Hana terbayang saat dirinya mengenakan baju yang kurang bahan dan berdiri tepat di hadapan Uwais. Seketika membuat hidung wanita itu kembali memerah dan memanas. "Tidak!" Teriaknya sambil menutup mata. Malu jika Yang ada dipikirannya benar-benar terjadi.
Uwais merasa aneh dengan sikap Hana. Ia berbalik untuk memeriksan keadaan wanita itu. Tiba-tiba...
Bugh...
Lagi-lagi dan lagi Hana masuk kedalam pelukan suaminya. Meskipun sudah sering bertatap mata tapi setiap kali mata mereka bertemu masih tetap menggetarkan hati keduanya.
"Suka?" bisik Uwais tepat di telinga istrinya.
Bulu kuduk Hana seketika meremang. Pipinya ikut memerah seperti tomat yang sudah mateng, mendengar Uwais berbisik di telinganya membuatnya gugup.
"Ma-maksud, Tuan?" jawab Hana.
"Sengaja cari perhatian agar bisa memelukku. Suka, kan!" kesal Uwais. Ia malah salah fokus pada bibir istrinya lalu meneguk ludah dengan susah paya.
Tubuh mungil Hana langsung di dorong sehingga membentur dinding.
Uwais menghampirinya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Semakin membuat Hana salah tingkah. "Tu-tuan mau apa?"
Jarak mereka semakin dekat. Tapi tiba-tiba...
Hana ingin menghindar tapi Uwais kembali mendorongnya ke dinding. Tiba-tiba suhu tubuh pria itu menjadi panas. Dalam waktu singkat keringat bercucuran deras di keningnya, detak jantungnya memompa dengan kuat membuatnya semakin sukar menahan gejolak di tubuhnya.
Gairah tiba-tiba tidak bisa tertahankan. Uwais curiga jika ada sesuatu yang di masukkan ke coklat hangatnya tadi. Meskipun sudah tahu tapi ia tetap tidak bisa mengontrol dirinya. Wajah polos Hana membuatkan nya semakin terpancing.
Uwais menarik tangan Hana dengan kasar masuk ke dalam kamar mereka.
Prang
Pintu di tutup dengan kuat menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Hana bergetar dengan sikap suaminya yang tiba-tiba sangat agresif. Tubuhnya di hempaskan ke ranjang membuat Hana semakin ketakutan. Ia mundur sehingga mentok membentur kepala ranjang.
"To-tolong jangan lakukan, Tuan," lirih Hana dengan wajah memelas memohon pertolong.
Uwais tidak peduli dengan permohonan wanita di hadapannya. Ia benar-benar tidak bisa mengontrol hasratnya. Ia membuka baju dengan cepat kemudian membuka celana menyisakan celana boxer miliknya.
Hana menutup matanya dengan tangan yang bergetar. Padahal yang ada di hadapannya sekarang adalah suaminya sendiri. Ia baru berpikiran untuk lebih agresif pada Uwais tapi nyatanya pria itu yang lebih dulu mendatanginya dengan agresif.
"Ja-jangan lakukan itu, aku mohon." Hana mulai menangis meratapi nasibnya.
Uwais merangkak naik ke ranjang dan menghampiri Hana. Tangan wanita itu digenggam dengan kuat memperlihatkan wajahnya. Melihat istrinya menangis sama sekali tidak menggoyahkan dirinya untuk berhenti. Tubuhnya benar-benar tidak bisa ia kendalikan.
"Kamu istriku sekarang! Maka layani aku!" tegas Uwais.
Hana tak membantah atau mengiyakan perkataan suaminya. Ia benar-benar takut sekarang, tubuhnya bergetar ketakutan. Ini merupakan pertama kalinya ia mendapatkan perlakuan tidak senonoh oleh pria.
Meskipun Uwais suaminya tapi ia belum siap untuk menyerahkan mahkota dirinya yang paling berharga. Apalagi jika direnggut secara terpaksa tanpa kerelaan hati.
Uwais membaringkan tubuh mungil Hana lalu mencium bibir wanita itu dengan lahap. Tangan kirinya menahan kedua tangan Hana agar tidak bisa memberontak. Manakala tangan kanannya masuk kedalam baju yang di gunakan oleh Hana dan meraba dua gunung kembar miliknya.
"Emm, emm, emm," Hana berusaha memberontak dan melepaskan diri. Tapi lama kelamaan dia pasrah dan mulai hanyut dalam permainan suaminya.
"Ha, ha, ha." Hana memompa paru-paru nya dengan cepat saat Uwais melepas bibirnya.
Uwais merobek baju yang digunakan Hana dengan kasar.
"To-tolong berhenti, emm ... jangan lakukan itu, emm ... Aku mohon, emm ... " Hana masih berusaha menghentikan suaminya, menutupi dua gunung yang sudah polos tanpa benang, meskipun ia mulai menikmati sentuhan pria itu tapi ia tidak bisa melakukannya sekarang.
Uwais tidak peduli dengan permintaan istrinya. Suara itu malah terdengar mendayu-dayu di telinga membuat gairahnya meningkat. Ia mulai meraba ke bagian bawah tapi dengan cepat Hana halang menggunakan tangannya yang sudah lepas dari cengkraman suaminya.
"Ja-jagan lakukan itu jika kamu belum mencintaiku," lirih Hana dengan wajah sendu. Air matanya masih membasahi pipi membuat Uwais berubah kesal.
"Sial!" Maki Uwais. Ia memukul cermin melampiaskan amarahnya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya dengan caranya sendiri.
Menarik selimut menutupi tubuhnya yang sudah tak memakai sehelai kain pun. Menangis sambil memeluk lutut meratapi nasib yang selalu saja membelakanginya. Hampir saja kesuciannya direnggut paksa oleh Uwais yang notabene suami nya sendiri.
"Bukan aku tidak ingin memberikannya ... aku hanya ingin dia melakukannya dengan cinta dan penuh kelembutan bukan seperti tadi," lirih Hana. Tangannya masih bergetar seakan tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
Hampir sejam Hana meringkuk dalam selimut tapi masih tiada tanda-tanda Uwais akan segera keluar dari kamar mandi. Lelah menangis, akhirnya Hana tertidur dalam posisi duduk sambil memeluk lutut.
Beberapa menit kemudian Uwais keluar dari kamar mandi. Tubuhnya sudah kembali segar, ia melangkah menuju walk-in-closed tanpa menoleh ke ranjang tempat ia bergelumut dengan istrinya tadi. Perasaannya bercampur aduk, sama ada kesal, marah, kecewa dan kesihan.
Berpakaian santai dengan masker di wajahnya keluar dari kamar. Ia sama sekali tidak memperdulikan keadaan Hana. Ia lebih memilih ke bar untuk menenangkan diri.
"Ke bar biasa, sekarang!" ucapnya saat menghubungi seseorang. Ia kini sudah berada dalam mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang ia inginkan.
Sesampai di bar, Uwais segera menuju ruang VIP khusus untuknya saat ia datang. Dua orang penghibur wanita setia menunggunya dengan senyum dan tingkah genit mereka. Seperti biasa mereka hanya akan mendapatkan kekecewaan.
Uwais menatap mereka dengan tajam tanda tak ingin diganggu. seketika mereka mundur dan membiarkan Uwais masuk.
"Selalu saja begitu. Padahal aku mau banget di sentuh oleh tangannya itu," ujar salah satu dari mereka.
"Bener banget. Kamu tahun sendiri dia itu benci wanita, jijik banget di sentuh oleh wanita apa lagi wanita penghibur kayak kita. Jangan mimpi deh," sahut yang lainnya.
"Sekarang kita masuk dan menuangkan mereka minuman seperti biasa. Tapi kamu harus tetap genit tau, siapa tahu rezeki kita menjalani malam panjang bersamanya." sambungnya tidak menyerah.
*
*
*
"Lo sebenarnya ada masalah apa? Coba Lo cerita sama gua,"
Kelvin adalah teman sekampus Uwais. Ia sangat kenal dengan temannya itu. Jika ada masalah yang sedang mengganggu pikirannya pasti akan ke tempat itu dan minum sampai ia mabuk. Sering meminta barang haram tapi Kelvin selalu menghalangi keinginan temanya itu.
Uwais pernah menjalani rehabilitas, Kelvin adalah satu-satunya teman yang ia hubungi untuk menjaganya dari melakukan sesuatu yang di luar kehendaknya saat mabuk.
"Gue udah nikah," jawab Uwais datar.
"Apa? Nikah? Kok gue nggak tau?" sahut Kelvin kaget. Sangat tidak percaya jika berita sepenting ini malah tidak diketahui olehnya.
"Bukannya Lo nggak suka dengan wanita?" tanya Kelvin lagi. Ia benar-benar kecewa dengan berita ini.
Uwais menatapnya nyalang. Tapi ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments