Secerca cahaya menyilaukan matanya. Tubuh masih terasa lelah, Hana menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Semakin mengeratkan pelukan pada bantal guling besar yang sedang ia peluk.
"Kok bantalnya jadi berat gini, sih?" bingung Hana. Ia kemudian membuka perlahan matanya dan seketika terkejut.
"Aaaach!" Hana segera membekap mulutnya supaya Uwais tidak terbangun.
Hana menyimak selimut dan memeriksa pakaiannya. Bernafas lega sebab bajunya masih lengkap tanpa kurang sehelaipun. Masih sama seperti saat dia tidur semalam.
Tangan kekar milik Uwais sedang melingkari indah di perutnya. Sedangkan paha Uwais menindih kaki Hana. "Pantesan kakiku terasa pegal semalaman. Ternyata kaki beruang besar ini yang menindihku." Hana bermonolog dalam hatinya.
Bukan itu saja, kepala Hana pun berbantalkan lengan Uwais. Sedikit mendongak dengan gerakan sangat perlahan. Hana terpesona dengan ketampanan suaminya. Bibirnya terbingkai senyum indah di wajahnya. "Ternyata dia sangat tampan," ucapnya dalam hati.
Tapi dia segera menggelengkan kepalanya perlahan agar tidak terbawa suasana. "Sadar, Hana. Kamu nggak layak berada di posisi kamu sekarang," gumam Hana mencoba menyadarkan dirinya yang hampir saja jatuh cinta pada ketampanan suaminya.
Perlahan mengangkat tangan Uwais untuk menyingkir dari tubuhnya. Tapi merasakan adanya pergerakan malah membuat Uwais tersadar.
Pria itu membuka matanya perlahan dan seketika kaget. Menarik lengannya dari kepala Hana dan segera bangkit. "Kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Uwais sambil mengusap-usap lengannya sebab merasa jijik.
"Ada apa ini, Uwais? Kenapa kamu marah pada istri kamu?" Tiba-tiba Bram masuk ke kamar dan mengagetkan Uwais.
"Kenapa Daddy bisa masuk ke kamar aku?" Uwais tampak kaget dan ingin mengelak. Ia kemudian berpikir Hana sengaja menjebaknya. Lalu menatap wanita itu untuk mencari jawaban.
"Nggak penting bagaimana Daddy bisa masuk. Jawab dulu pertanyaan Daddy, kenapa kamu menggertak Hana tadi?" Wajah Bram tampak sangat geram.
Bram tidak suka melihat lelaki menyakiti seorang wanita apalagi bergelar istri.
Hana yang sempat takut jika Uwais menyakitinya kini merasa lega dengan kehaduran ayah mertuanya. Teringat dengan isi kontrak mereka semalam. Hana bangkit dan mulai bersandiwara untuk membebaskan suaminya dari interogasi sang ayah mertua.
"Bukan seperti itu, Daddy. Ada kecoak dalam selimut tadi. Mas Is kan takut pada kecoek makanya dia terloncat kaget," jelas Hana berbohong sambil menahan geli dalam hatinya.
Uwais menatapnya tajam sebab Hana seperti merendahkan kelelakian nya. Masak cowok gagah takut dengan kecoak.
"Jadi kamu bukan ingin memarahi Hana?" tanya Bram pada Uwais untuk memastikan ucapan Hana.
"Ya tidak lah. Daddy kan selalu mengajarkan untuk tidak menyakiti wanita," sahut Uwais membenarkan.
"Jadi kamu beneran takut sama kecoak?" Bram berusaha menahan gelak.
"I-iya, Dad." Uwais terpaksa membenarkan ucapan Hana.
"Bua, Ha ha ha." Bram meninggalkan mereka berdua dengan gelak yang tidak bisa lagi tertahankan. "Cowok gagah kok takut kecoak. Memalukan, Ha ha ha," Sepanjang ruangan yang di lewati Bram bergema suara nyaring ketawanya.
"Buang saja otot kamu itu, bikin malu saja," teriak Bram lagi.p
Mbak Surti juga tidak ingin mengganggu pasangan baru itu.
"Puas kamu!" bentak Uwais sangat geram pada Hana. Ia lalu masuk ke kamar mandi meredakan emosinya.
Hana menggigit bibir juga menahan gelak. "Rasain tuh."
***
Hana berjalan beberiringan dengan Uwais ke ruang makan. Hana sudah mengenakan baju yang nyaman menurutnya. Mbak Surti kembali ke kamarnya tadi untuk menghantarkan beberapa baju yang mungkin sesuai dengan selera nya.
"Selamat pagi semua," sapa Uwais. Manakala Hana hanya tersenyum sebagai sapaan.
"Pagi "
Bram dan Izati menjawab serentak.
"Pagi Kak Is, kak Hana yang cantik." Qairunnisa juga baru datang dan langsung memeluk Hana dari samping.
"Pagi, Sayang." jawab Hana membalas pelukan adik iparnya dengan hangat.
Izati tampak tidak suka dengan sikap anak gadis nya itu. Qairunnisa baru berusia sebelas tahun. Sekarang sudah menduduki kelas enam SD. Dari dulu ia selalu berharap memiliki saudara cewek sama seperti nya. Sering meminta pada Izati untuk memberinya adik cewek tapi Izati menolak lantaran sudah berhasil mengembalikan bentuk tubuh idealnya.
Kehadiran Hana dalam keluarga mereka membuat Qairunnisa senang dan bahagia. Hana juga turut bahagia bisa diterima oleh Qairunnisa. Selama ini ia sama sekali tidak pernah merasakan hangatnya pelukan seorang saudara bahkan perlukan seorang ibu dan ayah.
"Kamu senang kan sekarang," tanya Bram pada anak gadisnya.
"Bukan senang, Dad. Tapi senang banget," seru Qairunnisa kembali memeluk Hana.
"Nisa memang seperti itu. Dari dulu dia begitu berharap punya saudara perempuan tapi Mommy nya tidak mau. Makanya dia senang banget kamu sekarang jadi bagian dari keluarga ini," imbuh Bram pada Hana.
Hana hanya membalas dengan senyuman. Iya sama sekali tidak keberatan dengan sikap Qairunnisa. Ia malah dengan senang hati meladeni sikap manja adik iparnya itu.
Mereka mulai menyantap sarapan mereka masing-masing sambil bersenda gurau. Hanya Izati yang sama sekali tidak ada mood untuk bercanda. Kehadiran Hana dimeja makan itu menghilangkan senyumannya.
"Semalam Nisa ingin ke kamar Kak Uwais. Pengen tidur dengan Kak Hana. Tapi Mbak Surti larang. Kononnya Kak Hana lagi sibuk tidak bisa di ganggu," ucap Qairunnisa dengan polos.
"Ukh, ukh, ukh."
Hana sigap mengambil air lalu diberikan pada Uwais yang tiba-tiba tersedak mendengar ucapan adiknya.
"Meskipun Kak Nisa adalah saudara kamu sekarang. Tapi kamu tetap tidak boleh tidur dengan dia." Bram mencoba membujuk anaknya agar tidak memaksakan kehendak.
"Tapi kenapa, Dad? Dulu Daddy bilang kalau aku nggak boleh tidur bareng Kak Is sebab Nisa cewek sedangkan Kak Is Cowok. Sekarang Kak Hana kan cewek, jadi kami boleh dong tidur bersama." Nisa masih tidak ingin mengalah.
"Kalau kamu tidur dengan Kak Nisa, Kak Is nya mau tidur sama siapa?" sindir Bram.
Uwais malah senang dengan keinginan Qairunnisa. Tidak ingin memberi tanggapan dengan pembicaraan antara adik dan daddynya. Sedangkan wajah Hana sudah memerah menjadi bahan pembicaraan Nisa dan ayah mertuanya.
"Ya tidur aja sendirian. Kak Is kan cowok. Masak takut tidur sendiri. Nisa aja selama ini tidur sendiri tak pernah takut pun." Oceh Qairunnisa semakin membuat Hana gemas.
"Nisa, dengar Daddy yah. Kak Is dan Kak Nisa itu sudah nikah. Mereka itu suami istri seperti Daddy dan Mommy. Kalau tidur ya harus tidur bersama. Di kasur yang sama tidak mungkin berpisah. Bukan begitu, Hana ... Uwais?" Bram menatap Uwais untuk meminta pembenaran.
"Hah, i-iya." Uwais menjawab dengan terpaksa.
"Kalau begitu kami tidur bertiga aja. Di kasur yang sama dengan mereka jadi tak perlu berpisah, kan." Sahut Qairunnisa lagi. Ia tidak akan menyerah sehingga keinginannya terwujud yaitu bisa tidur bersama Hana.
"Ukh, ukh, ukh." Kini giliran Hana yang tersedak. Nisa dengan cepat memberikan nya air.
"Kak Is dan Kak Nisa ini makan nya buru-buru makanya suka tersedak." cerca Qairunnisa.
"Tapi me-" Bram masih ingin memberi pengertian pada anak gadisnya tapi dengan cepat di hentikan oleh Izati.
"Sudah, Sayang. Jangan kotori pikiran anak kita. Biarkan aja dia tidur dengan Hana jika dia ingin," potong Izati. "Kamu mau kan, Hana?" Ia beralih pada Hana.
"I-iya boleh kok," jawab Hana. "Malam ini Kakak akan ke kamar kamu. Tapi kamu harus janji harus rajin belajar di sekolah, Ok." Pesan Hana pada adik ipar nya.
"Hore! Akhirnya bisa tidur dengan Kak Hana. Kakak tenang aja mulai sekarang Nisa akan belajar dengan giat. Kalau begitu Nisa pamit ke sekolah dulu." Wajah Qairunnisa tampak sangat bahagia.
Qairunnisa berangkat ke sekolah di hantar oleh Mbak Surti dan supir pribadinya.
Bram juga bersiap untuk berangkat ke kantor. Hana memberanikan diri menyampaikan keinginannya sementara ayah mertuanya masih ada.
"Se-sebenarnya saya ingin minta izin pulang ke kampung untuk mengambil barang yang tertinggal." Ucap Hana dengan terbata-bata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments