"Pertama yang dia minta pada kami adalah melanjutkan kuliahnya yang sempat terputus akibat kejadian itu. Memang dia mengatakan sudah kembali tapi sikapnya pada wanita tetap tidak berubah. Ia masih fobia terhadap wanita."
Hana serius mendengarkan cerita masa lalu suaminya. Diam tanpa berani bersuara. Bram menatapnya dan menyerahkan sebuah kontrak pada Hana.
"Itu adalah perjanjian yang harus kamu lakukan untuk membayar hutang keluargamu. Aku bukannya mengambilmu dari mereka secara cuma-cuma. Harus ada harga yang setimpal agar sebanding dengan hutang adikmu padaku," ujar Bram.
"Se-sebenarnya Alisya berhutang apa pada Daddy?" tanya Hana.
"Kamu bisa tanyakan langsung padanya jika kamu penasaran. Urusan kamu dengan ku hanya untuk melunasi hutang itu," jawab Bram.
Hana akhirnya pasrah, tatapan Bram berhasil membuatnya pasrah dengan keadaan ini. Ia mulai membaca isi kontrak yang diberikan oleh Bram.
Mata Hana membulat sempurna dengan apa yang sedang ia baca. Hidupnya akan semakin mencabar dengan adanya kontrak itu.
"Harus membuat Uwais jatuh cinta dalam tenggang waktu sebulan? Ini nggak salah, kan?" batin Hana masih tampak terkejut.
Pikirnya tadi, dia akan dijadikan pembantu gratis oleh Bram seperti perkataan Izati sore tadi. Tapi malah sebaliknya, ia malah harus menaklukkan hati Uwais. Tapi yang lebih mencabar adalah waktu untuk melakukan itu semua hanya sebulan.
"Kamu harus sanggup melakukannya. Jika tidak ... keluarga mu yang akan menjadi taruhannya. Nyawa mereka akan aku habisi tanpa pikir panjang lagi." Bram mengancam Hana dengan tatapan mematikan milik nya.
Diam sejenak, ia sama sekali tidak memiliki kesalahan apapun pada Bram. Tapi kini dia yang harus berurusan dengan pria kejam itu. Ia harus melunasi hutang dengan harga yang cukup fantastis padahal dia sama sekali tidak pernah merasakan sedikitpun uang sebanyak itu.
"Aku sudah memerintahkan beberapa anak buah untuk mengintai rumah keluargamu. Kapan saja mereka akan siap melancarkan aksinya untuk menghabisi keluargamu tanpa tersisa dan bahan bukti. Nasip mereka ada di tanganmu." Bram menyodorkannya pulpen.
Hana menelan ludah, masih ragu untuk melakukan perjanjian dengan Bram. Sebenarnya ini merupakan keberuntungan baginya. Siapa yang tidak ingin di cintai oleh Uwais AlQarny. Pewaris dengan harta yang sangat berlimpah dari keluarga Qarny. Bukan hanya itu, fisik Uwais juga begitu menggoda. Berbadan tegak gagah, berwajah rupawan cukup membuat semua wanita berlutut dihadapannya.
"Tapi ... kenapa harus saya? Saya cuma dari kalangan rendahan tidak pantas bersanding dengan putra Daddy. Jika dia benar-benar jatuh cinta padaku bagaimana nasip kami saat semuanya sudah berakhir? Dia akan kembali terluka dan semakin membenci wanita?" jelas Hana takut mengecewakan Uwais.
Bram menggertak meja dengan kuat membuat Hana tertunduk takut. Tangan nya bergetar hebat saking mencekamnya ruangan itu sekarang. Bram mendekatinya kemudian menggenggam dagunya dengan kuat sampai Hana sedikit meringis sakit.
"Kamu tiada hak bersuara di sini! Lakukan saja semua yang aku inginkan. Aku yang lebih tahu apa yang sedang kulakukan. Kalau kamu ingin keluargamu tetap selamat, maka tanda tangan kontrak itu cepat!" gertak Bram dengan wajah bengisnya.
Bugh
Bram membuang muka Hana dengan kuat sehingga tubuh mungil itu terhuyung ke lantai. Hana pasrah pada keinginan Bram. Ia tidak ingin membantah pria kejam itu. Bukan untuk dirinya atau keluarga tapi untuk Uwais, suaminya.
"Aku tidak tahu ... sekarang aku sudah mencintaimu atau tidak. Tapi mulai sekarang aku akan mencoba sebisaku untuk menaklukkan hatimu. Jika takdir berpihak pada kita, maka kita akan tetap bersama selamanya. Tapi jika takdir berkehendak sebaliknya maka aku tidak bisa berbuat apa-apa," gumam Hana sambil menandatangani kontrak yang di berikan Bram.
Ia menyerahkan kertas itu pada Bram. "Saya akan berusaha menaklukkan hatinya," ucap Hana. Wajahnya berubah menjadi sendu memikirkan masa depannya.
"Bagus. Kamu boleh keluar," sahut Bram tanpa senyuman.
Hana pun berlalu pergi. Sebelum keluar dari pintu, ia sempat mendengar ayah mertuanya menghubungi anak buahnya.
"Pastikan mereka tidak menyadari kehadiran kalian. Terus awasi setiap gerak-gerik mereka. Aku tidak akan mengampuni kesalahan kecil apa pun!" kata Bram.
Hana bisa sedikit bernafas lega karena keluarganya bisa hidup tenang untuk saat ini. "Semoga mereka baik-baik saja," gumamnya.
Pikirannya melayang kemana-mana. Memikirkan semua hal yang berkemungkinan terjadi di masa depan.
Sementara Uwais juga sudah keluar dari ruang pribadinya. Mengerutkan dahi karena melihat Hana yang tampak tidak fokus pada jalan dihadapannya. Sebuah vas bunga besar kesayangan Izati berada tepat di haluan Hana.
"Apa yang sedang di pikirkan oleh wanita itu?" tanya Uwais dalam hati.
Ia segera menghampiri Hana dan benar saja wanita itu sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Sehingga vas bunga itu semakin dekat. "Awas!"
Uwais menarik tubuh mungil Hana masuk ke pelukannya. Wanita itu terkejut sampai membulatkan matanya menatap Uwais.
Tatapan keduanya kembali bertemu mengirim sinyal yang cukup kuat untuk meminta jantung memompa dengan kuat.
"Apa kah aku sudah mulai mencintaimu?" batin Hana. Air matanya mulai berembun meresapi kesedihan yang sedang menerpa jiwanya.
"Kamu cengeng banget, sih. Dalam sehari ini udah berapa kali kamu menangis. Tegar sedikit, napa!" tegur Uwais.
Hana segera menyeimbangkan tubuhnya keluar dari pelukan Uwais.
Hana mengusap air matanya dengan cepat. "Tuan muda juga kenapa bisa ada di sini? Pakai peluk-peluk segala lagi," sahut Hana.
Ia kemudian berjinjit mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya. "Rindu yah?" Sambil tersenyum lebar dan memakinkan alisnya untuk menggoda sang suami.
Senyum jengkel terukir dari bibir Uwais sambil menghembuskan nafas berat. "Kegeeran banget. Aku tuh sama sekali tidak ikutin kamu. Aku cuma kebetulan lihat kamu jalan seperti mayat hidup," sahut Uwais.
Ia kemudian mengarahkan jari telunjuknya ke arah vasu bunga di hadapan mereka. "Kamu lihat vas bunga itu. Hampir saja kamu merusaknya. Vas itu lebih berharga dari dirimu dirumah ini!" tegas Uwais.
Hana kembali terbeliak sambil menutup mulut saking kagetnya. "Kok aku bisa nggak sadar, yah?" bingung Hana. Terpikir jika ia benar-benar merusak vas itu maka mertua akan murka dan semakin tidak menyukainya.
"Makanya jangan terlalu kepedean jadi orang," sindir Uwais meninggalkan Hana yang tampak menghembuskan nafas lega.
"Lega ... Kalau tidak semakin banyak jumlah hutang ku pada keluarga ini." Imbuhnya.
Hana mengikuti langkah Uwais menuju kamar mereka. Sepanjang jalan begitu banyak rencana yang bermain di benak Hana untuk ia gunakan menggoda pria kaku itu.
"Sebenarnya dia tidak sekaku yang terlihat. Tadi saja dia mau menuruti permintaanku untuk bersandiwara di depan ayah, ibu, nenek dan Alisya. Mereka sekarang pasti sedang ketar-ketir memikirkan cara agar berhasil menyingkirkan aku dari keluarga ini."
"Aku harus lebih agresif agar bisa menaklukkan hati Tuan Muda songong itu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments