Bab 14 Masa lalu Uwais

Mbak Surti sedang berdiri mematung menemani Izati yang sedang resah menunggu kepulangan sang anak dan menantu. Ia mondar-mandir sambil menggigit bibir sesekali.

"Kenapa mereka lama sekali" gumam Izati gelisah. Ia khawatir jika Uwais akan di manfaat oleh keluarga Hana.

"Jika Uwais pasrah begitu saja menuruti setiap permintaan konyol mereka. Aku tidak segan-segan memintanya menceraikan saja wanita sial itu. Dasar tidak tahu malu," sambungnya kesal.

Yang di tunggu-tunggu pun telah tiba, motor Uwais memasuki halaman rumah membuat Izati heran.

"Kemana mobil kamu? Kata pak Suryo, kamu menggunakan mobil tapi kok sekarang malah pulang pakai motor." Pikiran Izati semakin curiga.

Ia menatap Hana dengan bengis. Ingin menerkam kapan saja wanita di hadapannya.

"Kenapa harus cemas begitu, Mommy? Everything Is Ok. Ada bangkai tikus dalam mobil tadi, jadi aku meminta dihantarkan motor supaya lebih segar," jawab Uwais sambil menjeling tajam ke arah Hana.

Hana menunduk sambil menggigit bibir. Ucapan Uwais bagaikan sindiran memalukan untuknya.

Izati bernafas lega. Tidak akan bisa terima jika yang di pikirkannya benar terjadi. Dia akan menjadi garda terdepan membuat Uwais menceraikan istrinya.

"Kok bisa ada bangkai tikus di mobil kamu?" Izati tampak bingung. "Mommy harus memanggil tukang bersih untuk membersihkan garasi pribadi kamu," sambungnya ingin beranjak memanggil pak Suryo.

"Sudah ... Mommy di sini aja. Nanti Uwais yang minta pak Suryo untuk membersihkan garasi itu. Mommy duduk manis aja, ok." Uwais menggandeng Izati ke ruang keluarga.

"Kamu tahu, Is. Tadi Alia datang ke rumah mencari kamu. Tapi Mommy bilang kamu sedang ada urusan, jadi dia pamit pulang, deh. Dia tampak kecewa banget tahu," imbuh Izati saat mereka sudah duduk dengan santai.

Alia adalah wanita sederhana pilihan Izati. Dari tiga tahun lalu Izati selalu mencoba mendekatkan Uwais dengan Alia. Tapi Uwais menolak mentah-mentah perjodohan itu. Ia begitu tidak suka melihat Alia atas sebab tertentu.

"Dia tampak biasa saja. Sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan, Mommy," gumam Uwais tidak puas hati. Berpikir bahwa Hana sama sekali tidak menaruh hati padanya. "Apa sih yang ku pikirkan. Dasar bodoh!" Makinya untuk diri sendiri.

Hana duduk tepat berhadapan dengan Uwais tanpa menoleh sedikit pun. Sehari tidak bertemu ponselnya membuatnya rindu. Kehilangan motor butut kesayangan seperti angin lalu baginya. Ia berusaha tabah dan akan mencari cara agar segera mendapat gantinya dengan kerja kerasnya sendiri.

Sebenarnya setiap kali Izati membicarakan Alia, Uwais langsung kesal dan memilih tidak menanggapi sang Mommy. Tapi ia ingin melihat reaksi istri paksaanya jadi ia terpaksa duduk manis mendengarkan ocehan sang Mommy.

"Oh, ya. Terus dia ngomong apa sama, Mommy?" sahut Uwais berpura-pura senang.

Izati pun dengan gembira menceritakan apa saja yang ia lakukan bersama Alia pagi hingga siang hari. Izati mengajak Alia shoping dan makan di restoran mahal.

"Dia itu gadis yang baik. Nggak matrek!" ucap Izati sengaja membesarkan suara sambil melirik tajam ke arah Hana. "Tadi Mommy ingin membelikan dia baju branded tapi dia menolak, Mommy paksa baru dia mau terima. Mommy ajak dia makan di restoran mewah dia malah hanya memesan air putih, kononnya kemahalan."

Uwais mendengarkan cerita Izati dengan malas. Tapi Hana tetap biasa saja, ia fokus menatap ponsel jadulnya sambil sesekali cengengesan membuat Uwais semakin kesal.

"Lain kali ... Kalau Mommy mau ya ajak aja makan siang di rumah ini. Pasti dia suka," saran Uwais membuat Izati senang.

"Beneran? Mommy tahu kamu pasti akan suka dengan gadis pilihan Mommy." Wajah Izati tampak sangat gembira.

"Kalau begitu, Uwais pamit masuk kamar dulu, yah. Udah gerah banget ini," Uwais pamit tapi wajah nya masih tetap kesal.

Hana masih tidak bergeming, ia masih fokus bermain ponsel jadulnya.

Izati menghampiri dan mencoba memanas-manasi Hana. "Kamu dengan sendiri kan apa yang Uwais katakan tadi. Siap-siap saja kamu akan diusir dari rumah ini," bisik Izati. .

Hana menyimpan ponselnya lalu menatap wajah mertuanya. "Saya akan menunggu momen itu, Mommy." Lalu berdiri dan membungkuk.

"Saya permisi dulu."

Izati mengetatkan rahangnya merasa tercabar. Sikap Hana semakin membuatnya jengkel. "Dasar perempuan tidak tahu malu! Harusnya ku jadikan kau pembantu gratisan di rumah ini. Enak saja ... berhutang malah menjadi istri orang kaya. Bukannya menderita malah hidup senang dia di rumah ini."

"Akan ku pastikan hidupmu menderita di rumah ini. Bayar hutang keluarga mu dengan tenagamu itu," batinnya dengan penuh dendam.

Mbak Surti sampai geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah majikannya. "Semoga tidak sebaliknya, Nyonya," gumam nya.

***

Saat malam, setelah makan malam. Uwais kembali ke ruang pribadinya untuk menyelesaikan skripsi terakhirnya. Tinggal beberapa hari ia akan menjalabi wisudah bersama mahasiswa yang lain. Setelah itu ia akan mengabdikan seluruh waktunya untuk perusahaan.

Sementara Hana menunggu Uwais untuk tidur. Bukan untuk tidur bersama tapi ia ingin memastikan sesuatu pada suaminya itu.

"Tuan Muda kok lama banget, sih?"

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar.

"Masuk." Teriak Hana mempersilahkan seseorang itu masuk.

"Permisi, Nona. Tuan besar meminta Nona menemuinya di ruang kerja pribadinya," ucap Mbak Surti menyampaikan pesanan dari Bram.

"Baiklah. Saya akan segera ke sana," sahut Hana. Ia mengikuti Mbak Surti menuju ruang kerja pribadi Bram.

"Kira-kira ... Apa yang Daddy ingin sampaikan?" bisik Hana saat di depan ruangan Bram.

"Nona tanyakan saja langsung. Saya juga tidak tahu apa-apa," sahut Mbak Surti sebelum mengetuk pintu.

Tok, tok, tok.

"Masuk," sahut Bram dari dalam ruangan.

"Non Hana sudah datang, Tuan." Mbak Surti mempersilahkan Hana masuk lalu pamit keluar. "Saya permisi dulu."

Hana mendekati Bram di meja kerjanya dengan dada yang berdebar-debar. Aura di ruangan itu sangat berbeda, begitu mencekam dan mengintimidasi.

"A-ada apa Daddy memanggil saya?" tanya Hana dengan gugup.

Bram yang fokus dengan dokumen di hadapan nya seketika menatap Hana intens. Ia mengambil sebuah amplop dan memberikannya pada wanita di hadapannya.

Hana mengambil amplop itu dan melihat isi di dalam nya yang ternyata adalah beberapa foto suaminya bersama wanita lain. "Maksud Daddy apa memperlihatkan foto ini padaku?" tanya Hana penasaran.

"Wanita itu adalah mantan Uwais yang berhasil membuatnya membenci wanita." Bram bangkit dari duduknya kemudian menatap sebuah figura besar yang terpajang indah di dindingnya.

Foto Uwais yang tampak tertawa lepas bersama seluruh ahli keluarganya. "Dulu dia adalah pria yang pengertian dan sangat ceria. Tanpa dia ... dunia kami akan sepi tanpa canda tawanya. Aku selalu mengajarinya agar mencintai dan memuliakan wanita. Dia melakukannya tapi ... " ucapan Bram terhenti.

Ia teringat waktu itu, Uwais pulang ke rumah pertama kali dalam keadaan mabuk berat. Selama ini dia sama sekali tidak pernah menyentuh rokok apalagi yang namanya minuman keras. Merokok, mabuk-mabukan setiap malam, hisap dad4h semua Uwais lakukan tanpa ada yang bisa mencegahnya.

Yang lebih parahnya lagi, dia tidak lagi mau dekat dengan makhluk yang namanya wanita. Setiap kali ada seorang wanita yang mendekatinya, dia tidak segan-segan menyakiti wanita itu. Sampai mereka khawatir jika dia berubah menjadi penyuka sesam jenis.

"Wanita itu mengubah Uwais dengan sangat drastis. Kami benar-benar tidak tega melihatnya sehingga kami harus mengirimnya melakukan pengobatan rehap untuk memulihkan jiwanya. Selama setahun lebih kamu berpisah membuat kamk tidak tega dan membawanya kembali." sambung Bram dengan tatapan jauh menyusuri kenangan.

Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!