Bab 15 Kegeeran

"Pertama yang dia minta pada kami adalah melanjutkan kuliahnya yang sempat terputus akibat kejadian itu. Memang dia mengatakan sudah kembali tapi sikapnya pada wanita tetap tidak berubah. Ia masih fobia terhadap wanita."

Hana serius mendengarkan cerita masa lalu suaminya. Diam tanpa berani bersuara. Bram menatapnya dan menyerahkan sebuah kontrak pada Hana.

"Itu adalah perjanjian yang harus kamu lakukan untuk membayar hutang keluargamu. Aku bukannya mengambilmu dari mereka secara cuma-cuma. Harus ada harga yang setimpal agar sebanding dengan hutang adikmu padaku," ujar Bram.

"Se-sebenarnya Alisya berhutang apa pada Daddy?" tanya Hana.

"Kamu bisa tanyakan langsung padanya jika kamu penasaran. Urusan kamu dengan ku hanya untuk melunasi hutang itu," jawab Bram.

Hana akhirnya pasrah, tatapan Bram berhasil membuatnya pasrah dengan keadaan ini. Ia mulai membaca isi kontrak yang diberikan oleh Bram.

Mata Hana membulat sempurna dengan apa yang sedang ia baca. Hidupnya akan semakin mencabar dengan adanya kontrak itu.

"Harus membuat Uwais jatuh cinta dalam tenggang waktu sebulan? Ini nggak salah, kan?" batin Hana masih tampak terkejut.

Pikirnya tadi, dia akan dijadikan pembantu gratis oleh Bram seperti perkataan Izati sore tadi. Tapi malah sebaliknya, ia malah harus menaklukkan hati Uwais. Tapi yang lebih mencabar adalah waktu untuk melakukan itu semua hanya sebulan.

"Kamu harus sanggup melakukannya. Jika tidak ... keluarga mu yang akan menjadi taruhannya. Nyawa mereka akan aku habisi tanpa pikir panjang lagi." Bram mengancam Hana dengan tatapan mematikan milik nya.

Diam sejenak, ia sama sekali tidak memiliki kesalahan apapun pada Bram. Tapi kini dia yang harus berurusan dengan pria kejam itu. Ia harus melunasi hutang dengan harga yang cukup fantastis padahal dia sama sekali tidak pernah merasakan sedikitpun uang sebanyak itu.

"Aku sudah memerintahkan beberapa anak buah untuk mengintai rumah keluargamu. Kapan saja mereka akan siap melancarkan aksinya untuk menghabisi keluargamu tanpa tersisa dan bahan bukti. Nasip mereka ada di tanganmu." Bram menyodorkannya pulpen.

Hana menelan ludah, masih ragu untuk melakukan perjanjian dengan Bram. Sebenarnya ini merupakan keberuntungan baginya. Siapa yang tidak ingin di cintai oleh Uwais AlQarny. Pewaris dengan harta yang sangat berlimpah dari keluarga Qarny. Bukan hanya itu, fisik Uwais juga begitu menggoda. Berbadan tegak gagah, berwajah rupawan cukup membuat semua wanita berlutut dihadapannya.

"Tapi ... kenapa harus saya? Saya cuma dari kalangan rendahan tidak pantas bersanding dengan putra Daddy. Jika dia benar-benar jatuh cinta padaku bagaimana nasip kami saat semuanya sudah berakhir? Dia akan kembali terluka dan semakin membenci wanita?" jelas Hana takut mengecewakan Uwais.

Bram menggertak meja dengan kuat membuat Hana tertunduk takut. Tangan nya bergetar hebat saking mencekamnya ruangan itu sekarang. Bram mendekatinya kemudian menggenggam dagunya dengan kuat sampai Hana sedikit meringis sakit.

"Kamu tiada hak bersuara di sini! Lakukan saja semua yang aku inginkan. Aku yang lebih tahu apa yang sedang kulakukan. Kalau kamu ingin keluargamu tetap selamat, maka tanda tangan kontrak itu cepat!" gertak Bram dengan wajah bengisnya.

Bugh

Bram membuang muka Hana dengan kuat sehingga tubuh mungil itu terhuyung ke lantai. Hana pasrah pada keinginan Bram. Ia tidak ingin membantah pria kejam itu. Bukan untuk dirinya atau keluarga tapi untuk Uwais, suaminya.

"Aku tidak tahu ... sekarang aku sudah mencintaimu atau tidak. Tapi mulai sekarang aku akan mencoba sebisaku untuk menaklukkan hatimu. Jika takdir berpihak pada kita, maka kita akan tetap bersama selamanya. Tapi jika takdir berkehendak sebaliknya maka aku tidak bisa berbuat apa-apa," gumam Hana sambil menandatangani kontrak yang di berikan Bram.

Ia menyerahkan kertas itu pada Bram. "Saya akan berusaha menaklukkan hatinya," ucap Hana. Wajahnya berubah menjadi sendu memikirkan masa depannya.

"Bagus. Kamu boleh keluar," sahut Bram tanpa senyuman.

Hana pun berlalu pergi. Sebelum keluar dari pintu, ia sempat mendengar ayah mertuanya menghubungi anak buahnya.

"Pastikan mereka tidak menyadari kehadiran kalian. Terus awasi setiap gerak-gerik mereka. Aku tidak akan mengampuni kesalahan kecil apa pun!" kata Bram.

Hana bisa sedikit bernafas lega karena keluarganya bisa hidup tenang untuk saat ini. "Semoga mereka baik-baik saja," gumamnya.

Pikirannya melayang kemana-mana. Memikirkan semua hal yang berkemungkinan terjadi di masa depan.

Sementara Uwais juga sudah keluar dari ruang pribadinya. Mengerutkan dahi karena melihat Hana yang tampak tidak fokus pada jalan dihadapannya. Sebuah vas bunga besar kesayangan Izati berada tepat di haluan Hana.

"Apa yang sedang di pikirkan oleh wanita itu?" tanya Uwais dalam hati.

Ia segera menghampiri Hana dan benar saja wanita itu sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Sehingga vas bunga itu semakin dekat. "Awas!"

Uwais menarik tubuh mungil Hana masuk ke pelukannya. Wanita itu terkejut sampai membulatkan matanya menatap Uwais.

Tatapan keduanya kembali bertemu mengirim sinyal yang cukup kuat untuk meminta jantung memompa dengan kuat.

"Apa kah aku sudah mulai mencintaimu?" batin Hana. Air matanya mulai berembun meresapi kesedihan yang sedang menerpa jiwanya.

"Kamu cengeng banget, sih. Dalam sehari ini udah berapa kali kamu menangis. Tegar sedikit, napa!" tegur Uwais.

Hana segera menyeimbangkan tubuhnya keluar dari pelukan Uwais.

Hana mengusap air matanya dengan cepat. "Tuan muda juga kenapa bisa ada di sini? Pakai peluk-peluk segala lagi," sahut Hana.

Ia kemudian berjinjit mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya. "Rindu yah?" Sambil tersenyum lebar dan memakinkan alisnya untuk menggoda sang suami.

Senyum jengkel terukir dari bibir Uwais sambil menghembuskan nafas berat. "Kegeeran banget. Aku tuh sama sekali tidak ikutin kamu. Aku cuma kebetulan lihat kamu jalan seperti mayat hidup," sahut Uwais.

Ia kemudian mengarahkan jari telunjuknya ke arah vasu bunga di hadapan mereka. "Kamu lihat vas bunga itu. Hampir saja kamu merusaknya. Vas itu lebih berharga dari dirimu dirumah ini!" tegas Uwais.

Hana kembali terbeliak sambil menutup mulut saking kagetnya. "Kok aku bisa nggak sadar, yah?" bingung Hana. Terpikir jika ia benar-benar merusak vas itu maka mertua akan murka dan semakin tidak menyukainya.

"Makanya jangan terlalu kepedean jadi orang," sindir Uwais meninggalkan Hana yang tampak menghembuskan nafas lega.

"Lega ... Kalau tidak semakin banyak jumlah hutang ku pada keluarga ini." Imbuhnya.

Hana mengikuti langkah Uwais menuju kamar mereka. Sepanjang jalan begitu banyak rencana yang bermain di benak Hana untuk ia gunakan menggoda pria kaku itu.

"Sebenarnya dia tidak sekaku yang terlihat. Tadi saja dia mau menuruti permintaanku untuk bersandiwara di depan ayah, ibu, nenek dan Alisya. Mereka sekarang pasti sedang ketar-ketir memikirkan cara agar berhasil menyingkirkan aku dari keluarga ini."

"Aku harus lebih agresif agar bisa menaklukkan hati Tuan Muda songong itu."

Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!