Bully

Liam bangkit dari duduk saat mendengar panggilan sang ibu. Kedua pasang mata itu melewati Riri yang masih terdiam, dan senyuman lembut terukir di wajahnya, membuat hati gadis itu berdebar tak menentu.

"Silahkan kamu istirahat," ucap Liam ramah, dan Riri dengan malu-malu mengangguk.

"Ya, Tuan muda," sahutnya.

Lelaki itu meninggalkan kamar Riri, menutup pintu dengan hati-hati. Di balik pintu yang tertutup, Rindy, Nia, dan Ima mengintip dengan rasa penasaran.

Setelah Liam pergi, ketiga gadis itu masuk ke dalam kamar Riri dengan langkah kasar penuh amarah, membuat gadis itu terperanjat saat hendak tidur.

"Heh!" bentak Rindy sambil berkaca pinggang di hadapan Riri diiringi kedua rekannya yang berada di belakang.

Ima melihat beberapa potong martabak sisa di atas piring, segera menyambar dan melahapnya dengan rakus.

"Eh, bagi-bagi dong! Jangan kamu habisin semuanya!" pinta Nia, kedua orang itu saling berebut.

Rindy cepat menyambar dan turut melahap, membuat mulutnya penuh dengan makanan.

Sebelum makanan sampai ke tenggorokannya, Rindy mengintrogasi Riri yang tak kuasa menahan tawa melihat tingkah konyol mereka ber-3.

"Gak usah cengengesan!" bentak Rindy, sambil masih mengunyah, Riri menahan tawa menggunakan telapak tangan.

"Berani-beraninya kamu rayu Tuan muda!" tuding Rindy, Riri menggeleng.

"Aku tidak pernah melakukan itu!" elaknya, Nia menyambar."Alah, jangan sok kecentilan jadi orang! Yang jelas kamu itu bukan tipe Tuan muda!"

Ima mengangguk, turut membenarkan ucapan rekannya.

"Iya tuh, makannya ngaca!" sambil menyeret tubuh Riri mendekat dengan kaca besar.

"Tampang kampung kayak kamu, harusnya tahu diri!" cibir Nia mendorong kasar kepala Riri menggunakan telunjuk jarinya.

Riri merasa terhina oleh sikap mereka, mulai berdiri untuk melawan tindakan buli yang di lakukan ke-3 orang tersebut.

"Apa maksud kalian, hah?" Sambil mendorong kasar kedua bahu Nia, Rindy yang memiliki badan besar menjambak rambutnya. Riri reflek berbalik untuk membalas serangan Rindy.

"Kalian ini jangan seperti anak kecil!" sambil memelintir lengan Rindy karena kesal.

"Aah..." Rindy berteriak kesakitan.

"Mbak gak tahu ya, kalau aku ini kecil-kecil cabe rawit." Riri masih memelintir lengan Rindy tanpa ampun, Ima hendak memukul punggung Riri. Dengan cepat, lengan kanan Riri yang nganggur menangkap tangan Ima.

"Sebaiknya kalian keluar dari kamarku!" usir Riri seraya menghempaskan tubuh Rindy dan Ima secara bersamaan, hingga mereka jatuh terjengkang.

Ima dan Rindy bangkit dari posisinya sambil menahan rasa ngilu dan sakit di pinggang, tubuh keduanya tegak seakan-akan mengintimidasi Riri. Tatapan penuh ancaman mereka diarahkan pada gadis itu.

"Awas kamu!" Rindy menunjuk ke arah Riri dengan nada sombong, kedua mata Riri membelalak tajam, mengekspresikan ketegasan agar ketiganya segera meninggalkan kamar.

Setelah menangani mereka, Riri merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya memandang langit-langit kamar dan tersenyum, mengenang kebaikan Liam yang perlahan mampu meredakan amarahnya.

Dalam diamnya muncul pertanyaan, "Kok Tuan muda bisa baik banget sama aku?" gumam gadis tersebut, terkejut menemukan kehangatan di balik wajah angkuh Liam.

...

Sementara itu...

Liam memenuhi panggilan sang Ibu, menerima kecaman dan amarah yang membuatnya kesal.

"Liam, kenapa kamu berbuat kasar terhadap Karina?" tanya Bu Mauri dengan wajah tegas.

Liam memutar bola matanya, emosi meluap, ia menjawab, "Aku tidak sengaja, Ma! Lagian, dia duluan yang bikin masalah. Ucapannya tak bisa dijaga! Ya jelas aku marah!" Suara tinggi dan penuh emosi mendominasi ruangan, sedangkan Bu Mauri kembali menatapnya penuh ketegasan.

Liam memijat keningnya, menghela napas untuk meredakan ketegangan.

Rindy, Ima, dan Nia diam-diam menguping, menonton keributan yang tampak seperti hiburan.

"Ehem..." Pak Leo tiba-tiba muncul di belakang mereka. Ketiganya menoleh, tersenyum cengo di hadapan sang Majikan.

"Eh, Tuan besar," sapa Rindy seraya menunduk hormat, begitu juga dengan Nia dan Ima yang salah tingkah.

"Sedang apa kalian disini?" tanya Pak Leo dengan berkaca pinggang dan tatapan tajam.

"Anu Tuan, kami sedang beres-beres," kata Ima berkilah. Pak Leo menatap jam dinding, lalu menunjuknya.

"Lihat! Ini sudah jam 11, kenapa kalian masih berkeliaran? Sebaiknya kalian segera beristirahat, karena besok kalian harus mempersiapkan acara pertunangan Liam di ballroom hotel. Jadi, persiapkan tenaga kalian!" ujar Pak Leo dengan tegas. Ketiganya menunduk hormat.

"Baik Tuan," ucap mereka serentak, dan pergi menaiki anak tangga satu persatu.

Pak Leo mendekati Bu Mauri yang tengah memarahi Liam, wajahnya serius lalu bertanya, "ada apa?"

Bu Mauri langsung menjelaskan tentang permasalahan antara Liam dan Karina. Pak Leo mendengarkan, ekspresinya mulai menunjukkan ketidaksetujuan yang mendalam.

"Liam! Kamu benar-benar kelewatan! Kamu tidak pantas bertindak seperti itu. Kalau kedua orangtuanya tahu, bisa batal kerja sama perusahaan kita!" bentak Pak Leo dengan nada tinggi, wajahnya merah padam.

Liam, sebagai seorang anak penurut, hanya bisa manggut-manggut dan mengucapkan kata maaf berkali-kali, mencoba menghindari perdebatan panjang.

"Baiklah, aku mengakui, aku yang salah," ucap Liam dengan terpaksa, tubuhnya terlihat kelelahan, ingin segera beristirahat. Namun, ia harus menerima rentetan emosi dari kedua orangtuanya karena pengaduan Karina yang di rasa terlalu berlebihan dan terkesan mengada-ngada.

Hal itu membuat Liam semakin membenci situasinya, tetapi ia bersikap sabar, tak ingin membuat kedua orangtuanya kecewa. Ekspresi wajahnya mencerminkan rasa penyesalan dan tekad untuk memperbaiki kesalahan.

Liam berpamitan kepada kedua orangtuanya, lalu melangkah menuju kamar. Ia menghela napas panjang berkali-kali, dan karena emosi, langsung memukuli tembok sekencang-kencangnya, menyebabkan pendarahan kecil di ruas jemarinya.

"Berengsek! Sial!" umpatnya penuh dengan emosi yang tak tersalurkan. Ia selalu berharap pertunangan dengan Karina tidak pernah terjadi.

Duduk di tepi tempat tidur, lalu merenung, memikirkan esok malam.

...

Keesokan harinya, yang bertepatan dengan hari Minggu, Riri bangun lebih pagi seperti kemarin.

Ia beranjak dari tempat tidur, mandi, lalu mengenakan seragam dengan rapih.

Hari ini merupakan hari kedua ia bekerja di Mansion sebagai seorang Maid.

Setelah selesai, Riri keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga penuh kehati-hatian

Di lantai dua, ia berpapasan dengan Liam yang tampil keren dengan kaos hitam, celana training biru dan sneaker putih.

"Mau kemana nih?" tanya Riri, mencoba memulai percakapan.

Liam tersenyum, kedua mata intens menatap ke arahnya.

"Aku mau jogging, kamu mau ikut?" tawar lelaki tersebut dengan serius.

Riri menunduk sambil membalas senyuman.

"Maaf Tuan, tapi saya harus mengerjakan pekerjaan saya," jawabnya. Liam mengangguk, seakan mengerti, meskipun ia ingin di temani oleh Riri.

"Oke, ya sudah kalau begitu," kata Liam sebelum melangkah pergi. Riri melanjutkan langkahnya ke lantai satu untuk bergabung dengan ke-4 rekan lain.

Pagi itu, tugasnya adalah menyiapkan hidangan sarapan untuk keluarga.

Bu Mauri memberi arahan, "Setelah kalian sarapan, nanti kalian segera berangkat ke hotel, ya, diantar Jujun pakai mini bus," ujar wanita paruh baya tersebut. Gadis-gadis Maid itu mengangguk serentak. "Baik Nyonya."

...

Setelah satu jam jogging, Liam kembali ke Mansion dengan baju dan rambut yang sudah basah oleh keringat, seolah menambah aura ketampanan dan kegagahan yang melekat pada dirinya.

Semua anggota keluarga sudah selesai sarapan kecuali Liam. Ia memanggil Riri, "Ri.."

Gadis itu menghampiri sambil tertunduk hormat.

"Ya Tuan," sahutnya penuh kelembutan.

"Tolong buatkan saya kopi," pinta Liam dengan suara bariton rendah.

Riri mengangguk, "Baik Tuan." Dengan cekatan, ia membuatkan secangkir kopi untuk Liam, lalu menyerahkan dengan penuh kehati-hatian.

"Ini Tuan, silahkan."

"Terimakasih," ucap Liam seraya menyeruput perlahan.

"Kopi bikinanmu, enak dan pas rasanya," puji Liam. Riri tersenyum malu-malu.

Tak lama setelah itu, Bu Mauri memanggil, "Ri..." Gadis itu segera menghampiri.

"Ya Nyonya," sahutnya.

"Cepatlah! Yang lain sudah siap-siap," perintah Bu Mauri. Riri melihat keempat rekannya sudah membawa tas mereka masing-masing.

"Astaga, tunggu sebentar." Ia berlari terbirit-birit menaiki anak tangga untuk mengambil keperluannya, kemudian kembali dengan tas yang ia gendong di punggung untuk menuju hotel.

"Aku siap, aku siap!" teriak Riri dengan ceria.

Rindy menatap sinis, seolah menganggap tingkah Riri sebagai upaya mencari perhatian dari Tuan rumah.

"Cepat! Kamu ini jangan banyak bercanda!" desak Rindy yang tampak tidak sabar.

Sementara itu, Jujun sudah menunggu mereka di dalam mini bus yang akan dikendarainya.

"Ayo Nona-nona!" serunya sambil melambaikan tangan. Kelima gadis itu berebut tempat duduk, memilih tempat yang paling nyaman.

"Riri, aku yang menempati tempat itu! Kamu di belakang!" tegur Rindy sambil menarik lengan Riri dengan kasar, hingga tubuhnya terseret keluar.

Riri mendesis kesal atas ulah kasar Rindy, namun dengan berat hati, ia mengalah dan memilih duduk di belakang bersama Wina.

"Sudah siap semuanya?" teriak Jujun bertanya, dan keempat gadis itu menjawab serentak, "Siap!"

Mobil pun segera meluncur ke tempat tujuan, memakan waktu sekitar setengah jam.

Tiba di depan hotel, mereka keluar bersamaan dan melangkah masuk. Setelah menaruh tas di dalam kamar, ke 5 gadis tersebut menuju ballroom yang sedang diatur dan dihias oleh beberapa tim khusus.

Riri memandang sekitarnya dengan penuh takjub, yakin bahwa acara pertunangan Liam dan Karina akan berlangsung dengan kemewahan dan kemeriahan yang luar biasa, mengingat mereka bukan orang sembarangan, melainkan dari kalangan kelas atas.

"Wah, begini ternyata acara pertunangan orang kaya," batin Riri, membayangkan dirinya berada di posisi Karina.

Namun, dengan cepat, ia menepis bayangan tersebut, merasa tak pantas bersanding dengan pria tampan, kaya, dan terhormat seperti Liam.

"Astaga, mikir apa sih, Ri? Si Bimo aja yang tampangnya kaya kadal tega ninggalin kamu. Lah, ini ngarepin seorang pangeran macam Tuan muda, ya gak akan kesampaian lah!" kilahnya mencoba menepis bayangan itu, sambil merenung tentang realitas kehidupannya.

Dalam ballroom yang megah itu, Riri bersama keempat rekannya membantu menyiapkan segala sesuatu untuk acara pertunangan yang akan dimulai nanti malam.

Mereka sibuk dengan tugas masing-masing, menyusun meja, menata dekorasi bunga, dan memastikan segalanya berjalan sesuai rencana.

...

Bersambung...

Episodes
1 Melamar kerja
2 Babu Elit
3 Tuan Muda tampan
4 Kejadian tak terduga
5 Sorotan sinis
6 Ciuman gara-gara sambal
7 Tercebur
8 Hukuman
9 Bully
10 Insiden di acara pertunangan
11 Perhatian kecil
12 Fitnah
13 Kiss
14 Merawat Tuan Muda
15 Skandal Karina
16 Salting
17 Menyelamatkan Riri
18 Datang bulan
19 Mimpi indah
20 Cewek bar-bar
21 Di pecat
22 Mendadak menikah
23 Izin menginap
24 First Day To Be My Wife
25 Bertemu Mantan
26 Mandi bareng
27 Secret Wife
28 Kembali ke Mansion
29 Cemburu
30 Liburan
31 Villa Lembang
32 Kissing
33 Masih liburan
34 Unboxing
35 Pengganggu
36 Heartache
37 Annoyed
38 Ujian Pernikahan
39 Mendiamkan
40 Paksaan
41 Kenikmatan singkat
42 Tidur bersama
43 Dicurigai
44 Gaun pengantin
45 Pengganggu
46 Surprise
47 Penemuan mengejutkan
48 Hoarding Disorder
49 Mencari bukti
50 Noda lipstik
51 Menonton
52 Terbongkar
53 Malam penuh gairah
54 Pregnant?
55 Pembatalan Kontrak Kerjasama
56 Mimpi buruk
57 Kekecewaan
58 Rencana untuk pergi
59 Aku Pergi
60 Kehilangan
61 Siapa yang bertengkar?
62 Mencari Pekerjaan
63 Semakin dekat
64 Terungkap
65 Hampir saja
66 Mengikuti
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77. Pernikahan
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 Ch 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Melamar kerja
2
Babu Elit
3
Tuan Muda tampan
4
Kejadian tak terduga
5
Sorotan sinis
6
Ciuman gara-gara sambal
7
Tercebur
8
Hukuman
9
Bully
10
Insiden di acara pertunangan
11
Perhatian kecil
12
Fitnah
13
Kiss
14
Merawat Tuan Muda
15
Skandal Karina
16
Salting
17
Menyelamatkan Riri
18
Datang bulan
19
Mimpi indah
20
Cewek bar-bar
21
Di pecat
22
Mendadak menikah
23
Izin menginap
24
First Day To Be My Wife
25
Bertemu Mantan
26
Mandi bareng
27
Secret Wife
28
Kembali ke Mansion
29
Cemburu
30
Liburan
31
Villa Lembang
32
Kissing
33
Masih liburan
34
Unboxing
35
Pengganggu
36
Heartache
37
Annoyed
38
Ujian Pernikahan
39
Mendiamkan
40
Paksaan
41
Kenikmatan singkat
42
Tidur bersama
43
Dicurigai
44
Gaun pengantin
45
Pengganggu
46
Surprise
47
Penemuan mengejutkan
48
Hoarding Disorder
49
Mencari bukti
50
Noda lipstik
51
Menonton
52
Terbongkar
53
Malam penuh gairah
54
Pregnant?
55
Pembatalan Kontrak Kerjasama
56
Mimpi buruk
57
Kekecewaan
58
Rencana untuk pergi
59
Aku Pergi
60
Kehilangan
61
Siapa yang bertengkar?
62
Mencari Pekerjaan
63
Semakin dekat
64
Terungkap
65
Hampir saja
66
Mengikuti
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77. Pernikahan
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
Ch 94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!