Semua tamu undangan berbisik-bisik sesama sendiri menyaksikan kebingungan tuan rumah.
"Ini bagaimana sih. Kok menantu sendiri nggak tau yang mana," bisik Bu Susi.
"Aku curiga deh kalau Hana benar-benar wanita nggak benar. Kok bisa menikah tanpa memperkenalkan calonnya terlebih dahulu pada keluarga. Kalau beginikan berabe jadinya," sahut Bu Juna.
Bisik-bisik tamu itu membuat telinga Bram jadi panas dan meminta Ardi agar mendekat padanya dengan isyarat tangan.
"Usir semua pulang, aku tidak suka melihat wajah mereka ... kalau tidak maka pernikahan ini dibatalkan dan anak kesayangan kalian, Alisya akan aku jual!" ancam Bram dengan wajah serius.
Ardi dibuat ketar-ketir dan segera meminta bantuan pak RT untuk meminta para tamu undangan untuk pulang saja ke rumah . Tidak terlalu repot karena tamu yang di undang hanya tetangga-tetangga di desanya saja. Meskipun penasaran dan kesal, tapi semua tamu undangan tetap pulang ke rumah masing-masing atas permintaan Ardi dan pak RT.
"Sebenarnya ... maksud Pak Bram tadi itu bagaimana, yah?" tanya Ardi memastikan keinginan Bram.
"Iya Pak, saya juga bingung ... waktu itu bapak meminta kami untuk mempersiapkan putri sulung kamu untuk menikah tapi kok sekarang malah jadi seperti ini?" Aisyah juga kebingungan padahal dia sendiri dengar saat anak buah Bram menyampaikan keinginan bosnya.
"Saya memang meminta kalian untuk mempersiapkan pernikahan tapi saya sama sekali tidak mengatakan kalau saya lah pengantin prianya." Bram mengingatkan.
Setelah kawasan rumah sudah mulai sepi dan sunyi, sebuah mobil mewah datang. Seorang pria muda turun dari mobil dengan penampilan yang tak kalah mewah dengan pakaian Bram.
"Cepat selesaikan urusan ini aku banyak pekerjaan!" Tanpa salam dan sapaan terlebih dahulu pria itu langsung masuk dengan wajah dinginnya.
"Kamu siapa?" tanya Aisyah tapi matanya tidak bisa berbohong kalau dia terpesona dengan ketampanan pria itu.
"Perkenalkan dia anak saya, Uwais AlQarny mempelai prianya." Bram memperkenalkan putranya."Cepat panggil memperlai wanitanya agar semuanya cepat selesai." Bram terlihat tidak sabaran.
Aisyah yang menyadari bahwa mempelai prianya kini sesuai kriteria menantu idaman, muda, kaya dan tampan. Makanya bukannya memanggil Hana ia malah memanggil Alisya untuk menggantikan Hana.
"Aduh, Alisya! Kamu kok belum bangun sih, belum mandi lagi," seru Aisyah menyibak selimut milik anak gadisnya padahal hari sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Ibu apa-apain sih. Aku masih ngantuk tau." Bukannya segera bangun Alisya malah menarik kembali selimut yang sempat ditarik oleh ibunya.
"Kamu harus cepat bangun, Alisyah. Kamu harus menggantikan Hana menikah hari ini," ujar Aisyah mengagetkan Alisya.
"Ogah! Siapa juga yang mau nikah sama om-om tua Bangka bau tanah. Aku mah ogah," sahut Alisyah jijik.
"Iya, tapi masalahnya yang menjadi mempelai pria bukan pakk Bram melainkan anaknya ... masih muda dan cakep lagi," imbuh Aisyah.
Alisya kaget nggak percaya dengan apa yang disampaikan oleh ibunya. "Hah, kok bisa. Ibu lagi ngga boong kan?"
"Mana mungkin ibu bohong sama kamu, Sayang." Aisyah mengambil handuk dan melemparkannya kepada Alisyah. "Sana cepat mandi! Ibu nggak ikhlas kalau Hana yang menjadi menantu Pak Bram yang kaya raya itu."
Karena penasaran, Alisyah bukan nya bergegas ke kamar mandi ia malah mengintip ke ruang tamu untuk memastikan ucapan ibunya.
"Itu kan kak Is." Alisya segera berlari ke kamar mandi setelah mengetahui yang menjadi mempelai pria adalah pria populer di kampusnya. Sudah lama naksir tapi sama sekali tidak berkesempatan untuk bertemu secara dekat.
"Kalau tau kak Is yang akan menjadi mempelai prianya maka tak perlu repot-repot memaksa si Culun itu pulang, dengan senang hati aku menjadi istrinya," Batin Alisyah sambil tersipu malu membayangkan dirinya bersanding di samping Uwais.
Sementara itu di dalam kamar Hana semakin gelisah setelah mendengar mempelai pria sudah datang. Tiada siapa pun yang menjaganya sehingga ia berpikir untuk segera kabur dari sana.
"Aku harus kabur dari sini sekarang sebelum ada orang yang datang," batin Hana. Ia membuka tingkap perlahan dan segera memanjat keluar tanpa memperhatikan keadaan terlebih dahulu.
Kakinya berhasil menapaki tanah tapi-
"Nona ingin kemana?"
Salah seorang pengawal memergoki aksinya. Hana hanya bisa pasrah tanpa menjawab apa-apa.
"Mari ikut saya masuk!" pinta pengawal itu.
Hana pasrah dan mengikutinya masuk. "Maaf bos. Tampaknya gadis ini mencoba untuk kabur tapi beruntung saya memergokinya," lapornya pada Bram.
"Bagus, bawa dia duduk di situ." Bram menunjukkan posisi di sebelah putranya. "Nikahkan mereka sekarang."
Pak Penghulu mengangguk menyetujui permintaan Bram. Ardi, Wati dan dua orang saksi sudah duduk di posisi masing-masing tanpa menunggu kehadiran Aisyah dan Alisyah.
Saat Uwais meletakkan ponselnya dan ingin meraih uluran tangan penghulu...
"Berhenti!" Teriak Aisyah dan Alisya serentak. "Jangan lanjutkan pernikahan mereka!" sambung Aisyah lagi.
"Apa maksud kamu Aisyah? Jangan main-main di saat genting seperti ini! Kamu mau mati di tangan pak Bram yang kejam itu?" Ardi bangkit dan mengingatkan istrinya dengan berbisik.
"Ya aku nggak mau lah mas. Tapi calon suami Hana itu cowok yang di kagumi anak kita, Alisya," jawab Aisyah membuat Ardi bingung.
Meskipun bingung dengan maksud ibu dan adiknya tapi Hana bisa bernafas lega sekarang karena ia tidak perlu menikah dengan pria yang tidak ia cintai. Manakala Wati hanya bisa tercengang dengan tingkah anak dan cucu kesayangannya. Ia yang tahu sifat asli Bram menjadi getar-getir di posisinya.
"Apa maksud kalian membatalkan pernikahan mereka?" Bram berdiri dan tampak kesal.
Ardi segera menghampiri Bram sebelum pria arogan itu semakin kesal. "Bukan begitu maksud mereka Pak Bram. Mereka cuma tidak ingin anda salah memilih menantu. Alangkah bagusnya kalau Hana di gantikan saja dengan Alisyah. Lagi pula Alisyah lah yang berhutang pada anda bukan Hana."
Aisyah mengangguk membenarkan sementara Alisyah sudah tidak bisa berkedip lagi terus saja memandangi ketampanan Uwais sambil tersipu malu.
"Tapi kenapa tiba-tiba? Apa muslihat kalian sebenarnya?" Selidik Bram. Dia bukan pria yang mudah di permainkan. Hanya dari tingkah laku Ardi dan keluarganya ia sudah bisa membaca keinginan mereka.
Hana juga ikut bingung, kemarin saja dia sampai di tampar hanya agar dia mau menikah tapi sekarang mereka tiba-tiba berubah malah meminta Alisyah menggantikannya. "Pria itu yang namanya Pak Bram, calon suami aku tapi yang duduk di sampingku kok orang lain?" batin Hana.
Seingatnya pria yang akan menikah dengannya hari ini bernama Bram, kaya tapi tua.
Siapa saja pasti akan was-was tapi tidak dengan Uwais, dia tetap santai bermain ponselnya kembali sama sekali tidak mengambil pusing pertikaian yang sedang berlaku di sekitarnya.
"Bu-bukan seperti itu maksud kami Pak Bram. Sebenarnya Hana menolak menikah dengan putra anda makanya tadi sempat ingin kabur. Jadi kami sebagai orang tua yang sangat menyayanginya tidak ingin dia nanti hidup menderita. Sebagai gantinya biarkan Alisya saja yang mempertanggung-jawabkan perbuatannya sendiri dengan menikahi putra bapak," tawar Ardi dengan penuh harap.
"Ha ha ha. Kamu pikir boleh mempermainkan aku seperti itu, hah!" gertak Bram dengan senyum sinisnya. "Kalau kamu memang ingin menukar mereka seharusnya tidak perlu dirias seperti ini kan. Sedangkan Alisya sendiri tampaknya baru bangun tidur dengan keadaan baru selesai mandi ... baju berantakan seperti itu tandanya terburu-buru dipakai. Kamu pikir aku ini bodoh!" Bram memukul meja dengan kuat sehingga membuat Aisyah dan Wati tertunduk takut.
"Bu-bukan seperti itu Pak Bram. Saya mana mungkin berani," sahut Ardi dengan wajah memelas kerena turut ketakutan.
"Bukannya sebelumnya kamu berpikir aku lah yang akan menjadi mempelai pria. Berani-beraninya kalian berbohong dan ingin mempermainkan aku!" Bram mencekik leher Ardi sehingga pria itu kesulitan bernafas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Teteh Lia
hadeuh,,, giliran tau cwo nya tampan aja, baru mengakui hutangnya 🤦♀️
2024-01-22
0
Ken ZO
Gempar
2024-01-06
1