Disaat Liam tengah fokus dengan pekerjaan, tetapi apa yang dilakukan Karina membuat emosinya kembali meradang; meski begitu, ia mencoba sebisa mungkin untuk menahan. Wanita itu malah asyik membuat konten sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya di depan kamera.
"Karina, apa kamu masih waras? Aku ini sedang bekerja!" tegur Liam. Wanita itu tampak tak menghiraukan, ia terus saja menggerak-gerakan tubuhnya menyesuaikan alunan musik lewat konten yang ia buat.
Liam menggeleng karena sudah tak tahan lagi dengan prilaku random Karina yang membuatnya selalu emosi. Lelaki itu beranjak dari duduknya, bergerak mendekati Karina, dan merampas ponsel miliknya itu.
"Eugh! Apaan sih!" Karina mengamuk tak terima, ia menyambar kembali benda pipih tersebut.
"Kamu ini benar-benar gak tahu tempat! Ini tuh ruangan kerjaku, kamu malah asyik-asyikan membuat konten sampah seperti itu!" bentak Liam yang sudah muak dan terlampau jengah menghadapi kelakuan calon istrinya.
"Terserah aku dong! Eh, asal kamu tahu ya! Perusahaan ini tak akan maju seperti sekarang kalau bukan karena campur tangan dengan perusahaan keluargaku. Jadi, jangan merasa punya segalanya. Kalian tak akan bisa seperti ini kalau bukan karena kami!" cerocos Karina dengan lagak sombong. Liam yang sudah pusing langsung mengusap wajah dengan kasar.
"Berani sekali dia berkata seperti itu, padahal tanpa kerja sama dengannya, aku juga masih bisa mengembangkan perusahaan ini. Ah, ini semua karena Papa dan Mama yang gampang termakan bujukan orangtua Karina," batin Liam. Ia sudah malas untuk menegur Karina kali ini, lebih memilih bungkam, meski fokusnya terasa diusik oleh aktivitas Karina yang tak ada hubungannya dengan pekerjaan.
...
Tak beberapa lama, terdengar ketukan dari luar. Liam berdehem untuk merespon karena ia sedang memendam amarah, tak ingin sampai meluapkannya ke sembarang orang.
"Permisi, Pak. Bu," sapa Monita sang sekretaris, membuat Karina langsung menghentikan gerakannya karena merasa sedikit terganggu.
"Pak Jayden sudah tiba di ruang meeting," ujarnya memberi tahu kehadiran klien. Liam mengangguk seraya menyiapkan beberapa berkas untuk bahan pembahasan rapat kali ini.
"Baik, terimakasih, Monita. Nanti saya dan Karina akan segera menyusul."
Monita mengangguk dan menunduk. "Kalau begitu, saya permisi," pamitnya dengan langkah hormat dan anggun.
"Karin, kamu dengar barusan apa yang disampaikan Monita?" Liam bangkit dan kembali berdiri sambil menata file dokumen. Karina hanya mengangguk tanpa berbicara.
"Ayo, kita harus ke ruang meeting sekarang!" ajaknya, dan tampak Karina seperti acuh tak acuh untuk bertemu dengan klien penting mereka.
"Cepat sedikit! Kamu ini lelet sekali!" desaknya membuat Karina kembali marah. Karina mendorong bahu Liam secara kasar, dan menarik dasinya dengan kedua mata yang membelalak tajam.
"Kamu itu gak usah bentak-bentak aku!" Ia keluar terlebih dulu dari ruangan dengan langkah yang tak santai dan tak menunjukkan keramahan.
Liam menghela napas dalam-dalam, kemudian merapihkan dasinya yang sedikit tertarik ulah Karina barusan.
"Kelakuan-nya benar-benar persis seperti anak kecil!" batin Liam.
Ia mencoba menenangkan diri sebelum menyusul Karina ke ruang meeting.
Jayden, sang klien yang sudah di jadwalkan datang, ia tepat waktu hadir dan menunggu dengan ekspresi serius. Monita mencoba memberikan senyum sambutan, tetapi terlihat gelisah.
"Selamat pagi, Pak Jayden. Maafkan atas keterlambatan kami," ujar Liam, berdiri tegak dengan sikap yang tetap profesional, meskipun masih tersirap oleh insiden dengan Karina.
(Ilustrasi)
Jayden membalas sapaan itu dengan anggukan serius. Karina, yang baru saja duduk di kursi, melirik sebentar pada Jayden sebelum memalingkan wajahnya dengan acuh tak acuh.
Wanita itu tampak terlihat kurang serius dan fokus, kerap kali diam-diam melirik ponsel yang ia taruh di saku blazernya.
Liam memberikan pandangan tajam sebagai upaya terakhir untuk memotivasi Karina agar lebih serius di acara rapat ini. Dalam upaya lain, ia berbisik, "Jangan buat malu dan kecewa terhadap klien kita, paham!"
Karina dengan santai memutar kedua bola matanya, seakan enggan mendengarkan peringatan lelaki tersebut.
Liam menghela napas dalam, menyadari bahwa situasi menjadi semakin kritis.
"Oke, kita mulai pembahasan rapat kali ini," ucap Liam sambil menyerahkan file dokumen yang berisi hasil uji laboratorium tentang kandungan zat dalam produk skincare dan kosmetik hasil produksi milik perusahaannya.
Jayden membaca dengan serius laporan tersebut, sementara Kiki, sang asisten, membawakan beberapa toples sample. Suasana di ruang rapat semakin tegang, dan Liam berharap Karina dapat mengubah sikapnya untuk mendukung keberhasilan perusahaan.
Namun, dalam beberapa menit pertama, Karina masih terlihat tidak terlibat sepenuhnya.
Semua mata tertuju pada wanita itu, tampaknya Karina tak menyadari jika menjadi pusat perhatian orang-orang, karena sedari tadi hanya menunduk sibuk dengan ponsel.
Jayden dengan penuh keyakinan mencoba mengoles sample itu pada punggung tangan. "Teksturnya saya rasa cukup, dan sensasinya sangat menyegarkan," puji Jayden pada produk tersebut, membuat Liam tersenyum lebar menandakan kepuasan, Jayden pun demikian.
"Bu Karin," seru Jayden tiba-tiba, melihat Karina yang tengah asyik bercermin. Mendengar seruan itu, Karina terlihat gugup sampai-sampai cermin kecil itu terlepas dari genggamannya.
"Eh, i-iya Pak Jayden," balas Karina dengan canggung, sementara Liam menggeleng, mengekspresikan ketidaksetujuan atas sikap Karina yang kurang profesional.
Rahang Liam menegang saat melihat tindakan Karina yang membuatnya merasa malu di hadapan klien. Selesai rapat, Liam, Karina, dan yang lainnya keluar dari ruang pertemuan dengan tertib. Liam menarik lengan Karina, membawanya ke ruang pribadi, menciptakan situasi yang tak terelakkan.
"Karin, aku benar-benar kecewa atas sikapmu di hadapan klien kita tadi!" bentak Liam. Karina hanya mengikuti gerak bibirnya dengan gaya mengejek, menyiratkan sikap tak peduli.
Liam semakin frustasi, menggebrak meja dengan keras. "Karina!" serunya dengan nada kesal.
Tiba-tiba, sang ayah muncul di saat yang tidak tepat, memberikan kesempatan bagi Karina untuk bermain taktik licik, berpura-pura menjadi korban.
"Om, Liam terus bentak aku," rengeknya pada Pak Leo, membuat wajah lelaki paruh baya itu menegang pada sang putra.
"Liam, kamu tak pantas seperti itu pada calon istrimu!" tatapannya tajam saat menyoroti Liam.
"Pah, dia bohong!" elak Liam, tetapi Pak Leo tetap memposisikan bahwa kesalahan ada pada diri Liam, menambah beban emosional yang menumpuk di kepalanya. Situasi semakin tegang di antara ayah dan anak.
***
Sore harinya, Liam pulang bersama Karina ke Mansion dengan harapan menunjukkan pada sang Ayah bahwa hubungannya dengan Karina sudah membaik. Liam ingin memperlihatkan keharmonisan diantara mereka berdua meskipun itu hanya gimmick.
Ketika tiba di ruang makan, Liam mencari Riri. "Ri, tolong buatkan aku kopi, ya," pintanya sambil tersenyum pada gadis tersebut. Riri mengangguk dan bergegas untuk menyiapkannya.
Liam kembali ke ruang utama, duduk berdekatan dengan Karina. Meskipun begitu, suasana terasa seolah membeku, tanpa ada percakapan di antara mereka, hanya kejengkelan yang terasa bagi Liam.
Riri membawa nampan dengan secangkir kopi pesanan Liam, hatinya gemetar saat mendekat ke arahnya.
Tiba-tiba, dengan sengaja, Karina menendang kaki Riri yang menyebabkan air kopi yang masih panas itu tumpah, berhamburan mengenai sofa dan pakaian Liam. Kejutan luar biasa melanda.
"Ma-maafkan saya Tuan, saya benar-benar tak sengaja," ucap Riri dengan perasaan cemas, Liam berdesah menunjukan raut wajah kesal.
Sementara itu, Karina terkekeh dalam hati, merasa senang atas tindakannya itu.
"Mampus kamu babu jelek!" batinnya penuh kepuasan.
Akankah Liam marah terhadap Riri?
...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments