Mobil memasuki halaman rumah yang cukup luas sehingga bisa di gunakan untuk bermain golf, tapi sama sekali tidak membuat Hana terkesima dan kagum. Rumahnya juga tak kalah besar di hiasi dengan tanaman-tanaman indah menyejukkan mata tapi tetap tidak meneduhkan perasaan Hana yang kini dilanda kesedihan.
Saat mobil berhenti Uwais langsung keluar meninggalkan Hana yang masih termenung. Hanya seorang satpam yang datang mengagetkan Hana.
"Mari keluar, Non." Pat Suryo membukakan pintu mobil untuk Hana.
"Hah, udah sampai yah. Maaf ya Pak saya melamun," ucap Hana sedikit kaget.
"Mari saya hantar masuk, Non." Pak Suryo menghantar Hana menyusuri rumah megah milik keluarga Qarny.
Hana mengikuti ke mana Satpam tersebut membawanya. Perasaannya masih gundah sehingga tidak mempedulikan suasana rumah. Bahkan dia tidak sadar jika melewati lift untuk kelantai atas.
"Silakan masuk, Nona. Ini kamar Tuan Muda," ucap Pak Suryo saat berdiri depan kamar Uwais kemudian berlalu pergi.
"Eh, iya Pak. Terima kasih." Hana menundukkan kepala tanda hormat.
Tok tok tok
Beberapa kali mengetuk pintu baru lah Uwais membukakan pintu dan mempersilahkan Hana masuk.
"Ingat! Ini kamarku, kamu nggak boleh bertindak sesuka hati di sini," imbuh Uwais acuh. Sudah berganti pakaian santai dan akan menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruang pribadinya.
Hana memperhatikan setiap sudut kamar tanpa membalas ucapan Uwais. Tubuhnya sudah cukup lelah sehingga ingin segera berbaring di kasur. Tapi ...
"Kamu mau ngapain?" tanya Uwais menarik Hana menjauh dari kasur.
"Aku capek, Mas. Aku ingin istirahat sebentar saja," lirih Hana dengan wajah pucat dan tak bertenaga.
Uwais kaget karena ia sama sekali tidak memperhatikan Hana dari tadi sehingga wajah pucat nya tidak terlihat. Tiba-tiba Hana pingsan dan jatuh ke pelukan suaminya.
"Aduh ... pakai pingsan segala, mana belum tukar pakaian lagi. Ini kan masih kebaya yang tadi pagi waktu nikah." Uwais sempat menyambut tubuh mungil Hana sebelum mencium lantai. "Aku harus bagaimana sekarang?" bingungnya.
Sebenarnya ia jijik memegang Hana makanya dia segera membaringkan tubuh itu ke sofa dari pada harus mencemarkan kasurnya. Ketika ingin beranjak ia merasa tangannya seperti tertahan sesuatu, ternyata jam tangan yang ia gunakan tersangkut benang kebaya yang dikenakan Hana.
Uwais terpaksa jongkok untuk melepasnya. Tanpa sengaja matanya menatap wajah polos Hana yang masih tetap cantik meskipun make-up nya sudah sedikit belepotan.
"Kalau dilihat-lihat cewek ini cantik juga," gumam Uwais dalam hati matanya tak lepas memperhatikan Hana. Tapi dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Sadar Is. Semua cewek sama aja ... Penghianat!" tekat Uwais. Dengan kasar menarik tangannya sehingga bisa lepas dari benang yang melilit jam tangannya.
"Kalau bukan karena ancaman Daddy, aku dari awal tidak mau menikah denganmu," batin Uwais geram.
Flashback On :
"Aku nggak akan menikah dengan wanita manapun, Dad. Aku akan selamanya sendirian. Punya pasangan hanya membuat kepala pusing dan menyakitkan hati," seru Uwais menolak saat Bram memintanya menikah dengan gadis yang tidak dia kenal.
"Kalau kamu tetap menolak nikah besok maka semua aset yang Daddy berikan akan Daddy tarik balik! Kamu akan Daddy luncurkan dari jabatan Kamu di perusahaan. Kamu silakan pergi dari rumah ini tanpa membawa apapun termasuk sehelai pakaian. Silahkan kamu lanjutkan kuliah jika kamu ingin tapi tanpa nama Qarny dibelakang nama kamu lagi!" ancam Bram.
Uwais tercengang karena sampai segitunya sang Daddy memaksakan kehendak agar dia menikah dengan gadis yang tidak dia cintai.
"Kenapa sampai segitunya Daddy? Bukannya mereka hanya ingin melunasi hutang mereka, jadi tidak perlu sampai memaksa ku menikah dengan anak mereka. Bukannya untung, kita malah tambah rugi. Tega Daddy menghancurkan kebahagiaanku," sahut Uwais tak setuju.
"Kamu nggak perlu tahu tujuan Daddy. Kamu tinggal nurut aja apa yang Daddy katakan kalau kamu tidak mau kehilangan semua kemewahan yang kamu miliki." Bram kembali mengancam sampai putranya itu mau menuruti keinginannya.
"Ingat, nak. Tidak semua perempuan itu penghianat. Ada kok yang setia, lihat mommy kamu. Meskipun dia bawel tapi dia sangat menyayangi Daddy." Sambungnya membujuk.
"Bukannya selama ini kamu berpura-pura memiliki pacar agar Mommy kamu tidak berpikiran tidak-tidak terhadap kamu. Sekarang kesempatan yang bagus membuat Mommy kamu semakin yakin." Bram sangat tahu kelemahan putra tunggalnya itu.
Uwais meninggalkan Bram sendiri di ruang kerjanya tanpa memberi jawaban. Dia terpaksa setuju karena tidak sanggup hidup tanpa kemewahan keluarganya dan juga tidak ingin membuat mommy nya khawatir. Dia lebih baik mati dari pada harus melihat wanita yang melahirkannya itu bersedih.
Akhirnya Bram bisa tersenyum puas karena tahu putranya tidak akan membantah apa yang dia inginkan. Kelemahan anaknya terletak pada kemewahan dan mommy nya.
"Semua ini untuk kebahagiaan kalian juga nanti." Bram termenung keluar jendela dengan menghisap habis rokok di tangannya. "Dosa ini selalu menghantuiku, seumur hidupku, aku akan selalu berusaha menebus semuanya." Batin Bram.
Flashback Off.
Hana perlahan membuka matanya setelah beberapa jam tertidur. Seketika ia tersadar bahwa yang terjadi tadi bukanlah sekedar mimpi melainkan benar-benar terjadi. Nafasnya tersengal-sengal merasakan sensasi nyata dari mimpinya.
Sekarang ia harus menjalani kehidupan sebagai seorang istri karena kini ia sudah menjelma menjadi istri dari putra keluarga konglomerat terkaya di provinsinya.
Mencari di mana kamar mandi. Merasa sudah cukup sesak dengan memakai kebaya dari pagi hingga lah ke malam dengan riasan wajah yang masih menempel cantik di wajahnya, beruntung MUA hanya memolis tipis makeup diwajahnya.
Memperhatikan sekeliling memastikan Uwais tidak ada di dalam kamar sebelum dia membuka baju. Dengan cepat ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket sebelum Uwais datang.
"Akhirnya segar juga," seru Hana saat keluar dari kamar mandi. Dan tiba-tiba...
Ceklek
Pintu terbuka. Hana dengan cepat berlari untuk bersembunyi di belakang gorden agar orang yang masuk tidak melihat keadaannya yang hanya memakin handuk kecil.
Sementara Uwais penasaran kemana Hana pergi dan mencari di setiap sudut kamar tapi sama sekali tidak menemukannya.
"Dia dimana?" gumam Uwais.
"Kalau kabur ya bagus deh. Aku nggak perlu repot-repot mencari cara untuk mengusirnya." Batinnya merasa senang.
Karena merasa bosan, Uwais berniat ingin ke balkon untuk menghirup udara malam yang segar. Langkah kakinya yang semakin dekat membuat Hana gelisah di persembunyian.
Serrrr...
Gorden di sibak oleh Uwais membuat kedua insan itu kaget dan membeku di tempat dalam beberapa saat. Tatapan mereka sempat bertemu membuat jantung Hana memompa lebih kuat dari biasanya. Satu tangan Hana berusaha menahan handuk bagian dada sementara tangan yang satunya berusaha menarik handuk ke bawa agar sedikit menutupi pahanya yang terekspos.
Uwais segera membuang muka. Hana segera berlari memasuki walk in Closed sambil memegang pipinya yang memanas.
"Kenapa dia ada di sini dengan penampilan seperti itu?" gumam Uwais penuh selidik. Tak dapat di pungkiri meskipun dia selalu melihat wanita se*s1 di luar sana tapi melihat Hana tadi berhasil membangkitkan sesuatu yang tertahankan.
Di dalam walkin Closed, Hana bingung harus memakai apa sebab dia sama sekali tidak memiliki pakaian yang cocok dengan seleranya. Baju yang di sediakan untuknya semuanya terlalu terbuka sementara dirinya tidak terbiasa mengenakan pakaian kurang bahan seperti itu. Dengan terpaksa dia harus menggunakan kemeja milik Uwais dan segera keluar dari sana untuk meminta baju yang lebih layak dikatakan pakaian.
Bukannya tenang, Hana malah kembali membuat Uwais terpancing dengan pakaiannya itu. Meskipun sudah lebih tertutup tapi nyatanya di mata Uwais, Hana kini lebih terlihat menggoda.
"Mas, aku ingin ngo-" Sebelum Hana menyelesaikan perkataannya Uwais beranjak keluar kamar dengan menghentakkan pintu.
"Bisa gila aku kalau lama-lama dalam kamar bersama perempuan sialan itu." Uwais memilih menuju ke ruang tamu untuk menyambut seseorang yang akan datang bertamu ke rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
hìķàwäþî
oh gw tau.. pak bram tau yg sbenarnya siapa hana..
2024-01-28
1
Yeni Azis
dikasih enak ,,,kok nolak sibang😁😁😁
2024-01-12
1