Hana sudah bersiap untuk tidur di sofa. Uwais datang dengan tiba-tiba melemparkan secarik kertas ke wajahnya. "Apa ini, Mas." Hana menatap wajah Uwais dengan penuh tanda tanya.
"Kita hanya berdua di sini. Jadi jangan berani panggil aku mas!" gertak Uwais.
"Maaf, Tuan Muda." Hana pasrah.
"Itu kontrak pernikahan kita." Uwais duduk depan Hana sambil menyilangkan kaki. "Baca dan tanda tangan," titah Uwais.
Hana mulai membaca kontrak itu dan mengerutkan dahi. Dalam surat itu tertulis beberapa perjanjian dan peraturan yang harus Hana setujui.
"Kok seperti ini?" Hana tampak keberatan dengan isi kontrak tersebut yang hanya menguntungkan Uwais.
Uwais maju dan memukul meja dengan kuat untuk menggertak Hana. "Kamu pikir kamu siapa? Ingat pernikahan ini hanya untuk melunasi hutang keluarga kamu!" Uwais menatap Hana dengan tatapan tajam mirip mata elang miliknya.
Bukannya tidak sadar diri, tapi Hana tidak boleh menandatangani kontrak itu tanpa sedikit pun menguntungkannya. "Baik. Saya setuju dengan kontrak ini. Berpura-pura menjadi suami istri yang harmonis depan Daddy, mommy dan Nisa. Tidak akan ikut campur urusan pribadi Tuan Muda, menuruti semua perintah Tuan, tapi ... " seru Hana.
" Tapi apa lagi! Kamu tidak beda jauh dari keluarga kamu. Tidak tahu diri!" ucap Uwais datar.
"Tapi saya cuma ingin menambahkan sesuatu dalam kontrak ini. Kalau tidak maka saya tidak akan tanda tangan. Sila Kan Tuan urus sendiri keluarga Tuan." Ucap Hana sedikit mengancam.
Uwais semakin geram dengan sikap Hana. Ia maju lalu menggenggam dagu wanita itu. "Berani kamu bermain-main sama aku!"
Hana tak bergeming meskipun Uwais tampak ingin membunuhnya.
"Cepat katakan apa yang kamu inginkan?" Uwais menghempaskan wajah Hana hingga terbaring di sofa.
Hana sedikit meringis tapi ia berusaha tegar di depan suaminya.
"Aku cuma ingin tetap bekerja," imbuh Hana. "Aku janji akan menjadi istri yang baik untuk kamu kalau kamu setuju dengan syarat itu," lirih Hana. Meskipun sudah menjadi istri Uwais yang merupakan pewaris keluarga Qarny. Hana tidak akan berharap lebih pada suaminya.
Ia masih harus mandiri meskipun sudah menjadi nyonya Uwais. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
"Hanya itu?" tanya Uwais dengan ketus mendapatkan anggukan kecil dari Hana.
"OK." Uwais kembali ke ruang pribadinya yang berada di sebelah kamar itu untuk membuat kontrak baru. "Tetap aja nggak mau dirugikan. Siapa juga yang minta untuk menjadi istri yang baik. Cukup turuti semua perjanjian ini saja kan gampang," gumam Uwais depan laptopnya.
Beberapa menit kemudian Uwais kembali dengan kontrak baru di tangannya. "Aku pastikan dia menyesal jika tidak segera menandatangani kontrak baru ini."
Hana pun menunggu dengan sabar ditempat duduk nya semula.
"Tanda tangan cepat!" sergah Uwais melempar kertas itu lagi di hadapan Hana.
Hana membaca dengan teliti isi kontrak baru itu. Merasa sudah cukup, Hana segera menandatangani kontraknya. Tiba-tiba terbesit dipikirannya tentang satu hal yang menurutnya mustahil.
"Bagaimana kalau diantara kita ada yang jatuh cinta?" tanya Hana sebelum menyerahkan kontrak itu pada suaminya.
"Ha ha ha. Aku sama sekali tidak peduli kalau kamu jatuh cinta padaku. Kamu hanya akan patah hati, kekasihku jauh lebih sempurna dari pada kamu," bohong Uwais. Dia kemudian pergi untuk menyimpan kontrak itu, meninggalkan Hana sendirian di kamar.
"Kalau malah kamu yang jatuh cinta sama aku duluan, bagaimana?" gumam Hana saat menatap punggung Uwais yang mulai menghilang. Tapi dengan cepat menggelengkan kepala menyadarkan dirinya.
"Aduh, aku ngomong apa, Sih. Mana mungkin Tuan Muda akan jatuh cinta sama aku. Siapa lah aku? Hanya wanita yang terpaksa dia nikahi untuk membayar hutang keluargaku. Wanita kampung yang selamanya tidak akan selevel dengan keluarga Qarny," gumam Hana mengingatkan dirinya sendiri.
"Semoga hidupku baik-baik saja disini," lirihnya lagi.
Sudah hampir tengah malam tapi Uwais tidak kembali lagi ke kamar. Pria itu pergi entah kemana membiarkan istrinya sendiri dimalam pertama mereka. Hana yang lelah pun tertidur di sofa.
***
Hana gelisah dalam tidurnya. Memori-memori kelam kembali menghantuinya. Setiap hatinya merasa sedih pasti akan mengalami mimpi yang buruk.
"Maafkan Hana, Bu."
"Hana janji akan nurut."
Hana terus saja meracau sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Keringat bercucuran dikeningnya. Ketakutan yang sering ia rasakan sejak ia kecil hingga lah dia beranjak dewasa.
"Sakit! Tolong hentikan!" teriak Hana. Ia bangun dengan kaget memegang dadanya yang serasa sesak. Nafasnya memburu dengan hebat. Mimpi yang baru saja ia lihat seperti benar-benar kembali terjadi.
Menepuk tangan dua kali, lampu menyala secara otomatis.
Segera meminum air untuk meredakan ketakutannya. Sudah hafal dengan kebiasaan dirinya sendiri, sebelum tidur harus menyediakan segelas air. Tiada yang memperhatikan membuatnya sangat mandiri dan sangat memperhatikan kesehatan fisik dan mentalnya sendiri.
"Besok aku harus ke perpustakaan agar hatiku kembali nyaman." Kebiasaan Hana saat gelisah adalah membaca buku.
Dua tahun terakhir hidupnya sedikit lebih tenang. Sudah beberapa bulan ia tidak membaca buku sebab sibuk bekerja. Ibunya juga jarang lagi menerornya. Sebelum wanita itu meminta uang, Hana lebih dulu mentransfernya.
"Tas ku tertinggal di kampung. Padahal ada ponsel, kunci motor, kunci kamar kos bahkan kunci lokerku ada didalamnya. Bagaimana aku datang ke Hotel kalau tidak memakai setelan kerja."
Hana berpikir keras bagaimana cara agar dia bisa masuk berkerja besok. Sedangkan cuti yang dia ajukan hanya dua hari. Besok harus masuk kerja seperti biasa. Ingin menghubungi rekan kerjanya tapi ponsel dan uangnya juga ada di kampung.
"Ini semua sebab si Uwais tu lah. menyeret ku pergi tanpa membawa persiapan." Hana terus saja mengomel tidak jelas menyalahkan suaminya sambil mondar-mandir berpikir.
"Semoga Mbak Surti bisa tolong," gumam Hana penuh Harap.
Melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul satu malam. "Uwais kemana, sih? Udah jam segini belum pulang. Kalau tau gini tadi aku tidur di kasur." Hana meregangkan tubuhnya yang seperti mau patah karena tidur di sofa.
"Aduh ... pinggangku," sambil memegang pinggangnya.
Berpikir Uwais tidak akan pulang malam ini. Hana memutuskan untuk lanjut tidur di kasur milik suaminya. "Nyamannya," seru Hana merasa lega sebab bisa meluruskan pinggangnya. Beberapa saat kemudian dia langsung tertidur pulas.
Ceklek
Pintu dibuka oleh Uwais yang tampak sangat kelelahan. Ia langsung berbaring tanpa mempedulikan hal lain. Menepuk tangan dua kali dan lampu secara otomatis mati di tukar menjadi lampu tidur.
***
Keesokan harinya, Mbak Surti ke kamar Uwais dan Hana untuk memanggil mereka sarapan atas permintaan Izati.
"Kok pintunya terbuka?"
Mbak Surti memberanikan diri untuk membuka pintu. Alangkah terkejutnya dia melihat kejadian didepan matanya sekarang. Mbak Surti langsung membalikkan tubuhnya agar tak terlihat.
"Kamu kenapa, Surti?" Tiba-tiba Bram menghampirinya yang bersikap aneh.
"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya nggak sengaja melihatnya," lirih Mbak Surti dengan wajah ketakutan. Dia tahu jika Uwais mengetahui kelancangan nya itu maka hidupnya akan terancam.
"Kamu lihat apa didalam?" Bram semakin penasaran. Mendekati pintu kamar putranya untuk memeriksa. Dia khawatir jika Uwais nekat memukul Hana karena membenci wanita.
"Jangan, Tuan." Mbak Surti mencoba menghalangi tapi Bram nekat dan tetap membuka pintu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments