Bab 3 Mempermainkan Bram

Semua tamu undangan berbisik-bisik sesama sendiri menyaksikan kebingungan tuan rumah.

"Ini bagaimana sih. Kok menantu sendiri nggak tau yang mana," bisik Bu Susi.

"Aku curiga deh kalau Hana benar-benar wanita nggak benar. Kok bisa menikah tanpa memperkenalkan calonnya terlebih dahulu pada keluarga. Kalau beginikan berabe jadinya," sahut Bu Juna.

Bisik-bisik tamu itu membuat telinga Bram jadi panas dan meminta Ardi agar mendekat padanya dengan isyarat tangan.

"Usir semua pulang, aku tidak suka melihat wajah mereka ... kalau tidak maka pernikahan ini dibatalkan dan anak kesayangan kalian, Alisya akan aku jual!" ancam Bram dengan wajah serius.

Ardi dibuat ketar-ketir dan segera meminta bantuan pak RT untuk meminta para tamu undangan untuk pulang saja ke rumah . Tidak terlalu repot karena tamu yang di undang hanya tetangga-tetangga di desanya saja. Meskipun penasaran dan kesal, tapi semua tamu undangan tetap pulang ke rumah masing-masing atas permintaan Ardi dan pak RT.

"Sebenarnya ... maksud Pak Bram tadi itu bagaimana, yah?" tanya Ardi memastikan keinginan Bram.

"Iya Pak, saya juga bingung ... waktu itu bapak meminta kami untuk mempersiapkan putri sulung kamu untuk menikah tapi kok sekarang malah jadi seperti ini?" Aisyah juga kebingungan padahal dia sendiri dengar saat anak buah Bram menyampaikan keinginan bosnya.

"Saya memang meminta kalian untuk mempersiapkan pernikahan tapi saya sama sekali tidak mengatakan kalau saya lah pengantin prianya." Bram mengingatkan.

Setelah kawasan rumah sudah mulai sepi dan sunyi, sebuah mobil mewah datang. Seorang pria muda turun dari mobil dengan penampilan yang tak kalah mewah dengan pakaian Bram.

"Cepat selesaikan urusan ini aku banyak pekerjaan!" Tanpa salam dan sapaan terlebih dahulu pria itu langsung masuk dengan wajah dinginnya.

"Kamu siapa?" tanya Aisyah tapi matanya tidak bisa berbohong kalau dia terpesona dengan ketampanan pria itu.

"Perkenalkan dia anak saya, Uwais AlQarny mempelai prianya." Bram memperkenalkan putranya."Cepat panggil memperlai wanitanya agar semuanya cepat selesai." Bram terlihat tidak sabaran.

Aisyah yang menyadari bahwa mempelai prianya kini sesuai kriteria menantu idaman, muda, kaya dan tampan. Makanya bukannya memanggil Hana ia malah memanggil Alisya untuk menggantikan Hana.

"Aduh, Alisya! Kamu kok belum bangun sih, belum mandi lagi," seru Aisyah menyibak selimut milik anak gadisnya padahal hari sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.

"Ibu apa-apain sih. Aku masih ngantuk tau." Bukannya segera bangun Alisya malah menarik kembali selimut yang sempat ditarik oleh ibunya.

"Kamu harus cepat bangun, Alisyah. Kamu harus menggantikan Hana menikah hari ini," ujar Aisyah mengagetkan Alisya.

"Ogah! Siapa juga yang mau nikah sama om-om tua Bangka bau tanah. Aku mah ogah," sahut Alisyah jijik.

"Iya, tapi masalahnya yang menjadi mempelai pria bukan pakk Bram melainkan anaknya ... masih muda dan cakep lagi," imbuh Aisyah.

Alisya kaget nggak percaya dengan apa yang disampaikan oleh ibunya. "Hah, kok bisa. Ibu lagi ngga boong kan?"

"Mana mungkin ibu bohong sama kamu, Sayang." Aisyah mengambil handuk dan melemparkannya kepada Alisyah. "Sana cepat mandi! Ibu nggak ikhlas kalau Hana yang menjadi menantu Pak Bram yang kaya raya itu."

Karena penasaran, Alisyah bukan nya bergegas ke kamar mandi ia malah mengintip ke ruang tamu untuk memastikan ucapan ibunya.

"Itu kan kak Is." Alisya segera berlari ke kamar mandi setelah mengetahui yang menjadi mempelai pria adalah pria populer di kampusnya. Sudah lama naksir tapi sama sekali tidak berkesempatan untuk bertemu secara dekat.

"Kalau tau kak Is yang akan menjadi mempelai prianya maka tak perlu repot-repot memaksa si Culun itu pulang, dengan senang hati aku menjadi istrinya," Batin Alisyah sambil tersipu malu membayangkan dirinya bersanding di samping Uwais.

Sementara itu di dalam kamar Hana semakin gelisah setelah mendengar mempelai pria sudah datang. Tiada siapa pun yang menjaganya sehingga ia berpikir untuk segera kabur dari sana.

"Aku harus kabur dari sini sekarang sebelum ada orang yang datang," batin Hana. Ia membuka tingkap perlahan dan segera memanjat keluar tanpa memperhatikan keadaan terlebih dahulu.

Kakinya berhasil menapaki tanah tapi-

"Nona ingin kemana?"

Salah seorang pengawal memergoki aksinya. Hana hanya bisa pasrah tanpa menjawab apa-apa.

"Mari ikut saya masuk!" pinta pengawal itu.

Hana pasrah dan mengikutinya masuk. "Maaf bos. Tampaknya gadis ini mencoba untuk kabur tapi beruntung saya memergokinya," lapornya pada Bram.

"Bagus, bawa dia duduk di situ." Bram menunjukkan posisi di sebelah putranya. "Nikahkan mereka sekarang."

Pak Penghulu mengangguk menyetujui permintaan Bram. Ardi, Wati dan dua orang saksi sudah duduk di posisi masing-masing tanpa menunggu kehadiran Aisyah dan Alisyah.

Saat Uwais meletakkan ponselnya dan ingin meraih uluran tangan penghulu...

"Berhenti!" Teriak Aisyah dan Alisya serentak. "Jangan lanjutkan pernikahan mereka!" sambung Aisyah lagi.

"Apa maksud kamu Aisyah? Jangan main-main di saat genting seperti ini! Kamu mau mati di tangan pak Bram yang kejam itu?" Ardi bangkit dan mengingatkan istrinya dengan berbisik.

"Ya aku nggak mau lah mas. Tapi calon suami Hana itu cowok yang di kagumi anak kita, Alisya," jawab Aisyah membuat Ardi bingung.

Meskipun bingung dengan maksud ibu dan adiknya tapi Hana bisa bernafas lega sekarang karena ia tidak perlu menikah dengan pria yang tidak ia cintai. Manakala Wati hanya bisa tercengang dengan tingkah anak dan cucu kesayangannya. Ia yang tahu sifat asli Bram menjadi getar-getir di posisinya.

"Apa maksud kalian membatalkan pernikahan mereka?" Bram berdiri dan tampak kesal.

Ardi segera menghampiri Bram sebelum pria arogan itu semakin kesal. "Bukan begitu maksud mereka Pak Bram. Mereka cuma tidak ingin anda salah memilih menantu. Alangkah bagusnya kalau Hana di gantikan saja dengan Alisyah. Lagi pula Alisyah lah yang berhutang pada anda bukan Hana."

Aisyah mengangguk membenarkan sementara Alisyah sudah tidak bisa berkedip lagi terus saja memandangi ketampanan Uwais sambil tersipu malu.

"Tapi kenapa tiba-tiba? Apa muslihat kalian sebenarnya?" Selidik Bram. Dia bukan pria yang mudah di permainkan. Hanya dari tingkah laku Ardi dan keluarganya ia sudah bisa membaca keinginan mereka.

Hana juga ikut bingung, kemarin saja dia sampai di tampar hanya agar dia mau menikah tapi sekarang mereka tiba-tiba berubah malah meminta Alisyah menggantikannya. "Pria itu yang namanya Pak Bram, calon suami aku tapi yang duduk di sampingku kok orang lain?" batin Hana.

Seingatnya pria yang akan menikah dengannya hari ini bernama Bram, kaya tapi tua.

Siapa saja pasti akan was-was tapi tidak dengan Uwais, dia tetap santai bermain ponselnya kembali sama sekali tidak mengambil pusing pertikaian yang sedang berlaku di sekitarnya.

"Bu-bukan seperti itu maksud kami Pak Bram. Sebenarnya Hana menolak menikah dengan putra anda makanya tadi sempat ingin kabur. Jadi kami sebagai orang tua yang sangat menyayanginya tidak ingin dia nanti hidup menderita. Sebagai gantinya biarkan Alisya saja yang mempertanggung-jawabkan perbuatannya sendiri dengan menikahi putra bapak," tawar Ardi dengan penuh harap.

"Ha ha ha. Kamu pikir boleh mempermainkan aku seperti itu, hah!" gertak Bram dengan senyum sinisnya. "Kalau kamu memang ingin menukar mereka seharusnya tidak perlu dirias seperti ini kan. Sedangkan Alisya sendiri tampaknya baru bangun tidur dengan keadaan baru selesai mandi ... baju berantakan seperti itu tandanya terburu-buru dipakai. Kamu pikir aku ini bodoh!" Bram memukul meja dengan kuat sehingga membuat Aisyah dan Wati tertunduk takut.

"Bu-bukan seperti itu Pak Bram. Saya mana mungkin berani," sahut Ardi dengan wajah memelas kerena turut ketakutan.

"Bukannya sebelumnya kamu berpikir aku lah yang akan menjadi mempelai pria. Berani-beraninya kalian berbohong dan ingin mempermainkan aku!" Bram mencekik leher Ardi sehingga pria itu kesulitan bernafas.

Terpopuler

Comments

Teteh Lia

Teteh Lia

hadeuh,,, giliran tau cwo nya tampan aja, baru mengakui hutangnya 🤦‍♀️

2024-01-22

0

Ken ZO

Ken ZO

Gempar

2024-01-06

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!