Saat ingin memasuki lift, Uwais berpapasan dengan Mbak Surti, pelayan pribadi dirinya dan Qairunnisa, adiknya.
"Den Is," sapa Mbak Surti mengagetkan Uwais.
"Apa?" Ketus Uwais. Wajahnya tampak kesal, pandangannya tajam seperti ingin melahap orang.
"Ada tamu yang nungguin Tuan Muda di ruang tamu," kata Mbak Surti.
Tanpa pikir panjang, Uwais langsung ke ruang tamu sementara Mbak Surti melanjutkan langkahnya memanggil Hana.
Tok tok tok
Pintu terbuka memperlihatkan wajah Hana yang sedang menyembunyikan tubuhnya. "Nona ditungguin di meja makan." Ujar Mbak Surti datar tanpa ekspresi.
Meskipun sedikit ragu tapi Hana memberanikan diri untuk meminta pertolongan pada pelayan di hadapannya.
"Boleh saya minta tolong, Mbak?" tanya Hana sambil cengengesan tidak jelas membuat Mbak Surti kebingungan. Berusaha menutupi kepedihan dihatinya adalah kelebihan Hana Kalisya.
"Nona mau minta tolong apa?" Mbak Surti memang ditugaskan untuk melayani Uwais, Qairunnisa dan mulai sekarang dia juga harus melayani Hana.
"Saya mau pinjam baju, Mbak. Baju di dalam pada mewah banget saya nggak nyaman makenya." Senyum geli terbingkai indah di wajahnya. Menertawakan dirinya sendiri yang terlalu kampungan.
Mbak Surti paham dengan apa yang di maksud Hana karena dia lah yang memesan baju untuk Nona barunya itu. Tapi melihat wajah gemas Hana membuat Mbak Surti harus memesan beberapa baju lagi yang lebih tertutup dan sopan sesuai dengan selera Hana.
"Pakai aja dulu yang ada di dalam untuk sementara, saya akan memesan yang baru untuk Nona," saran Mbak Surti. "Sekarang ikut saya ke ruang makan. Nyonya Izati dan Tuan Putri sudah lama menunggu."
"Nyonya Izati? Pasti ibunya Uwais." Hana menerka-nerka dalam hatinya.
Hana terpaksa ke ruang makan dengan menggunakan kemeja Uwais yang kebesaran di tubuhnya dengan bawahan celana pendek juga milik Uwais. Mbak Surti hanya bisa menahan tawa saat melihat penampilan Hana. Memintanya mengganti pakaian akan memakan waktu lama sedangkan Izati dan Qairunnisa sudah berada di meja makan sepuluh menit yang lalu.
Di meja makan sudah ada Izati, istri Bram dan Qairunnisa, anak gadis Bram. Meskipun Hana sudah menjadi bagian dari keluarga ini tapi tidak sopan jika ia langsung duduk tanpa di persilahkan terlebih dahulu. Sadar jika pernikahannya bersama Uwais hanya untuk melunasi hutang keluarganya.
Izati memicingkan matanya pada pakaian aneh yang di kenakan Hana. "Kamu belum menyediakan baju untuk dia?" Izati beralih pada Mbak Surti.
"Sudah Nyonya tapi Nona Hana tidak nyaman dengan semua baju yang saya sediakan," sahut Mbak Surti.
"Hahh." Membuang nafas berat sebab menyadari dirinya mendapatkan menantu kampungan. "Ya sudah ... Kamu boleh pergi sekarang. Jangan lupa memesan pakaian dengan desain nya nyaman untuknya." Izati mengingat.
"Baik Nyonya." Mbak Surti pun berlalu pergi meninggalkan ruang makan melanjutkan pekerjaannya.
"Kalau miskin ya tetap aja miskin!" ketus Izati dengan wajah tak bersahabat.
Qairunnisa yang bingung dengan sikap Hana yang masih diam mematung tak ingin duduk pun mendekati wanita itu untuk menyapanya. "Kakak istri Abang Is, yah?"
Hana mengangkat kepala menatap gadis kecil itu lalu mengangguk perlahan.
"Namaku Qairunnisa Al-Qarny boleh panggil Nisa. Nama kakak pula siapa?" tanya Qairunnisa sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Saat Hana ingin menyambutnya tiba-tiba...
"Duduk di kursi kamu, Nisa. Tak baik meninggalkan makanan kamu, habiskan segera," imbuh Izati lalu melirik pada Hana. "Kamu duduk lah di kursi itu. Mulai sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini, tapi ingat! Aku tidak akan membiarkan kamu memanfaatkan putra semata wayangku!" Pertama kali bertemu, Izati sudah memberi peringatan pada Hana.
Hana paham maksud ucapan mertuanya itu. Menikah karena membayar hutang keluarga pasti akan menimbulkan kesalahan pahaman. Izati berpikir Hana menikahi putranya hanya untuk harta semata. Sementara Hana juga terpaksa dan masih belum bisa berdamai dengan takdirnya.
Oleh sebab itu, Izati sama sekali tidak berminat menghadiri pernikahan mereka tadi pagi. Dia juga begitu enggan makan malam bersama dengan menantu barunya itu tapi atas desakan sang suami, ia terpaksa duduk satu meja dengan Hana.
"Kamu paham!" bentak Izati membuat Hana terlonkcat kaget.
"Sa-saya paham, Bu." Hana harus mengalah demi ketenangan hidupnya selama menjadi menantu di rumah ini.
"Jangan kasar begitu pada menantu kita, Mom," Bram menghampiri istrinya lalu mengecup mesra rambut sang istri.
"Mommy tetap nggak suka dengan dia, Dad. Kenapa juga menerima wanita seperti ini untuk dijadikan menantu. Syarat untuk melunasi hutang pula! Bukannya untung, kita malah buntung nanti." Cibir Izati tidak suka.
"Kamu tidak boleh begitu, Mom. Dia sudah menjadi menantu kita sekarang. Tolong hargai dia." Bram mencoba membujuk istrinya tapi Izati tetap pada pendiriannya.
"Bagaimana kalau teman-temanku pada tahu. Mau di letak di mana muka Mommy ini, Daddy." Izati masih belum puas meluapkan isi hatinya.
"Jangan letak dimana-mana, Mommy. Biarkan aja di tempatnya semua." Goda Bram.
Hana sampai terkesimah dengan sikap Bram yang berubah hangat saat bersama anggota keluarganya. Berbanding terbalik saat pertama kali bertemu di kampung. Aura kejamnya sangat terpancar jelas.
Sekarang malah terlihat hangat, humoris dan sangat menyayangi keluarganya. Sama sekali tidak terlihat bahwa dia orang yang sangat kejam di luar sana.
"Nggak lucu, Dad!" Izati berubah ngambek dengan bibir yang manyun ke hadapan. Sedangkan Qairunnisa malah menahan tawa dengan lawak yang di berikan Daddy nya.
"Selamat malam, semuanya." Uwais datang juga mengecup rambut wanita yang melahirkan nya.
"Selamat malam juga, Kak," sahut Qairunnisa dengan senyum khas dirinya.
"Selamat malam."
Jawab Bram dan Izati bersamaan tapi dengan nada yang berbeda. Sedangkan Hana hanya menjawab dalam hati karena takut berbicara.
"Mommy kok manyun gitu? Daddy buat Mommy kesal lagi?" tebak Uwais.
"Bukan hanya Daddy kamu ... tapi istri kamu juga," sahut Izati datar.
Uwais menatap Hana dengan tatapan tajam mengintimidasi. Bram menyadari tatapan itu sehingga menegur sang anak.
"Jangan menatap istri kamu seperti itu Uwais. Dia seorang wanita sama dengan Mommy dan adik kamu. Hargai dia!" tegur Bram dengan nada serius.
Uwais tidak membantah ucapan Bram. Dia tahu pria seperti Bram sangat menghargai wanita apalagi istri dan anak gadisnya. Bram selalu mendidik Uwais untuk menjadi lelaki yang bisa mengayomi wanita dengan benar. Memposisikan diri di tempat yang tepat.
Bram beralih pada Hana. Ia menatap sendu pada wanita muda itu yang kini telah menjadi menantunya. "Hana."
"I-iya Pak Bram," sahut Hana dengan gagap.
"Panggil saya Daddy seperti Uwais dan Qairunnisa memanggil saya Daddy. Sekarang kamu juga anak saya sama seperti mereka." Bram kemudian merangkul Izati dan berkata, "Ini Mommy kamu. Dia sebenarnya wanita yang baik dan murah hati. Cuma kamu harus bekerja keras untuk meluluhkan hatinya."
"Daddy apa-apaan, sih?" cerca Izati masih kesal.
Bram kemudian menatap Qairunnisa.
"Nisa udah perkenalkan diri tadi, Dad. Sekarang Nisa mau masuk ke kamar dulu, udah kenyang." Nisa pamit pada semua orang tidak terkecuali Hana.
Semua juga sudah mulai melahap hidangan makan malam mereka. Suasana menjadi hangat dengan candaan Bram. Hana yang masih baru memilih fokus pada makanannya.
Setelah makan Bram meminta Uwais menemani Hana di kamar mereka.
"Kalau begitu kami pamit ke kamar dulu." Imbuh Uwais pasrah.
"Kita nggak boleh kalah juga dari mereka, Sayang. Kita malam pertama juga, yuk." Bram mencoba menggoda istrinya lagi.
"Malam pertama apanya. Seribu malam mungkin,"
Sepasang suami istri paruh baya itu saling tertawa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments