Bab 18 Khawatir

Dokter Yasmin harus bekerja secara profesional. Tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaannya. Meskipun cemburu tapi ia tetap memeriksa Hana seperti seharusnya.

"Tampaknya dia hanya demam biasa mungkin sebab syok atau semacamnya. Tidak perlu terlalu di khawatirkan. Saya akan meresepkan obat dan vitamin untuknya," imbuh Yasmin sambil menulis di selembaran kertas.

"Bagus lah kalau begitu." Izati berubah cuek pada Hana. Ia pikir menantunya mendapatkan KDRT oleh putranya jadi dia sempat khawatir tadi. Tapi setelah menyelidiki ia malah kembali cuek.

Mbak Surti pun bernafas lega mendengar penjelasan dokter Yasmin. Ia khawatir pada wanita muda yang sedang berbaring lemah di tempat tidur itu.

"Sila tebus obat ini di apotik terdekat." Yasmin menyerahkan resep obat pada Mbak Surti. "Kalau begitu saya pamit pergi dulu. Masih banyak pekerjaan di rumah sakit." Yasmin kembali menyalami Izati. Tapi wajahnya tampak tersenyum dengan paksa.

Izati menghantar Yasmin sampai di depan pintu utama. Setelah mobil dokter cantik itu menghilang dari pandangan Izati. Wanita paruh baya itu segera menghubungi putranya. Tapi hingga puluhan panggilan tetap tidak mendapat jawaban.

"Dia pasti sangat kecewa mendapatkan istri yang sudah tidak suci lagi." gumamnya kesihan pada keadaan sang putra kesayangan.

"Pak Suryo!" Panggil Izati pada supir pribadi keluarganya.

Pria paruh baya itu berlari dengan tergopoh-gopoh menghampiri sang majikan. "I-iya, Nyonya," sahut Pak Suryo dengan nafas ngos-ngosan.

"Cepat sediakan mobil. Saya mau ke kantor sekarang," titah Izati dengan wajah serius.

"Baik, Nyonya." Setelah mengucapkan itu, Pak Suryo berlari menuju garasi untuk memanaskan mobil kesukaan majikannya.

Sementara itu, Izati masuk ke kamarnya untuk mengambil handbag sambil menghubungi beberapa teman kuliah Uwais yang dia tahu. Tapi jawaban mereka tetap sama. Tidak tahu keberadaan Uwais saat ini.

"Kelvin? Aku harus menghubungi Kelvin." Izati kemudian mencari kontak dengan nama Kelvin lalu menghubungi nya.Tapi hingga beberapa panggilan tetap tidak di angkat.

"Kemana dia? Tumben tidak menjawab panggilan dariku," gumam Izati merasa aneh.

*

*

*

Di tempat yang berbeda lebih tepatnya apartemen milik Kelvin. Ia sedang gelisah sambil menatap Uwais yang tertidur pulas di atas ranjangnya. Ia tidak akan membiarkan Uwais menjadi milik orang lain.

"Aku tidak akan membiarkan Uwais jatuh ke dalam pelukan wanita lain. Tidak akan!" ujarnya dengan wajah serius.

Ia berniat mengurung Uwais dalam apartemennya sehingga semua masalah terselesaikan.

Drrrttt...

Ponsel miliknya kembali berdering memaparkan nama Nyonya Bram sebagai pemanggil.

"Jangan harap kalian akan mengetahui keberadaan Uwais saat ini." Kelvin kemudian menonaktifkan ponselnya lalu menyimpan benda pipih itu di dalam nakas.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Tapi Uwais sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.

"Tidur lah lebih lama. Aku tahu harus jawab apa saat lo bangun nanti. Jadi lebih baik kamu tidur lebih lama sampai aku tahu jalan keluar dari masalah ku ini." Kata Kelvin sambil membelai rambut Uwais lembut.

Dia sempat menyuntikkan obat penenang pada Uwais, agar pria itu tidak terbangun. Kelvin menatap foto kebersamaannya bersama seseorang. Lalu mencium foto itu dengan penuh obsesif.

"Aku tidak akan membiarkan senyum bahagia ini pudar. Aku akan selalu berjuang untuk kebahagiaan kita," lirih Kelvin sambil memeluk foto itu.

Ia kemudian beralih pada foto lain. Di foto itu terlukis indah dengan wajah dua orang pria dan seorang wanita yang tertawa lepas. Kelvin meneteskan air mata dan segera menghapusnya dengan kasar.

"Aku nggak boleh lemah. Aku harus berjuang demi kebahagian kita."

Drrrttt...

Ponsel Uwais berdering memaparkan nama Mommy.

"Aku sampai lupa menonaktifkan ponselnya." gumam Uwais segera mencabut SIM card di ponsel Uwais.

*

*

*

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Hana sudah merasa baikan lalu perlahan membuka mata. Mbak Surti merawatnya dengan baik. Saat ia sadar tadi pagi, langsung disuapi oleh pelayan pribadinya itu. Setelah minum obat ia kembali istirahat.

Tengah hari tadi juga bangun untuk makan, minum obat dan lanjut tidur lagi karena tubuhnya masih terasa lemas.

"Non Hana udah baikan!" tanya Mbak Surti sambil membantu Hana duduk.

"Terima kasih ya, Mbak. Udah mau ngerawat aku sampah sembuh," lirih Hana merasa terharu.

"Udah tugas saya menjaga Tuan Muda, Non Nisa dan Non Hana. Jadi nggak perlu sungkan," sahut Mbak Surti tersenyum cerah pada Hana.

Dari kecil sama sekali tidak diizinkan untuk sakit. Selalu di tuntut untuk kuat dan tetap sehat. Jangan kan untuk dirawat, di izinkan tidur sejenak saja saat sakit ia tidak akan diizinkan. Hidupnya sangat miris bersama keluarganya dulu. Makanya mendapat perhatian dari Mbak Surti membuat Hana terharu.

Hana kemudian celingukan kanan kiri mencari suaminya. "Tuan Muda mana Mbak?" Tanya Hana.

Mbak Surti membuang nafas berat. Ia bingung sama ada mengatakan yang sejujurnya pada Hana agar wanita itu tidak khawatir atau mengatakan yang sebenarnya agar wanita itu bisa turut membantu.

"Kok Mbak diam saja?" tegur Hana menjadi cemas.

Ia menjadi kepikiran dengan sikapnya semalam yang membuat Uwais kesal. Ia takut Uwais berbuat nekat untuk melampiaskan kekesalannya itu.

"Jujur sama aku, Mbak! Uwais baik-baik saja, kan?" Panik Hana. Ia mengguncang-guncangkan bahu wanita paruh baya di hadapannya.

"Sa-saya kurang pasti, Nona. Tuan Muda belum kembali dari semalam. Bahkan keberadaannya saat ini tiada siapa yang tahu," jawab Mbak Surti.

"Hah? Aku harus mencarinya sekarang! Ini semua salah ku!" Hana membuka selimutnya dengan kasar lalu berlari keluar dari kamar.

Di ruang keluarga, Izati dan Bram sedang berbincang dengan seseorang untuk melacak keberadaan Uwais. Melihat kedatangan Hana yang berlari sempoyongan menghampiri mereka membuat nafas Izati kembali memburu dengan hebat.

Plakkk

Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Hana. Wanita muda itu semakin merasakan pusing di kepalanya. Ia hampir hilang keseimbangan tapi beruntung Mbak Surti sigap menyambut tubuhnya.

"Ini semua gara-gara kamu! Sekarang putraku tidak tahu dimana! Kamu harus bertanggung jawab!" teriak Izati penuh emosi.

"Ma-maaf kan saya, Mommy," lirih Hana sambil memegang pipinya yang terasa perih.

"Bukannya kamu membayar hutang pada kami tapi kami malah semakin dirugikan. Sekarang putra kesayangan ku hilang entah kemana. Semua sebab wanita murahan seperti kamu!"

Izati kembali mengangkat tangan ingin menampar, tapi Bram dengan cepat memegang tangan sang istri lalu membawanya masuk ke pelukannya.

"Sabar sayang. Uwais pasti baik-baik saja. Semua nya pasti hanya salah paham," bujuk Bram sambil mengusap-usap bokong sang istri.

"Tapi dia sudah membuat putra kita kecewa, Dad. Dia sudah tidak suci lagi makanya Uwais pergi untuk menenangkan diri. Mommy takut Uwais kembali melakukan hal seperti waktu itu. Aku ta-" lirih Izati sambil menangis dalam pelukan suaminya.

Hana tercengang dengan penuturan ibu mertuanya. Ia ingin membela diri dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Bram menatap dengan tajam dan memintanya pergi dengan isyarat tangan.

Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!