Riri masuk ke dalam kamar, dengan rasa was-was, mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur seraya meraih ponsel di dalam tas yang baru saja ia taruh.
Dengan rasa kecewa dan amarah, ia memblokir nomor Kevin, berharap menjauh dari bayang-bayang tentang lelaki itu yang hampir saja melecehkannya.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu pelan memecah situasi, Riri bergerak untuk membukakan pintu itu.
"Eh, Tuan," sapanya dengan tertunduk. Saat itu, Liam datang membawa tas kecil yang entah apa isinya.
"Bolehkah aku masuk?" izinnya kepada Riri. Gadis itu mengangguk dengan ramah.
"Silahkan, Tuan." Meski sedikit ada keraguan, Riri memperbolehkan Liam untuk masuk ke dalam kamar.
Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Riri melihat beberapa wadah krim yang sepertinya sesuatu yang sudah Liam janjikan saat di perjalanan tadi.
"Ini krim wajah khusus untuk kulit sensitif, terutama mengobati jerawat." Liam menunjukkan wadah berwarna hijau, ia menjelaskan panjang lebar khasiat krim tersebut, sudah seperti seorang sales yang pandai merangkai kata untuk menarik minat pembeli.
Riri mendengarkan dengan seksama semua pemaparan darinya.
"Ini dipakainya step by step, kamu mau coba?" tawar Liam. Riri mengangguk, karena ia terkesan pada kulit wajahnya yang halus dan mulus serta sangat terawat, ia pun ingin seperti itu.
"Boleh."
"Ya sudah, silahkan kamu duduk!" Liam menyeret kursi yang menghadap ke cermin meja rias, Riri mendaratkan bokongnya di kursi itu.
Beberapa treatment Liam berikan kepada Riri, membuat wajahnya terasa rileks, nyaman, dan segar.
Sentuhan tangannya begitu lembut dan hangat.
"Setiap malam, gunakan krim dalam wadah berwarna hijau ini, ya. Kalau pagi yang warna putih." Liam memberikan arahan, Riri mengangguk paham.
"Oh, ya, bolehkah aku melihat semua jenis make-up yang sering kamu gunakan?" pintanya. Riri tanpa ragu menyerahkan semuanya.
Dengan teliti, Liam mengamati komposisi yang tertera di kemasan seluruh produk make-up yang sering digunakan oleh Riri.
"Ini kandungannya tidak cocok untuk kulit wajahmu yang sensitif, sebaiknya dihindari, kalau tidak, maka kulit wajahmu akan mengalami iritasi dan memperparah jerawat," papar Liam memberi keterangan sebagai orang yang ahli dalam produk kecantikan dan juga zat yang terkandung di dalamnya, karena ia memiliki ilmu pengetahuan khusus mengenai itu.
"Aduh, kalau saya tidak mengenakan bedak, jerawat saya bisa terlihat," kata Riri dengan khawatir. Ia terlalu sensitif jika di singgung mengenai ke tidak terawatan wajahnya yang terkadang sering kali berjerawat dalam faktor tertentu.
"Lagian, untuk apa juga kamu dandan tebal-tebal? Kan percuma kalau mengorbankan kesehatan kulitmu. Aku rasa tanpa bedak dan lainnya kamu masih terlihat manis kok," puji Liam membuat Riri tersipu malu dan tertunduk seraya menahan senyum.
"Ah, Tuan muda bisa saja!" tepisnya. Liam memberikan senyuman lewat pantulan cermin di hadapan Riri.
"Astaga, aku melihat seorang malaikat," batin Riri yang terpukau dengan pesona ketampanan Liam karena sangat luar biasa, tetapi pemandangan jerawat di wajahnya sendiri amat sangat mengganggu dan membuat dirinya minder di hadapan Liam yang terus saja memperhatikannya.
Riri memegangi perutnya tiba-tiba, karena merasakan nyeri yang semakin lama berubah menjadi keram.
"Aduh." ia mengeluh seraya meringis, sedikit memberikan pijatan lembut di perutnya itu.
"Kamu kenapa?" tanya Liam dengan wajah khawatir. Riri masih merasakan sensasi itu.
"Aaah... Perut saya sakit. Lebih tepatnya, bagian bawah perut." Riri mengusap area rahimnya, lantas ia berpikir, "mungkin aku sedang datang bulan, astaga!" sambil menepuk jidat.
"Aku sampai lupa tak mempersiapkan pembalut, duh! Bagaimana ini?" batinnya yang tampak tegang dan kebingungan.
Karena ini sudah sangat malam, dan tak enak juga kalau sampai membangunkan Wina atau rekan lain hanya sekedar untuk meminta pembalut.
"Ada masalah denganmu?" tanya Liam, Riri menggeleng menahan rasa gugup dan malunya, ia tak ingin sampai lelaki ini tahu.
"Ssthh... Aduh." Riri terus mengeluh dengan sensasi sakit yang ditimbulkan di hari pertama menstruasi.
"Kalau sakit, sebaiknya kamu ke toilet," kata Liam. Riri menggeleng sedikit menahan tawa.
"Bukan sakit karena ingin pup." Ia terkekeh.
"Lalu?" tanya Liam kembali.
"Ini karena sedang datang bulan," jawab Riri dengan suara pelan, Liam mengangguk paham.
"Oh," responnya.
Ketika Riri bangkit dari kursi, darah itu seakan deras, membuat kedua mata Liam membelalak ketika melihat noda merah di belakang dress Riri.
"Ri, di belakangmu," tunjuk Liam, Riri sadar akan hal itu, ia teramat sangat malu.
"Apa kamu tidak mengenakan pembalut?" Liam begitu sangat perhatian bahkan di saat genting yang dialami Riri saat ini.
"Ehm... Saya tidak sempat membelinya, karena saya lupa kapan terakhir saya datang bulan, dan akhirnya begini deh," jawab Riri dengan wajah yang tak nyaman.
"Ya sudah, kamu tunggu, aku yang akan membelikan pembalut untukmu di minimarket," kata Liam, Riri dibuat cengo dan tak percaya.
"Apa? Tuan akan membelikan saya pembalut? Ti-tidak usah," tolak Riri yang merasa tak enak karena itu merupakan hal sensitif wanita.
Liam tersenyum, lagi dan lagi ia selalu mengusap lembut pucuk rambut Riri. "Sudahlah, kamu tak usah sungkan padaku, Riri."
Setelah itu, ia keluar dari kamar Riri, membuat sebuah genderang di jantungnya.
Riri seakan tak nyaman melakukan pergerakan. Ia diam mematung sambil berdiri, tak tahan dengan rasa sakit yang terus menghantamnya.
"Aduh..." ia kembali mengeluh sampai-sampai mengeluarkan bulir bening di matanya karena rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.
....
Tak butuh waktu lama, Liam kembali membawa kantung berlogo minimarket tertentu. Ternyata bukan hanya pembalut yang dibeli untuk Riri, tetapi disertai makanan ringan dan minuman khusus pereda nyeri datang bulan.
"Astaga, Tuan, tak usah repot-repot seperti ini, saya jadi tak enak," kata Riri dengan jalan sedikit tertatih karena ketidaknyamanan di area intimnya yang sudah semakin lembab.
Liam tersenyum tulus seraya menyodorkan barang yang dibutuhkan gadis tersebut.
"Ayo pakailah dulu!" titahnya. Riri menerima dengan tangan gemetar.
"Wajahmu pucat, apa kamu masih merasakan sakit?" tanya Liam. Riri mengangguk, dan lelaki itu beranjak.
"Tunggu sebentar."
Ia pun kembali keluar dari kamar, dan entah apa lagi yang akan ia lakukan untuk Riri. Gadis itu tak menyia-nyiakan kesempatan, ketiadaan Liam membuat gerakannya lebih leluasa.
Ia dengan gesit meraih dalaman dan baju piyama, dengan cepat ia segera masuk ke kamar mandi mengganti pakaiannya, dan tentu saja untuk memasang pembalut.
Saat ia keluar, kaget melihat kesiapan Liam membawakan segelas air putih hangat serta sebuah botol berisi air panas dengan sapu tangan.
"Sebaiknya kamu minum yang cukup untuk meredakan rasa sakit mu itu," ujarnya penuh perhatian.
Riri mengangguk terkesan oleh kebaikan Liam, sungguh beruntungnya Karina memiliki calon suami sebaik dan seperhatian Liam.
"Eh, terima kasih Tuan, sebaiknya Tuan tak perlu berbuat banyak untuk saya, saya jadi tak enak," kata Riri, yang merasa seharusnya ia bekerja untuk Liam bukan malah sebaliknya.
"Sudah, kamu tak usah merasa begitu," ujar Liam dengan tulus, lalu membuka laci nakas dan mengambil minyak kayu putih.
"Perutmu masih bermasalah?" tanyanya. Riri mengangguk.
"Lumayan, tapi sekarang sudah agak berkurang," jawabnya. Liam menyodorkan botol air panas yang dibalut sapu tangan.
"Gunakan ini untuk meredakan ketidak nyamanan di area perutmu."
Riri menerimanya dengan hangat. "Terima kasih atas kebaikan Tuan."
"Ya, sama-sama." Liam meneteskan minyak kayu putih itu ke telapak tangannya, lalu bergerak menyentuh kaki Riri.
"Eh, jangan Tuan!" tolak Riri, merasa ini terlalu berlebihan, dan ia merasa tak pantas mendapat perlakuan seperti itu dari Liam, mengingat dirinya hanya seorang pembantu.
"Tidak apa-apa, biarkan aku merawat mu, kamu jangan menolak!" Liam menatap tegas wajah Riri yang memerah, gadis itu mengangguk.
"Kalau begini caranya, bagaimana bisa aku mengontrol perasaanku pada Tuan muda, kenapa dia baik sekali padaku?" batin Riri seraya menelan ludahnya yang terasa pahit di tenggorokan.
Ia merasakan kenyamanan saat kedua telapak tangan Liam membalur kakinya lembut.
Gadis itu diam terpana sembari memperhatikan ketampanan sang majikan yang tak mungkin menjadi miliknya, tetapi kebaikan dan ketulusannya menjadi tanda tanya besar.
...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments