Bab 12 Gara-gara ponsel jadul

Pandangan Hana tak lepas dari menatap wajah suaminya. Pertama kali ia mendapat perhatian dan pembelaan dari seseorang. Bahkan keluarganya sendiri tidak pernah bersyukur memiliki dirinya. Sekuat apa pun dia berjuang, tapi tetap saja semuanya sia-sia.

Uwais menggenggam tangan Hana menuju motor. Alisya tidak dapat menghalangi mereka lagi karena wajah Uwais sudah berubah sangat bengis. Ingin menerkam semua yang berusaha menghalangi jalannya.

"Sial!" umpat Alisya saat motor yang dikendarai Uwais dan Hana sudah tidak terlihat lagi.

"Tenang kan dirimu, Isya." Ardi mencoba menenangkan dirinya.

"Ini semua sebab ayah! Seharusnya aku yang ada di samping Kak Is, bukan Hana! Pokoknya aku tidak mau tahu, ayah harus membuat Kak Is menceraikan Hana dan jatuh dalam pelukan ku. Jika tidak ... maka aku lebih baik mati!" Setelah memberi peringatan pada ayahnya, Alisya menghentakkan kaki menuju kamar.

Pang!

Pintu di hempas dengan kuat. Sehingga mengagetkan Aisyah dan ibunya. "Dia pasti kecewa lagi," lirih Aisyah sedih dengan keadaan putri kesayangannya.

"Ini semua gara-gara si anak tak tahu di untung itu. Keenakan hidup menjadi istri orang kaya sampai tidak memikirkan kebahagiaan Alisya lagi. Apa salahnya mengalah untuk Alisya, toh dia juga tidak mencintai suaminya." Wati turut meluapkan kekesalannya.

"Kita harus memikirkan cara lebih bagus untuk memisahkan mereka," gumam Aisyah. Wati mengangguk mengiyakan perkataan anaknya.

"Ya udah, ibu mau lanjut istirahat dulu. Kamu jangan lupa panaskan lauk yang kita beli tadi. Uwwahhh." Wati menguap tanda masih mengantuk.

"Nanti aja deh, Bu. Aku juga masih capek," sahut Aisyah.

Mereka berdua kembali ke kamar masing-masing. Menyisakan Ardi yang termenung memikirkan permintaan Alisya.

"Tanpa kamu mintapun ... ayah tetap akan memisahkan Hana dari pria itu. Mereka tidak bisa bersama. Tapi aku bingung harus menjelaskan mulai dari mana pada Hana tentang semua ini. Semoga dia bisa menerima dengan tabah," gumam Ardi dengan wajah sendu.

Bukan nya tidak ingin melihat Hana bahagia dengan Uwais. Tapi Ardi menyimpan kenangan masa lalu yang kelam tentang anak gadis sulung nya itu.

***

Hana begitu baper dengan sandiwara yang di lakonkan bersama Uwais. Sikap Uwais tadi berhasil membuat hatinya berbunga-bunga. Detak jantungnya berdebar tak terkendali. Wajahnya masih terasa panas sehingga membuat hidungnya memerah.

Mereka sudah sampai di tepi pantai. Pemandangan yang sangat indah menenangkan jiwa. Angin sepoi-sepoi menerpa menyejukkan kulit meskipun hari sedang terik.

"Ayo turun. Kita makan di restoran itu," imbuh Uwais sambil menunjuk ke arah restoran Melani yang terlatak di pinggir pantai dan cukup ramai pengunjung.

"Hah, kita udah sampai, yah. Aduh aku sampai tidak sadar," ucap Hana yang merasa malu.

Ia turun dengan terburu-buru hingga tidak menyadari kakinya menapaki sebuah batu besar. Tubuhnya hilang keseimbangan dan hampir mencium tanah.

Beruntung Uwais sigap menarik tangan Hana lalu menyambut tubuh mungil itu kepelukannya. Pandangan mereka sempat bertemu. Mata teduh berwarna coklat Hana memberi kesan indah di wajahnya. Bibir mungil se*si menarik perhatian Uwais. Detak jantungnya berdebar tak menentu.

Trak ...

Seorang pengunjung lain menginjak ranting kering di sekitar mereka hingga mengagetkan keduanya. Uwais segera membantu Hana berdiri dengan tegak dan kembali ke mode cuek. "Kita masuk sekarang." Uwais berucap dengan datar kemudian berjalan mendahului Hana.

"Dia tidak sedang salah tingkah, kan?" gumam Hana menerka-nerka.

Hana semakin baper dengan suaminya sendiri. Berlari mengejar Uwais yang sudah berada didepan pintu restoran. "Baru juga jalan ... udah jauh aja dia. Capek kaki aku berlari," omel Hana dengan nafas yang ngos-ngosan..

Restoran ini menyediakan meja outdoor bagi pengunjung yang berminat menikmati suasana pantai berangin. Uwais memilih meja yang berada di sudut dan terletak sedikit berjauhan dari meja lain.

Ia tidak suka keramaian yang akan membuat telinga nya sakit. Apalagi jika ada begitu banyak cewek di restoran ini yang sama sekali tidak memiliki etika bersuara.

Hana memilih untuk memesan makanan semantara Uwais memilih tempat duduk yang ia inginkan.

"Tempatnya cantik, yah." Hana menghampiri Uwais dan tampak sangat menikmati suasana pantai. Rambutnya tampak kusut akibat memakai helem, ia melepas ikat rambutnya untuk memperbaiki. Rambut yang gerai tertiup angin sepoi-sepoi.

Tingkahnya itu malah menarik perhatian Uwais secara tidak sengaja. Wajah polos Hana memenuhi ruang lingkup menglihatannya. Terpesona dengan kecantikan yang terlukis indah didepan matanya.

Perlahan mengambil ponsel dalam saku celana kemudian diam-diam memotret wajah polos istrinya.

"Ternyata dia cantik juga," gumam Uwais tanpa berkedip sama sekali.

"Tuan Muda bilang apa?" tanya Hana dengan mengerutkan dahi.

"Hah, enggak ada ... " Elak Uwais sedikit gugup. "Itu hidung kamu memerah," sambung Uwais memalingkan pandangan nya dari Hana.

"Kok bisa?" Hana mengambil ponsel dari dalam tasnya untuk bercermin.

"Udah besar tapi kok masih main-mainan anak-anak kecil," sindir Uwais salah fokus dengan ponsel milik Hana yang sudah jadul.

"Maksud Tuan Muda apa?" bingung Hana kembali mengerutkan dahinya.

"Itu yang kamu pegang, itu ponsel mainan anak-anak, kan?" sahut Uwais.

Senyum Hana seketika hilang dari wajahnya. Tersandar lemas pada kursi sambil tak lepas menatap ponselnya.

"Tuan Muda tahu ... Ponsel ini hasil jerih paya saya yang pertama. Memang murah dan jadul tapi saya sangat sayang padanya." Hana kemudian menatap pantai yang mengibaratkan kenangan masa kecilnya.

Terombang-ambing oleh keadaan. Keluarga yang selalu menuntutnya mengalah dan harus bisa kerja keras.

"Disaat semua teman saya memakai ponsel canggih untuk melanjutkan sekolah, saya cuma bisa beli ponsel ini untuk keperluan kerja." Hana termenung.

Ia malah teringat kembali pada motor kesayangan nya yang tega di jual oleh keluarga tanpa sepengetahuan nya. Matanya mulai berembun teringat betapa susah payah nya dia agar bisa mendapatkan motor butut itu.

Uwais setia mendengar luahan hati istrinya. Selama ini dia paling risih dengan ocehan wanita selain ibu dan adiknya. Tidak segan-segan membentak jika ada yang berani mendekatinya.

"Kok dengar suaranya aku malah tenang aja yah?" batin Uwais bingung. "Mungkin karena aku kesihan pada kisah hidupnya," sambungnya menyangkal perasaan yang mulai menggelayuti pikirannya.

Hana mengusap air mata yang mengalir di pipinya. "Maaf kalau saya jadi lebai gini. Tuan nggak perlu ambil hati dengan cerita saya tadi."

"Jadi itu ponsel beneran?" tanya Uwais masih penasaran.

"Ehh, Tuan Muda nyebelin." Sahut Hana gemas. "Nah lihat sendiri. Ini asli dan boleh digunakan untuk menghubungi seseorang." Hana meletakkan ponsel nya di hadapan Uwais.

"Jadi hanya untuk benda kecil ini kamu ngajak aku pulang kampung?" tanya Uwais kaget bercampur kesal.

Hana menggigit bibirnya takut jika Uwais malah marah padanya. "Saya tidak ngajak Tuan Muda pun. Saya cuma minta izin tapi Daddy malah meminta Tuan Muda menghantar saya," elak Hana sambil memainkan jarinya.

Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!