Setelah selesai membalur kaki Riri dan memastikan gadis itu merasa lebih baik dan nyaman, Liam kembali tersenyum dengan penuh kehangatan, matanya berkilat menunjukkan perhatian yang tulus.
"Sebaiknya kamu segera tidur," perintahnya, Riri membalas kehangatan yang di tunjukan oleh sang majikan dengan senyum tipis yang memperlihatkan rasa terima kasih.
"Ya Tuan."
Liam, dengan penuh perhatian, menaikkan selimut di tubuh gadis tersebut, matanya melihat setiap reaksi kecil di wajah Riri, mencari tanda-tanda kenyamanan.
"Apakah Tuan muda seperti ini juga terhadap Non Karin?" tanya Riri dengan polos, Liam mengangguk sambil menyiratkan keberatan di matanya, seolah mencoba menyembunyikan kekecewaan yang terkubur.
"Maafkan saya, Tuan," ucapnya lirih, Liam mengerutkan kening dengan ekspresi menyiratkan keraguan.
"Maaf? Maaf untuk apa?" lelaki itu masih berdiri di samping tempat tidur, matanya fokus pada setiap kata yang akan diucapkan Riri, mencari kejelasan.
"Pertanyaan tadi sepertinya membuat Tuan tersinggung," jawab Riri tanpa menatap wajah lelaki yang masih berdiri itu, ekspresi wajahnya mencerminkan rasa tak enak yang meliputi hati.
Liam kembali tersenyum. "Ah, tidak apa-apa." Ia membalas dengan lebih santai dan ramah.
"Selamat malam Riri, semoga tidurmu nyenyak," ucapnya sebelum beranjak keluar dengan senyum yang mengandung kehangatan.
"Selamat malam juga Tuan, dan terimakasih semuanya," balas Riri, memperlihatkan raut wajah yang penuh rasa terima kasih.
Lelaki itu akhirnya menghilang, menyisakan hati yang berbunga-bunga, terkejut dengan sikap hangat Liam yang melebihi ekspektasinya.
Sebelum tidur, jemari kecil itu bergerak mencapai ponsel, dan menyambar benda pipih tersebut sebelum mengetik pesan yang di tunjukan kepada Liam.
Riri:
[Tuan, sekali lagi saya ucapkan Terimakasih banyak atas kebaikan Tuan.]
Saat Liam merebahkan tubuh, ia melihat ponselnya menyala, lalu membuka pesan chat dari nomor Riri, membuat bibirnya kembali melengkung ke atas, sembari menjadikan satu tangan sebagai bantal, tangan satunya lagi mengetik balasan pesan.
Liam:
[Sama-sama, See ya, mimpi yang indah.]
Balasnya lewat pesan chat, ekspresinya mencerminkan kelembutan dan kehangatan yang masih terasa dari interaksi sebelumnya.
Setelah tidur, Riri bermimpi merasakan jika Liam masih berada di kamarnya.
Lelaki itu membaringkan tubuh di samping Riri, tangannya merayap dan merengkuh dengan mesra memberi kehangatan terindah.
Riri menyadari bahwa itu sama sekali tidak nyata, tetapi entah mengapa ia seakan mengambil kesempatan, berharap ini bukan mimpi belaka.
Ia membalikan tubuhnya, membalas pelukan hangat Liam yang terasa begitu nyata membuat jantungnya berdebar.
Tidak hanya itu, Liam mendekatkan wajahnya, hingga bibir mereka saling bertemu dan bercumbu.
Rasa dan sensasinya sama persis seperti saat Liam memberikan ciuman pertama tempo hari.
Hingga akhirnya, suara alarm menyadarkan Riri. Gadis itu terhenyak dan bangun dengan dada yang berdegup.
"Buset dah, ternyata yang aku peluk itu bantal, hahaha sialan! Kok bisa-bisanya aku memimpikan dia," gumam Riri sedikit kecewa seraya melemparkan batal yang masih di peluknya.
Ia segera beranjak karena tak lupa dengan kewajiban di pagi hari.
Setelah mandi dan berseragam, ia melangkah keluar dengan suasana hati yang riang, terus terbayang bentuk perhatian Liam yang membuatnya merasa sangat spesial.
Ia berada di lantai utama bergabung dengan rekan-rekannya. Wina sejak tadi memperhatikan Riri.
"Ri, kamu kenapa sih, dari tadi aku perhatikan senyum-senyum terus?" bisik Wina bertanya, Riri menggeleng.
"Ehmm... Enggak, ya masa aku harus nangis depan kamu," jawab Riri dengan nada jenaka. Ketika Rindy memfokuskan pandangannya kepada dua gadis tersebut, Riri dengan cepat menyembunyikan senyum di bibirnya.
"Cepat kerja!" perintahnya menginstruksi, ke lima gadis itu berpencar untuk menjalankan tugas masing-masing di pagi hari.
Keluarga sudah menanti di meja makan, Ima dan Nia bertugas untuk melayani sarapan pagi sang Tuan rumah.
"Saya ingin Riri yang membuatkan kopi, karena saya cocok dengan kopi buatannya!" pinta Liam dengan tegas, Nia mengangguk.
"Baik Tuan, akan saya sampaikan kepada Riri." Nia segera mencari keberadaan Riri yang saat itu sedang mengelap mobil sport milik Liam.
"Eh kutu! Kamu di suruh Tuan bikin kopi tuh!" perintahnya dengan cibiran, Riri seakan tak terima.
"Biasa aja dong, enak saja ngatain aku kutu, dasar tumila!" balasnya sambil berlalu dengan antusias.
Riri bergegas menuju ke dapur, senyum merekah terpancar di wajahnya saat ia mulai menyajikan kopi hitam yang dipesan oleh Liam. Setiap gerakan dilakukan dengan penuh cinta dan perhatian.
Setelah menyelesaikan penyajian, ia meletakkan cangkir dengan hati-hati di atas nampan dan melangkah menuju meja makan keluarga.
Nampan itu mendarat dengan lembut di atas meja, menghadap langsung ke arah Liam yang sejak tadi memperhatikannya dengan diam.
"Silahkan kopinya, Tuan." Ia menata cangkir di depan Liam, kemudian kembali ke belakang sambil membawa nampan kosong.
Jantung Riri berdetak cepat, dan ia mengelus-elus dada, berusaha menjaga perasaannya agar tidak berkembang lebih jauh.
Ia sadar bahwa situasi ini dapat menimbulkan presepsi yang tidak diinginkan jika terus dibiarkan.
"Ri, kamu harus tahu diri!" bisiknya pada diri sendiri.
...
Setelah sarapan pagi, Liam berangkat menuju perusahaan, tetapi sebelumnya, ia mengantar adiknya ke sekolah. Sementara itu sang ayah pergi menuju kantor cabang.
Keluarga mereka memiliki perusahaan besar di bidang produk perawatan kulit dan kecantikan yang tak hanya terkenal di dalam negeri, tapi juga sudah mendunia. Kesuksesan perusahaan keluarga Liam tidak terlepas dari kerja sama dengan perusahaan keluarga Karina.
Orangtua mereka bermaksud menjodohkan Karina dan Liam untuk memastikan masa depan perusahaan keluarga mereka.
Tak lama, mobil sport mewah yang dikendarai Liam tiba di gedung perusahaan PureLife.Corporation. Setelah memarkirnya di basement, ia melangkah menuju lift.
Saat keluar, kehadirannya di sambut dengan sapaan hangat dari para staf pada pagi itu.
"Selamat pagi, Pak," sapa para staf dengan ramah, dan Liam membalas dengan senyuman.
Sampai akhirnya, ia berada di depan pintu ruangannya, terperangah mengetahui bahwa Karina berada di sana, mengenakan pakaian seksi dan ketat seperti biasanya.
Liam sebenarnya merasa risih dengan penampilan harian Karina, karena tidak nyaman melihat kekasihnya menjadi pusat perhatian lelaki lain. Namun, memberitahunya tampaknya akan sia-sia, karena Karina cenderung tidak mau mendengarkan nasihat Liam.
Raut wajah keberatan tidak bisa disembunyikan oleh Liam ketika melihat kehadiran Karina.
"Kemana saja kamu kemarin, hah?" tanya Liam seraya duduk di kursi kebesarannya, jemari itu bergerak lihai menyalakan monitor di depannya.
"Kemanapun aku pergi, kamu tak perlu tahu! Mengerti!" jawab Karina dengan nada ketus seakan mengejek ekspresi kemarahan, menggambarkan kekecewaan di wajah Liam.
"Karina, kamu itu calon istriku, aku berhak tahu kemana saja kamu pergi dan bersama siapa!" bentak Liam yang sudah kehilangan batas kesabaran atas sikap sang kekasih.
"Ya, itu benar. aku memang calon istrimu, tapi, kamu tak berhak mengatur hidupku!" jawab Karina dengan nada tegas, menunjukkan bahwa ia tidak akan mengizinkan Liam mengontrolnya dalam hal apapun.
Karina meraih buah jeruk dari dalam tas, sembari tertawa, ia membuang cangkangnya ke sembarang arah, memicu kekesalan Liam yang semakin memuncak melihat tingkah laku Karina yang dianggapnya semakin sembrono.
"Karin, pungut kembali dan buang ke tempat sampah!" tunjuk Liam ke bawah lantai, mencoba menahan emosinya. Namun, senyum mengejek tetap terpampang di wajah Karina.
"Disini kan ada petugas kebersihan, apa gunanya mereka?" balasnya dengan nada merendahkan, seolah menganggap tindakannya itu adalah hal yang wajar.
Liam menatap Karina dengan ekspresi kecewa, mencoba menahan frustrasi yang semakin memuncak. Dia meraih cangkang jeruk yang berserakan di lantai, sementara pandangannya tetap menatap tajam ke arah Karina.
"Sungguh, Karin, sikapmu benar-benar membuatku muak. Ini bukan masalah petugas kebersihan, tapi tentang sikap kita terhadap lingkungan dan orang di sekitar kita," ucap Liam dengan suara yang mencerminkan kekecewaannya.
Karina terus tertawa seolah meremehkan, "Liam, kamu itu terlalu lebay. Mereka ada di sini untuk membersihkan! Bukankah itu memang sudah tugas mereka!"
Namun, Liam tidak bisa menyembunyikan rasa tidak puasnya. Ia merasa sikap Karina menunjukan kurangnya tanggung jawab terhadap lingkungan dan kepedulian pada pekerjaan orang lain.
Raut wajahnya yang tegang menjadi saksi bisu dari ketidaksetujuannya terhadap sikap Karina.
"Dasar!" gerutu Liam memendam kekesalan mendalam.
...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments