Mbak Surti sedang berdiri mematung menemani Izati yang sedang resah menunggu kepulangan sang anak dan menantu. Ia mondar-mandir sambil menggigit bibir sesekali.
"Kenapa mereka lama sekali" gumam Izati gelisah. Ia khawatir jika Uwais akan di manfaat oleh keluarga Hana.
"Jika Uwais pasrah begitu saja menuruti setiap permintaan konyol mereka. Aku tidak segan-segan memintanya menceraikan saja wanita sial itu. Dasar tidak tahu malu," sambungnya kesal.
Yang di tunggu-tunggu pun telah tiba, motor Uwais memasuki halaman rumah membuat Izati heran.
"Kemana mobil kamu? Kata pak Suryo, kamu menggunakan mobil tapi kok sekarang malah pulang pakai motor." Pikiran Izati semakin curiga.
Ia menatap Hana dengan bengis. Ingin menerkam kapan saja wanita di hadapannya.
"Kenapa harus cemas begitu, Mommy? Everything Is Ok. Ada bangkai tikus dalam mobil tadi, jadi aku meminta dihantarkan motor supaya lebih segar," jawab Uwais sambil menjeling tajam ke arah Hana.
Hana menunduk sambil menggigit bibir. Ucapan Uwais bagaikan sindiran memalukan untuknya.
Izati bernafas lega. Tidak akan bisa terima jika yang di pikirkannya benar terjadi. Dia akan menjadi garda terdepan membuat Uwais menceraikan istrinya.
"Kok bisa ada bangkai tikus di mobil kamu?" Izati tampak bingung. "Mommy harus memanggil tukang bersih untuk membersihkan garasi pribadi kamu," sambungnya ingin beranjak memanggil pak Suryo.
"Sudah ... Mommy di sini aja. Nanti Uwais yang minta pak Suryo untuk membersihkan garasi itu. Mommy duduk manis aja, ok." Uwais menggandeng Izati ke ruang keluarga.
"Kamu tahu, Is. Tadi Alia datang ke rumah mencari kamu. Tapi Mommy bilang kamu sedang ada urusan, jadi dia pamit pulang, deh. Dia tampak kecewa banget tahu," imbuh Izati saat mereka sudah duduk dengan santai.
Alia adalah wanita sederhana pilihan Izati. Dari tiga tahun lalu Izati selalu mencoba mendekatkan Uwais dengan Alia. Tapi Uwais menolak mentah-mentah perjodohan itu. Ia begitu tidak suka melihat Alia atas sebab tertentu.
"Dia tampak biasa saja. Sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan, Mommy," gumam Uwais tidak puas hati. Berpikir bahwa Hana sama sekali tidak menaruh hati padanya. "Apa sih yang ku pikirkan. Dasar bodoh!" Makinya untuk diri sendiri.
Hana duduk tepat berhadapan dengan Uwais tanpa menoleh sedikit pun. Sehari tidak bertemu ponselnya membuatnya rindu. Kehilangan motor butut kesayangan seperti angin lalu baginya. Ia berusaha tabah dan akan mencari cara agar segera mendapat gantinya dengan kerja kerasnya sendiri.
Sebenarnya setiap kali Izati membicarakan Alia, Uwais langsung kesal dan memilih tidak menanggapi sang Mommy. Tapi ia ingin melihat reaksi istri paksaanya jadi ia terpaksa duduk manis mendengarkan ocehan sang Mommy.
"Oh, ya. Terus dia ngomong apa sama, Mommy?" sahut Uwais berpura-pura senang.
Izati pun dengan gembira menceritakan apa saja yang ia lakukan bersama Alia pagi hingga siang hari. Izati mengajak Alia shoping dan makan di restoran mahal.
"Dia itu gadis yang baik. Nggak matrek!" ucap Izati sengaja membesarkan suara sambil melirik tajam ke arah Hana. "Tadi Mommy ingin membelikan dia baju branded tapi dia menolak, Mommy paksa baru dia mau terima. Mommy ajak dia makan di restoran mewah dia malah hanya memesan air putih, kononnya kemahalan."
Uwais mendengarkan cerita Izati dengan malas. Tapi Hana tetap biasa saja, ia fokus menatap ponsel jadulnya sambil sesekali cengengesan membuat Uwais semakin kesal.
"Lain kali ... Kalau Mommy mau ya ajak aja makan siang di rumah ini. Pasti dia suka," saran Uwais membuat Izati senang.
"Beneran? Mommy tahu kamu pasti akan suka dengan gadis pilihan Mommy." Wajah Izati tampak sangat gembira.
"Kalau begitu, Uwais pamit masuk kamar dulu, yah. Udah gerah banget ini," Uwais pamit tapi wajah nya masih tetap kesal.
Hana masih tidak bergeming, ia masih fokus bermain ponsel jadulnya.
Izati menghampiri dan mencoba memanas-manasi Hana. "Kamu dengan sendiri kan apa yang Uwais katakan tadi. Siap-siap saja kamu akan diusir dari rumah ini," bisik Izati. .
Hana menyimpan ponselnya lalu menatap wajah mertuanya. "Saya akan menunggu momen itu, Mommy." Lalu berdiri dan membungkuk.
"Saya permisi dulu."
Izati mengetatkan rahangnya merasa tercabar. Sikap Hana semakin membuatnya jengkel. "Dasar perempuan tidak tahu malu! Harusnya ku jadikan kau pembantu gratisan di rumah ini. Enak saja ... berhutang malah menjadi istri orang kaya. Bukannya menderita malah hidup senang dia di rumah ini."
"Akan ku pastikan hidupmu menderita di rumah ini. Bayar hutang keluarga mu dengan tenagamu itu," batinnya dengan penuh dendam.
Mbak Surti sampai geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah majikannya. "Semoga tidak sebaliknya, Nyonya," gumam nya.
***
Saat malam, setelah makan malam. Uwais kembali ke ruang pribadinya untuk menyelesaikan skripsi terakhirnya. Tinggal beberapa hari ia akan menjalabi wisudah bersama mahasiswa yang lain. Setelah itu ia akan mengabdikan seluruh waktunya untuk perusahaan.
Sementara Hana menunggu Uwais untuk tidur. Bukan untuk tidur bersama tapi ia ingin memastikan sesuatu pada suaminya itu.
"Tuan Muda kok lama banget, sih?"
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar.
"Masuk." Teriak Hana mempersilahkan seseorang itu masuk.
"Permisi, Nona. Tuan besar meminta Nona menemuinya di ruang kerja pribadinya," ucap Mbak Surti menyampaikan pesanan dari Bram.
"Baiklah. Saya akan segera ke sana," sahut Hana. Ia mengikuti Mbak Surti menuju ruang kerja pribadi Bram.
"Kira-kira ... Apa yang Daddy ingin sampaikan?" bisik Hana saat di depan ruangan Bram.
"Nona tanyakan saja langsung. Saya juga tidak tahu apa-apa," sahut Mbak Surti sebelum mengetuk pintu.
Tok, tok, tok.
"Masuk," sahut Bram dari dalam ruangan.
"Non Hana sudah datang, Tuan." Mbak Surti mempersilahkan Hana masuk lalu pamit keluar. "Saya permisi dulu."
Hana mendekati Bram di meja kerjanya dengan dada yang berdebar-debar. Aura di ruangan itu sangat berbeda, begitu mencekam dan mengintimidasi.
"A-ada apa Daddy memanggil saya?" tanya Hana dengan gugup.
Bram yang fokus dengan dokumen di hadapan nya seketika menatap Hana intens. Ia mengambil sebuah amplop dan memberikannya pada wanita di hadapannya.
Hana mengambil amplop itu dan melihat isi di dalam nya yang ternyata adalah beberapa foto suaminya bersama wanita lain. "Maksud Daddy apa memperlihatkan foto ini padaku?" tanya Hana penasaran.
"Wanita itu adalah mantan Uwais yang berhasil membuatnya membenci wanita." Bram bangkit dari duduknya kemudian menatap sebuah figura besar yang terpajang indah di dindingnya.
Foto Uwais yang tampak tertawa lepas bersama seluruh ahli keluarganya. "Dulu dia adalah pria yang pengertian dan sangat ceria. Tanpa dia ... dunia kami akan sepi tanpa canda tawanya. Aku selalu mengajarinya agar mencintai dan memuliakan wanita. Dia melakukannya tapi ... " ucapan Bram terhenti.
Ia teringat waktu itu, Uwais pulang ke rumah pertama kali dalam keadaan mabuk berat. Selama ini dia sama sekali tidak pernah menyentuh rokok apalagi yang namanya minuman keras. Merokok, mabuk-mabukan setiap malam, hisap dad4h semua Uwais lakukan tanpa ada yang bisa mencegahnya.
Yang lebih parahnya lagi, dia tidak lagi mau dekat dengan makhluk yang namanya wanita. Setiap kali ada seorang wanita yang mendekatinya, dia tidak segan-segan menyakiti wanita itu. Sampai mereka khawatir jika dia berubah menjadi penyuka sesam jenis.
"Wanita itu mengubah Uwais dengan sangat drastis. Kami benar-benar tidak tega melihatnya sehingga kami harus mengirimnya melakukan pengobatan rehap untuk memulihkan jiwanya. Selama setahun lebih kamu berpisah membuat kamk tidak tega dan membawanya kembali." sambung Bram dengan tatapan jauh menyusuri kenangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments