Pandangan Hana tak lepas dari menatap wajah suaminya. Pertama kali ia mendapat perhatian dan pembelaan dari seseorang. Bahkan keluarganya sendiri tidak pernah bersyukur memiliki dirinya. Sekuat apa pun dia berjuang, tapi tetap saja semuanya sia-sia.
Uwais menggenggam tangan Hana menuju motor. Alisya tidak dapat menghalangi mereka lagi karena wajah Uwais sudah berubah sangat bengis. Ingin menerkam semua yang berusaha menghalangi jalannya.
"Sial!" umpat Alisya saat motor yang dikendarai Uwais dan Hana sudah tidak terlihat lagi.
"Tenang kan dirimu, Isya." Ardi mencoba menenangkan dirinya.
"Ini semua sebab ayah! Seharusnya aku yang ada di samping Kak Is, bukan Hana! Pokoknya aku tidak mau tahu, ayah harus membuat Kak Is menceraikan Hana dan jatuh dalam pelukan ku. Jika tidak ... maka aku lebih baik mati!" Setelah memberi peringatan pada ayahnya, Alisya menghentakkan kaki menuju kamar.
Pang!
Pintu di hempas dengan kuat. Sehingga mengagetkan Aisyah dan ibunya. "Dia pasti kecewa lagi," lirih Aisyah sedih dengan keadaan putri kesayangannya.
"Ini semua gara-gara si anak tak tahu di untung itu. Keenakan hidup menjadi istri orang kaya sampai tidak memikirkan kebahagiaan Alisya lagi. Apa salahnya mengalah untuk Alisya, toh dia juga tidak mencintai suaminya." Wati turut meluapkan kekesalannya.
"Kita harus memikirkan cara lebih bagus untuk memisahkan mereka," gumam Aisyah. Wati mengangguk mengiyakan perkataan anaknya.
"Ya udah, ibu mau lanjut istirahat dulu. Kamu jangan lupa panaskan lauk yang kita beli tadi. Uwwahhh." Wati menguap tanda masih mengantuk.
"Nanti aja deh, Bu. Aku juga masih capek," sahut Aisyah.
Mereka berdua kembali ke kamar masing-masing. Menyisakan Ardi yang termenung memikirkan permintaan Alisya.
"Tanpa kamu mintapun ... ayah tetap akan memisahkan Hana dari pria itu. Mereka tidak bisa bersama. Tapi aku bingung harus menjelaskan mulai dari mana pada Hana tentang semua ini. Semoga dia bisa menerima dengan tabah," gumam Ardi dengan wajah sendu.
Bukan nya tidak ingin melihat Hana bahagia dengan Uwais. Tapi Ardi menyimpan kenangan masa lalu yang kelam tentang anak gadis sulung nya itu.
***
Hana begitu baper dengan sandiwara yang di lakonkan bersama Uwais. Sikap Uwais tadi berhasil membuat hatinya berbunga-bunga. Detak jantungnya berdebar tak terkendali. Wajahnya masih terasa panas sehingga membuat hidungnya memerah.
Mereka sudah sampai di tepi pantai. Pemandangan yang sangat indah menenangkan jiwa. Angin sepoi-sepoi menerpa menyejukkan kulit meskipun hari sedang terik.
"Ayo turun. Kita makan di restoran itu," imbuh Uwais sambil menunjuk ke arah restoran Melani yang terlatak di pinggir pantai dan cukup ramai pengunjung.
"Hah, kita udah sampai, yah. Aduh aku sampai tidak sadar," ucap Hana yang merasa malu.
Ia turun dengan terburu-buru hingga tidak menyadari kakinya menapaki sebuah batu besar. Tubuhnya hilang keseimbangan dan hampir mencium tanah.
Beruntung Uwais sigap menarik tangan Hana lalu menyambut tubuh mungil itu kepelukannya. Pandangan mereka sempat bertemu. Mata teduh berwarna coklat Hana memberi kesan indah di wajahnya. Bibir mungil se*si menarik perhatian Uwais. Detak jantungnya berdebar tak menentu.
Trak ...
Seorang pengunjung lain menginjak ranting kering di sekitar mereka hingga mengagetkan keduanya. Uwais segera membantu Hana berdiri dengan tegak dan kembali ke mode cuek. "Kita masuk sekarang." Uwais berucap dengan datar kemudian berjalan mendahului Hana.
"Dia tidak sedang salah tingkah, kan?" gumam Hana menerka-nerka.
Hana semakin baper dengan suaminya sendiri. Berlari mengejar Uwais yang sudah berada didepan pintu restoran. "Baru juga jalan ... udah jauh aja dia. Capek kaki aku berlari," omel Hana dengan nafas yang ngos-ngosan..
Restoran ini menyediakan meja outdoor bagi pengunjung yang berminat menikmati suasana pantai berangin. Uwais memilih meja yang berada di sudut dan terletak sedikit berjauhan dari meja lain.
Ia tidak suka keramaian yang akan membuat telinga nya sakit. Apalagi jika ada begitu banyak cewek di restoran ini yang sama sekali tidak memiliki etika bersuara.
Hana memilih untuk memesan makanan semantara Uwais memilih tempat duduk yang ia inginkan.
"Tempatnya cantik, yah." Hana menghampiri Uwais dan tampak sangat menikmati suasana pantai. Rambutnya tampak kusut akibat memakai helem, ia melepas ikat rambutnya untuk memperbaiki. Rambut yang gerai tertiup angin sepoi-sepoi.
Tingkahnya itu malah menarik perhatian Uwais secara tidak sengaja. Wajah polos Hana memenuhi ruang lingkup menglihatannya. Terpesona dengan kecantikan yang terlukis indah didepan matanya.
Perlahan mengambil ponsel dalam saku celana kemudian diam-diam memotret wajah polos istrinya.
"Ternyata dia cantik juga," gumam Uwais tanpa berkedip sama sekali.
"Tuan Muda bilang apa?" tanya Hana dengan mengerutkan dahi.
"Hah, enggak ada ... " Elak Uwais sedikit gugup. "Itu hidung kamu memerah," sambung Uwais memalingkan pandangan nya dari Hana.
"Kok bisa?" Hana mengambil ponsel dari dalam tasnya untuk bercermin.
"Udah besar tapi kok masih main-mainan anak-anak kecil," sindir Uwais salah fokus dengan ponsel milik Hana yang sudah jadul.
"Maksud Tuan Muda apa?" bingung Hana kembali mengerutkan dahinya.
"Itu yang kamu pegang, itu ponsel mainan anak-anak, kan?" sahut Uwais.
Senyum Hana seketika hilang dari wajahnya. Tersandar lemas pada kursi sambil tak lepas menatap ponselnya.
"Tuan Muda tahu ... Ponsel ini hasil jerih paya saya yang pertama. Memang murah dan jadul tapi saya sangat sayang padanya." Hana kemudian menatap pantai yang mengibaratkan kenangan masa kecilnya.
Terombang-ambing oleh keadaan. Keluarga yang selalu menuntutnya mengalah dan harus bisa kerja keras.
"Disaat semua teman saya memakai ponsel canggih untuk melanjutkan sekolah, saya cuma bisa beli ponsel ini untuk keperluan kerja." Hana termenung.
Ia malah teringat kembali pada motor kesayangan nya yang tega di jual oleh keluarga tanpa sepengetahuan nya. Matanya mulai berembun teringat betapa susah payah nya dia agar bisa mendapatkan motor butut itu.
Uwais setia mendengar luahan hati istrinya. Selama ini dia paling risih dengan ocehan wanita selain ibu dan adiknya. Tidak segan-segan membentak jika ada yang berani mendekatinya.
"Kok dengar suaranya aku malah tenang aja yah?" batin Uwais bingung. "Mungkin karena aku kesihan pada kisah hidupnya," sambungnya menyangkal perasaan yang mulai menggelayuti pikirannya.
Hana mengusap air mata yang mengalir di pipinya. "Maaf kalau saya jadi lebai gini. Tuan nggak perlu ambil hati dengan cerita saya tadi."
"Jadi itu ponsel beneran?" tanya Uwais masih penasaran.
"Ehh, Tuan Muda nyebelin." Sahut Hana gemas. "Nah lihat sendiri. Ini asli dan boleh digunakan untuk menghubungi seseorang." Hana meletakkan ponsel nya di hadapan Uwais.
"Jadi hanya untuk benda kecil ini kamu ngajak aku pulang kampung?" tanya Uwais kaget bercampur kesal.
Hana menggigit bibirnya takut jika Uwais malah marah padanya. "Saya tidak ngajak Tuan Muda pun. Saya cuma minta izin tapi Daddy malah meminta Tuan Muda menghantar saya," elak Hana sambil memainkan jarinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments