"Tetap saja kamu menyia-nyiakan waktuku yang berharga hanya untuk ponsel butut yang seharusnya sudah punah itu! Kamu-" kekesalan Uwais terpaksa terjeda karena palayam sudah menghantarkan pesanan mereka.
Hana pun menghembus nafas lega. Ia selamat dari amukan suaminya yang arogan dan super jutek itu. "Rasain tuh! Malu sendiri, kan." Sambil menahan tawa.
*
*
*
Beberapa jam kemudian. Setelah melewati berbagai rintangan. Gelas di meja sudah tersusun banyak padahal mereka hanya menghabiskan semangkok bakso.
"Bu ha ha ha," tawa Hana pecah saat menyaksikan Uwais yang sedang kepedasan setelah bertarung dengan nya.
"Ketawa aja terus, ketawa." Uwais tampak ingin membalas perlakuan berani Hana. Tapi bibir hingga perutnya seperti ingin meledak akibat kepedasan.
Semangkuk bakso mercun habis di lahapnya dengan terpaksa karena pertarungan antara mereka tadi.
"Makanya ... jangan sok jagoan kalau Tuan Muda sebenarnya nggak sanggup," sindir Hana.
"Diam!" bentak Uwais.
Hana terdiam tapi wajahnya tetap masih menahan tawa sehingga wajahnya membuat kesal Uwais. Ingin memberi pelajaran pada wanita dihadapannya tapi lagi dan lagi perutnya sakit minta masuk ke toilet.
"Awas aja kamu," ancam Uwais sambil memeluk tubuhnya.
Flashback on :
"Kenapa? Tidak sanggup?" Hana sengaja memesan hidangan favorit untuk menyaksikan bagaimana reaksi Uwais.
"Hah, aku?" Uwais menatap bakso mercun itu dengan ngeri. "Emang benda ini boleh di makan?" tanya Uwais membuat Hana menahan tawa geli.
Reaksi wajah suaminya tampak jelas kalau pria itu tidak menyukai makanan pedas.
"Ya iyalah. Ini makanan untuk menguji kejantanan seorang lelaki. Kalau Tuan mengaku jantan seharusnya tidak takut dong. Malah harusnya nambah, tapi-" bohong Hana memancing suaminya agar mau memakan makanan yang dia pesan.
"Tapi ini situasinya tidak memungkinkan. Cuaca panas begini seharusnya makan yang dingin-dingin bukan malah makanan pedas seperti ini." Uwais mencoba memberi alasan kemudian menelan ludah dengan susah payah.
"Bilang aja Tuan Muda nggak sanggup. Dasar nggak jan-" ucapan Hana terpotong karena mendapat jelingan tajam dari Uwais.
"Siapa bilang! Lihat aja ... aku habisin!" tegas Uwais setelah berpikir panjang. Tidak akan membiarkan harga dirinya diinjak-injak oleh wanita dihadapannya.
"Ok, kita buat kesepakatan bagaimana?". Hana tersenyum dengan nakal sambil menaik turunkan alisnya.
"Kesepakatan apa?" jawab Uwais tanpa menoleh sebab masih fokus menatap bakso mercun di hadapannya.
Bingung harus menghabiskan makanan Itu dengan cara apa.
"Siapa yang habiskan bakso itu duluan bisa mengajukan permintaan apa pun pada yang kalah," ujar Hana dengan serius.
"Ok, deal." Uwais juga menjawab dengan serius. Ia menebak Hana sengaja melakukan ini agar dirinya mau memberikan sesuatu yang mahal pada wanita itu.
"DEAL." Hana mengarahkan jari kelingkingnya untuk membuat perjanjian. Uwais menyambutnya keliling Hana dengan kelingking nya meskipun bingung dengan maksud tujuan melakukan itu apa.
"Kita mulai sekarang yah, satu ... dua ... Mulai!" Hana menunggu Uwais memasukkan sendok pertama ke mulutnya baru dia akan mulai juga.
Uwais memasukkan bakso ke dalam mulutnya dengan berat Hati. Pertarungan di mulai di saksikan oleh pengunjung yang lain dari tempat masing-masing. Ada yang merekam tingkah lucu mereka dan mengabadikan nya di akun sosmet mereka. Ada juga yang iri dengan kedekatan mereka.
Total bebola yang ada di mangkok adalah delapan biji. Hana tersisa dua, Uwais baru menghabiskan tiga biji tapi wajahnya sudah memerah tanda kepedasan. Beberapa kali memesan air mineral dingin untuk meredakan panasnya.
Hana diam-diam memotret wajah lawas suaminya yang sedang berjuang menghabiskan bakso mercun nya. Foto pria pertama yang ia ambil menggunakan ponsel jadulnya.
Sebenarnya Hana boleh saja menghabiskan baksonya dengan cepat tapi ia ingin menjaga mental suaminya dari kalah telak.
"Habis! Yey aku menang!" seru Hana gembira. Ia tidak tega melihat Uwais yang tersiksa oleh sambal.
Uwais akhirnya nyerah dan tidak sanggup melahap tiga biji bakso tersisa. Sedangkan Hana tampak biasa-biasa saja.
"Saya tolong habiskan, yah." Hana mengambil sisa bebola di mangkok milik Uwais lalu menghabiskan nya tanpa beban.
Uwais menatapnya jijik tapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Saya sedih jika melihat makanan terbuang sia-sia begitu aja, Tuan. Cari duit itu susah," imbuh Hana.
Flashback off.
"Katakan ... apa yang kamu inginkan?" tanya Uwais. Pedas yang menyiksanya sudah mulai reda setelah belasan kali keluar masuk toilet.
"Em ... ." Hana tampak berpikir keras untuk menentukan keinginan apa yang akan dia minta pada Uwais.
"Katakan saja apa susahnya, sih? Kamu mau motor ... Ponsel atau rumah?" tebak Uwais mendapat gelengan keras dari Hana.
"Tidak Tuan. Bukan itu. Sebelumnya Tuan Muda sudah berjanji memberikan saya salah satu koleksi dari motor-motor Tuan. Ingat janji tadi waktu di kampung?" Hana mengingatkan.
"Iya saya ingat. Terus kamu mau minta apa? Ponsel, tas, baju, rumah atau apa?" tanya Uwais penasaran.
"Saya bukan wanita matrek, Tuan. Kalau saya mau semua itu saya akan beli sendiri dari hasil kerja keras ku sendiri," imbuh Hana.
Uwais menatap Hana kagum. Wanita di hadapannya benar-benar berbeda dari yang lain. "Lalu apa?" tanyanya.
"Em ... saya pikir-pikir dulu deh," sahut Hana membuat suaminya mati penasaran.
"Dari kamu saja." Uwais kemudian menatap jam tangannya. "Kita pulang. Udah sore," ajak Uwais.
Kejadian tadi membuat Uwais sedikit lebih santai berbicara pada Hana. Tanpa disadari, mereka menghabiskan waktu selama tiga jam di restoran itu untuk menghabiskan semangkuk bakso merc
"Tunggu dulu." Hana menahan tangan Uwais dengan melemparkan senyuman.
"Kenapa? Sudah tahu mau minta apa?" Uwais kembali duduk di kursinya.
"Nggak, bukan itu. Saya cuma mau bilang terima kasih sama Tuan Muda." ucap Hana dengan tulus.
"Untuk?" Meskipun sudah tahu arah tujuan pembicaraan Hana. Tapi Uwais memilih mendengarkan secara langsung. Suara wanita itu menjadi musik merdu di gendang telinganya.
"Terima kasih sudah menghantarkan saya pulang. Terima kasih juga sudi bersandiwara depan keluargaku tadi. Menghabiskan waktu cukup lama bersama Tuan Muda di pantai indah ini. Jujur ... saya sangat bahagia," jujur Hana sambil menatap mata suaminya dalam.
Begitu banyak kenangan yang mereka laluin bersama hari ini. Usia pernikahan mereka baru menginjak satu hari. Tapi Hana dan Uwais sudah sedikit bisa mengisi kekosongan hati masing-masing.
Uwais membalas menatap mata Hana, turut merasakan apa yang sedang Hana rasakan. Kehangatan, ya mereka merasakan kehangatan antara satu sama lain. Tapi sepotong kenangan kembali melintas di ingatannya. Membuatnya kembali dingin.
"Tolong maaf kan aku, Is. Aku benar-benar tidak mencintaimu. Sebenarnya dia adalah kekasihku yang sebenarnya, kami akan segera menikah ... "
Sebuah bisikan kenangan kembali menyakiti perasaan Uwais. Ia begitu membenci wanita di sebabkan masa lalunya itu, takut jika akan di perlakukan lagi oleh wanita lain. Menjadi budak cinta hanya untuk membahagiakan pria lain.
Senyum yang sedari tadi menghiasai wajah tampan pria itu kini hilang. Nafasnya naik turun dengan cepat menahan emosi yang bergejolak di dadanya.
"Jangan senang dulu. Semua aku lakukan bukan karena punya perasaan sama kamu, tapi karena aku tidak mau kalau sampai kamu tidak menepati perjanjian antara kita." Ucap Uwais dengan menatap tajam ke arah Hana.
Pria itu kemudian menuju kasir untuk membayar pesanan mereka. Lalu menuju dimana motor terparkir. Suasana hatinya kembali dingin sedingin es di kutup Utara sana.
"Dia kenapa, sih? Tadi aja udah mulai santai tapi kok berubah adingin lagi. Aneh," gumam Hana. Ia mengikuti langkah Uwais dan melanjutkan perjalanan pulang ke kota.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments