Bab 7 Mimpi buruk

Hana sudah bersiap untuk tidur di sofa. Uwais datang dengan tiba-tiba melemparkan secarik kertas ke wajahnya. "Apa ini, Mas." Hana menatap wajah Uwais dengan penuh tanda tanya.

"Kita hanya berdua di sini. Jadi jangan berani panggil aku mas!" gertak Uwais.

"Maaf, Tuan Muda." Hana pasrah.

"Itu kontrak pernikahan kita." Uwais duduk depan Hana sambil menyilangkan kaki. "Baca dan tanda tangan," titah Uwais.

Hana mulai membaca kontrak itu dan mengerutkan dahi. Dalam surat itu tertulis beberapa perjanjian dan peraturan yang harus Hana setujui.

"Kok seperti ini?" Hana tampak keberatan dengan isi kontrak tersebut yang hanya menguntungkan Uwais.

Uwais maju dan memukul meja dengan kuat untuk menggertak Hana. "Kamu pikir kamu siapa? Ingat pernikahan ini hanya untuk melunasi hutang keluarga kamu!" Uwais menatap Hana dengan tatapan tajam mirip mata elang miliknya.

Bukannya tidak sadar diri, tapi Hana tidak boleh menandatangani kontrak itu tanpa sedikit pun menguntungkannya. "Baik. Saya setuju dengan kontrak ini. Berpura-pura menjadi suami istri yang harmonis depan Daddy, mommy dan Nisa. Tidak akan ikut campur urusan pribadi Tuan Muda, menuruti semua perintah Tuan, tapi ... " seru Hana.

" Tapi apa lagi! Kamu tidak beda jauh dari keluarga kamu. Tidak tahu diri!" ucap Uwais datar.

"Tapi saya cuma ingin menambahkan sesuatu dalam kontrak ini. Kalau tidak maka saya tidak akan tanda tangan. Sila Kan Tuan urus sendiri keluarga Tuan." Ucap Hana sedikit mengancam.

Uwais semakin geram dengan sikap Hana. Ia maju lalu menggenggam dagu wanita itu. "Berani kamu bermain-main sama aku!"

Hana tak bergeming meskipun Uwais tampak ingin membunuhnya.

"Cepat katakan apa yang kamu inginkan?" Uwais menghempaskan wajah Hana hingga terbaring di sofa.

Hana sedikit meringis tapi ia berusaha tegar di depan suaminya.

"Aku cuma ingin tetap bekerja," imbuh Hana. "Aku janji akan menjadi istri yang baik untuk kamu kalau kamu setuju dengan syarat itu," lirih Hana. Meskipun sudah menjadi istri Uwais yang merupakan pewaris keluarga Qarny. Hana tidak akan berharap lebih pada suaminya.

Ia masih harus mandiri meskipun sudah menjadi nyonya Uwais. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

"Hanya itu?" tanya Uwais dengan ketus mendapatkan anggukan kecil dari Hana.

"OK." Uwais kembali ke ruang pribadinya yang berada di sebelah kamar itu untuk membuat kontrak baru. "Tetap aja nggak mau dirugikan. Siapa juga yang minta untuk menjadi istri yang baik. Cukup turuti semua perjanjian ini saja kan gampang," gumam Uwais depan laptopnya.

Beberapa menit kemudian Uwais kembali dengan kontrak baru di tangannya. "Aku pastikan dia menyesal jika tidak segera menandatangani kontrak baru ini."

Hana pun menunggu dengan sabar ditempat duduk nya semula.

"Tanda tangan cepat!" sergah Uwais melempar kertas itu lagi di hadapan Hana.

Hana membaca dengan teliti isi kontrak baru itu. Merasa sudah cukup, Hana segera menandatangani kontraknya. Tiba-tiba terbesit dipikirannya tentang satu hal yang menurutnya mustahil.

"Bagaimana kalau diantara kita ada yang jatuh cinta?" tanya Hana sebelum menyerahkan kontrak itu pada suaminya.

"Ha ha ha. Aku sama sekali tidak peduli kalau kamu jatuh cinta padaku. Kamu hanya akan patah hati, kekasihku jauh lebih sempurna dari pada kamu," bohong Uwais. Dia kemudian pergi untuk menyimpan kontrak itu, meninggalkan Hana sendirian di kamar.

"Kalau malah kamu yang jatuh cinta sama aku duluan, bagaimana?" gumam Hana saat menatap punggung Uwais yang mulai menghilang. Tapi dengan cepat menggelengkan kepala menyadarkan dirinya.

"Aduh, aku ngomong apa, Sih. Mana mungkin Tuan Muda akan jatuh cinta sama aku. Siapa lah aku? Hanya wanita yang terpaksa dia nikahi untuk membayar hutang keluargaku. Wanita kampung yang selamanya tidak akan selevel dengan keluarga Qarny," gumam Hana mengingatkan dirinya sendiri.

"Semoga hidupku baik-baik saja disini," lirihnya lagi.

Sudah hampir tengah malam tapi Uwais tidak kembali lagi ke kamar. Pria itu pergi entah kemana membiarkan istrinya sendiri dimalam pertama mereka. Hana yang lelah pun tertidur di sofa.

***

Hana gelisah dalam tidurnya. Memori-memori kelam kembali menghantuinya. Setiap hatinya merasa sedih pasti akan mengalami mimpi yang buruk.

"Maafkan Hana, Bu."

"Hana janji akan nurut."

Hana terus saja meracau sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Keringat bercucuran dikeningnya. Ketakutan yang sering ia rasakan sejak ia kecil hingga lah dia beranjak dewasa.

"Sakit! Tolong hentikan!" teriak Hana. Ia bangun dengan kaget memegang dadanya yang serasa sesak. Nafasnya memburu dengan hebat. Mimpi yang baru saja ia lihat seperti benar-benar kembali terjadi.

Menepuk tangan dua kali, lampu menyala secara otomatis.

Segera meminum air untuk meredakan ketakutannya. Sudah hafal dengan kebiasaan dirinya sendiri, sebelum tidur harus menyediakan segelas air. Tiada yang memperhatikan membuatnya sangat mandiri dan sangat memperhatikan kesehatan fisik dan mentalnya sendiri.

"Besok aku harus ke perpustakaan agar hatiku kembali nyaman." Kebiasaan Hana saat gelisah adalah membaca buku.

Dua tahun terakhir hidupnya sedikit lebih tenang. Sudah beberapa bulan ia tidak membaca buku sebab sibuk bekerja. Ibunya juga jarang lagi menerornya. Sebelum wanita itu meminta uang, Hana lebih dulu mentransfernya.

"Tas ku tertinggal di kampung. Padahal ada ponsel, kunci motor, kunci kamar kos bahkan kunci lokerku ada didalamnya. Bagaimana aku datang ke Hotel kalau tidak memakai setelan kerja."

Hana berpikir keras bagaimana cara agar dia bisa masuk berkerja besok. Sedangkan cuti yang dia ajukan hanya dua hari. Besok harus masuk kerja seperti biasa. Ingin menghubungi rekan kerjanya tapi ponsel dan uangnya juga ada di kampung.

"Ini semua sebab si Uwais tu lah. menyeret ku pergi tanpa membawa persiapan." Hana terus saja mengomel tidak jelas menyalahkan suaminya sambil mondar-mandir berpikir.

"Semoga Mbak Surti bisa tolong," gumam Hana penuh Harap.

Melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul satu malam. "Uwais kemana, sih? Udah jam segini belum pulang. Kalau tau gini tadi aku tidur di kasur." Hana meregangkan tubuhnya yang seperti mau patah karena tidur di sofa.

"Aduh ... pinggangku," sambil memegang pinggangnya.

Berpikir Uwais tidak akan pulang malam ini. Hana memutuskan untuk lanjut tidur di kasur milik suaminya. "Nyamannya," seru Hana merasa lega sebab bisa meluruskan pinggangnya. Beberapa saat kemudian dia langsung tertidur pulas.

Ceklek

Pintu dibuka oleh Uwais yang tampak sangat kelelahan. Ia langsung berbaring tanpa mempedulikan hal lain. Menepuk tangan dua kali dan lampu secara otomatis mati di tukar menjadi lampu tidur.

***

Keesokan harinya, Mbak Surti ke kamar Uwais dan Hana untuk memanggil mereka sarapan atas permintaan Izati.

"Kok pintunya terbuka?"

Mbak Surti memberanikan diri untuk membuka pintu. Alangkah terkejutnya dia melihat kejadian didepan matanya sekarang. Mbak Surti langsung membalikkan tubuhnya agar tak terlihat.

"Kamu kenapa, Surti?" Tiba-tiba Bram menghampirinya yang bersikap aneh.

"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya nggak sengaja melihatnya," lirih Mbak Surti dengan wajah ketakutan. Dia tahu jika Uwais mengetahui kelancangan nya itu maka hidupnya akan terancam.

"Kamu lihat apa didalam?" Bram semakin penasaran. Mendekati pintu kamar putranya untuk memeriksa. Dia khawatir jika Uwais nekat memukul Hana karena membenci wanita.

"Jangan, Tuan." Mbak Surti mencoba menghalangi tapi Bram nekat dan tetap membuka pintu.

Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!