"Untuk apa lagi kamu pulang ke sana?" Wajah Bram tampak berubah tidak suka.
"Ponsel dan uang saya tertinggal di sana, Daddy." Hana menjawab dengan jujur.
"Bilang aja kamu mau minta uang kan! Dasar matrek!" sahut Izati juga tidak suka.
"Tidak, Mommy. Saya sama sekali tidak meminta uang. Saya benar-benar ingin pulang kampung." Hana berusaha membela diri dari tuduhan ibu mertuanya.
"Kamu tidak boleh pergi sendirian." Hana tampak kecewa tapi dengan cepat bernafas lega. "Uwais, hantar istri kamu pulang ke kampungnya," titah Bram pada putranya.
"Aku ada kelas pagi ini di kampus. Nanti dihantar sama supir aja," tolak Uwais juga bangkit dari duduknya bersiap ke kampus.
"Tiada bantahan, Is. Selama ini juga kamu sering bolos, kan. Jadi Daddy tidak mau tau, kamu harus menghantar Hana pulang ke kampungnya. Kamu mengerti?" Keputusan Bram tidak akan bisa diganggu gugat.
Izati juga sebenarnya keberatan jika Uwais menghantar Hana ke kampungnya. Ia khawatir putranya malah di porotin disana. Tapi ia tidak bisa membantah keputusan sang suami sehingga memilih diam saja. Ia menghantar Bram sampai di depan pintu meninggalkan Hana dan Uwais berdua di ruang makan.
"Kamu apa-apaan, sih. Aku jadi nggak bisa datang ke kampus gara-gara sesuatu yang nggak penting tau nggak," kesal Uwais.
Tapi sesaat kemudian ia bertakata, "Kita berangkat sekarang!"
"Hah, sekarang?" Hana kaget karena Uwais malah mengajaknya pergi sekarang.
"Ya iya lah. Kalau tidak bergegas aku nggak akan hantar!" ucap Uwais mengancam.
Hana dengan terburu-buru mengikuti Uwais yang memasuki garasi untuk memilih mobil yang akan mereka gunakan untuk pulang ke kampung Hana. Saat memasuki garasi, mata hanya sampai kagum melihat barisan mobil yang tersusun rapi. Garasi ini sangat luas di isi belasan mobil mewah dan juga puluhan motor milik Uwais.
"Ini garasi atau showroom mobil?" gumam Hana tapi masih bisa di dengar oleh Uwais.
"Ini khas punya aku. Punya Daddy dan Mommy dari di garasi berbeda." jelas Uwais membuat Hana menganga saking takjupnya.
"Ini mah sultan beneran. Kalah mah sama punya Raffi Ahmad kalau banyak gini." ucap Hana kagum.
Uwais tersenyum miring melihat sikap Hana yang sangat kampungan dan menjijikkan di matanya. "Masuk!" Uwais sudah menemukan mobil yang pas di gunakan untuk pulang ke kampung.
Hana hanya termenung tidak ingin masuk ke dalam mobil. Uwais menurunkan tingkap dan menatap nya tajam.
"Kenapa tidak masuk? Mau aku tinggal!" tanya Uwais dengan nada kesal.
"Kita pakai motor aja gimana?" tawar Hana. Pakaian yang ia gunakan juga sesuai jika mengendai motor. Ia baru ingat sesuatu yang pasti akan membuat suaminya marah nanti.
"Kenapa malah kamu yang ngatur aku? Masuk cepat!" Uwais kembali di buat kesal oleh Hana.
Wanita itu pun nurut tanpa berkata apa pun lagi. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Uwais. Mobil langsung melaju keluar dari pekarangan rumah membelah jalan yang sudah di penuhi ratusan pengendara lainnya.
"Uwek ... Uwekk ... Uwekk ... " Hana sudah tidak tahan lagi menahan mual. Sarapan yang ia makan tadi pagi berhasil mengotori mobil.
Ciitttt
Uwais menepikan mobilnya karena geram dengan tingkah Hana yang sudah mengotori salah satu mobil favoritnya. Wanita itu langsung keluar dari mobil tanpa memperdulikan omelan suaminya.
"Kamu kenapa muntah! Mobilku jadi kotor. Menjijikkan!" Uwais tampak sangat marah. Tidak tahan dengan bau muntahan di mobilnya. Ia ikut keluar dan menghampiri Hana.
Hana yang masih mual pun berjongkok menuntaskan hasratnya. "Uwekk, uwekk,"
Uwais menghampirinya dan membantu mengelus bokongnya sebab merasa kesihan dengan keadaan istrinya. "Kamu kampungan banget. Naik mobil sebenar aja mual." Sambil menutup hidungnya jijik. Kemudian mengambil sebotol air dalam mobil untuk diberikan pada Hana setelah merasa lebih lega.
"Uwekk, uwekk, uwekk." Hana kembali mengeluarkan isi perutnya.
Hana memang jarang naik mobil karena mabuk darat. Apalagi jenis mobil mewah seperti mobil milik Uwais. Makanya dia rela membeli motor bekas yang murah untuk berangkat kerja dengan sistem nyicil pada temannya.
"Aku pusing banget," lirih Hana sudah terduduk lemas di pinggir jalan.
"Nah, minum. Mulut kamu pasti bau." Uwais menyodorkan sebotol air pada Hana.
Hana menerima air botol itu dan meminumnya dengan wajah masam. "Makanya aku ajak pakai motor nggak mau," sahut Hana dengan memanyunkan bibirnya.
"Kamu pikir comel dengan menekuk bibir mu seperti itu?" ujar Uwais memalingkan wajahnya menatap ke arah berbeda.
Hana akhirnya bisa tersenyum dan hatinya tiba-tiba senang. "Jadi Tuan Muda mengaku kalau dari tadi merhatiin aku?" goda Hana membuat Uwais salah tingkah.
"Kegeeran banget kamu, salah sendiri cari perhatian," elak Uwais.
"Ngaku aja deh." Hana masih berusaha menggoda suaminya.
Tapi mata elang milik Uwais menatap tajam ke arahnya membuat nya seketika terdiam. "Maaf Tuan Muda,"
Uwais mengambil ponselnya di dalam mobil dan menghubungi seseorang. "Segera hantar motor ke sini," titahnya pada anak buahnya.
Hana hanya diam memperhatikan tingkah suaminya yang tidak tenang berada di pinggir jalan. Sesekali kesal karena anak buahnya tak kunjung datang membawakan motor untuk mereka.
"Kalau di lihat-lihat ... Tuan Muda cakep juga," gumamnya sambil menopang dagu.
Beberapa menit kemudian sebuah motor datang dengan cepat menghampiri mereka. "Ini motornya, Tuan."
"Lambat!" ketus Uwais. Mengambil helem miliknya dan menghampiri Hana. "Kamu mau ikut atau tinggal?" tanya Uwais pada Hana Yang duduk diam menatapnya.
"Hah, aku ikut." Hana segera bangkit dan naik ke atas motor dengan tergesa-gesa takut di tinggal oleh Uwais. Ia juga khawatir jika Uwais marah dan tidak jadi mengantarnya pulang ke kampung.
Saat Hana menerima helem dari anak buah Uwais. Mereka pun pergi meninggal mereka berdua di tepi jalan. Sebuah mobil lain berhenti tepat di samping mereka.
"Hana?" Seorang pria turun dari mobil itu dan menyapa Hana.Terlihat tak kalah mewah, pakaianmobil koleksi Uwais. Penampilan kharismatik yang sangat menarik perhatian.
"Pak Aiman? Kenapa Bapak ada di sini?" Pria itu adalah atasan Hana di tempat kerjanya.
"Kamu yang kenapa ada di sini? Bukannya sudah masuk kerja hari ini?" Aiman sama sekali tidak menyapa Uwais yang wajahnya sudah tertutup kaca helem. Seolah-olah dirinya tak ada di sana.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa ngabarin kalau saya tidak jadi masuk kerja hari ini. Ponsel dan kunci loker saya tertinggal di kampung jadi sa-" Ucapan Hana terpotong.
"Naik atau kamu masih mau ngobrol?" ketus Uwais membuat Hana terpaksa pamit pada atasannya.
"Maaf sekali lagi, Pak. Saya harus pergi. Saya janji akan segera masuk kerja." Merasa kurang sopan tapi Hana tidak bisa berbuat apa-apa selain nurut perkataan suaminya.
Setelah Hana berada di atas motor, Uwais langsung narik gas dengan kuat membuat Hana terpaksa memeluk suaminya dengan kuat.
Sementara Aiman berdiri mematung menyaksikan kepergian Hana bersama pria asing yang tidak dia kenal. Terbesit rasa cemburubdi hatinya sebab selama ini sudah diam-diam menyimpan perasaan pada wanita tangguh itu.
"Siapa pria yang bersama Hana tadi? Selama ini aku belum pernah melihatnya dekat sama pria mana pun selain teman kerjanya." Aiman sangat penasaran dengan sosok yang bersama wanita incarannya.
"Aku akan menanyakan semua pada Hana saat di Hotel." Aiman memutuskan untuk meninggalkan tempat itu menyisakan banyak pertanyaan dibenaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Dhe K
jadi ingat tuan saga. its ok lanjut Reading aja
2024-02-11
0