Alisya, Aisyah dan Wati tidak akan membiarkan Hana hidup dengan tenang. Sebisa mungkin mereka berusah menjelekkan Hana di depan suaminya. Entah sebab apa Hana menjadi Boomerang dan tidak akan membuat mereka senang dengan kebahagiaannya.
"Anda jangan coba-coba menjelekkan istri saya di depan saya. Selagi saya masih ada rasa sopan untuk anda. Maka lebih baik anda diam!" gertak Uwais menatap tajam pada Wati.
"Bu-bukan seperti itu maksud ibu saya, Nak Uwais. Dia cuma mau ngomong kalau Lisya lebih baik dari Hana. Makanya kami pikir kamu ta-" Aisyah ingin membela sang ibu tapi hanya mendapat tatapan tajam dari pria itu.
"Sudah lah, Mas. Kamu jangan ladenin mereka, kita ke kamar ku yuk." Hana menjauhkan Uwais dari keluarganya.
Akting Uwais sebagai suami yang sangat mencintai istrinya tampak terlalu mendalami. Hana khawatir Uwais malah kesal beneran meladeni mereka sehingga menyakiti keluarganya. Dia hanya ingin membuka mata mereka bagaimana sengsaranya dia hidup di rumah itu tanpa ada maksud untuk menyakiti fisik mereka.
"Silahkan masuk ... ini dia kamarku. Sederhana, kan." ucap Hana.
Kamar sempit yang terletak di pojok belakang rumah. Di penuhi barang-barang bekas terlihat seperti gudang. Hanya ada tikar tipis dan bantal usang sebagai penanda bahwa ruangan itu memang adalah kamar.
"Ini lah ruang ternyaman yang pernah aku rasakan semasa aku kecil sampai lah aku pindah ke kota untuk mencari pekerjaan. Setiap lelah dan keringat ku singkirkan di sini bersama setiap tangis dan sedihku." Setetes air bening keluar dari pelupuk mata Hana. Wanita itu segera mengusapnya sambil tetap tersenyum.
Uwais melihat cukup dalam kesedihan yang Hana rasakan. Melihat tempat ia tidur membuat hatinya teriris. Mengingat dia adalah orang kaya, kasur yang ditidurinya sangat empuk dan mahal sehingga membuatnya merasa kesihan pada kehidupan sang istri.
Padahal rumah itu tidak lah terlalu kecil dan banyak perabotan yang juga terbilang mahal jika dibandingkan dengan harga sebuah kasur.
"Jangan percaya omongan dia, Kak Is. Dia saja ngarang cerita yang buruk-buruk tentang kami padahal sebenarnya tidak seperti itu. Iyakan ibu, nenek?" Ucap Alisya mencoba memutar balikkan fakta.
"Be-benar, Nak Uwais. Hana memang tidak suka dengan kami makanya dia suka membuat cerita kalau kami ini kejam padanya. Padahal kami sudah buat yang terbaik. Cuma dia aja yang tidak tau bersyukur." Ucap Aisyah memasang wajah sedih.
"Terserah kalian mau bilang apa." Hana masuk ke dalam kamar yang mirip gudang itu dan mengambil tas miliknya. "Ini tas ku dan beberapa pakaian yang ku bawa dari kota waktu itu. Kalau memang aku tidak tidur di sini ... kenapa tas ini ada di sini?".
Hana memeriksa isi tas miliknya semuanya masih ada kecuali kunci motor butut miliknya.
Ketiga wanita beda generasi itu gelagapan bingung harus bohong bagaimana lagi. Bukti sudah ada di depan mata, mereka tidak bisa lagi memanipulasi fakta.
"Mungkin pekerja dekorasi yang tidak sengaja menyimpan tas itu di gudang." Tiba-tiba Ardi datang dan membela anak dan istrinya.
Hana menatap ayahnya sendu. Pria itu tidak lagi membela atau sekedar membawa Hana menjauh dari istri dan anak bungsunya. Kejadian kemarin membuat Ardi menjadi sosok ayah yang berbeda di mata Hana. Jika sebelumnya Ardi masih bisa membela walau pun tidak akan menang dari sang istri tapi Hana tetap merasa senang bisa memiliki Ardi sebagai ayahnya.
"Dari pada ribut masalah sepele di sini. Lebih baik kita duduk minum kopi dulu." Ardi mengajak Uwais ke ruang tamu untuk duduk. "Hana, buatkan ayah kopi. Ayah rindu kopi buatan kamu. Buatan Alisya kurang srek di leher ayah," pintanya.
Hana sempat kaget tapi juga merasa senang disebabkan sang ayah merindukan kopi buatannya.
Alisya yang mendengar permintaan sang ayah merasa direndahkan. Tapi wajahnya setebal dinding rumah, tidak akan pernah malu, akan tetus dekatin Uwais. Ia ikut duduk disamping pria idamannya sambil menopang dagu memerhatikan wajah Uwais. Sedangkan Aisyah dan Wati masuk ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.
Uwais mendekatkan wajahnya pada Alisya. Wajah wanita itu seketika memerah karena grogi bisa menatap wajah Uwais dengan dekat. Mata elang indah itu menatap tajam ke arahnya, membuat tubuh Alisya tiba-tiba gergetar hebat. Yakin jika pria itu akan terpesona dengan kecantikan wajahnya dan tingkah manja dirinya.
"Akhirnya usaha mu membuahkan hasil. Akhirnya Kak Is menyadari kecantikan diriku. Ada cinta dari di matanya itu untukku." Alisya bergumam dalam hatinya dengan percaya diri.
"Semakin kamu bersikap murahan seperti ini. Semakin aku jijik!" bisik Uwais.
Ucapan itu seketika menampar kepercayaan Alisya. Membuang muka ke samping menghilangkan malu atas hinaan Uwais.
Beberapa menit kemudian, Hana datang membawakan secangkir kopi untuk Ardi. "Kok cuma satu? Untuk Uwais mana?" bingung Ardi sambil menyambut kopi dari tangan Hana.
"Suami ku tidak minum kopi, Yah. Coklat kesukaannya tidak ada dalam persediaan dapur," sahut Hana.
"Lagi pula kami tak akan lama. Aku ingin mengajak istriku ke restoran dekat pantai. Tadi saya sempat lihat pantai saat menuju ke sini," jelas Uwais.
"Kita pulang sekarang," sambung Uwais bangkit dari duduk nya dan menggandeng tangan Hana untuk segera keluar dari rumah.
"Tunggu! Masih ada yang kurang," Hana menahan tangan nya kemudian kembali menatap sang ayah. "Kunci motorku di mana, Yah?" tanya Hana sambil celingukan mencari letak kunci motornya.
Ardi dan Alisya saling tatap.
"Untuk apa lagi kamu mencari motor buruk itu? Kamu bisa minta yang baru pada suami mu," jawab Ardi berusaha santai.
"Tidak, Ayah. Aku mau pakai motor itu untuk berangkat kerja. Lagi pula cicilan motor itu belum habis." Hana mulai curiga kemana motornya pergi.
"Hallah, motor buruk begitu saja dicari. Dasar miskin!" cibir Alisya.
"Kalian jual motor itu?" Mata Hana mulai berembun. Padahal motor itu salah satu barang berharga yang ia punya meskipun harganya tak seberapa. Tapi bagi Hana itu sudah cukup berharga. Dua tahun melewati susah senang bersama.
Mereka sekeluarga memang sudah menjual motor itu untuk kepentingan mereka sendiri. Kebetulan ada tetangga yang ingin membeli motor butut itu untuk anaknya. Dengan senang hati Alisya dan ibunya menjual tanpa sepengetahuan Hana. Harganya tak sebanding dengan jerih paya yang Hana berikan untuk membeli motor itu.
"Kamu kok pelit banget, sih. Kamu udah jadi kaya sekarang nggak perlu berlebihan gitu juga. Motor buruk aja di sayang-sayang." Alisya kembali memanas-manasi kesedihan Hana. "Lihat lah, Kak Is. Dia itu wanita yang pelit. Sama keluarga sendiri aja pelit." Sambung Alisya playing viktim.
Uwais tidak ingin lagi berlama-lama di rumah itu. Tangan Hana di tarik keluar rumah dan memasangkannya helem. Tiba-tiba hatinya terluka melihat Hana bersedih meskipun tidak mengeluarkan air mata.
"Sudah ... kamu jangan sedih lagi. Aku janji akan memberikan salah satu motor koleksi ku yang ada di garasi. Kamu tinggal pilih aja yang mana kamu suka," bujuk Uwais.
Alisya tidak ingin ketinggalan. Ia juga mau ikut makan di pinggir pantai bersama Hana dan Uwais. "Bawa aku aja, Kak. Hana hanya akan mempermalukan mu saja saat disana. Dia tidak pernah makan di restoran apalagi restoran mahal," cerca Alisya dengan wajah memohon.
"Itu hanya restoran biasa. Orang biasa juga sering ke sana," jelas Uwais yang semakin di buat emosi oleh sikap Alisya yang selalu menghalangi jalannya.
"Tapi dia memang tak pernah makan di tempat seperti itu. Tapi aku berbeda dengannya. Aku anak kampus yang sama dengan kampus Kak Is, jadi aku lebih pintar menjaga nama baik berbanding dia," Alisya tetap tidak menyerah.
"Diam!" Dengan menunjuk tepat di wajah Alisya. "Dengan kamu bicara seperti itu membuktikan kalau Hana tidak pernah kalian ajak makan di restoran." Uwais kemudian merangkul Hana masuk ke dalam pelukannya. "Aku lebih menyukai wanita tegar sepertinya berbanding wanita manja seperti kamu." Tegas Uwais.
Hana terkesimah dengan pembelaan suaminya. Meskipun hanya sandiwara tapi akting Uwais seolah-olah menyentuh hatinya. "Seandainya ini bukan sandiwara," lirihnya dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Aisyah Rahayu
terima kasih sudah menunggu kelanjutan cerita ini. agar lebih semangat jangan lupa tipsnya, yah
2024-01-14
0
April
Sambungannya mana??
2024-01-13
0