Bab 6 Malam pertama

Saat ingin memasuki lift, Uwais berpapasan dengan Mbak Surti, pelayan pribadi dirinya dan Qairunnisa, adiknya.

"Den Is," sapa Mbak Surti mengagetkan Uwais.

"Apa?" Ketus Uwais. Wajahnya tampak kesal, pandangannya tajam seperti ingin melahap orang.

"Ada tamu yang nungguin Tuan Muda di ruang tamu," kata Mbak Surti.

Tanpa pikir panjang, Uwais langsung ke ruang tamu sementara Mbak Surti melanjutkan langkahnya memanggil Hana.

Tok tok tok

Pintu terbuka memperlihatkan wajah Hana yang sedang menyembunyikan tubuhnya. "Nona ditungguin di meja makan." Ujar Mbak Surti datar tanpa ekspresi.

Meskipun sedikit ragu tapi Hana memberanikan diri untuk meminta pertolongan pada pelayan di hadapannya.

"Boleh saya minta tolong, Mbak?" tanya Hana sambil cengengesan tidak jelas membuat Mbak Surti kebingungan. Berusaha menutupi kepedihan dihatinya adalah kelebihan Hana Kalisya.

"Nona mau minta tolong apa?" Mbak Surti memang ditugaskan untuk melayani Uwais, Qairunnisa dan mulai sekarang dia juga harus melayani Hana.

"Saya mau pinjam baju, Mbak. Baju di dalam pada mewah banget saya nggak nyaman makenya." Senyum geli terbingkai indah di wajahnya. Menertawakan dirinya sendiri yang terlalu kampungan.

Mbak Surti paham dengan apa yang di maksud Hana karena dia lah yang memesan baju untuk Nona barunya itu. Tapi melihat wajah gemas Hana membuat Mbak Surti harus memesan beberapa baju lagi yang lebih tertutup dan sopan sesuai dengan selera Hana.

"Pakai aja dulu yang ada di dalam untuk sementara, saya akan memesan yang baru untuk Nona," saran Mbak Surti. "Sekarang ikut saya ke ruang makan. Nyonya Izati dan Tuan Putri sudah lama menunggu."

"Nyonya Izati? Pasti ibunya Uwais." Hana menerka-nerka dalam hatinya.

Hana terpaksa ke ruang makan dengan menggunakan kemeja Uwais yang kebesaran di tubuhnya dengan bawahan celana pendek juga milik Uwais. Mbak Surti hanya bisa menahan tawa saat melihat penampilan Hana. Memintanya mengganti pakaian akan memakan waktu lama sedangkan Izati dan Qairunnisa sudah berada di meja makan sepuluh menit yang lalu.

Di meja makan sudah ada Izati, istri Bram dan Qairunnisa, anak gadis Bram. Meskipun Hana sudah menjadi bagian dari keluarga ini tapi tidak sopan jika ia langsung duduk tanpa di persilahkan terlebih dahulu. Sadar jika pernikahannya bersama Uwais hanya untuk melunasi hutang keluarganya.

Izati memicingkan matanya pada pakaian aneh yang di kenakan Hana. "Kamu belum menyediakan baju untuk dia?" Izati beralih pada Mbak Surti.

"Sudah Nyonya tapi Nona Hana tidak nyaman dengan semua baju yang saya sediakan," sahut Mbak Surti.

"Hahh." Membuang nafas berat sebab menyadari dirinya mendapatkan menantu kampungan. "Ya sudah ... Kamu boleh pergi sekarang. Jangan lupa memesan pakaian dengan desain nya nyaman untuknya." Izati mengingat.

"Baik Nyonya." Mbak Surti pun berlalu pergi meninggalkan ruang makan melanjutkan pekerjaannya.

"Kalau miskin ya tetap aja miskin!" ketus Izati dengan wajah tak bersahabat.

Qairunnisa yang bingung dengan sikap Hana yang masih diam mematung tak ingin duduk pun mendekati wanita itu untuk menyapanya. "Kakak istri Abang Is, yah?"

Hana mengangkat kepala menatap gadis kecil itu lalu mengangguk perlahan.

"Namaku Qairunnisa Al-Qarny boleh panggil Nisa. Nama kakak pula siapa?" tanya Qairunnisa sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Saat Hana ingin menyambutnya tiba-tiba...

"Duduk di kursi kamu, Nisa. Tak baik meninggalkan makanan kamu, habiskan segera," imbuh Izati lalu melirik pada Hana. "Kamu duduk lah di kursi itu. Mulai sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini, tapi ingat! Aku tidak akan membiarkan kamu memanfaatkan putra semata wayangku!" Pertama kali bertemu, Izati sudah memberi peringatan pada Hana.

Hana paham maksud ucapan mertuanya itu. Menikah karena membayar hutang keluarga pasti akan menimbulkan kesalahan pahaman. Izati berpikir Hana menikahi putranya hanya untuk harta semata. Sementara Hana juga terpaksa dan masih belum bisa berdamai dengan takdirnya.

Oleh sebab itu, Izati sama sekali tidak berminat menghadiri pernikahan mereka tadi pagi. Dia juga begitu enggan makan malam bersama dengan menantu barunya itu tapi atas desakan sang suami, ia terpaksa duduk satu meja dengan Hana.

"Kamu paham!" bentak Izati membuat Hana terlonkcat kaget.

"Sa-saya paham, Bu." Hana harus mengalah demi ketenangan hidupnya selama menjadi menantu di rumah ini.

"Jangan kasar begitu pada menantu kita, Mom," Bram menghampiri istrinya lalu mengecup mesra rambut sang istri.

"Mommy tetap nggak suka dengan dia, Dad. Kenapa juga menerima wanita seperti ini untuk dijadikan menantu. Syarat untuk melunasi hutang pula! Bukannya untung, kita malah buntung nanti." Cibir Izati tidak suka.

"Kamu tidak boleh begitu, Mom. Dia sudah menjadi menantu kita sekarang. Tolong hargai dia." Bram mencoba membujuk istrinya tapi Izati tetap pada pendiriannya.

"Bagaimana kalau teman-temanku pada tahu. Mau di letak di mana muka Mommy ini, Daddy." Izati masih belum puas meluapkan isi hatinya.

"Jangan letak dimana-mana, Mommy. Biarkan aja di tempatnya semua." Goda Bram.

Hana sampai terkesimah dengan sikap Bram yang berubah hangat saat bersama anggota keluarganya. Berbanding terbalik saat pertama kali bertemu di kampung. Aura kejamnya sangat terpancar jelas.

Sekarang malah terlihat hangat, humoris dan sangat menyayangi keluarganya. Sama sekali tidak terlihat bahwa dia orang yang sangat kejam di luar sana.

"Nggak lucu, Dad!" Izati berubah ngambek dengan bibir yang manyun ke hadapan. Sedangkan Qairunnisa malah menahan tawa dengan lawak yang di berikan Daddy nya.

"Selamat malam, semuanya." Uwais datang juga mengecup rambut wanita yang melahirkan nya.

"Selamat malam juga, Kak," sahut Qairunnisa dengan senyum khas dirinya.

"Selamat malam."

Jawab Bram dan Izati bersamaan tapi dengan nada yang berbeda. Sedangkan Hana hanya menjawab dalam hati karena takut berbicara.

"Mommy kok manyun gitu? Daddy buat Mommy kesal lagi?" tebak Uwais.

"Bukan hanya Daddy kamu ... tapi istri kamu juga," sahut Izati datar.

Uwais menatap Hana dengan tatapan tajam mengintimidasi. Bram menyadari tatapan itu sehingga menegur sang anak.

"Jangan menatap istri kamu seperti itu Uwais. Dia seorang wanita sama dengan Mommy dan adik kamu. Hargai dia!" tegur Bram dengan nada serius.

Uwais tidak membantah ucapan Bram. Dia tahu pria seperti Bram sangat menghargai wanita apalagi istri dan anak gadisnya. Bram selalu mendidik Uwais untuk menjadi lelaki yang bisa mengayomi wanita dengan benar. Memposisikan diri di tempat yang tepat.

Bram beralih pada Hana. Ia menatap sendu pada wanita muda itu yang kini telah menjadi menantunya. "Hana."

"I-iya Pak Bram," sahut Hana dengan gagap.

"Panggil saya Daddy seperti Uwais dan Qairunnisa memanggil saya Daddy. Sekarang kamu juga anak saya sama seperti mereka." Bram kemudian merangkul Izati dan berkata, "Ini Mommy kamu. Dia sebenarnya wanita yang baik dan murah hati. Cuma kamu harus bekerja keras untuk meluluhkan hatinya."

"Daddy apa-apaan, sih?" cerca Izati masih kesal.

Bram kemudian menatap Qairunnisa.

"Nisa udah perkenalkan diri tadi, Dad. Sekarang Nisa mau masuk ke kamar dulu, udah kenyang." Nisa pamit pada semua orang tidak terkecuali Hana.

Semua juga sudah mulai melahap hidangan makan malam mereka. Suasana menjadi hangat dengan candaan Bram. Hana yang masih baru memilih fokus pada makanannya.

Setelah makan Bram meminta Uwais menemani Hana di kamar mereka.

"Kalau begitu kami pamit ke kamar dulu." Imbuh Uwais pasrah.

"Kita nggak boleh kalah juga dari mereka, Sayang. Kita malam pertama juga, yuk." Bram mencoba menggoda istrinya lagi.

"Malam pertama apanya. Seribu malam mungkin,"

Sepasang suami istri paruh baya itu saling tertawa.

Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!