Dokter Yasmin harus bekerja secara profesional. Tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaannya. Meskipun cemburu tapi ia tetap memeriksa Hana seperti seharusnya.
"Tampaknya dia hanya demam biasa mungkin sebab syok atau semacamnya. Tidak perlu terlalu di khawatirkan. Saya akan meresepkan obat dan vitamin untuknya," imbuh Yasmin sambil menulis di selembaran kertas.
"Bagus lah kalau begitu." Izati berubah cuek pada Hana. Ia pikir menantunya mendapatkan KDRT oleh putranya jadi dia sempat khawatir tadi. Tapi setelah menyelidiki ia malah kembali cuek.
Mbak Surti pun bernafas lega mendengar penjelasan dokter Yasmin. Ia khawatir pada wanita muda yang sedang berbaring lemah di tempat tidur itu.
"Sila tebus obat ini di apotik terdekat." Yasmin menyerahkan resep obat pada Mbak Surti. "Kalau begitu saya pamit pergi dulu. Masih banyak pekerjaan di rumah sakit." Yasmin kembali menyalami Izati. Tapi wajahnya tampak tersenyum dengan paksa.
Izati menghantar Yasmin sampai di depan pintu utama. Setelah mobil dokter cantik itu menghilang dari pandangan Izati. Wanita paruh baya itu segera menghubungi putranya. Tapi hingga puluhan panggilan tetap tidak mendapat jawaban.
"Dia pasti sangat kecewa mendapatkan istri yang sudah tidak suci lagi." gumamnya kesihan pada keadaan sang putra kesayangan.
"Pak Suryo!" Panggil Izati pada supir pribadi keluarganya.
Pria paruh baya itu berlari dengan tergopoh-gopoh menghampiri sang majikan. "I-iya, Nyonya," sahut Pak Suryo dengan nafas ngos-ngosan.
"Cepat sediakan mobil. Saya mau ke kantor sekarang," titah Izati dengan wajah serius.
"Baik, Nyonya." Setelah mengucapkan itu, Pak Suryo berlari menuju garasi untuk memanaskan mobil kesukaan majikannya.
Sementara itu, Izati masuk ke kamarnya untuk mengambil handbag sambil menghubungi beberapa teman kuliah Uwais yang dia tahu. Tapi jawaban mereka tetap sama. Tidak tahu keberadaan Uwais saat ini.
"Kelvin? Aku harus menghubungi Kelvin." Izati kemudian mencari kontak dengan nama Kelvin lalu menghubungi nya.Tapi hingga beberapa panggilan tetap tidak di angkat.
"Kemana dia? Tumben tidak menjawab panggilan dariku," gumam Izati merasa aneh.
*
*
*
Di tempat yang berbeda lebih tepatnya apartemen milik Kelvin. Ia sedang gelisah sambil menatap Uwais yang tertidur pulas di atas ranjangnya. Ia tidak akan membiarkan Uwais menjadi milik orang lain.
"Aku tidak akan membiarkan Uwais jatuh ke dalam pelukan wanita lain. Tidak akan!" ujarnya dengan wajah serius.
Ia berniat mengurung Uwais dalam apartemennya sehingga semua masalah terselesaikan.
Drrrttt...
Ponsel miliknya kembali berdering memaparkan nama Nyonya Bram sebagai pemanggil.
"Jangan harap kalian akan mengetahui keberadaan Uwais saat ini." Kelvin kemudian menonaktifkan ponselnya lalu menyimpan benda pipih itu di dalam nakas.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Tapi Uwais sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
"Tidur lah lebih lama. Aku tahu harus jawab apa saat lo bangun nanti. Jadi lebih baik kamu tidur lebih lama sampai aku tahu jalan keluar dari masalah ku ini." Kata Kelvin sambil membelai rambut Uwais lembut.
Dia sempat menyuntikkan obat penenang pada Uwais, agar pria itu tidak terbangun. Kelvin menatap foto kebersamaannya bersama seseorang. Lalu mencium foto itu dengan penuh obsesif.
"Aku tidak akan membiarkan senyum bahagia ini pudar. Aku akan selalu berjuang untuk kebahagiaan kita," lirih Kelvin sambil memeluk foto itu.
Ia kemudian beralih pada foto lain. Di foto itu terlukis indah dengan wajah dua orang pria dan seorang wanita yang tertawa lepas. Kelvin meneteskan air mata dan segera menghapusnya dengan kasar.
"Aku nggak boleh lemah. Aku harus berjuang demi kebahagian kita."
Drrrttt...
Ponsel Uwais berdering memaparkan nama Mommy.
"Aku sampai lupa menonaktifkan ponselnya." gumam Uwais segera mencabut SIM card di ponsel Uwais.
*
*
*
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Hana sudah merasa baikan lalu perlahan membuka mata. Mbak Surti merawatnya dengan baik. Saat ia sadar tadi pagi, langsung disuapi oleh pelayan pribadinya itu. Setelah minum obat ia kembali istirahat.
Tengah hari tadi juga bangun untuk makan, minum obat dan lanjut tidur lagi karena tubuhnya masih terasa lemas.
"Non Hana udah baikan!" tanya Mbak Surti sambil membantu Hana duduk.
"Terima kasih ya, Mbak. Udah mau ngerawat aku sampah sembuh," lirih Hana merasa terharu.
"Udah tugas saya menjaga Tuan Muda, Non Nisa dan Non Hana. Jadi nggak perlu sungkan," sahut Mbak Surti tersenyum cerah pada Hana.
Dari kecil sama sekali tidak diizinkan untuk sakit. Selalu di tuntut untuk kuat dan tetap sehat. Jangan kan untuk dirawat, di izinkan tidur sejenak saja saat sakit ia tidak akan diizinkan. Hidupnya sangat miris bersama keluarganya dulu. Makanya mendapat perhatian dari Mbak Surti membuat Hana terharu.
Hana kemudian celingukan kanan kiri mencari suaminya. "Tuan Muda mana Mbak?" Tanya Hana.
Mbak Surti membuang nafas berat. Ia bingung sama ada mengatakan yang sejujurnya pada Hana agar wanita itu tidak khawatir atau mengatakan yang sebenarnya agar wanita itu bisa turut membantu.
"Kok Mbak diam saja?" tegur Hana menjadi cemas.
Ia menjadi kepikiran dengan sikapnya semalam yang membuat Uwais kesal. Ia takut Uwais berbuat nekat untuk melampiaskan kekesalannya itu.
"Jujur sama aku, Mbak! Uwais baik-baik saja, kan?" Panik Hana. Ia mengguncang-guncangkan bahu wanita paruh baya di hadapannya.
"Sa-saya kurang pasti, Nona. Tuan Muda belum kembali dari semalam. Bahkan keberadaannya saat ini tiada siapa yang tahu," jawab Mbak Surti.
"Hah? Aku harus mencarinya sekarang! Ini semua salah ku!" Hana membuka selimutnya dengan kasar lalu berlari keluar dari kamar.
Di ruang keluarga, Izati dan Bram sedang berbincang dengan seseorang untuk melacak keberadaan Uwais. Melihat kedatangan Hana yang berlari sempoyongan menghampiri mereka membuat nafas Izati kembali memburu dengan hebat.
Plakkk
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Hana. Wanita muda itu semakin merasakan pusing di kepalanya. Ia hampir hilang keseimbangan tapi beruntung Mbak Surti sigap menyambut tubuhnya.
"Ini semua gara-gara kamu! Sekarang putraku tidak tahu dimana! Kamu harus bertanggung jawab!" teriak Izati penuh emosi.
"Ma-maaf kan saya, Mommy," lirih Hana sambil memegang pipinya yang terasa perih.
"Bukannya kamu membayar hutang pada kami tapi kami malah semakin dirugikan. Sekarang putra kesayangan ku hilang entah kemana. Semua sebab wanita murahan seperti kamu!"
Izati kembali mengangkat tangan ingin menampar, tapi Bram dengan cepat memegang tangan sang istri lalu membawanya masuk ke pelukannya.
"Sabar sayang. Uwais pasti baik-baik saja. Semua nya pasti hanya salah paham," bujuk Bram sambil mengusap-usap bokong sang istri.
"Tapi dia sudah membuat putra kita kecewa, Dad. Dia sudah tidak suci lagi makanya Uwais pergi untuk menenangkan diri. Mommy takut Uwais kembali melakukan hal seperti waktu itu. Aku ta-" lirih Izati sambil menangis dalam pelukan suaminya.
Hana tercengang dengan penuturan ibu mertuanya. Ia ingin membela diri dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Bram menatap dengan tajam dan memintanya pergi dengan isyarat tangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments