Bab 5 Dak dik Duk pertama

Mobil memasuki halaman rumah yang cukup luas sehingga bisa di gunakan untuk bermain golf, tapi sama sekali tidak membuat Hana terkesima dan kagum. Rumahnya juga tak kalah besar di hiasi dengan tanaman-tanaman indah menyejukkan mata tapi tetap tidak meneduhkan perasaan Hana yang kini dilanda kesedihan.

Saat mobil berhenti Uwais langsung keluar meninggalkan Hana yang masih termenung. Hanya seorang satpam yang datang mengagetkan Hana.

"Mari keluar, Non." Pat Suryo membukakan pintu mobil untuk Hana.

"Hah, udah sampai yah. Maaf ya Pak saya melamun," ucap Hana sedikit kaget.

"Mari saya hantar masuk, Non." Pak Suryo menghantar Hana menyusuri rumah megah milik keluarga Qarny.

Hana mengikuti ke mana Satpam tersebut membawanya. Perasaannya masih gundah sehingga tidak mempedulikan suasana rumah. Bahkan dia tidak sadar jika melewati lift untuk kelantai atas.

"Silakan masuk, Nona. Ini kamar Tuan Muda," ucap Pak Suryo saat berdiri depan kamar Uwais kemudian berlalu pergi.

"Eh, iya Pak. Terima kasih." Hana menundukkan kepala tanda hormat.

Tok tok tok

Beberapa kali mengetuk pintu baru lah Uwais membukakan pintu dan mempersilahkan Hana masuk.

"Ingat! Ini kamarku, kamu nggak boleh bertindak sesuka hati di sini," imbuh Uwais acuh. Sudah berganti pakaian santai dan akan menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruang pribadinya.

Hana memperhatikan setiap sudut kamar tanpa membalas ucapan Uwais. Tubuhnya sudah cukup lelah sehingga ingin segera berbaring di kasur. Tapi ...

"Kamu mau ngapain?" tanya Uwais menarik Hana menjauh dari kasur.

"Aku capek, Mas. Aku ingin istirahat sebentar saja," lirih Hana dengan wajah pucat dan tak bertenaga.

Uwais kaget karena ia sama sekali tidak memperhatikan Hana dari tadi sehingga wajah pucat nya tidak terlihat. Tiba-tiba Hana pingsan dan jatuh ke pelukan suaminya.

"Aduh ... pakai pingsan segala, mana belum tukar pakaian lagi. Ini kan masih kebaya yang tadi pagi waktu nikah." Uwais sempat menyambut tubuh mungil Hana sebelum mencium lantai. "Aku harus bagaimana sekarang?" bingungnya.

Sebenarnya ia jijik memegang Hana makanya dia segera membaringkan tubuh itu ke sofa dari pada harus mencemarkan kasurnya. Ketika ingin beranjak ia merasa tangannya seperti tertahan sesuatu, ternyata jam tangan yang ia gunakan tersangkut benang kebaya yang dikenakan Hana.

Uwais terpaksa jongkok untuk melepasnya. Tanpa sengaja matanya menatap wajah polos Hana yang masih tetap cantik meskipun make-up nya sudah sedikit belepotan.

"Kalau dilihat-lihat cewek ini cantik juga," gumam Uwais dalam hati matanya tak lepas memperhatikan Hana. Tapi dengan cepat menggelengkan kepalanya.

"Sadar Is. Semua cewek sama aja ... Penghianat!" tekat Uwais. Dengan kasar menarik tangannya sehingga bisa lepas dari benang yang melilit jam tangannya.

"Kalau bukan karena ancaman Daddy, aku dari awal tidak mau menikah denganmu," batin Uwais geram.

Flashback On :

"Aku nggak akan menikah dengan wanita manapun, Dad. Aku akan selamanya sendirian. Punya pasangan hanya membuat kepala pusing dan menyakitkan hati," seru Uwais menolak saat Bram memintanya menikah dengan gadis yang tidak dia kenal.

"Kalau kamu tetap menolak nikah besok maka semua aset yang Daddy berikan akan Daddy tarik balik! Kamu akan Daddy luncurkan dari jabatan Kamu di perusahaan. Kamu silakan pergi dari rumah ini tanpa membawa apapun termasuk sehelai pakaian. Silahkan kamu lanjutkan kuliah jika kamu ingin tapi tanpa nama Qarny dibelakang nama kamu lagi!" ancam Bram.

Uwais tercengang karena sampai segitunya sang Daddy memaksakan kehendak agar dia menikah dengan gadis yang tidak dia cintai.

"Kenapa sampai segitunya Daddy? Bukannya mereka hanya ingin melunasi hutang mereka, jadi tidak perlu sampai memaksa ku menikah dengan anak mereka. Bukannya untung, kita malah tambah rugi. Tega Daddy menghancurkan kebahagiaanku," sahut Uwais tak setuju.

"Kamu nggak perlu tahu tujuan Daddy. Kamu tinggal nurut aja apa yang Daddy katakan kalau kamu tidak mau kehilangan semua kemewahan yang kamu miliki." Bram kembali mengancam sampai putranya itu mau menuruti keinginannya.

"Ingat, nak. Tidak semua perempuan itu penghianat. Ada kok yang setia, lihat mommy kamu. Meskipun dia bawel tapi dia sangat menyayangi Daddy." Sambungnya membujuk.

"Bukannya selama ini kamu berpura-pura memiliki pacar agar Mommy kamu tidak berpikiran tidak-tidak terhadap kamu. Sekarang kesempatan yang bagus membuat Mommy kamu semakin yakin." Bram sangat tahu kelemahan putra tunggalnya itu.

Uwais meninggalkan Bram sendiri di ruang kerjanya tanpa memberi jawaban. Dia terpaksa setuju karena tidak sanggup hidup tanpa kemewahan keluarganya dan juga tidak ingin membuat mommy nya khawatir. Dia lebih baik mati dari pada harus melihat wanita yang melahirkannya itu bersedih.

Akhirnya Bram bisa tersenyum puas karena tahu putranya tidak akan membantah apa yang dia inginkan. Kelemahan anaknya terletak pada kemewahan dan mommy nya.

"Semua ini untuk kebahagiaan kalian juga nanti." Bram termenung keluar jendela dengan menghisap habis rokok di tangannya. "Dosa ini selalu menghantuiku, seumur hidupku, aku akan selalu berusaha menebus semuanya." Batin Bram.

Flashback Off.

Hana perlahan membuka matanya setelah beberapa jam tertidur. Seketika ia tersadar bahwa yang terjadi tadi bukanlah sekedar mimpi melainkan benar-benar terjadi. Nafasnya tersengal-sengal merasakan sensasi nyata dari mimpinya.

Sekarang ia harus menjalani kehidupan sebagai seorang istri karena kini ia sudah menjelma menjadi istri dari putra keluarga konglomerat terkaya di provinsinya.

Mencari di mana kamar mandi. Merasa sudah cukup sesak dengan memakai kebaya dari pagi hingga lah ke malam dengan riasan wajah yang masih menempel cantik di wajahnya, beruntung MUA hanya memolis tipis makeup diwajahnya.

Memperhatikan sekeliling memastikan Uwais tidak ada di dalam kamar sebelum dia membuka baju. Dengan cepat ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket sebelum Uwais datang.

"Akhirnya segar juga," seru Hana saat keluar dari kamar mandi. Dan tiba-tiba...

Ceklek

Pintu terbuka. Hana dengan cepat berlari untuk bersembunyi di belakang gorden agar orang yang masuk tidak melihat keadaannya yang hanya memakin handuk kecil.

Sementara Uwais penasaran kemana Hana pergi dan mencari di setiap sudut kamar tapi sama sekali tidak menemukannya.

"Dia dimana?" gumam Uwais.

"Kalau kabur ya bagus deh. Aku nggak perlu repot-repot mencari cara untuk mengusirnya." Batinnya merasa senang.

Karena merasa bosan, Uwais berniat ingin ke balkon untuk menghirup udara malam yang segar. Langkah kakinya yang semakin dekat membuat Hana gelisah di persembunyian.

Serrrr...

Gorden di sibak oleh Uwais membuat kedua insan itu kaget dan membeku di tempat dalam beberapa saat. Tatapan mereka sempat bertemu membuat jantung Hana memompa lebih kuat dari biasanya. Satu tangan Hana berusaha menahan handuk bagian dada sementara tangan yang satunya berusaha menarik handuk ke bawa agar sedikit menutupi pahanya yang terekspos.

Uwais segera membuang muka. Hana segera berlari memasuki walk in Closed sambil memegang pipinya yang memanas.

"Kenapa dia ada di sini dengan penampilan seperti itu?" gumam Uwais penuh selidik. Tak dapat di pungkiri meskipun dia selalu melihat wanita se*s1 di luar sana tapi melihat Hana tadi berhasil membangkitkan sesuatu yang tertahankan.

Di dalam walkin Closed, Hana bingung harus memakai apa sebab dia sama sekali tidak memiliki pakaian yang cocok dengan seleranya. Baju yang di sediakan untuknya semuanya terlalu terbuka sementara dirinya tidak terbiasa mengenakan pakaian kurang bahan seperti itu. Dengan terpaksa dia harus menggunakan kemeja milik Uwais dan segera keluar dari sana untuk meminta baju yang lebih layak dikatakan pakaian.

Bukannya tenang, Hana malah kembali membuat Uwais terpancing dengan pakaiannya itu. Meskipun sudah lebih tertutup tapi nyatanya di mata Uwais, Hana kini lebih terlihat menggoda.

"Mas, aku ingin ngo-" Sebelum Hana menyelesaikan perkataannya Uwais beranjak keluar kamar dengan menghentakkan pintu.

"Bisa gila aku kalau lama-lama dalam kamar bersama perempuan sialan itu." Uwais memilih menuju ke ruang tamu untuk menyambut seseorang yang akan datang bertamu ke rumahnya.

Terpopuler

Comments

hìķàwäþî

hìķàwäþî

oh gw tau.. pak bram tau yg sbenarnya siapa hana..

2024-01-28

1

Yeni Azis

Yeni Azis

dikasih enak ,,,kok nolak sibang😁😁😁

2024-01-12

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!