Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan

Alisya, Aisyah dan Wati tidak akan membiarkan Hana hidup dengan tenang. Sebisa mungkin mereka berusah menjelekkan Hana di depan suaminya. Entah sebab apa Hana menjadi Boomerang dan tidak akan membuat mereka senang dengan kebahagiaannya.

"Anda jangan coba-coba menjelekkan istri saya di depan saya. Selagi saya masih ada rasa sopan untuk anda. Maka lebih baik anda diam!" gertak Uwais menatap tajam pada Wati.

"Bu-bukan seperti itu maksud ibu saya, Nak Uwais. Dia cuma mau ngomong kalau Lisya lebih baik dari Hana. Makanya kami pikir kamu ta-" Aisyah ingin membela sang ibu tapi hanya mendapat tatapan tajam dari pria itu.

"Sudah lah, Mas. Kamu jangan ladenin mereka, kita ke kamar ku yuk." Hana menjauhkan Uwais dari keluarganya.

Akting Uwais sebagai suami yang sangat mencintai istrinya tampak terlalu mendalami. Hana khawatir Uwais malah kesal beneran meladeni mereka sehingga menyakiti keluarganya. Dia hanya ingin membuka mata mereka bagaimana sengsaranya dia hidup di rumah itu tanpa ada maksud untuk menyakiti fisik mereka.

"Silahkan masuk ... ini dia kamarku. Sederhana, kan." ucap Hana.

Kamar sempit yang terletak di pojok belakang rumah. Di penuhi barang-barang bekas terlihat seperti gudang. Hanya ada tikar tipis dan bantal usang sebagai penanda bahwa ruangan itu memang adalah kamar.

"Ini lah ruang ternyaman yang pernah aku rasakan semasa aku kecil sampai lah aku pindah ke kota untuk mencari pekerjaan. Setiap lelah dan keringat ku singkirkan di sini bersama setiap tangis dan sedihku." Setetes air bening keluar dari pelupuk mata Hana. Wanita itu segera mengusapnya sambil tetap tersenyum.

Uwais melihat cukup dalam kesedihan yang Hana rasakan. Melihat tempat ia tidur membuat hatinya teriris. Mengingat dia adalah orang kaya, kasur yang ditidurinya sangat empuk dan mahal sehingga membuatnya merasa kesihan pada kehidupan sang istri.

Padahal rumah itu tidak lah terlalu kecil dan banyak perabotan yang juga terbilang mahal jika dibandingkan dengan harga sebuah kasur.

"Jangan percaya omongan dia, Kak Is. Dia saja ngarang cerita yang buruk-buruk tentang kami padahal sebenarnya tidak seperti itu. Iyakan ibu, nenek?" Ucap Alisya mencoba memutar balikkan fakta.

"Be-benar, Nak Uwais. Hana memang tidak suka dengan kami makanya dia suka membuat cerita kalau kami ini kejam padanya. Padahal kami sudah buat yang terbaik. Cuma dia aja yang tidak tau bersyukur." Ucap Aisyah memasang wajah sedih.

"Terserah kalian mau bilang apa." Hana masuk ke dalam kamar yang mirip gudang itu dan mengambil tas miliknya. "Ini tas ku dan beberapa pakaian yang ku bawa dari kota waktu itu. Kalau memang aku tidak tidur di sini ... kenapa tas ini ada di sini?".

Hana memeriksa isi tas miliknya semuanya masih ada kecuali kunci motor butut miliknya.

Ketiga wanita beda generasi itu gelagapan bingung harus bohong bagaimana lagi. Bukti sudah ada di depan mata, mereka tidak bisa lagi memanipulasi fakta.

"Mungkin pekerja dekorasi yang tidak sengaja menyimpan tas itu di gudang." Tiba-tiba Ardi datang dan membela anak dan istrinya.

Hana menatap ayahnya sendu. Pria itu tidak lagi membela atau sekedar membawa Hana menjauh dari istri dan anak bungsunya. Kejadian kemarin membuat Ardi menjadi sosok ayah yang berbeda di mata Hana. Jika sebelumnya Ardi masih bisa membela walau pun tidak akan menang dari sang istri tapi Hana tetap merasa senang bisa memiliki Ardi sebagai ayahnya.

"Dari pada ribut masalah sepele di sini. Lebih baik kita duduk minum kopi dulu." Ardi mengajak Uwais ke ruang tamu untuk duduk. "Hana, buatkan ayah kopi. Ayah rindu kopi buatan kamu. Buatan Alisya kurang srek di leher ayah," pintanya.

Hana sempat kaget tapi juga merasa senang disebabkan sang ayah merindukan kopi buatannya.

Alisya yang mendengar permintaan sang ayah merasa direndahkan. Tapi wajahnya setebal dinding rumah, tidak akan pernah malu, akan tetus dekatin Uwais. Ia ikut duduk disamping pria idamannya sambil menopang dagu memerhatikan wajah Uwais. Sedangkan Aisyah dan Wati masuk ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.

Uwais mendekatkan wajahnya pada Alisya. Wajah wanita itu seketika memerah karena grogi bisa menatap wajah Uwais dengan dekat. Mata elang indah itu menatap tajam ke arahnya, membuat tubuh Alisya tiba-tiba gergetar hebat. Yakin jika pria itu akan terpesona dengan kecantikan wajahnya dan tingkah manja dirinya.

"Akhirnya usaha mu membuahkan hasil. Akhirnya Kak Is menyadari kecantikan diriku. Ada cinta dari di matanya itu untukku." Alisya bergumam dalam hatinya dengan percaya diri.

"Semakin kamu bersikap murahan seperti ini. Semakin aku jijik!" bisik Uwais.

Ucapan itu seketika menampar kepercayaan Alisya. Membuang muka ke samping menghilangkan malu atas hinaan Uwais.

Beberapa menit kemudian, Hana datang membawakan secangkir kopi untuk Ardi. "Kok cuma satu? Untuk Uwais mana?" bingung Ardi sambil menyambut kopi dari tangan Hana.

"Suami ku tidak minum kopi, Yah. Coklat kesukaannya tidak ada dalam persediaan dapur," sahut Hana.

"Lagi pula kami tak akan lama. Aku ingin mengajak istriku ke restoran dekat pantai. Tadi saya sempat lihat pantai saat menuju ke sini," jelas Uwais.

"Kita pulang sekarang," sambung Uwais bangkit dari duduk nya dan menggandeng tangan Hana untuk segera keluar dari rumah.

"Tunggu! Masih ada yang kurang," Hana menahan tangan nya kemudian kembali menatap sang ayah. "Kunci motorku di mana, Yah?" tanya Hana sambil celingukan mencari letak kunci motornya.

Ardi dan Alisya saling tatap.

"Untuk apa lagi kamu mencari motor buruk itu? Kamu bisa minta yang baru pada suami mu," jawab Ardi berusaha santai.

"Tidak, Ayah. Aku mau pakai motor itu untuk berangkat kerja. Lagi pula cicilan motor itu belum habis." Hana mulai curiga kemana motornya pergi.

"Hallah, motor buruk begitu saja dicari. Dasar miskin!" cibir Alisya.

"Kalian jual motor itu?" Mata Hana mulai berembun. Padahal motor itu salah satu barang berharga yang ia punya meskipun harganya tak seberapa. Tapi bagi Hana itu sudah cukup berharga. Dua tahun melewati susah senang bersama.

Mereka sekeluarga memang sudah menjual motor itu untuk kepentingan mereka sendiri. Kebetulan ada tetangga yang ingin membeli motor butut itu untuk anaknya. Dengan senang hati Alisya dan ibunya menjual tanpa sepengetahuan Hana. Harganya tak sebanding dengan jerih paya yang Hana berikan untuk membeli motor itu.

"Kamu kok pelit banget, sih. Kamu udah jadi kaya sekarang nggak perlu berlebihan gitu juga. Motor buruk aja di sayang-sayang." Alisya kembali memanas-manasi kesedihan Hana. "Lihat lah, Kak Is. Dia itu wanita yang pelit. Sama keluarga sendiri aja pelit." Sambung Alisya playing viktim.

Uwais tidak ingin lagi berlama-lama di rumah itu. Tangan Hana di tarik keluar rumah dan memasangkannya helem. Tiba-tiba hatinya terluka melihat Hana bersedih meskipun tidak mengeluarkan air mata.

"Sudah ... kamu jangan sedih lagi. Aku janji akan memberikan salah satu motor koleksi ku yang ada di garasi. Kamu tinggal pilih aja yang mana kamu suka," bujuk Uwais.

Alisya tidak ingin ketinggalan. Ia juga mau ikut makan di pinggir pantai bersama Hana dan Uwais. "Bawa aku aja, Kak. Hana hanya akan mempermalukan mu saja saat disana. Dia tidak pernah makan di restoran apalagi restoran mahal," cerca Alisya dengan wajah memohon.

"Itu hanya restoran biasa. Orang biasa juga sering ke sana," jelas Uwais yang semakin di buat emosi oleh sikap Alisya yang selalu menghalangi jalannya.

"Tapi dia memang tak pernah makan di tempat seperti itu. Tapi aku berbeda dengannya. Aku anak kampus yang sama dengan kampus Kak Is, jadi aku lebih pintar menjaga nama baik berbanding dia," Alisya tetap tidak menyerah.

"Diam!" Dengan menunjuk tepat di wajah Alisya. "Dengan kamu bicara seperti itu membuktikan kalau Hana tidak pernah kalian ajak makan di restoran." Uwais kemudian merangkul Hana masuk ke dalam pelukannya. "Aku lebih menyukai wanita tegar sepertinya berbanding wanita manja seperti kamu." Tegas Uwais.

Hana terkesimah dengan pembelaan suaminya. Meskipun hanya sandiwara tapi akting Uwais seolah-olah menyentuh hatinya. "Seandainya ini bukan sandiwara," lirihnya dalam hati.

Terpopuler

Comments

Aisyah Rahayu

Aisyah Rahayu

terima kasih sudah menunggu kelanjutan cerita ini. agar lebih semangat jangan lupa tipsnya, yah

2024-01-14

0

April

April

Sambungannya mana??

2024-01-13

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!