"Ini pilihan Daddy gue. Gue dipaksa nikah dengan cewek itu," jawab Uwais tanpa menoleh pada temannya.
Kelvin terdiam dengan perasaan kecewa. Ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa untuk temannya itu. Untuk memberi saran saja ia sudah tidak sanggup membuka suara.
Uwais sudah tidak sanggup lagi meneguk minuman di hadapannya. Berjalan sempoyongan disebabkan kepalanya pusing. Kelvin memapahnya keluar ruangan menuju mobil. Bukan mobil milik Uwais tapi mobil miliknya.
"Kamu tidak bisa menjadi milik orang lain!" gumam Kelvin dengan kesal. Meninggalkan kawasan bar menuju apartemennya.
Pikirannya menjadi kalut mengetahui Uwais sudah menikah dengan pilihan orang tuanya.
*
*
*
Keesokan harinya, Mbak Surti ingin memanggil Hana untuk sarapan atas permintaan Bram. Semalam ia sempat melihat Uwais keluar kamar dalam keadaan kesal. Tapi ia tidak ingin ikut campur urusan pribadi majikannya jadi memilih cuek.
Tok, tok, tok.
"Non Hana. Ini udah waktunya sarapan," ucap Mbak Surti sambil mengetuk pintu.
Tapi beberapa kali ketukan sama sekali tidak mendapat sahutan dari dalam kamar. Firasat Mbak Surti jadi tidak enak. Ia memberanikan diri membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.
Benar saja, Uwais tidak ada dalam kamar itu tanda semalam tidak kembali.
Alangkah terkejutnya dia melihat kondisi kamar yang berantakan. Baju berserakan di mana-mana sisa pertempuran semalam. Mbak Surti mengambil inisiatif mengumpulkan baju-baju itu dan memasukkan nya ke dalam bakul.
"Maaf, Nona. Saya lancang. Tuan Besar menunggu di meja makan untuk sarapan bersama." Mbak Surti mendekati Hana yang masih berada di bawa selimut.
Tiada pergerakan membuat Mbak Surti khawatir dan segera membuka selimut yang menutupi wajah Hana dengan perlahan. Betapa terkejutnya dia melihat wajah Hana yang memprihatinkan.
"Non Hana demam tinggi. Aduh, aku harus bagaimana, nih?" gumam Mbak Surti panik setelah menyentuh dahi Hana yang terserang demam.
Hana tersadar dan perlahan membuka matanya. "Mbak Surti?" lirih Hana hampir tidak terdengar oleh Mbak Surti.
"Iya saya, Non. Non Hana ada perlu sesuatu?" tanya Mbak Surti.
"A ... Ku mau man ... di," ucap Hana dengan susah paya. Kepalanya pusing sehingga tidak sanggup membuka mata.
"Nona tunggu di sini, yah. Saya panas kan air dulu." Mbak Surti bergegas masuk ke kamar mandi untuk mempersiapkan keinginan Hana.
Ia bisa menebak apa yang terjadi semalam sehingga membuat nona barunya sakit. "Apakah Non Hana mendapatkan kekerasan dari Tuan Muda saat melakukan hubungan? Kesihan sekali dia," gumam Mbak Surti turut sedih.
Setelah selesai, Mbak Surti membantu Hana masuk ke dalam bak mandi. Hana menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Terima kasih, Mbak Surti. Saya bisa sendiri," lirih Hana berusaha tegar dan menahan sakit yang menyerang tubuhnya.
Meskipun merasa sejuk tapi ia harus membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa sentuhan suaminya semalam. Merasa jijik dengan tubuhnya sendiri.
"Nona sedang sakit, izinkan saya untuk memastikan Non Hana baik-baik saja." tolak Mbak Surti. Ia juga sebenarnya penasaran dengan bekas luka yang ada di kulit Hana yang masih tertutup selimut.
"Aku baik-baik saja, Mbak." Hana masih bersikukuh ingin sendiri.
"Baiklah. Kalau ada perlu apa-apa silakan panggil saja. Saya ada di luar," Mbak Surti mengalah dan memilih menunggu di luar pintu kamar mandi.
Hana perlahan membuka selimut di tubuhnya dan segera berendam. Meskipun menggunakan air hangat tapi ia tetap merasa dingin. Memakai sabun seperlunya dan segera memakai handuk yang sudah di sediakan Mbak Surti sebelumnya.
Ceklek
Pintu di buka dan Mbak Surti sigap memapah tubuhnya menuju ranjang. Belum sempat sampai, Hana malah pingsan.
"Non, Non Hana." Mbak Surti menahan tubuh mungil itu. Beberapa kali menepuk pipi Hana tapi sama sekali tidak mendapat respon.
Mbak Surti membaringkan Hana ke ranjang dan segera memberitahukan kondisi Hana pada majikannya.
Sesampai di ruang makan. Bram sudah bersiap berangkat kerja. Ia menoleh pada Mbak Surti yang datang dengan tertatih-tatih akibat panik.
"Mana Hana?" tanya Izati dingin sambil membantu suaminya membawa tas kerja.
"No- non Hana pingsan," sahut Mbak Surti to the point.
Bram mengerutkan dahi bingung. Ia kembali ingat bagaimana kondisi Hana saat keluar dari ruangannya semalam. Manakala Izati tampak ikut panik mendengar kondisi menantunya.
"Hubungi dokter keluarga kita sekarang," pinta Izati sambil memainkan jarinya karena gugup.
"Kamu ke kamar Hana saja, temani dia. Aku akan berangkat sekarang." Bram mengambil tas kerja di tangan sang istri. Harus berangkat ke kantor segera karena ada meeting dengan klien penting dari luar negeri.
Menurutnya, Hana hanya terlalu lebai memikirkan kontrak antara mereka semalam.
"Sayang hati-hati yah." Izati tidak menghantar suaminya sampai di depan pintu seperti biasa. Ia memilih memastikan keadaan Hana.
Ia khawatir menantu nya itu sakit akibat ulahnya kemarin berusaha membuat menantunya cemburu. Khawatir Uwais terpancing emosi dan melampiaskan kekesalannya pada istrinya itu.
Mbak Surti sudah menghubungi dokter Yasmin untuk datang memeriksa keadaan Hana. Ia kemudian menyusul majikannya ke kamar Hana.
"Bagaimana bisa dia jatuh sakit seperti ini? Kamu tahu apa yang semalam sudah terjadi pada mereka?" tanya Izati pada Mbak Surti.
"Saya kurang pasti, Nyonya. Tapi semalam saya sempat melihat Tuan Muda keluar dari kamar dalam keadaan kesal. Mungkin terjadi pertengkaran antara keduanya." Jelas Mbak Surti jujur.
Kekhawatiran Izati semakin terbukti. Ia kemudian berinisiatif memeriksa tubuh Hana untuk memastikan. Tapi sama sekali tidak terdapat lebam yang memprihatinkan. Malah hanya ada tanda merah bekas ciuman.
"Tiada bekas pukulan? Mereka tampaknya habis bercinta semalam, terbukti dengan tanda-tanda merah di tubuhnya." Izati terus bergumam dalam hatinya.
"Coba periksa cadar kasur ini. Apakah ada noda merah?" titah Izati.
Mbak Surti segera memeriksa setiap bagian tapi sama sekali tidak menemukan noda merah. "Tiada noda apapun di kasur ini, Nyonya."
"Hah, kok bisa? Berarti Hana ti-" ucapan Izati tergantung karena sudah berhasil mengetahui kebenarannya.
"Uwais pasti kecewa dan kesal karena istrinya tidak suci lagi. Makanya dia pergi untuk menenangkan pikirannya." Ia beralih khawatir pada putranya.
Mbak Surti pun berpikiran yang sama tapi ia masih ragu dengan teka-teki itu. Ia percaya Hana adalah gadis baik-baik. Ia yakin Hana masih terjaga kesuciannya kecuali direnggut dengan paksa.
Tok, tok, tok.
Dokter Yasmin sudah datang. Mbak Surti segera membukakan pintu dan mempersilahkan dokter cantik itu masuk.
"Selamat pagi, Mbak Surti. Sehat?" sapa Dokter cantik itu.
"Alhamdulillah, sehat Dok. Mari masuk, pasiennya ada di dalam." Mbak Surti beralih pada ART yang menghantar dokter Yasmin. "Kamu boleh pergi," ucapnya lalu menutup pintu.
"Selamat pagi, Nyonya." Ia menyalami Izati dengan takzim. Dokter Yasmin memang akrap dengan wanita itu karena ada maksud tertentu. Apalagi kalau bukan karena menyukai putra semata wayang keluarga ini.
"Pagi, Sayang." Izati menyambut uluran tangan dokter cantik dihadapannya dengan senyum cerah. Tapi seketika luntur saat melihat Hana. "Tante baru ingin menghubungi kamu supaya tidak usah datang tapi nggak papa deh. Periksa aja wanita itu." sahut Izati sambil menunjuk ke arah ranjang.
Dokter Yasmin mengerutkan dahi penasaran dengan status wanita yang akan ia periksa. Wanita yang berbaring di atas ranjang milik pria incarannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments