Bab 9 Bertemu Aiman

"Untuk apa lagi kamu pulang ke sana?" Wajah Bram tampak berubah tidak suka.

"Ponsel dan uang saya tertinggal di sana, Daddy." Hana menjawab dengan jujur.

"Bilang aja kamu mau minta uang kan! Dasar matrek!" sahut Izati juga tidak suka.

"Tidak, Mommy. Saya sama sekali tidak meminta uang. Saya benar-benar ingin pulang kampung." Hana berusaha membela diri dari tuduhan ibu mertuanya.

"Kamu tidak boleh pergi sendirian." Hana tampak kecewa tapi dengan cepat bernafas lega. "Uwais, hantar istri kamu pulang ke kampungnya," titah Bram pada putranya.

"Aku ada kelas pagi ini di kampus. Nanti dihantar sama supir aja," tolak Uwais juga bangkit dari duduknya bersiap ke kampus.

"Tiada bantahan, Is. Selama ini juga kamu sering bolos, kan. Jadi Daddy tidak mau tau, kamu harus menghantar Hana pulang ke kampungnya. Kamu mengerti?" Keputusan Bram tidak akan bisa diganggu gugat.

Izati juga sebenarnya keberatan jika Uwais menghantar Hana ke kampungnya. Ia khawatir putranya malah di porotin disana. Tapi ia tidak bisa membantah keputusan sang suami sehingga memilih diam saja. Ia menghantar Bram sampai di depan pintu meninggalkan Hana dan Uwais berdua di ruang makan.

"Kamu apa-apaan, sih. Aku jadi nggak bisa datang ke kampus gara-gara sesuatu yang nggak penting tau nggak," kesal Uwais.

Tapi sesaat kemudian ia bertakata, "Kita berangkat sekarang!"

"Hah, sekarang?" Hana kaget karena Uwais malah mengajaknya pergi sekarang.

"Ya iya lah. Kalau tidak bergegas aku nggak akan hantar!" ucap Uwais mengancam.

Hana dengan terburu-buru mengikuti Uwais yang memasuki garasi untuk memilih mobil yang akan mereka gunakan untuk pulang ke kampung Hana. Saat memasuki garasi, mata hanya sampai kagum melihat barisan mobil yang tersusun rapi. Garasi ini sangat luas di isi belasan mobil mewah dan juga puluhan motor milik Uwais.

"Ini garasi atau showroom mobil?" gumam Hana tapi masih bisa di dengar oleh Uwais.

"Ini khas punya aku. Punya Daddy dan Mommy dari di garasi berbeda." jelas Uwais membuat Hana menganga saking takjupnya.

"Ini mah sultan beneran. Kalah mah sama punya Raffi Ahmad kalau banyak gini." ucap Hana kagum.

Uwais tersenyum miring melihat sikap Hana yang sangat kampungan dan menjijikkan di matanya. "Masuk!" Uwais sudah menemukan mobil yang pas di gunakan untuk pulang ke kampung.

Hana hanya termenung tidak ingin masuk ke dalam mobil. Uwais menurunkan tingkap dan menatap nya tajam.

"Kenapa tidak masuk? Mau aku tinggal!" tanya Uwais dengan nada kesal.

"Kita pakai motor aja gimana?" tawar Hana. Pakaian yang ia gunakan juga sesuai jika mengendai motor. Ia baru ingat sesuatu yang pasti akan membuat suaminya marah nanti.

"Kenapa malah kamu yang ngatur aku? Masuk cepat!" Uwais kembali di buat kesal oleh Hana.

Wanita itu pun nurut tanpa berkata apa pun lagi. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Uwais. Mobil langsung melaju keluar dari pekarangan rumah membelah jalan yang sudah di penuhi ratusan pengendara lainnya.

"Uwek ... Uwekk ... Uwekk ... " Hana sudah tidak tahan lagi menahan mual. Sarapan yang ia makan tadi pagi berhasil mengotori mobil.

Ciitttt

Uwais menepikan mobilnya karena geram dengan tingkah Hana yang sudah mengotori salah satu mobil favoritnya. Wanita itu langsung keluar dari mobil tanpa memperdulikan omelan suaminya.

"Kamu kenapa muntah! Mobilku jadi kotor. Menjijikkan!" Uwais tampak sangat marah. Tidak tahan dengan bau muntahan di mobilnya. Ia ikut keluar dan menghampiri Hana.

Hana yang masih mual pun berjongkok menuntaskan hasratnya. "Uwekk, uwekk,"

Uwais menghampirinya dan membantu mengelus bokongnya sebab merasa kesihan dengan keadaan istrinya. "Kamu kampungan banget. Naik mobil sebenar aja mual." Sambil menutup hidungnya jijik. Kemudian mengambil sebotol air dalam mobil untuk diberikan pada Hana setelah merasa lebih lega.

"Uwekk, uwekk, uwekk." Hana kembali mengeluarkan isi perutnya.

Hana memang jarang naik mobil karena mabuk darat. Apalagi jenis mobil mewah seperti mobil milik Uwais. Makanya dia rela membeli motor bekas yang murah untuk berangkat kerja dengan sistem nyicil pada temannya.

"Aku pusing banget," lirih Hana sudah terduduk lemas di pinggir jalan.

"Nah, minum. Mulut kamu pasti bau." Uwais menyodorkan sebotol air pada Hana.

Hana menerima air botol itu dan meminumnya dengan wajah masam. "Makanya aku ajak pakai motor nggak mau," sahut Hana dengan memanyunkan bibirnya.

"Kamu pikir comel dengan menekuk bibir mu seperti itu?" ujar Uwais memalingkan wajahnya menatap ke arah berbeda.

Hana akhirnya bisa tersenyum dan hatinya tiba-tiba senang. "Jadi Tuan Muda mengaku kalau dari tadi merhatiin aku?" goda Hana membuat Uwais salah tingkah.

"Kegeeran banget kamu, salah sendiri cari perhatian," elak Uwais.

"Ngaku aja deh." Hana masih berusaha menggoda suaminya.

Tapi mata elang milik Uwais menatap tajam ke arahnya membuat nya seketika terdiam. "Maaf Tuan Muda,"

Uwais mengambil ponselnya di dalam mobil dan menghubungi seseorang. "Segera hantar motor ke sini," titahnya pada anak buahnya.

Hana hanya diam memperhatikan tingkah suaminya yang tidak tenang berada di pinggir jalan. Sesekali kesal karena anak buahnya tak kunjung datang membawakan motor untuk mereka.

"Kalau di lihat-lihat ... Tuan Muda cakep juga," gumamnya sambil menopang dagu.

Beberapa menit kemudian sebuah motor datang dengan cepat menghampiri mereka. "Ini motornya, Tuan."

"Lambat!" ketus Uwais. Mengambil helem miliknya dan menghampiri Hana. "Kamu mau ikut atau tinggal?" tanya Uwais pada Hana Yang duduk diam menatapnya.

"Hah, aku ikut." Hana segera bangkit dan naik ke atas motor dengan tergesa-gesa takut di tinggal oleh Uwais. Ia juga khawatir jika Uwais marah dan tidak jadi mengantarnya pulang ke kampung.

Saat Hana menerima helem dari anak buah Uwais. Mereka pun pergi meninggal mereka berdua di tepi jalan. Sebuah mobil lain berhenti tepat di samping mereka.

"Hana?" Seorang pria turun dari mobil itu dan menyapa Hana.Terlihat tak kalah mewah, pakaianmobil koleksi Uwais. Penampilan kharismatik yang sangat menarik perhatian.

"Pak Aiman? Kenapa Bapak ada di sini?" Pria itu adalah atasan Hana di tempat kerjanya.

"Kamu yang kenapa ada di sini? Bukannya sudah masuk kerja hari ini?" Aiman sama sekali tidak menyapa Uwais yang wajahnya sudah tertutup kaca helem. Seolah-olah dirinya tak ada di sana.

"Maaf, Pak. Saya tidak bisa ngabarin kalau saya tidak jadi masuk kerja hari ini. Ponsel dan kunci loker saya tertinggal di kampung jadi sa-" Ucapan Hana terpotong.

"Naik atau kamu masih mau ngobrol?" ketus Uwais membuat Hana terpaksa pamit pada atasannya.

"Maaf sekali lagi, Pak. Saya harus pergi. Saya janji akan segera masuk kerja." Merasa kurang sopan tapi Hana tidak bisa berbuat apa-apa selain nurut perkataan suaminya.

Setelah Hana berada di atas motor, Uwais langsung narik gas dengan kuat membuat Hana terpaksa memeluk suaminya dengan kuat.

Sementara Aiman berdiri mematung menyaksikan kepergian Hana bersama pria asing yang tidak dia kenal. Terbesit rasa cemburubdi hatinya sebab selama ini sudah diam-diam menyimpan perasaan pada wanita tangguh itu.

"Siapa pria yang bersama Hana tadi? Selama ini aku belum pernah melihatnya dekat sama pria mana pun selain teman kerjanya." Aiman sangat penasaran dengan sosok yang bersama wanita incarannya.

"Aku akan menanyakan semua pada Hana saat di Hotel." Aiman memutuskan untuk meninggalkan tempat itu menyisakan banyak pertanyaan dibenaknya.

Terpopuler

Comments

Dhe K

Dhe K

jadi ingat tuan saga. its ok lanjut Reading aja

2024-02-11

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!