Hana berpikir keras. Ia tidak ingin dijadikan alat untuk melunasi hutang keluarganya. Sudah cukup selama ini dia berkorban demi mereka demi membahagiakan keluarganya. Impiannya satu-satunya yang tersisa hanya lah hidup bahagia bersama pria yang ia cintai dan sebaliknya.
"Nggak, yah. Aku nggak mau menikah dengan pria yang aku nggak cinta bahkan kenal pun tidak. Kalian nggak bisa paksa aku, sama aja kalian menjualku pada pria kaya raya itu demi melunasi hutang kalian." Hana berusaha membujuk dengan linangan air mata sesekali ia mengusap wajahnya yang sudah basah tapi usahanya hanya akan sia-sia karena keluarganya sama sekali tidak peduli padanya.
Aisyah mendekat dan mencengkram dagu Hana dengan kuat. "Kamu jangan coba melawan, Hana. Kamu harus nikah dengan pak Bram kalau tidak kami semua akan mati di tangannya. Ingat Hana, siapa yang sudah membesarkan dan merawat kamu dari kecil sampai sekarang. Kamu jangan tidak tahu balas budi kayak gini!" geram Aisyah membuang wajah Hana. Paling tidak suka melihat anak sulungnya itu menangis dan memohon.
Hati Hana semakin teriris. Seingatnya dari dulu ia hanya dianaktirikan oleh keluarganya sedangkan adiknya Alisya dimanjakan. Waktu kecil sama sekali tidak memiliki mainan manakala Alisya pasti mendapatkan apapun mainan yang dia inginkan. Hana semasa SD hingga tamat SMP sudah menjadi tukang cuci pakaian tetangga sementara Alisya hanya asik bermain bersama teman-temannya.
Bukan itu saja, Hana juga tidak melanjutkan pendidikannya lagi setelah tamat SMP karena harus membantu ayahnya mencari nafkah untuk keluarganya. Masih terngiang diingatannya ...
Flashback on:
"Tapi Hana juga mau sekolah, Bu," lirih Hana dengan deraian air mata membasahi pipinya. Begitu sakit mendengar permintaan ayahnya agar ia tidak melanjutkan pendidikannya.
"Ayah kamu itu sudah tidak kuat lagi jadi buruh bangunan. Jadi kamu sebagai anak pertama harus membantu keuangan keluarga. Mau makan apa kita nanti kalau kamu masih lanjut sekolah." Aisyah tampak acuh.
Aisyah malah memeluk anak bungsunya. "Lihat adik kamu, sebagai kakak harusnya kamu ngalah aja sama dia. Biar dia yang sekolah tinggi-tinggi demi membanggakan keluarga. Kamu kerja aja bantu ayah kamu ... lagi pun kamu nggak pintar-pintar amat di sekolahin juga bakal percuma."
"Benar apa yang dikatakan ibu kamu itu. Sebagai anak pertama, harus ngalah aja sama adik kamu," tambah Wati membenarkan ucapan anaknya.
Hana beralih menatap Ardi yang tetap santai dengan rokoknya semakin membuat hati gadis muda itu teriris. Walaupun sedih dan kecewa, Hana tetap pasrah mencoba ikhlas dengan keputusan orang tuanya. "Baik lah, Hana tidak akan lanjutin sekolah lagi."
Hanya karena status anak pertama, dia harus selalu mengalah pada adiknya.
Flashback off
"Kok kamu malah bengong sih? Setuju nggak setuju kamu tetap harus nikah besok. Ingat jangan coba-coba kabur!" Gertakan Aisyah membuyarkan lamunan Hana.
Mencoba menenangkan pikirannya sendiri, mencari cara agar dia tidak di paksa menikah dengan pria yang tidak ia kenal. "Memangnya berapa hutang kalian pada pak Bram?" tanya Hana.
"Kenapa tanya itu?" Aisyah menatap rendah Hana.
"Biar aku bayar tapi dengan syurat kalian jangan paksa aku nikah dengan pak Bram." Hana mulai tenang berharap dengan solusi yang dia berikan boleh menyelamatkan masa depannya.
"790 juta. Kamu sanggup bayarnya?" sindir Wati sambil menyilangkan tangannya.
Hana terkesimah mendengar nominal hutang keluarganya, mau cari uang sebanyak itu dimana. Tapi hanya dia yang tampak terbebani dengan masalah ini sedangkan yang lain bersikap santai dan mempertanggung-jawabkan semuanya pada Hana. Seolah-olah gadis itu turut andil merasakan uang sebanyak itu.
"Benar tuh nek. Sok-soan nak bayar, bayar pakai apa? Ngel*cur? Apa susahnya sih tinggal kawin aja juga." Tidak mau kalah, Alisya juga ikut menyudutkan Hana.
"Sudah lah nak, kamu nurut saja pada ayah, yah. Besok kamu nikah dengan pak Bram pasti hidup kamu juga lebih terjamin nantinya," bujuk Ardi pada anak gadisnya.
Hana semakin kecewa, dia memang menyayangi ayahnya karena selama ini hanya pria itu yang tidak pernah membentak dan menyakitinya. Tapi tetap saja sama dengan yang lainnya selalu meminta Hana untuk mengalah dan nurut pada mereka meskipun dengan cara sedikit lembut.
"Aku mohon ayah kali ini aja tolong ngertiin Hana. Jujur nggak tau bagaimana cara lunasin hutangnya tapi tolong jangan dengan menjual Hana, yah." Hana masih berusaha membujuk sang ayah.
"Lagipula aku sama sekali tidak merasakan uang sebanyak itu seumur hidupku. Pokoknya aku nggak mau nikah dengan pak Bram, ayah.cukup selama ini aku dianaktirikan di rumah ini," lirih Hana memberanikan diri mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini telah ia simpan dengan rapat.
PLAKK
Satu tamparan mendarat ke pipi Hana sehingga membuat pipi putih itu seketika memerah. Mendapat tamparan pertama dari ayahnya membuat Hana semakin hilang harapan.
Alih-alih merasa sedih dengan bujukan sang anak. Ardi malah dibuat kesal dan lepas kendali. "Selama ini aku sudah cukup sabar dengan sikap kamu, Hana. Apa salah nya kamu nurut apapun yang kami inginkan tanpa harus aku repot-repot membujuk terlebih dulu!" bentak Ardi kesal.
"Ayo semua keluar! kurung aja dia di sini." Sebelumnya semakin lepas kendali, Ardi segera menjauhi Hana.
Ardi, Aisyah, Alisya dan Wati keluar dari kamar itu dan mengunci pintu agar Hana tidak bisa kabur dari pernikahannya besok. Bukannya bernafas lega dengan Hana yang sudah berada ditangan mereka, saat di luar pun mereka harus meladeni tetangga-tetangga yang penasaran dengan masalah keluarga mereka. Dengan terpaksa Aisyah dan Wati menumpuk bohong demi kebohongan demi kesejahteraan hidup mereka
Kini tinggal Hana sendiri menangis merenungi nasibnya yang malang. Pria yang selama ini ia harapkan kelak bisa menyayanginya sama rata dengan adiknya malah berubah semakin menjauhinya. Hatinya semakin hampa dan kesepian sudah tiada tempat bernaung untuk pulang.
Memiliki keluarga yang utuh sama sekali tidak membuat dirinya bahagia melainkan selalu di sisihkan dan diketepikan. Diingat hanya saat kesusahan dan dituntut harus selalu menjadi tumbal. Awalnya ia pulang karena khawatir akan kesehatan sang ayah tanpa disadari semua itulah hanya tipuan agar ia pulang melangsungkan pernikahannya bersama pria kaya raya.
***
Keesokan harinya, seorang MUA sudah berada di kamar Hana pada pukul 4 subuh demi mendadani Hana agar terlihat cantik di hari pernikahannya. Majlis ini hanya diadakan dengan sederhana hanya untuk menutupi mulut julit para tetangga. Selama ini warga memang tidak menyukai cara Aisyah dan Ardi membesarkan Hana yang cenderung pilih kasih.
Tepat pukul 7 pagi Hana sudah siap didandani juga sudah mengenakan kebaya putih sederhana. Meskipun wajahnya sudah cantik tapi tetap terlihat suram dan tidak bersemangat.
Di luar sudah ramai dengan tetangga sebagai tamu undangan. Juga pak penghulu setia menanti sang pengantin pria di ruang tamu sambil menikmati hidangan sederhana yang disediakan.
"Senyum dong, Mbak. Hari ini kan hari bahagianya kok malah cemberut terus sih." Mbak MUA mencoba menghibur Hana tapi tetap saja tidak berhasil.
"Boleh tolong aku lari dari sini, mbak," lirih Hana terlihat memelas penuh harap.
Mbak MUA tampak bingung maksud Hana, saat ingin bertanya tiba-tiba Aisyah masuk untuk memastikan Hana sudah siap.
"Sudah siap, Mbak?" tanya Aisyah pada MUA.
"Sudah, Bu Aisyah," jawab Mbak MUA. Ia memilih tidak ikut campur dengan masalah keluarga kliennya.
"Kalau sudah boleh pulang, ini bayarannya sesuai kesepakatan." Aisyah menyodorkan amplop dan Mbak MUA langsung pamit pulang karena masih ada jop MUA di lokasi lain.
Hana tidak bisa berkutik lagi, hari ini akan menjadi hari paling menyedihkan dalam hidupnya.
Selang beberapa lama sebuah mobil mewah datang Ardi menyambutnya dengan hangat. "Wah selamat datang Pak Bram. Silakan masuk." Ucap Ardi sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman pada pria paruh baya bersetelan jas mewah itu.
Senyum lebar yang menghiasi wajah Ardi seketika pudar saat Bram sama sekali tidak meliriknya begitu pula tiga orang algojo dibelakangnya. Uluran tangannya diabaikan begitu saja. Walaupun demikian Ardi tetap mencoba ramah pada bakal menantunya agar tidak malu depan tamu undangan.
"Silakan duduk di sini, Pak. Saya akan memanggil anak saya agar pernikahannya segera di laksanakan." Ardi mempersilahkan Bram duduk di posisi mempelai pria.
Senyum tak lepas dari wajahnya karena sebentar lagi hidupnya akan kembali tenang.
"Kamu menghina saya! Saya ini pria yang setia!" kesal Bram tidak terima jika Ardi menawarkannya duduk di posisi mempelai pria.
Semua orang tampak bingung terutama Ardi dan Wati yang kebetulan keluar membawa nampan berisi kue untuk tamu.
"Maksud Pak Bram bagaimana, yah?" Ardi tetap mencoba tenang meskipun hatinya sudah ketar-ketir. Jika Bram tidak ingin menikahi putrinya harus bagaimana lagi dia akan melunasi hutang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Teteh Lia
hai kak, salam kenal.
jika berminat, mari mampir di ceritaku. "Love story ini SMA "
trimakasih 🙏
2024-01-22
1
Aisyah Rahayu
terima kasih sudah berminat membaca novel perdana saya. sangat bersyukur jika Mbak menjadi pembaca setia dengan favorit kan cerita ini dan jangan lupa juga subscribe akun penaku/Drool/
2024-01-14
0
Meliya Inisial E
kasian banget hana ya dia hrus berkorban/Smile/ demi keluarganya
2024-01-13
1