Bab 17 Pertengkaran

"Ini pilihan Daddy gue. Gue dipaksa nikah dengan cewek itu," jawab Uwais tanpa menoleh pada temannya.

Kelvin terdiam dengan perasaan kecewa. Ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa untuk temannya itu. Untuk memberi saran saja ia sudah tidak sanggup membuka suara.

Uwais sudah tidak sanggup lagi meneguk minuman di hadapannya. Berjalan sempoyongan disebabkan kepalanya pusing. Kelvin memapahnya keluar ruangan menuju mobil. Bukan mobil milik Uwais tapi mobil miliknya.

"Kamu tidak bisa menjadi milik orang lain!" gumam Kelvin dengan kesal. Meninggalkan kawasan bar menuju apartemennya.

Pikirannya menjadi kalut mengetahui Uwais sudah menikah dengan pilihan orang tuanya.

*

*

*

Keesokan harinya, Mbak Surti ingin memanggil Hana untuk sarapan atas permintaan Bram. Semalam ia sempat melihat Uwais keluar kamar dalam keadaan kesal. Tapi ia tidak ingin ikut campur urusan pribadi majikannya jadi memilih cuek.

Tok, tok, tok.

"Non Hana. Ini udah waktunya sarapan," ucap Mbak Surti sambil mengetuk pintu.

Tapi beberapa kali ketukan sama sekali tidak mendapat sahutan dari dalam kamar. Firasat Mbak Surti jadi tidak enak. Ia memberanikan diri membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.

Benar saja, Uwais tidak ada dalam kamar itu tanda semalam tidak kembali.

Alangkah terkejutnya dia melihat kondisi kamar yang berantakan. Baju berserakan di mana-mana sisa pertempuran semalam. Mbak Surti mengambil inisiatif mengumpulkan baju-baju itu dan memasukkan nya ke dalam bakul.

"Maaf, Nona. Saya lancang. Tuan Besar menunggu di meja makan untuk sarapan bersama." Mbak Surti mendekati Hana yang masih berada di bawa selimut.

Tiada pergerakan membuat Mbak Surti khawatir dan segera membuka selimut yang menutupi wajah Hana dengan perlahan. Betapa terkejutnya dia melihat wajah Hana yang memprihatinkan.

"Non Hana demam tinggi. Aduh, aku harus bagaimana, nih?" gumam Mbak Surti panik setelah menyentuh dahi Hana yang terserang demam.

Hana tersadar dan perlahan membuka matanya. "Mbak Surti?" lirih Hana hampir tidak terdengar oleh Mbak Surti.

"Iya saya, Non. Non Hana ada perlu sesuatu?" tanya Mbak Surti.

"A ... Ku mau man ... di," ucap Hana dengan susah paya. Kepalanya pusing sehingga tidak sanggup membuka mata.

"Nona tunggu di sini, yah. Saya panas kan air dulu." Mbak Surti bergegas masuk ke kamar mandi untuk mempersiapkan keinginan Hana.

Ia bisa menebak apa yang terjadi semalam sehingga membuat nona barunya sakit. "Apakah Non Hana mendapatkan kekerasan dari Tuan Muda saat melakukan hubungan? Kesihan sekali dia," gumam Mbak Surti turut sedih.

Setelah selesai, Mbak Surti membantu Hana masuk ke dalam bak mandi. Hana menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.

"Terima kasih, Mbak Surti. Saya bisa sendiri," lirih Hana berusaha tegar dan menahan sakit yang menyerang tubuhnya.

Meskipun merasa sejuk tapi ia harus membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa sentuhan suaminya semalam. Merasa jijik dengan tubuhnya sendiri.

"Nona sedang sakit, izinkan saya untuk memastikan Non Hana baik-baik saja." tolak Mbak Surti. Ia juga sebenarnya penasaran dengan bekas luka yang ada di kulit Hana yang masih tertutup selimut.

"Aku baik-baik saja, Mbak." Hana masih bersikukuh ingin sendiri.

"Baiklah. Kalau ada perlu apa-apa silakan panggil saja. Saya ada di luar," Mbak Surti mengalah dan memilih menunggu di luar pintu kamar mandi.

Hana perlahan membuka selimut di tubuhnya dan segera berendam. Meskipun menggunakan air hangat tapi ia tetap merasa dingin. Memakai sabun seperlunya dan segera memakai handuk yang sudah di sediakan Mbak Surti sebelumnya.

Ceklek

Pintu di buka dan Mbak Surti sigap memapah tubuhnya menuju ranjang. Belum sempat sampai, Hana malah pingsan.

"Non, Non Hana." Mbak Surti menahan tubuh mungil itu. Beberapa kali menepuk pipi Hana tapi sama sekali tidak mendapat respon.

Mbak Surti membaringkan Hana ke ranjang dan segera memberitahukan kondisi Hana pada majikannya.

Sesampai di ruang makan. Bram sudah bersiap berangkat kerja. Ia menoleh pada Mbak Surti yang datang dengan tertatih-tatih akibat panik.

"Mana Hana?" tanya Izati dingin sambil membantu suaminya membawa tas kerja.

"No- non Hana pingsan," sahut Mbak Surti to the point.

Bram mengerutkan dahi bingung. Ia kembali ingat bagaimana kondisi Hana saat keluar dari ruangannya semalam. Manakala Izati tampak ikut panik mendengar kondisi menantunya.

"Hubungi dokter keluarga kita sekarang," pinta Izati sambil memainkan jarinya karena gugup.

"Kamu ke kamar Hana saja, temani dia. Aku akan berangkat sekarang." Bram mengambil tas kerja di tangan sang istri. Harus berangkat ke kantor segera karena ada meeting dengan klien penting dari luar negeri.

Menurutnya, Hana hanya terlalu lebai memikirkan kontrak antara mereka semalam.

"Sayang hati-hati yah." Izati tidak menghantar suaminya sampai di depan pintu seperti biasa. Ia memilih memastikan keadaan Hana.

Ia khawatir menantu nya itu sakit akibat ulahnya kemarin berusaha membuat menantunya cemburu. Khawatir Uwais terpancing emosi dan melampiaskan kekesalannya pada istrinya itu.

Mbak Surti sudah menghubungi dokter Yasmin untuk datang memeriksa keadaan Hana. Ia kemudian menyusul majikannya ke kamar Hana.

"Bagaimana bisa dia jatuh sakit seperti ini? Kamu tahu apa yang semalam sudah terjadi pada mereka?" tanya Izati pada Mbak Surti.

"Saya kurang pasti, Nyonya. Tapi semalam saya sempat melihat Tuan Muda keluar dari kamar dalam keadaan kesal. Mungkin terjadi pertengkaran antara keduanya." Jelas Mbak Surti jujur.

Kekhawatiran Izati semakin terbukti. Ia kemudian berinisiatif memeriksa tubuh Hana untuk memastikan. Tapi sama sekali tidak terdapat lebam yang memprihatinkan. Malah hanya ada tanda merah bekas ciuman.

"Tiada bekas pukulan? Mereka tampaknya habis bercinta semalam, terbukti dengan tanda-tanda merah di tubuhnya." Izati terus bergumam dalam hatinya.

"Coba periksa cadar kasur ini. Apakah ada noda merah?" titah Izati.

Mbak Surti segera memeriksa setiap bagian tapi sama sekali tidak menemukan noda merah. "Tiada noda apapun di kasur ini, Nyonya."

"Hah, kok bisa? Berarti Hana ti-" ucapan Izati tergantung karena sudah berhasil mengetahui kebenarannya.

"Uwais pasti kecewa dan kesal karena istrinya tidak suci lagi. Makanya dia pergi untuk menenangkan pikirannya." Ia beralih khawatir pada putranya.

Mbak Surti pun berpikiran yang sama tapi ia masih ragu dengan teka-teki itu. Ia percaya Hana adalah gadis baik-baik. Ia yakin Hana masih terjaga kesuciannya kecuali direnggut dengan paksa.

Tok, tok, tok.

Dokter Yasmin sudah datang. Mbak Surti segera membukakan pintu dan mempersilahkan dokter cantik itu masuk.

"Selamat pagi, Mbak Surti. Sehat?" sapa Dokter cantik itu.

"Alhamdulillah, sehat Dok. Mari masuk, pasiennya ada di dalam." Mbak Surti beralih pada ART yang menghantar dokter Yasmin. "Kamu boleh pergi," ucapnya lalu menutup pintu.

"Selamat pagi, Nyonya." Ia menyalami Izati dengan takzim. Dokter Yasmin memang akrap dengan wanita itu karena ada maksud tertentu. Apalagi kalau bukan karena menyukai putra semata wayang keluarga ini.

"Pagi, Sayang." Izati menyambut uluran tangan dokter cantik dihadapannya dengan senyum cerah. Tapi seketika luntur saat melihat Hana. "Tante baru ingin menghubungi kamu supaya tidak usah datang tapi nggak papa deh. Periksa aja wanita itu." sahut Izati sambil menunjuk ke arah ranjang.

Dokter Yasmin mengerutkan dahi penasaran dengan status wanita yang akan ia periksa. Wanita yang berbaring di atas ranjang milik pria incarannya.

Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!