Bab 13 Bakso Mercun

"Tetap saja kamu menyia-nyiakan waktuku yang berharga hanya untuk ponsel butut yang seharusnya sudah punah itu! Kamu-" kekesalan Uwais terpaksa terjeda karena palayam sudah menghantarkan pesanan mereka.

Hana pun menghembus nafas lega. Ia selamat dari amukan suaminya yang arogan dan super jutek itu. "Rasain tuh! Malu sendiri, kan." Sambil menahan tawa.

*

*

*

Beberapa jam kemudian. Setelah melewati berbagai rintangan. Gelas di meja sudah tersusun banyak padahal mereka hanya menghabiskan semangkok bakso.

"Bu ha ha ha," tawa Hana pecah saat menyaksikan Uwais yang sedang kepedasan setelah bertarung dengan nya.

"Ketawa aja terus, ketawa." Uwais tampak ingin membalas perlakuan berani Hana. Tapi bibir hingga perutnya seperti ingin meledak akibat kepedasan.

Semangkuk bakso mercun habis di lahapnya dengan terpaksa karena pertarungan antara mereka tadi.

"Makanya ... jangan sok jagoan kalau Tuan Muda sebenarnya nggak sanggup," sindir Hana.

"Diam!" bentak Uwais.

Hana terdiam tapi wajahnya tetap masih menahan tawa sehingga wajahnya membuat kesal Uwais. Ingin memberi pelajaran pada wanita dihadapannya tapi lagi dan lagi perutnya sakit minta masuk ke toilet.

"Awas aja kamu," ancam Uwais sambil memeluk tubuhnya.

Flashback on :

"Kenapa? Tidak sanggup?" Hana sengaja memesan hidangan favorit untuk menyaksikan bagaimana reaksi Uwais.

"Hah, aku?" Uwais menatap bakso mercun itu dengan ngeri. "Emang benda ini boleh di makan?" tanya Uwais membuat Hana menahan tawa geli.

Reaksi wajah suaminya tampak jelas kalau pria itu tidak menyukai makanan pedas.

"Ya iyalah. Ini makanan untuk menguji kejantanan seorang lelaki. Kalau Tuan mengaku jantan seharusnya tidak takut dong. Malah harusnya nambah, tapi-" bohong Hana memancing suaminya agar mau memakan makanan yang dia pesan.

"Tapi ini situasinya tidak memungkinkan. Cuaca panas begini seharusnya makan yang dingin-dingin bukan malah makanan pedas seperti ini." Uwais mencoba memberi alasan kemudian menelan ludah dengan susah payah.

"Bilang aja Tuan Muda nggak sanggup. Dasar nggak jan-" ucapan Hana terpotong karena mendapat jelingan tajam dari Uwais.

"Siapa bilang! Lihat aja ... aku habisin!" tegas Uwais setelah berpikir panjang. Tidak akan membiarkan harga dirinya diinjak-injak oleh wanita dihadapannya.

"Ok, kita buat kesepakatan bagaimana?". Hana tersenyum dengan nakal sambil menaik turunkan alisnya.

"Kesepakatan apa?" jawab Uwais tanpa menoleh sebab masih fokus menatap bakso mercun di hadapannya.

Bingung harus menghabiskan makanan Itu dengan cara apa.

"Siapa yang habiskan bakso itu duluan bisa mengajukan permintaan apa pun pada yang kalah," ujar Hana dengan serius.

"Ok, deal." Uwais juga menjawab dengan serius. Ia menebak Hana sengaja melakukan ini agar dirinya mau memberikan sesuatu yang mahal pada wanita itu.

"DEAL." Hana mengarahkan jari kelingkingnya untuk membuat perjanjian. Uwais menyambutnya keliling Hana dengan kelingking nya meskipun bingung dengan maksud tujuan melakukan itu apa.

"Kita mulai sekarang yah, satu ... dua ... Mulai!" Hana menunggu Uwais memasukkan sendok pertama ke mulutnya baru dia akan mulai juga.

Uwais memasukkan bakso ke dalam mulutnya dengan berat Hati. Pertarungan di mulai di saksikan oleh pengunjung yang lain dari tempat masing-masing. Ada yang merekam tingkah lucu mereka dan mengabadikan nya di akun sosmet mereka. Ada juga yang iri dengan kedekatan mereka.

Total bebola yang ada di mangkok adalah delapan biji. Hana tersisa dua, Uwais baru menghabiskan tiga biji tapi wajahnya sudah memerah tanda kepedasan. Beberapa kali memesan air mineral dingin untuk meredakan panasnya.

Hana diam-diam memotret wajah lawas suaminya yang sedang berjuang menghabiskan bakso mercun nya. Foto pria pertama yang ia ambil menggunakan ponsel jadulnya.

Sebenarnya Hana boleh saja menghabiskan baksonya dengan cepat tapi ia ingin menjaga mental suaminya dari kalah telak.

"Habis! Yey aku menang!" seru Hana gembira. Ia tidak tega melihat Uwais yang tersiksa oleh sambal.

Uwais akhirnya nyerah dan tidak sanggup melahap tiga biji bakso tersisa. Sedangkan Hana tampak biasa-biasa saja.

"Saya tolong habiskan, yah." Hana mengambil sisa bebola di mangkok milik Uwais lalu menghabiskan nya tanpa beban.

Uwais menatapnya jijik tapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Saya sedih jika melihat makanan terbuang sia-sia begitu aja, Tuan. Cari duit itu susah," imbuh Hana.

Flashback off.

"Katakan ... apa yang kamu inginkan?" tanya Uwais. Pedas yang menyiksanya sudah mulai reda setelah belasan kali keluar masuk toilet.

"Em ... ." Hana tampak berpikir keras untuk menentukan keinginan apa yang akan dia minta pada Uwais.

"Katakan saja apa susahnya, sih? Kamu mau motor ... Ponsel atau rumah?" tebak Uwais mendapat gelengan keras dari Hana.

"Tidak Tuan. Bukan itu. Sebelumnya Tuan Muda sudah berjanji memberikan saya salah satu koleksi dari motor-motor Tuan. Ingat janji tadi waktu di kampung?" Hana mengingatkan.

"Iya saya ingat. Terus kamu mau minta apa? Ponsel, tas, baju, rumah atau apa?" tanya Uwais penasaran.

"Saya bukan wanita matrek, Tuan. Kalau saya mau semua itu saya akan beli sendiri dari hasil kerja keras ku sendiri," imbuh Hana.

Uwais menatap Hana kagum. Wanita di hadapannya benar-benar berbeda dari yang lain. "Lalu apa?" tanyanya.

"Em ... saya pikir-pikir dulu deh," sahut Hana membuat suaminya mati penasaran.

"Dari kamu saja." Uwais kemudian menatap jam tangannya. "Kita pulang. Udah sore," ajak Uwais.

Kejadian tadi membuat Uwais sedikit lebih santai berbicara pada Hana. Tanpa disadari, mereka menghabiskan waktu selama tiga jam di restoran itu untuk menghabiskan semangkuk bakso merc

"Tunggu dulu." Hana menahan tangan Uwais dengan melemparkan senyuman.

"Kenapa? Sudah tahu mau minta apa?" Uwais kembali duduk di kursinya.

"Nggak, bukan itu. Saya cuma mau bilang terima kasih sama Tuan Muda." ucap Hana dengan tulus.

"Untuk?" Meskipun sudah tahu arah tujuan pembicaraan Hana. Tapi Uwais memilih mendengarkan secara langsung. Suara wanita itu menjadi musik merdu di gendang telinganya.

"Terima kasih sudah menghantarkan saya pulang. Terima kasih juga sudi bersandiwara depan keluargaku tadi. Menghabiskan waktu cukup lama bersama Tuan Muda di pantai indah ini. Jujur ... saya sangat bahagia," jujur Hana sambil menatap mata suaminya dalam.

Begitu banyak kenangan yang mereka laluin bersama hari ini. Usia pernikahan mereka baru menginjak satu hari. Tapi Hana dan Uwais sudah sedikit bisa mengisi kekosongan hati masing-masing.

Uwais membalas menatap mata Hana, turut merasakan apa yang sedang Hana rasakan. Kehangatan, ya mereka merasakan kehangatan antara satu sama lain. Tapi sepotong kenangan kembali melintas di ingatannya. Membuatnya kembali dingin.

"Tolong maaf kan aku, Is. Aku benar-benar tidak mencintaimu. Sebenarnya dia adalah kekasihku yang sebenarnya, kami akan segera menikah ... "

Sebuah bisikan kenangan kembali menyakiti perasaan Uwais. Ia begitu membenci wanita di sebabkan masa lalunya itu, takut jika akan di perlakukan lagi oleh wanita lain. Menjadi budak cinta hanya untuk membahagiakan pria lain.

Senyum yang sedari tadi menghiasai wajah tampan pria itu kini hilang. Nafasnya naik turun dengan cepat menahan emosi yang bergejolak di dadanya.

"Jangan senang dulu. Semua aku lakukan bukan karena punya perasaan sama kamu, tapi karena aku tidak mau kalau sampai kamu tidak menepati perjanjian antara kita." Ucap Uwais dengan menatap tajam ke arah Hana.

Pria itu kemudian menuju kasir untuk membayar pesanan mereka. Lalu menuju dimana motor terparkir. Suasana hatinya kembali dingin sedingin es di kutup Utara sana.

"Dia kenapa, sih? Tadi aja udah mulai santai tapi kok berubah adingin lagi. Aneh," gumam Hana. Ia mengikuti langkah Uwais dan melanjutkan perjalanan pulang ke kota.

***

Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!