Bab 2 Ardi ketar-ketir

Hana berpikir keras. Ia tidak ingin dijadikan alat untuk melunasi hutang keluarganya. Sudah cukup selama ini dia berkorban demi mereka demi membahagiakan keluarganya. Impiannya satu-satunya yang tersisa hanya lah hidup bahagia bersama pria yang ia cintai dan sebaliknya.

"Nggak, yah. Aku nggak mau menikah dengan pria yang aku nggak cinta bahkan kenal pun tidak. Kalian nggak bisa paksa aku, sama aja kalian menjualku pada pria kaya raya itu demi melunasi hutang kalian." Hana berusaha membujuk dengan linangan air mata sesekali ia mengusap wajahnya yang sudah basah tapi usahanya hanya akan sia-sia karena keluarganya sama sekali tidak peduli padanya.

Aisyah mendekat dan mencengkram dagu Hana dengan kuat. "Kamu jangan coba melawan, Hana. Kamu harus nikah dengan pak Bram kalau tidak kami semua akan mati di tangannya. Ingat Hana, siapa yang sudah membesarkan dan merawat kamu dari kecil sampai sekarang. Kamu jangan tidak tahu balas budi kayak gini!" geram Aisyah membuang wajah Hana. Paling tidak suka melihat anak sulungnya itu menangis dan memohon.

Hati Hana semakin teriris. Seingatnya dari dulu ia hanya dianaktirikan oleh keluarganya sedangkan adiknya Alisya dimanjakan. Waktu kecil sama sekali tidak memiliki mainan manakala Alisya pasti mendapatkan apapun mainan yang dia inginkan. Hana semasa SD hingga tamat SMP sudah menjadi tukang cuci pakaian tetangga sementara Alisya hanya asik bermain bersama teman-temannya.

Bukan itu saja, Hana juga tidak melanjutkan pendidikannya lagi setelah tamat SMP karena harus membantu ayahnya mencari nafkah untuk keluarganya. Masih terngiang diingatannya ...

Flashback on:

"Tapi Hana juga mau sekolah, Bu," lirih Hana dengan deraian air mata membasahi pipinya. Begitu sakit mendengar permintaan ayahnya agar ia tidak melanjutkan pendidikannya.

"Ayah kamu itu sudah tidak kuat lagi jadi buruh bangunan. Jadi kamu sebagai anak pertama harus membantu keuangan keluarga. Mau makan apa kita nanti kalau kamu masih lanjut sekolah." Aisyah tampak acuh.

Aisyah malah memeluk anak bungsunya. "Lihat adik kamu, sebagai kakak harusnya kamu ngalah aja sama dia. Biar dia yang sekolah tinggi-tinggi demi membanggakan keluarga. Kamu kerja aja bantu ayah kamu ... lagi pun kamu nggak pintar-pintar amat di sekolahin juga bakal percuma."

"Benar apa yang dikatakan ibu kamu itu. Sebagai anak pertama, harus ngalah aja sama adik kamu," tambah Wati membenarkan ucapan anaknya.

Hana beralih menatap Ardi yang tetap santai dengan rokoknya semakin membuat hati gadis muda itu teriris. Walaupun sedih dan kecewa, Hana tetap pasrah mencoba ikhlas dengan keputusan orang tuanya. "Baik lah, Hana tidak akan lanjutin sekolah lagi."

Hanya karena status anak pertama, dia harus selalu mengalah pada adiknya.

Flashback off

"Kok kamu malah bengong sih? Setuju nggak setuju kamu tetap harus nikah besok. Ingat jangan coba-coba kabur!" Gertakan Aisyah membuyarkan lamunan Hana.

Mencoba menenangkan pikirannya sendiri, mencari cara agar dia tidak di paksa menikah dengan pria yang tidak ia kenal. "Memangnya berapa hutang kalian pada pak Bram?" tanya Hana.

"Kenapa tanya itu?" Aisyah menatap rendah Hana.

"Biar aku bayar tapi dengan syurat kalian jangan paksa aku nikah dengan pak Bram." Hana mulai tenang berharap dengan solusi yang dia berikan boleh menyelamatkan masa depannya.

"790 juta. Kamu sanggup bayarnya?" sindir Wati sambil menyilangkan tangannya.

Hana terkesimah mendengar nominal hutang keluarganya, mau cari uang sebanyak itu dimana. Tapi hanya dia yang tampak terbebani dengan masalah ini sedangkan yang lain bersikap santai dan mempertanggung-jawabkan semuanya pada Hana. Seolah-olah gadis itu turut andil merasakan uang sebanyak itu.

"Benar tuh nek. Sok-soan nak bayar, bayar pakai apa? Ngel*cur? Apa susahnya sih tinggal kawin aja juga." Tidak mau kalah, Alisya juga ikut menyudutkan Hana.

"Sudah lah nak, kamu nurut saja pada ayah, yah. Besok kamu nikah dengan pak Bram pasti hidup kamu juga lebih terjamin nantinya," bujuk Ardi pada anak gadisnya.

Hana semakin kecewa, dia memang menyayangi ayahnya karena selama ini hanya pria itu yang tidak pernah membentak dan menyakitinya. Tapi tetap saja sama dengan yang lainnya selalu meminta Hana untuk mengalah dan nurut pada mereka meskipun dengan cara sedikit lembut.

"Aku mohon ayah kali ini aja tolong ngertiin Hana. Jujur nggak tau bagaimana cara lunasin hutangnya tapi tolong jangan dengan menjual Hana, yah." Hana masih berusaha membujuk sang ayah.

"Lagipula aku sama sekali tidak merasakan uang sebanyak itu seumur hidupku. Pokoknya aku nggak mau nikah dengan pak Bram, ayah.cukup selama ini aku dianaktirikan di rumah ini," lirih Hana memberanikan diri mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini telah ia simpan dengan rapat.

PLAKK

Satu tamparan mendarat ke pipi Hana sehingga membuat pipi putih itu seketika memerah. Mendapat tamparan pertama dari ayahnya membuat Hana semakin hilang harapan.

Alih-alih merasa sedih dengan bujukan sang anak. Ardi malah dibuat kesal dan lepas kendali. "Selama ini aku sudah cukup sabar dengan sikap kamu, Hana. Apa salah nya kamu nurut apapun yang kami inginkan tanpa harus aku repot-repot membujuk terlebih dulu!" bentak Ardi kesal.

"Ayo semua keluar! kurung aja dia di sini." Sebelumnya semakin lepas kendali, Ardi segera menjauhi Hana.

Ardi, Aisyah, Alisya dan Wati keluar dari kamar itu dan mengunci pintu agar Hana tidak bisa kabur dari pernikahannya besok. Bukannya bernafas lega dengan Hana yang sudah berada ditangan mereka, saat di luar pun mereka harus meladeni tetangga-tetangga yang penasaran dengan masalah keluarga mereka. Dengan terpaksa Aisyah dan Wati menumpuk bohong demi kebohongan demi kesejahteraan hidup mereka

Kini tinggal Hana sendiri menangis merenungi nasibnya yang malang. Pria yang selama ini ia harapkan kelak bisa menyayanginya sama rata dengan adiknya malah berubah semakin menjauhinya. Hatinya semakin hampa dan kesepian sudah tiada tempat bernaung untuk pulang.

Memiliki keluarga yang utuh sama sekali tidak membuat dirinya bahagia melainkan selalu di sisihkan dan diketepikan. Diingat hanya saat kesusahan dan dituntut harus selalu menjadi tumbal. Awalnya ia pulang karena khawatir akan kesehatan sang ayah tanpa disadari semua itulah hanya tipuan agar ia pulang melangsungkan pernikahannya bersama pria kaya raya.

***

Keesokan harinya, seorang MUA sudah berada di kamar Hana pada pukul 4 subuh demi mendadani Hana agar terlihat cantik di hari pernikahannya. Majlis ini hanya diadakan dengan sederhana hanya untuk menutupi mulut julit para tetangga. Selama ini warga memang tidak menyukai cara Aisyah dan Ardi membesarkan Hana yang cenderung pilih kasih.

Tepat pukul 7 pagi Hana sudah siap didandani juga sudah mengenakan kebaya putih sederhana. Meskipun wajahnya sudah cantik tapi tetap terlihat suram dan tidak bersemangat.

Di luar sudah ramai dengan tetangga sebagai tamu undangan. Juga pak penghulu setia menanti sang pengantin pria di ruang tamu sambil menikmati hidangan sederhana yang disediakan.

"Senyum dong, Mbak. Hari ini kan hari bahagianya kok malah cemberut terus sih." Mbak MUA mencoba menghibur Hana tapi tetap saja tidak berhasil.

"Boleh tolong aku lari dari sini, mbak," lirih Hana terlihat memelas penuh harap.

Mbak MUA tampak bingung maksud Hana, saat ingin bertanya tiba-tiba Aisyah masuk untuk memastikan Hana sudah siap.

"Sudah siap, Mbak?" tanya Aisyah pada MUA.

"Sudah, Bu Aisyah," jawab Mbak MUA. Ia memilih tidak ikut campur dengan masalah keluarga kliennya.

"Kalau sudah boleh pulang, ini bayarannya sesuai kesepakatan." Aisyah menyodorkan amplop dan Mbak MUA langsung pamit pulang karena masih ada jop MUA di lokasi lain.

Hana tidak bisa berkutik lagi, hari ini akan menjadi hari paling menyedihkan dalam hidupnya.

Selang beberapa lama sebuah mobil mewah datang Ardi menyambutnya dengan hangat. "Wah selamat datang Pak Bram. Silakan masuk." Ucap Ardi sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman pada pria paruh baya bersetelan jas mewah itu.

Senyum lebar yang menghiasi wajah Ardi seketika pudar saat Bram sama sekali tidak meliriknya begitu pula tiga orang algojo dibelakangnya. Uluran tangannya diabaikan begitu saja. Walaupun demikian Ardi tetap mencoba ramah pada bakal menantunya agar tidak malu depan tamu undangan.

"Silakan duduk di sini, Pak. Saya akan memanggil anak saya agar pernikahannya segera di laksanakan." Ardi mempersilahkan Bram duduk di posisi mempelai pria.

Senyum tak lepas dari wajahnya karena sebentar lagi hidupnya akan kembali tenang.

"Kamu menghina saya! Saya ini pria yang setia!" kesal Bram tidak terima jika Ardi menawarkannya duduk di posisi mempelai pria.

Semua orang tampak bingung terutama Ardi dan Wati yang kebetulan keluar membawa nampan berisi kue untuk tamu.

"Maksud Pak Bram bagaimana, yah?" Ardi tetap mencoba tenang meskipun hatinya sudah ketar-ketir. Jika Bram tidak ingin menikahi putrinya harus bagaimana lagi dia akan melunasi hutang.

Terpopuler

Comments

Teteh Lia

Teteh Lia

hai kak, salam kenal.
jika berminat, mari mampir di ceritaku. "Love story ini SMA "
trimakasih 🙏

2024-01-22

1

Aisyah Rahayu

Aisyah Rahayu

terima kasih sudah berminat membaca novel perdana saya. sangat bersyukur jika Mbak menjadi pembaca setia dengan favorit kan cerita ini dan jangan lupa juga subscribe akun penaku/Drool/

2024-01-14

0

Meliya Inisial E

Meliya Inisial E

kasian banget hana ya dia hrus berkorban/Smile/ demi keluarganya

2024-01-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Khawatir membawa petaka
2 Bab 2 Ardi ketar-ketir
3 Bab 3 Mempermainkan Bram
4 Bab 4 Ancaman Uwais
5 Bab 5 Dak dik Duk pertama
6 Bab 6 Malam pertama
7 Bab 7 Mimpi buruk
8 Bab 8 Saling berpelukan
9 Bab 9 Bertemu Aiman
10 Bab 10 Qarny dan Rentara
11 Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12 Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13 Bab 13 Bakso Mercun
14 Bab 14 Masa lalu Uwais
15 Bab 15 Kegeeran
16 Bab 16 Kelvin
17 Bab 17 Pertengkaran
18 Bab 18 Khawatir
19 Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20 Bab 20 Semakin dekat
21 Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22 Bab 22 Masuk kerja
23 Bab 23 Hari pertama kerja
24 Bab 24 Aiman bersikap aneh
25 Bab 25 Bau acem
26 Bab 26 Alia datang
27 Bab 27 Ingin tinggal berdua
28 Bab 28 Fitnah di Hotel
29 Bab 29 Perundungan di Pantry
30 Bab 30 Fitnah
31 Bab 31 Rumah baru
32 Bab 32 Dukun sakti bertindak
33 Bab 33 Markas Aiman
34 Bab 34 Sepiring berdua
35 Bab 35 Make Over
36 Bab 36 Sandiwara
37 Bab 37 Tinggal di kota
38 Bab 38 Kejutan
39 Bab 39 Pembalasan pertama
40 Bab 40 Membuat Alisya Panas
41 Bab 41 Kebencian Alisya
42 Bab 42 Fitnah dari Alia
43 Bab 43 Hasutan Alia
44 Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45 Bab 45 masakan sederhana
46 Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47 Bab 47 Malam Pertama
48 Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49 Bab 49 Fakta Baru
50 Bab 50 29 tahun lalu
51 Bab 51 Masa lalu
52 Bab 52 Kembali
53 Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54 Bab 54 Sandiwara
55 Bab 55 Kecewa atau canggung
56 Bab 56 Mulai curiga
57 Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58 Bab 58 Tamparan dari Karin
59 Bab 59 Pertengkaran
60 Bab 60 Alisya dan David
61 Bab 61 Aiman Panik
62 Bab 62 Pertanyaan Uwais
63 Bab 63 Alia menemui Aiman
64 Bab 64 Berpisah
65 Bab 65 Masa Lalu Bram
66 Bab 66 Harus Tega
67 Bab 67 Nggak menyangka
68 Bab 68 Bingung
69 Bab 69 Samsak Mayat
70 Bab 70 Uwais ngambek
71 Bab 71 Qairunnisa
72 Bab 72 Tenang
73 Bab 73 Dasar Mesum
74 Bab 74
75 Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76 Bab 76 Membawa pergi
77 Bab 77 Kejujuran Gala
78 Bab 78 Tegang
79 Bab 79 Terkuak
80 Bab 80 Semakin tegang
81 Bab 81 Kucing comel
82 Bab 82 Kemarahan Hana
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 1 Khawatir membawa petaka
2
Bab 2 Ardi ketar-ketir
3
Bab 3 Mempermainkan Bram
4
Bab 4 Ancaman Uwais
5
Bab 5 Dak dik Duk pertama
6
Bab 6 Malam pertama
7
Bab 7 Mimpi buruk
8
Bab 8 Saling berpelukan
9
Bab 9 Bertemu Aiman
10
Bab 10 Qarny dan Rentara
11
Bab 11 Sikap Alisya yang menjengkelkan
12
Bab 12 Gara-gara ponsel jadul
13
Bab 13 Bakso Mercun
14
Bab 14 Masa lalu Uwais
15
Bab 15 Kegeeran
16
Bab 16 Kelvin
17
Bab 17 Pertengkaran
18
Bab 18 Khawatir
19
Bab 19 Fitnah untuk Kelvin
20
Bab 20 Semakin dekat
21
Bab 21 Memakaikan baju untuk Uwais
22
Bab 22 Masuk kerja
23
Bab 23 Hari pertama kerja
24
Bab 24 Aiman bersikap aneh
25
Bab 25 Bau acem
26
Bab 26 Alia datang
27
Bab 27 Ingin tinggal berdua
28
Bab 28 Fitnah di Hotel
29
Bab 29 Perundungan di Pantry
30
Bab 30 Fitnah
31
Bab 31 Rumah baru
32
Bab 32 Dukun sakti bertindak
33
Bab 33 Markas Aiman
34
Bab 34 Sepiring berdua
35
Bab 35 Make Over
36
Bab 36 Sandiwara
37
Bab 37 Tinggal di kota
38
Bab 38 Kejutan
39
Bab 39 Pembalasan pertama
40
Bab 40 Membuat Alisya Panas
41
Bab 41 Kebencian Alisya
42
Bab 42 Fitnah dari Alia
43
Bab 43 Hasutan Alia
44
Bab 44 Perdebatan antara anak dan ayah
45
Bab 45 masakan sederhana
46
Bab 46 Robot kecil milik Uwais
47
Bab 47 Malam Pertama
48
Bab 48 Hana dan Aiman marahan
49
Bab 49 Fakta Baru
50
Bab 50 29 tahun lalu
51
Bab 51 Masa lalu
52
Bab 52 Kembali
53
Bab 53 Mulai terbiasa bersama
54
Bab 54 Sandiwara
55
Bab 55 Kecewa atau canggung
56
Bab 56 Mulai curiga
57
Bab 57 Izati dan Bram mulai renggang
58
Bab 58 Tamparan dari Karin
59
Bab 59 Pertengkaran
60
Bab 60 Alisya dan David
61
Bab 61 Aiman Panik
62
Bab 62 Pertanyaan Uwais
63
Bab 63 Alia menemui Aiman
64
Bab 64 Berpisah
65
Bab 65 Masa Lalu Bram
66
Bab 66 Harus Tega
67
Bab 67 Nggak menyangka
68
Bab 68 Bingung
69
Bab 69 Samsak Mayat
70
Bab 70 Uwais ngambek
71
Bab 71 Qairunnisa
72
Bab 72 Tenang
73
Bab 73 Dasar Mesum
74
Bab 74
75
Bab 75 Alisya menemui kedua orang tuanya
76
Bab 76 Membawa pergi
77
Bab 77 Kejujuran Gala
78
Bab 78 Tegang
79
Bab 79 Terkuak
80
Bab 80 Semakin tegang
81
Bab 81 Kucing comel
82
Bab 82 Kemarahan Hana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!