mengetahui semua sebabnya hanya semakin membuat hatinya tercabit-cabit.
Bram melepaskan Ardi tapi wajahnya masih tampak merah menahan amarah. Dia tahu yang paling tersakiti disini bukan dirinya melainkan Hana.
"Terkadang aku selalu bertanya pada diri sendiri sebenarnya aku ini anak kandung kalian atau hanya anak angkat yang kalian besarkan secara terpaksa," gumamnya dalam hati.
Air mata Hana sudah habis hanya untuk menangisi perlakuan keluarganya. Berharap suatu hari nanti mereka berubah dan turut mencintainya seperti mereka mencintai Alisyah selamanya hanya akan menjadi harapan. Sudah cukup lama ia menantikan momen itu dan sekarang ia memilih berdamai dengan takdir.
"Saya tetap pada kesepakatan awal. Anak sulung kamu lah yang tetap menjadi mempelai wanita pada hari ini. Jika kalian tidak setuju dan tetap ngotot meminta Alisyah menjadi menantu saya maka lunasi saja hutang kalian dalam waktu 24 jam." Lalu menunjuk ke arah Alisyah hingga membuat wanita itu gelagapan.
"Jika tidak maka anak kesayangan kamu itu sendiri yang harus menanggung akibat dari perbuatannya." Bram mengancam dengan memainkan pistolnya di jarinya.
Bram paling tidak suka pada orang yang plin-plan apalagi sejenis dengan keluarga Ardi yang sama sekali tidak memiliki urat malu.
Semua orang tidak bisa lagi membantah ucapan Bram termasuk Alisyah yang merasa menyesal karena tidak bisa menjadi istri dari pria incarannya. Padahal jika ia berhasil menjadi istri Uwais dan menjadi menantu keluarga Qarny maka dia akan populer, semua teman kuliahnya akan iri padanya.
"Tapi ibu, kak Is adalah cinta pertamaku," gumam Alisya dengan wajah memelas. Ia masih mencoba meminta bantuan ibunya agar memenuhi keinginannya.
"Sudah lah Alisyah. Sekarang kita mengalah dulu pada Hana yah. Kamu lihat sendiri kan betapa kejamnya pak Bram. Kalau kamu tetap ngotot malah nanti kamu sendiri yang susah." Bujuk Aisyah dengan berbisik.
Sebenarnya dia juga tidak ikhlas kalau pria incaran anak kesayangannya malah menjadi suami Hana. Tapi daripada berurusan lebih panjang lagi dengan Bram dia memilih mengalah saja. "Aku akan pikirkan cara lain untuk merebut suami Hana untuk Alisyah kelak."
Hana pun tampak diam tanpa ada senyuman di wajahnya. Hari ini memang menjadi hari paling menyedihkan seumur hidupnya. "Aku nggak akan biarkan Alisyah berbuat sesuka hatinya lagi. Ternyata dia adalah penyebab segala masalah ini. Selalu ingin enaknya aja sementara aku yang harus menerima bangke dari perbuatannya." Gumam Hana.
***
"Sah?" tanya penghulu pada saksi.
"Sah," seru para saksi dilanjutkan dengan bacaan doa dari pak penghulu.
"Alhamdulillah ..."
Pernikahan yang paling menyedihkan tanpa ada seorang pun yang merasa bahagia dan bersyukur akan momen penting ini. Semua ini karena adanya muslihat dalam diri masing-masing.
"Kita pulang sekarang," imbuh Bram pada anak, menantu dan semua anak buahnya.
Alisyah yang masih belum puas dengan kejadian tadi berusaha menahan Bram seakan lupa pada ancaman Bram tadi. "Eh, om kok buru-buru sih? Sekarang kita udah jadi keluarga apa salahnya kalau kita makan bersama dulu supaya kita semua makin akrap," tawar Alisyah sesekali melirik Uwais yang notabene suami kakaknya sekarang.
Bram memberi isyarat pada anak buahnya untuk menyingkirkan Alisyah dari hadapannya. Urusannya di sini sudah selesai dan ia harus segera pergi untuk menyelesaikan urusan lain.
"Daddy pulang aja dulu, aku mau menyelesaikan sesuatu terlebih dahulu di sini," ujar Uwais.
Alisyah dan Aisyah saling melirik dan merasa senang sebab mereka punya kesempatan mendekati Uwais.
"Terserah kamu tapi jangan sampai kamu tidak membawa istri kamu ke hadapan mommymu nanti saat makan malam. Ingat dia sekarang sudah menjadi bagian keluarga Qarny." Bram mengingatkan sang anak.
Ardi, Aisyah dan Wati sudah bisa bernafas lega saat mobil Bram sudah tidak terlihat dihalaman rumah. Tapi-
Plakkk
Satu tamparan kembali mendarat ke pipi Hana. Matanya menatap sendu pada sang ayah yang menamparnya untuk kedua kalinya secara tiba-tiba atas sebab tak jelas. Alisyah tampak senang karena memang itu yang ia harapkan manakala Uwais tampak tidak peduli pada istrinya.
"Kenapa kamu nggak menolak tadi, hah! Semalam aja kamu mati-matian menolak menikah tapi sekarang kamu malah menikmatinya. Dasar tidak tahu diuntung!" maki Ardi kesal. Kini dia sudah menjadi orang berbeda di mata Hana.
"Benar tuh, Ayah.Kak Is ini adalah cowok populer dan sangat diidolakan di kampus aku. Dia sama sekali tidak layak bersanding dengan Kak Is. Hanya akan mempermalukan keluarga aja tahu nggak." Tak ingin kalah Alisyah juga berusaha menyudutkan Hana berusaha membuat gadis itu semakin bersedih.
"Tapi hakikatnya aku yang menjadi istrinya sekarang bukan kamu." Hana berusaha membela dirinya sendiri karena sudah tidak ada lagi yang bisa ia harapkan selain dirinya sendiri.
"Udah berani sekarang kamu yah! Baru juga jadi istri Kak Is beberapa menit yang lalu udah belagu aja. Kamu mau aku tam-" Alisyah berusaha menampar Hana tapi-
"Kenapa sikap kalian seolah-olah aku mau menikah begitu saja dengan kalian." Kini Uwais sudah tidak bisa diam dan tampak santai lagi. Tangan Alisyah di genggam kuat dan menghempasnya hingga perempuan itu tersungkur ke lantai.
"Aduh," lirih Alisya. Aisyah berusaha membantu anaknya bangkit.
Suasana tiba-tiba kembali mencekam lebih mendominasi berbanding saat Bram masih ada
Semua orang terdiam karena wajah Uwais kini tampak serius dan lebih arogan berbanding sang bapak. "Kalian pikir aku ini apa sehingga suka hati kalian mengatur jodohku ... dasar keluarga sampah!" maki Uwais.
"Karena ulah kalian ... aku harus nekat seperti ini!" sambungnya dengan penuh emosi. "Ingat! Jangan lagi menunjukkan wajah kalian di hadapanku!"
Hana terkesimah saat Uwais menarik tangannya dengan kasar keluar dari rumah menuju mobil. Tidak ada yang bisa menghalangi mereka karena ternyata Uwais lebih arogan dari bapaknya. Hana pun tampak pasrah meskipun tangannya terasa sakit akibat genggaman Uwais yang terlalu kuat, sakit di hatinya lebih mendominasi sehingga ia tidak lagi memperdulikan sakit yang lain.
"Masuk!" titah Uwais pada Hana dengan sedikit kesal.
Tanpa membantah Hana masuk tanpa menoleh ke rumah lagi. Mobil langsung melaju pergi meninggalkan luka yang cukup dalam pada hati Hana. Tapi dia belum sadar jika penderitaannya belum berakhir karena kehidupannya bersama keluarga Qarny akan lebih mencabar hati. Apakah Hana sanggup menghadapi cobaan hidup kedepannya?
Alisyah masih berdiri mematung di depan pintu memikirkan penyesalannya telah membuat Hana menikah dengan cowok idamannya. "Aachk... ." Tiba-tiba dia berteriak saking frustasinya membuat keluarganya khawatir.
"Ini semua sebab kalian!" geram Alisyah sambil mengarahkan jari telunjuknya ke wajah kedua orang tuanya lalu berlari masuk ke kamar dengan membanting pintu kuat.
***
Sepanjang perjalanan selama tiga jam tiada yang membuka suara antara Hana dan Uwais yang kini menjadi suami istri. Saling larut dalam pikiran masing-masing. Hana termenung memutar kembali setiap kenangan pahit bersama keluarganya. Pengorbanannya dan kerja kerasnya selama ini sama sekali tidak dihargai malah dengan sifatnya yang suka mengalah malah dimanfaatkan oleh mereka tanpa memikirkan perasaannya.
Setetes air bening membasahi pipinya dengan cepat ia mengusapnya dengan kasar. "Mereka tidak pantas ditangisi, air mataku terlalu berharga untuk mereka." Batin Hana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
uwu.__.uwu
Penuh makna
2024-01-07
0