Bab 4 Ancaman Uwais

"Stop pak, aku mohon jangan sakiti ayahku," pinta Hana pada Bram. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang amat mendalam, ia tetap tidak tega melihat keluarganya disakiti.

Tadi ia sempat bernafas lega karena terselamatkan dari pernikahan tanpa cinta ini tapi setelah ia mengetahui semua sebabnya hanya semakin membuat hatinya tercabit-cabit.

Bram melepaskan Ardi tapi wajahnya masih tampak merah menahan amarah. Dia tahu yang paling tersakiti disini bukan dirinya melainkan Hana.

"Terkadang aku selalu bertanya pada diri sendiri sebenarnya aku ini anak kandung kalian atau hanya anak angkat yang kalian besarkan secara terpaksa," gumamnya dalam hati.

Air mata Hana sudah habis hanya untuk menangisi perlakuan keluarganya. Berharap suatu hari nanti mereka berubah dan turut mencintainya seperti mereka mencintai Alisyah selamanya hanya akan menjadi harapan. Sudah cukup lama ia menantikan momen itu dan sekarang ia memilih berdamai dengan takdir.

"Saya tetap pada kesepakatan awal. Anak sulung kamu lah yang tetap menjadi mempelai wanita pada hari ini. Jika kalian tidak setuju dan tetap ngotot meminta Alisyah menjadi menantu saya maka lunasi saja hutang kalian dalam waktu 24 jam." Lalu menunjuk ke arah Alisyah hingga membuat wanita itu gelagapan.

"Jika tidak maka anak kesayangan kamu itu sendiri yang harus menanggung akibat dari perbuatannya." Bram mengancam dengan memainkan pistolnya di jarinya.

Bram paling tidak suka pada orang yang plin-plan apalagi sejenis dengan keluarga Ardi yang sama sekali tidak memiliki urat malu.

Semua orang tidak bisa lagi membantah ucapan Bram termasuk Alisyah yang merasa menyesal karena tidak bisa menjadi istri dari pria incarannya. Padahal jika ia berhasil menjadi istri Uwais dan menjadi menantu keluarga Qarny maka dia akan populer, semua teman kuliahnya akan iri padanya.

"Tapi ibu, kak Is adalah cinta pertamaku," gumam Alisya dengan wajah memelas. Ia masih mencoba meminta bantuan ibunya agar memenuhi keinginannya.

"Sudah lah Alisyah. Sekarang kita mengalah dulu pada Hana yah. Kamu lihat sendiri kan betapa kejamnya pak Bram. Kalau kamu tetap ngotot malah nanti kamu sendiri yang susah." Bujuk Aisyah dengan berbisik.

Sebenarnya dia juga tidak ikhlas kalau pria incaran anak kesayangannya malah menjadi suami Hana. Tapi daripada berurusan lebih panjang lagi dengan Bram dia memilih mengalah saja. "Aku akan pikirkan cara lain untuk merebut suami Hana untuk Alisyah kelak."

Hana pun tampak diam tanpa ada senyuman di wajahnya. Hari ini memang menjadi hari paling menyedihkan seumur hidupnya. "Aku nggak akan biarkan Alisyah berbuat sesuka hatinya lagi. Ternyata dia adalah penyebab segala masalah ini. Selalu ingin enaknya aja sementara aku yang harus menerima bangke dari perbuatannya." Gumam Hana.

***

"Sah?" tanya penghulu pada saksi.

"Sah," seru para saksi dilanjutkan dengan bacaan doa dari pak penghulu.

"Alhamdulillah ..."

Pernikahan yang paling menyedihkan tanpa ada seorang pun yang merasa bahagia dan bersyukur akan momen penting ini. Semua ini karena adanya muslihat dalam diri masing-masing.

"Kita pulang sekarang," imbuh Bram pada anak, menantu dan semua anak buahnya.

Alisyah yang masih belum puas dengan kejadian tadi berusaha menahan Bram seakan lupa pada ancaman Bram tadi. "Eh, om kok buru-buru sih? Sekarang kita udah jadi keluarga apa salahnya kalau kita makan bersama dulu supaya kita semua makin akrap," tawar Alisyah sesekali melirik Uwais yang notabene suami kakaknya sekarang.

Bram memberi isyarat pada anak buahnya untuk menyingkirkan Alisyah dari hadapannya. Urusannya di sini sudah selesai dan ia harus segera pergi untuk menyelesaikan urusan lain.

"Daddy pulang aja dulu, aku mau menyelesaikan sesuatu terlebih dahulu di sini," ujar Uwais.

Alisyah dan Aisyah saling melirik dan merasa senang sebab mereka punya kesempatan mendekati Uwais.

"Terserah kamu tapi jangan sampai kamu tidak membawa istri kamu ke hadapan mommymu nanti saat makan malam. Ingat dia sekarang sudah menjadi bagian keluarga Qarny." Bram mengingatkan sang anak.

Ardi, Aisyah dan Wati sudah bisa bernafas lega saat mobil Bram sudah tidak terlihat dihalaman rumah. Tapi-

Plakkk

Satu tamparan kembali mendarat ke pipi Hana. Matanya menatap sendu pada sang ayah yang menamparnya untuk kedua kalinya secara tiba-tiba atas sebab tak jelas. Alisyah tampak senang karena memang itu yang ia harapkan manakala Uwais tampak tidak peduli pada istrinya.

"Kenapa kamu nggak menolak tadi, hah! Semalam aja kamu mati-matian menolak menikah tapi sekarang kamu malah menikmatinya. Dasar tidak tahu diuntung!" maki Ardi kesal. Kini dia sudah menjadi orang berbeda di mata Hana.

"Benar tuh, Ayah.Kak Is ini adalah cowok populer dan sangat diidolakan di kampus aku. Dia sama sekali tidak layak bersanding dengan Kak Is. Hanya akan mempermalukan keluarga aja tahu nggak." Tak ingin kalah Alisyah juga berusaha menyudutkan Hana berusaha membuat gadis itu semakin bersedih.

"Tapi hakikatnya aku yang menjadi istrinya sekarang bukan kamu." Hana berusaha membela dirinya sendiri karena sudah tidak ada lagi yang bisa ia harapkan selain dirinya sendiri.

"Udah berani sekarang kamu yah! Baru juga jadi istri Kak Is beberapa menit yang lalu udah belagu aja. Kamu mau aku tam-" Alisyah berusaha menampar Hana tapi-

"Kenapa sikap kalian seolah-olah aku mau menikah begitu saja dengan kalian." Kini Uwais sudah tidak bisa diam dan tampak santai lagi. Tangan Alisyah di genggam kuat dan menghempasnya hingga perempuan itu tersungkur ke lantai.

"Aduh," lirih Alisya. Aisyah berusaha membantu anaknya bangkit.

Suasana tiba-tiba kembali mencekam lebih mendominasi berbanding saat Bram masih ada

Semua orang terdiam karena wajah Uwais kini tampak serius dan lebih arogan berbanding sang bapak. "Kalian pikir aku ini apa sehingga suka hati kalian mengatur jodohku ... dasar keluarga sampah!" maki Uwais.

"Karena ulah kalian ... aku harus nekat seperti ini!" sambungnya dengan penuh emosi. "Ingat! Jangan lagi menunjukkan wajah kalian di hadapanku!"

Hana terkesimah saat Uwais menarik tangannya dengan kasar keluar dari rumah menuju mobil. Tidak ada yang bisa menghalangi mereka karena ternyata Uwais lebih arogan dari bapaknya. Hana pun tampak pasrah meskipun tangannya terasa sakit akibat genggaman Uwais yang terlalu kuat, sakit di hatinya lebih mendominasi sehingga ia tidak lagi memperdulikan sakit yang lain.

"Masuk!" titah Uwais pada Hana dengan sedikit kesal.

Tanpa membantah Hana masuk tanpa menoleh ke rumah lagi. Mobil langsung melaju pergi meninggalkan luka yang cukup dalam pada hati Hana. Tapi dia belum sadar jika penderitaannya belum berakhir karena kehidupannya bersama keluarga Qarny akan lebih mencabar hati. Apakah Hana sanggup menghadapi cobaan hidup kedepannya?

Alisyah masih berdiri mematung di depan pintu memikirkan penyesalannya telah membuat Hana menikah dengan cowok idamannya. "Aachk... ." Tiba-tiba dia berteriak saking frustasinya membuat keluarganya khawatir.

"Ini semua sebab kalian!" geram Alisyah sambil mengarahkan jari telunjuknya ke wajah kedua orang tuanya lalu berlari masuk ke kamar dengan membanting pintu kuat.

***

Sepanjang perjalanan selama tiga jam tiada yang membuka suara antara Hana dan Uwais yang kini menjadi suami istri. Saling larut dalam pikiran masing-masing. Hana termenung memutar kembali setiap kenangan pahit bersama keluarganya. Pengorbanannya dan kerja kerasnya selama ini sama sekali tidak dihargai malah dengan sifatnya yang suka mengalah malah dimanfaatkan oleh mereka tanpa memikirkan perasaannya.

Setetes air bening membasahi pipinya dengan cepat ia mengusapnya dengan kasar. "Mereka tidak pantas ditangisi, air mataku terlalu berharga untuk mereka." Batin Hana.

Terpopuler

Comments

uwu.__.uwu

uwu.__.uwu

Penuh makna

2024-01-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!